
Ting.. tong...
Dinda membuka pintu rumahnya. tampak caera berdiri sambil menunduk. Dinda mengernyitkan dahi menatap sahabatnya yang tampak lunglai. masih terlihat rapi. memakai pakaian semi kantoran.
"Ra, kamu kenapa?"
caera tidak menjawab. ia masuk melewati Dinda yang berdiri di depan pintu rumah. Dinda makin heran melihat sikap caera yang tidak biasanya.
caera memilih datang ke rumah Dinda, karena pasti anak-anak Dinda di sekolah dan Alfian suaminya sedang di kantor. kalau pulang ke rumah ibu, caera merasa tidak tepat bicara dengan ibu.
caera duduk dengan lesu di sofa ruang depan. Dinda mengikuti dan duduk di samping caera. Dinda sampai memiringkan kepalanya berusaha melihat wajah caera yang tertunduk dalam.
tes...
Dinda kaget. air mata itu jatuh mengenai tangan caera yang ada di pangkuannya. langsung saja Dinda menegakkan tubuhnya dan menyentuh punggung caera. dia tahu caera sedang ada masalah.
"Ra, ada apa?"
tanya Dinda lembut.
caera mendongak dan menoleh ke sampingnya. menatap Dinda sendu dengan berurai air mata.
"kamu kenapa Ra?"
Dinda makin cemas saja melihat sikap caera. dia tidak pernah sesedih ini. berpisah dari Arya saja belum pernah caera terlihat sesedih ini di depannya.
"Din"
caera menubruk tubuh Dinda. memeluknya erat dan menangis terisak.
"hey.. kamu kenapa sih Ra. ayo ngomong dong"
Dinda mulai tak sabar.
"aku.. aku.. hikss.. hikss.. di.. pecaaatt"
makin nelangsa saja tangis caera. sampai tersengguk-sengguk di dada Dinda.
"apa? di pecat?" Dinda makin kaget lagi "bukannya ini hari pertama mu kerja ya? kok sudah main pecat aja sih?"
"katanya aku di..."
"eee... tunggu tunggu" Dinda melepas pelukannya. "tunggu sebentar"
Dinda bergerak berdiri dan pergi ke arah dapur. meninggalkan Caera yang masih sesenggukan di ruang tamu.
sebentar saja Dinda sudah kembali membawa segelas air dan sekotak tisu di tangannya.
"ini ini, minum dulu"
Dinda menyodorkan gelas pada caera. menyuruhnya minum untuk menenangkan caera.
caera mengambil gelas berisi air dan meneguknya sedikit. dinda mengambil gelas itu lagi dan menaruhnya di meja.
"nah sekarang, tarik napas dulu" Dinda menirukan menarik napas dan caera mengikuti
"nah, sekarang cerita sama aku. kenapa kamu bisa sampai di pecat"
caera diam sejenak. lalu mulai mengatur napas dan menenangkan hatinya yang galau.
"aku menolak Deva tadi"
"apa? Deva?"
Dinda melongo. tidak mengerti apa maksud caera. "Ra, kamu ngomong yang bener kenapa sih? aku gak ngerti deh"
"ck.. kamu tahu, CEO perusahaan itu adalah Deva"
"apa? yang benar kamu?"
Dinda sampai terjengkit saking kagetnya.
"iya"
caera mengambil tisu, menghapus air matanya dan mengelap ingusnya.
"aku juga kaget tadi. tidak menyangka kalau tuan Deva itu jadi bos ku"
"kok bisa kebetulan gitu ya?"
Dinda menyandarkan punggungnya ke sofa. berpikir bagaimana bisa kebetulan Deva jadi bosnya caera.
__ADS_1
"sepertinya ini sudah di rencanakan Din"
"gimana maksud kamu?"
"kamu inget tidak sih, kemarin aku bilang terasa aneh? itu semua aneh Din. aku lihat semua karyawan yang mengurus lamaran kerja ku seperti memuluskan itu. pihak HRD juga sepertinya berkomplot"
"maksud kamu itu semua tuan Deva yang suruh?"
caera mengangguk. sibuk melap sisa air matanya.
"e.. eh.. tunggu deh. kalau sudah tuan Deva yang suruh, itu artinya kan dia senang kalau kamu kerja sama dia. trus? kenapa kamu di pecat?"
