DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 50


__ADS_3

suasana pagi terlihat sibuk seperti biasa di kantor. sebelum Deva dan Jacko datang, caera dan Dira mempersiapkan jadwal Deva hari ini. tapi caera agak merasa jengkel pada Dira. gadis itu selalu melarangnya membantu.


Dira selalu bilang,


"jangan kak, biar aku saja yang terima semua telepon. jangan kak, biar aku saja yang membereskan berkas. jangan kak, jangan kak, dan selalu saja jangan kak. lalu, caera mau kerja apa? apa dia harus duduk dan mengikir kukunya saja?


Dira sibuk mengetik di laptobnya. caera hanya memperhatikan sambil menopang kepalanya dengan tangan dan mengetuk-ngetuk jarinya di meja.


"Dira, kalau begini terus, aku mau risign saja"


ujar caera.


"apa?!"


Dira tersentak. menghentikan kerjanya dan langsung melotot melihat ke arah caera.


"jangan kak!"


caera merengut. kesal sekali menyadari dia tidak ada fungsinya bekerja di sini.


"kak" Dira mendekat. duduk di samping caera. "jangan begitu. nanti asisten Jacko marah pada ku"


"kalau begitu, kau harus menurut pada ku"


ancam caera.


"kak, aku tidak bisa. kalau aku menuruti mau mu, aku akan kehilangan kerja. terus, kalau kau berhenti, mati lah aku"


Dira mengguncang bahu caera. mengharapkan pengertian dari calon istri bosnya ini.


"oke, kalau begitu kita buat kesepakatan"


caera menegakkan tubuhnya.


"apa kak?"


"semua tugas mu, kita bagi dua. aku tidak mau cuma jadi satpam di sini"


caera tersenyum menang. menggerak-gerakkan alisnya naik turun.


"hhuuufff"


Dira menghempaskan napas berat. menunduk lemah memikirkan kerja apa yang harus di bagi pada caera.


mati lah dia. tidak mampu menghandle caera. pasti nanti kena semprot Jacko. Jacko sudah memperingatkannya untuk tidak membiarkan caera menerima telepon dari klien apalagi laki-laki. tidak boleh menyambut tamu kolega bisnis atau siapa saja apalagi laki-laki. dan masih banyak lagi.


"kak, kau tidak kasian pada ku?"


Dira menatap caera memohon.


"makanya, beri aku kerja"


caera masih bersikukuh.


Tok.. tok.. tok..


ketukan di pintu. Dira langsung bangkit dan membuka pintu. terlihat seorang OB membawa beberapa buket bunga. hari ini memang jadwal mengganti bunga di bagian lantai atas ruang direktur. Dira tersenyum senang. akhirnya ada juga kerja yang bisa di bagi pada caera.


"ini buket bunganya nona Dira"

__ADS_1


"oh ya. letakkan saja di sini"


Dira menyingkir memberi jalan. OB itu masuk dan meletakkan beberapa buket bunga itu di meja. lalu pergi lagi.


"kak caera, ada kerja buat kakak"


Dira tersenyum lebar.


"apa?"


"ini" Dira menunjuk bunga-bunga itu " ini bunga untuk di taruh di ruangan tuan Deva. aku lagi banyak kerjaan kak. kakak saja yang taruh di sana ya?"


caera makin memberengut kesal.


"kenapa tidak kau saja yang ke ruangan tuan Deva? aku bisa menggantikan mu membuat jadwal itu"


ketus caera.


Dira nyengir. bukan soal jadwal kaaakk... nanti pasti ada beberapa telepon masuk dan semuanya laki-laki. bisa mati aku di terkam citah, asisten tuan Deva itu kaaaakkk...


"iya kak. nanti setelah itu, kakak yang menyusun jadwal. aku yang menerima telepon"


caera agak berpikir sejenak. dia hanya tidak mau ke ruangan Deva. takut dengan mata yang penuh cinta itu akan menghanguskan hatinya.


tapi, Deva belum datang. dia akan cepat-cepat keluar dari sana setelah meletakkan bunga itu.


"baik lah"


Dira lega. akhirnya caera menyetujui. caera memberikan dua buket bunga pada caera. dan caera keluar dari ruangan menuju ruang kerja Deva.


di pintu, Dira menjelaskan lagi kalau bunga yang satunya, harus di letakkan di kamar yang ada di ruangan Deva.


caera meliriknya kesal.


"memang begitu kaaakk... tombol pintu kamar yang ada di samping kiri dekat lukisan gede. udah kak, Dira mau kerja lagi nih"


Dira ngeloyor pergi dengan senyum geli. caera terjebak. mau tidak mau dia harus mengerjakan itu.


membuka pintu ruang kerja Deva. sejenak caera berhenti di ambang pintu, dan memejamkan matanya. harum semerbak langsung terhirup di Indra penciumannya. aromaterapi peppermint.


"hmmmmm.."


caera suka harum ini. membuat moodnya bangkit. rasa gelisah dan kesal tadi seketika hilang.


membuka matanya dan melangkah masuk ke dalam. mengambil vas bunga yang ada di atas meja, dan mengambil bunganya. meraih bunga yang di bawanya tadi, menggantikan dengan bunga yang lama.


caera tertegun melihat bunga-bunga lili dan beberapa bunga mawar kuning dan merah bercampur di dalam vas dan sangat terlihat indah. caera menghirup aroma bunga mawar itu. hmmmm harum...


caera tersenyum. entah kenapa perasaannya berubah menjadi bersemangat. merasakan rasa bahagia yang terpercik-percik di dalam hatinya.


dengan bersenandung kecil, caera membawa buket bunga yang satu lagi. menentengnya sambil mencari-cari tombol pintu yang di katakan Dira tadi.


di samping lukisan bunga lili yang besar, ada sebuah tombol merah. tombol itu kecil saja. sebesar kancing kemeja. caera mencoba menekannya.


tiittt....


dinding di sampingnya bergeser membuka. caera tidak menyangka ada sebuah ruangan di dalamnya. pintu itu tak terlihat. menyatu dengan dinding yang agak menjorok kedalam.


caera melangkah ke sana. melongokkan kepalanya memantau kondisi dalam ruangan.

