
selalu menjadi malaikat penyelamat bagi caera, itu sudah menjadi prioritas utama bagi Deva. tak peduli ada urusan, sibuk, atau harus meninggalkan hal penting, ia pasti melakukannya demi caera.
sementara caera, tidak lagi memikirkan mengapa Deva selalu muncul di saat yang tepat, atau mengapa Deva ada di cafe tempatnya sekarang, atau ada urusan apa Deva sampai datang ke tempat ini, ia tidak peduli lagi. yang ia pikirkan adalah ada seseorang yang bisa di manfaatkan untuk membalaskan dendamnya sekarang.
sakit hati selalu di hina, membuatnya tak menggunakan akal sehat sekarang. dia harus menunjukkan bahwa ia bisa mendapatkan seseorang yang lebih dari Arya. dan mumpung momen yang tepat ini muncul, dia harus memanfaatkan sebaik-baiknya.
melihat Deva berjalan dengan gaya jantan yang exlusive dengan segala pesonanya, caera bergerak berdiri dan menyongsong mendatangi Deva.
berjalan dengan anggun dan menyunggingkan senyum terbaik yang pernah ia lakukan. menatap Deva dengan mesra seakan telah lama menunggu kedatangannya.
ia tidak peduli harga dirinya jatuh di depan Deva Dan Jacko. ia akan menelan itu mentah-mentah.
"sayang"
caera langsung memeluk Deva begitu jarak mereka sudah dekat. Deva diam saja. melirik dengan sudut matanya ke meja Arya. terlihat Arya menegang. menegakkan badan, tampak kaget dengan apa yang di lihatnya.
"kenapa lama sekali?"
rengek caera melepas pelukannya dan memukul dada Deva pelan
Deva masih diam. menatap caera takjub. tak percaya caera melalukan hal yang selalu di impikan Deva selama ini. melihat pada tangan caera yang memegangi lengannya dengan erat. dan tatapan itu...
mata caera.. mesra. ya mesra dan penuh cinta. Deva tak ingin mengalihkan pandangannya menatap wajah yang memancarkan rasa rindu yang dalam itu. ia ingin wajah manis ini selalu memancarkan cinta setiap waktu padanya. walau Deva tahu, sebenarnya caera terpaksa melakukan itu karena ada Arya di sini.
karena Deva diam saja, caera khawatir Deva akan marah dan bisa membongkar drama yang ia buat. dengan cepat caera memeluk Deva lagi.
sedikit berjinjit agar sampai meraih ke telinga Deva.
"tolong tuan, bantu aku sekali ini. bersikaplah seperti kekasih ku"
caera berbisik tertahan agar tidak terdengar orang lain.
Deva menyunggingkan senyum samar. menatap caera yang juga menatapnya memohon, menautkan alis dengan mimik wajah minta pertolongan agar Deva mau menjadi kekasih bohongannya.
"maaf membuat mu menunggu lama, sayang"
ujar Deva akhirnya setelah diam beberapa saat. melingkarkan tangannya di pinggang caera.
seperti ada percikan aliran listrik tegangan rendah di hati caera. agak membulatkan matanya takjub Deva mau menyambut permainannya.
caera melirik Jacko yang berdiri agak beberapa meter di belakang Deva. tapi dia tidak menatap caera dingin seperti yang di lakukan sebelum-sebelumnya. Jacko hanya mengawasi beberapa pengunjung lain. caera merasa mendapat lampu hijau dari Jacko.
mengalihkan tatapannya melihat kancing-kancing kemeja Deva yang ada di dada pria itu. menggerakkan jarinya membentuk bulatan-bulatan di dada Deva.
"tidak apa-apa. aku hanya rindu pada mu"
ujar caera bicara manja seolah-olah merasa tak sanggup jika terlalu lama jauh dari Deva.
di seberang sana, wajah Arya memerah menahan cemburu yang tersulut dengan cepat. tak menyangka niatnya membuat caera menangis karena cemburu, kini berbalik padanya.
dia tidak melihat bagaimana reaksi wajah caera karena mantan istrinya itu dalam posisi membelakanginya. hanya dapat melihat bagaimana mesranya Deva menatap caera. itu membuat hatinya benar-benar terbakar cemburu.