Dinda semakin terlihat antusias.
caera menunduk. terlihat lesu memikirkan itu.
"tuan Deva itu aneh Din"
ujar caera lemah. terasa hatinya sangat galau.
"aduuhh.. aneh gimana sih Ra? cerita yang bener dong"
"sikapnya itu loh Din. seperti.. ah entah lah"
caera menghempaskan tubuhnya ke sofa. sampai agak melorot sedikit ke bawah sofa. tidak berselera rasanya.
Dinda diam memperhatikan caera. sepertinya keadaan hati caera tampak kacau sekarang ini.
"Ra, coba deh kamu cerita sama aku. kamu itu sebenarnya kenal tuan Deva sejak kapan?"
caera menoleh menatap Dinda dengan malas. sebenarnya tidak ingin menceritakan bagaimana dengan menyandang kata 'kebetulan', Deva selalu bertemu caera di saat yang tak di sangka-sangka.
"begini"
dengan posisi tubuh yang masih sama menggelongsor ke bawah sofa, caera menceritakan bagaimana dia bertemu dengan Deva.
tapi yang ia ingat, awal bertemu hanya di coffe shop waktu caera masih di pantai. sampai bertemu di bawah pohon di pinggir pantai, di rumah sakit, semuanya ia ceritakan. sampai akhirnya hari ini bertemu di kantor Deva, menjabat sebagai sekertaris Deva sendiri.
tapi bagian caera mabuk, dia tidak cerita. karena memang dia tidak ingat dan dalam keadaan mabuk berat.
"begitu Din"
caera mengakhiri ceritanya.
"apa-apaan sih kamu Din?"
caera memukul paha Dinda. jengkel setengah mati.
"aduh"
Dinda mengaduh dan meringis mengusap pahanya.
menatap caera lagi yang meliriknya dengan jengkel.
"iya dong Ra" Dinda menegakkan badannya. "nih, coba kamu pikir nih ya... gimana ceritanya dia bisa ada di saat kamu butuh pertolongan? sampai dia ngajak kamu kerumah... rumah apa tadi namanya?
"rumah bukit"
"nah itu. gimana coba? trus, dia datang di taman kota. gimana dia bisa ada di taman, main sama anak-anak?"
Dinda nyerocos seperti beo yang sudah terlatih bicara. caera diam saja. memikirkan semua pertanyaan Dinda.
"coba deh kamu pikir.. seorang tuan Deva datang ke taman kota? kayak gak ada kerjaan aja raaaa.."
Dinda menonyor pangkal lengan caera. tubuh caera terguncang sedikit tapi masih di posisi yang sama.
"terus, tuan Deva datang ke cafe kemarin pas sekali Arya dan Vivi ada di sana" Dinda diam sejenak. "coba Ra.. coba kamu pikir. itu artinya tuan Deva meratiin kamu Ra. dia cinta sama kamu"
SEEEERRRRRR....
hati caera berdesir. ia bukan tidak tahu Deva mencoba mengambil hatinya. tapi apa iya Deva memperhatikannya?
"Ra, lagi pula kamu itu kebangetan ya. masak sih kamu nolak Deva? dia udah nolongin kamu soal kerja. dia nolongin kamu jadi kekasih di depan Arya"
"cari kerja sekarang susah Ra. apalagi gak ada pengalam pekerjaan. dia mempermudah kamu sebenarnya"
Dinda nyerocos panjang kali lebar. caera hanya diam membisu mendengarkan ceramah Dinda. dan memikirkan apa yang semua di katakan Dinda.
"yang paling kamu tidak peka, tuan Deva itu sebenarnya suka sama kamu. aku yakin dia cinta sama kamu"
caea terhenyak mendengar kata-kata Dinda yang terakhir ini. caera menoleh menatap Dinda. matanya memanas. hatinya terasa di remas.