__ADS_1


"eh... ini kamar"


gumam caera.


dengan hati-hati, caera melangkah ke dalam. seketika dia berhenti lagi. memejamkan matanya lagi.


begitu di ambang pintu kamar, wajah caera seakan tertampar hawa hangat yang menyebarkan aroma lavender. seakan-akan ia akan melewati gerbang ke dimensi lain saja. moodnya langsung berubah. yang tadi bahagia dan bersemangat, kini merasakan ketenangan yang luar biasa. seakan-akan menghilangkan rasa tertekan dan gelisah. tenang itu menghampiri otaknya. caera membuka mata dan tersenyum bahagia.


memperhatikan keadaan ruangan kamar yang cukup luas ini. ada ranjang king size, ada kulkas kecil, ada lemari besar, ada sebuah sofa besar dan ada televisi di depannya yang langsung menempel ke dinding.


waahh caera tidak menyangka, kamar ini begitu nyaman dan tertata rapi. apa tuan Deva sering di sini ya? hati caera berkecamuk sendiri.


caera berhenti di depan lukisan besar yang ada di dinding tepat disamping meja yang berukuran sedang. dia memandangi lukisan besar itu. takjub bercampur debaran kagum.


"dia tampan"


itu yang keluar dari mulutnya.


memandangi lekat-lekat wajah tampan di dalam lukisan. lukisan Deva yang terlihat sangat mempesona. seakan mata dalam lukisan itu langsung menuju pada satu titik di depannya, yaitu mata caera.


senyum mengembang di wajah caera. entah kenapa dia seperti berdiri berhadapan dengan Deva sendiri. memang itu hanya lukisan, tapi terlihat sangat nyata. sang pelukis sangat profesional dan goresan-goresan dalam lukisan itu seakan menghidupkan sosok di dalamnya.


Deva telihat tersenyum dalam balutan kain sutra berwarna maroon yang bertebaran seperti tertiup angin. kain itu hanya sebatas pinggangnya. terlihat seperti celana model India yang di pakai kerajaan masa lampau. wajah yang menunjukkan ketegasan dan nuansa eksotis yang menjadi satu. sungguh memukau, dengan kulit yang putih kemerah-merahan. pink terang yang berkilau.


bertelanjang dada menonjolkan sisi maskulin yang liat. otot-otot yang keras di dada bidang nan perkasa. perut yang berbentuk seperti roti sobek yang berkotak-kotak, dan rambut yang tertutup angin dengan mata tajam dan bibir sensual yang membuka sedikit.


"hhhiiihhh"


sambil menatap tak berkedip pada lukisan itu, tubuh caera bergidik meremang. menelan salivanya dengan susah payah. kerongkongannya seperti kering bagai tanah yang tersiram hujan bertahun-tahun. ada gelenyar rasa aneh menjalari tubuhnya, hatinya, jantungnya, aliran darahnya..


sudah tidak memikirkan lagi ia harus segera keluar dari ruang kerja Deva sebelum lelaki itu datang ke kantor. ia hanya terpaku sibuk mengagumi keadaan Deva yang sangat membiusnya di dalam lukisan itu.


tidak menyadari tangannya sudah lebih dulu mampir di dada bidang Deva nan liat di dalam lukisan itu. tidak menyadari sebelah kiri tangannya sudah berkeringat dan meremat buket bunga dengan keras. mengusap dada itu halus seakan Deva memanggilnya mesra..


"caera...."


caera tersenyum ketika membayangkan Deva memandangnya penuh sayang karena caera menyentuh dadanya. seakan bilang....


"sayang, kau suka itu?"


seolah-olah suara itu begitu nyata. ada di samping kirinya sangat dekat di samping telinganya.


caera merasakan napas hangat menyapu belakang tengkuknya. memberikan rasa menggelitik di dalam hatinya. menjalari aliran darahnya.


"dia sangat mempesona bukan"


suara itu berbisik berat.


DEG!!!!


caera terperanjat. itu bukan khayalannya. suara itu benar-benar nyata. menggeram di belakang telinganya. suara berat yang dia hapal siapa pemiliknya. suara bariton yang selalu menggunyar pipinya samar-samar.


secepat kilat caera menurunkan tangannya dari lukisan Deva. berdebar-debar mencemaskan siapa yang ada di belakang tubuhnya. matanya mendelik merasakan malu bercampur harga diri yang jatuh sampai ke dasar laut dalam.


pelan-pelan ia menggerakkan kepalnya menoleh ke samping. takut sekali kalau apa yang dia pikirkan ternyata benar. tak kuat melihat kenyataan, caera memejamkan matanya rapat-rapat.


setelah menoleh kebelakang dengan lambat, sedikit demi sedikit caera membuka matanya. terlihat lah wajah tampan yang tadi di kaguminya berdiri sangat dekat dan tersenyum manis penuh rasa yang tersirat.


GWWUUUBBBRAAAKKK!!!!

__ADS_1


AU AH GELAP!!


😝😂


__ADS_2