Deva merendahkan kepalanya. memegang wajah caera di bagian pipi. menatap mata wanita itu mesra.
di tatap begitu, jantung caera berdebar kencang. tubuhnya menegang. tapi ia mencoba bersikap santai seperti benar-benar Deva adalah kekasihnya.
Deva mendekatkan wajahnya. terus mendekat ke pipi caera. caera makin tak karuan saja. ingin rasanya lari terbirit-birit menjauhi Deva. tapi ia terpaksa menahannya.
deva mendekatkan bibirnya ke pipi caera. caera memejamkan mata cemas.
brengsek! ini cuma sandiwara tuan devaaa!! jangan berbuat konyol di depan banyak orang!!
hati caera menjerit keras mencemaskan apa yang akan di lakukan Deva. caera dapat merasakan hembusan napas Deva tepat di pipinya. menipiskan jarak mereka.
__ADS_1
"bernapas lah. kau sangat manis jika begini"
bisik Deva pelan.
sontak caera membuka matanya. melotot jengkel menatap mata Deva. melihat itu, Deva tersenyum tertahan. lucu melihat pipi caera bersemu merah.
dengan menahan malu, caera menggenggam tangan Deva, dan menariknya menuju ke mejanya. Dinda senyum-senyum menggoda caera. tapi caera tak menghiraukan itu. masa bodoh dengan apa yang akan di pikirkan orang lain tentangnya. dia hanya mau unjuk gigi di depan Arya. mengajak Deva duduk di sampingnya.
"hai tuan Dev"
sapa Dinda pada Deva.
Deva hanya mengangguk tersenyum pada Dinda.
"aku kira tuan Dev tidak jadi datang. teman ku ini sampai mau menangis tadi karena rindu pada mu tuan"
Dinda agak mengeraskan suaranya. agar Arya dan Vivi mendengar itu.
"mana bisa aku meninggalkan kekasih ku ini. aku pasti datang kapan pun dia mau"
jawab Deva menoleh menatap caera.
"kau sungguh manis sayang"
caera mengelus lengan Deva di sampingnya.
Dinda tersenyum geli. merasa lucu caera bisa berakting juga rupanya. dan lebih membuatnya baper, Deva juga menanggapi akting caera dengan baik. memerankannya sempurna seperti dari hati saja.
Dinda tersenyum sinis melirik Arya dan Vivi di seberang sana. senyum mengejek memamerkan kalau caera punya kekasih yang lebih segala-galanya dari Arya.
tampak Arya menegang menegakkan punggungnya. menatap tajam menahan marah ke arah caera dan Deva. tapi dia menahan itu karena dia mengenal siapa Deva. Vivi juga mengenal Deva. Vivi sangat kaget melihat pemandangan yang di suguhkan di depan matanya. bertanya-tanya bagaimana caera bisa mengenal seorang Deva sang CEO perusahan ternama.
orang-orang yang bekerja di kantoran atau perusahaan-perusahaan, pasti lah mengenal siapa Deva. bagaimana sepak terjangnya di dunia bisnis. Deva juga adalah rekan bisnis tuan Wijaya, bosnya Arya. Arya jadi mati kutu tak bisa berbuat apa-apa.
tanya Deva pada caera.
caera agak bingung mau menjawab apa. dia melirik minuman coffeelate kesukaannya.
"aku menginginkannya sayang"
jawab caera seraya menaikkan alisnya menatap Deva.
"hmm, aku kan sudah bilang honey, jangan minum yang tidak sehat. aku ingin dia ada di sini"
Deva menyentuh bagian perut caera.
SEEEERRRRRR...
meremang bulu kuduk caera. syaraf otaknya menegang. ia mengerti maksut Deva. Deva ingin mengatakan ia mau caera hamil.
astaga... kebetulan apa lagi ini
"oh.. haha"
caera tertawa canggung menutupi kegugupannya. menelan salivanya dengan susah payah. Deva terlalu gila memainkan perannya. itu sama saja ingin mengatakan bahwa dia dan caera sudah berhubungan sangat dekat.