__ADS_1
"aku tahu Din. tapi aku tidak bisa"
air mata caera jatuh lagi. hatinya tidak bisa berbohong kalau dia tidak bisa menerima Deva seutuhnya.
caera tahu kalau Deva mencoba membuatnya menyadari maksud Deva dari sikap manisnya. dia tahu itu ketika Deva memperlakukannya sangat mesra di rumah bukit. tapi hatinya juga masih terluka dan berdarah. hingga kini masih tidak bisa membuka hati untuk siapapun.
air mata itu mengalir. caera membiarkan saja. hatinya terguncang. tubuhnya tidak bisa berkompromi jika berdekatan dengan Deva. menolak. itu membuat caera semakin gelisah. dan caera merasa Deva selalu berlebihan ketika bersamanya. seperti sudah menganggap caera itu kekasih hatinya.
"Ra, sebenarnya apa yang membuat kamu takut ?"
Dinda menggenggam tangan caera. caera bangkit membetulkan duduknya.
"aku takut semua kepahitan itu terulang lagi Din. aku tidak sempurna. aku tidak bisa memberikan kebahagian yang utuh untuk pasangan ku"
caera terisak. terasa nyeri hatinya. masih segar di ingatannya bagaimana Arya tega menjamah Vivi hanya karena obsesi ibunya yang ingin Arya punya anak.
"Rara. tidak semua orang itu sama kan?"
"ya aku tahu. tapi kemungkinan Deva berbuat itu jauh lebih besar. dia sangat kaya Din. di kelilingi banyak orang. tidak bisa di pungkiri pasti banyak wanita yang akan menyerahkan diri padanya" caera menatap mata Dinda "dan aku tidak bisa Din"
caera tersengguk. dia takut. takut membuka hati. takut di buang lagi. takut keberuntungan tidak akan pernah berpihak padanya.
Dinda memeluk sahabatnya ini. Dinda sangat mengerti perasaan caera. caera wanita yang lembut. luka itu masih ada. luka caera masih belum tertutup dengan benar.
"sudah jangan menangis lagi"
Dinda mengelus lembut kepala caera dalam pelukannya.
"tapi... gimana kalau kita jadi jahat sedikit"
ujar Dinda.
"maksud kamu?"
caera melepaskan pelukannya. menatap Dinda masih dengan mata basahnya.
TAAAKK!!!
"aku punya ide"
Dinda menjentikkan jari jempol dan jari manisnya.
"Jagan yang aneh-aneh kamu Din"
caera sudah curiga saja melihat gelagat Dinda.
"kamu pasti setuju"
"apa?"
"aku rasa kamu itu belum di pecat. kan asisten Jacko itu cuma bilang kamu di bebas tugaskan hari ini. nah berarti masih ada kesempatan besok"
"trus?"
"begini Ra, cari kerja tidak gampang. ini sudah peluang emas mu dapat kerja. nah, kemarin kan kamu sudah nunjukin nih sama Arya, kalau kamu itu kekasihnya tuan Deva"
"trus?"
"ya sekalian Ra, berenang sambil nangkap ikan"
"apa sih Din?"
"hadeehh.. susah ya ni anak. lugu banget"
Dinda memutar bola matanya malas.
"maksud ku, ya kamu kerja aja dengan baik. siapa tahu nanti ketemu Arya lagi. kamu kan bisa mesra-mesraan lagi sama tuan Deva. manfaatkan peluang emas yang ada Ra"
"ah ngaco kamu"
caera melengos. tidak setuju dengan ide Dinda yang menurutnya menggali lubang kubur sendiri.
"Ra, kamu pingin kerja kan? ini kamu sudah punya kerja. aku yakin kamu pasti akan bertemu Arya nanti. kalau sandiwara mu gak di teruskan, Vivi pasti merasa menang"
caera terdiam. Dinda ada benarnya juga. Arya pernah menyangka caera punya hubungan dengan Richard. dan kemarin dia bersandiwara menunjukkan kalau Deva itu kekasihnya. bisa runyam kalau sampai Vivi dan Arya tahu, caera hanya bersandiwara. tercap jelek jadinya.
lagi pula dendam itu masih membara. tidak rela merasa tercampakkan. hanya melihat Arya dan Vivi memamerkan kemesraan? aduh memprihatinkan sekali nasib mu caera.
"bagaimana?"
tanya Dinda.
__ADS_1
caera menatap Dinda yang tersenyum sambil menggerak-gerakkan alisnya naik turun. merasa kalau ide cemerlangnya pasti di terima caera.
dengan tersenyum lugu, caera juga mengangguk menyetujui.