"tidak apa sayang. hanya sedikit"
caera tersenyum palsu sebaik mungkin.
di seberang sana keadaan sudah lebih menegang sekarang. Arya menghempaskan sendok minumannya ke atas meja. terdengar bunyi berisik karena sendok yang cukup keras membentur meja.
sedangkan Vivi makin sebal saja melihat kecemburuan Arya sangat jelas. tadi dia sudah berbunga-bunga menghina caera tanpa ampun. tapi sekarang, Arya malah terbakar cemburu karena melihat kemesraan caera dengan kekasih barunya.
__ADS_1
Dinda makin terkikik geli. ia melihat Arya terbakar cemburu yang berkobar-kobar. dan wajah Vivi yang marah melihat sikap Arya.
"ah tuan Deva, jadi kapan rencananya tuan datang melamar teman ku yang cantik ini?"
makin bersemangat Dinda menabur bumbu penyedap cemburu.
"secepatnya. jika kekasih ku ini bersedia, besok aku akan melamarnya"
Deva membelai rambut caera dan menyelipkan rambut yang menjuntai ke belakang telinga caera.
BRAAAKKK...
Arya menedorang kursinya sampai jatuh ke lantai. berdiri dengan napas ngos-ngosan menahan marah yang tak dapat tersalurkan. bergerak pergi meninggalkan Vivi yang melotot kaget karena Arya tiba-tiba saja pergi meninggalkannya sendiri.
Jacko berdiri siaga. tatapan tajam di tujukan pada Arya. Arya harus melewati Jacko jika ingin keluar. tapi Arya sudah tidak peduli. ia tidak sanggup melihat pemandangan yang membuat matanya sakit dan hatinya membara. ia terus saja melewati Jacko tanpa peduli Jacko sudah ingin melancarkan serangan.
"Arya!! tunggu!"
Vivi berlari menyusul Arya yang sudah keluar dari cafe lebih dulu.
Jacko melirik pada Deva. Deva diam saja. ia tahu Jacko meminta izin untuk menggempur Arya dengan sikap tidak hormatnya. tapi Deva diam saja. itu berarti Deva melepaskan Arya.
aaiisss...
caera mendelik ke arah Dinda. dongkol setengah mati karena Dinda semakin nekat jadi kompor.
"kau berlebihan Din"
gumam caera tertahan sambil menggegat giginya. mendelikan matanya pada Dinda.
Dinda malah terkikik makin senang. Deva malah makin menikmati sandiwara manisnya dengan caera. sangat tenang seperti tidak menganggap apa yang di lakukan Arya tadi.
"kenapa sayang? hmm?"
Deva menyentuh dagu Caera. menghadapkan padanya. cepat-cepat caera menjauhkan wajahnya. menoleh ke arah pintu masuk cafe memastikan Arya dan Vivi sudah benar-benar pergi.
segera melepaskan tangannya dari lengan deva dan menggeser duduknya agak menjauh.
"maaf tuan. ini hanya pura-pura. maafkan saya sekali lagi"
caera menundukkan kepalnya memohon maaf pada Deva.
"tidak apa-apa sayang. aku senang menjadi kekasih mu"
Deva makin menggoda caera. belum menghilangkan panggilan sayang pada caera.
"iya benar. kalian terlihat sangat cocok tuan Dev. itu artinya kalian berjodoh"
celetuk Dinda.
"apaan sih Din? ngaco kamu"
caera merengut kesal.
"tuan Deva ingin melamar mu Ra. bagaimana? kau setuju tidak?"
Dinda masih belum menyerah.
"Dinda!"
caera mulai kesal pada Dinda.
"tidak apa sayang. aku selalu menunggu mu. kapan kau siap, aku akan datang melamar"
__ADS_1
makin merah pipi caera. Deva masih saja melanjutkan drama yang di ciptakannya sendiri.