
caera menggerakkan tubuhnya pelan-pelan. miring ke samping kirinya. terlihat Deva masih tidur di sampingnya. caera mengelus pipi suaminya. memandangi tak berkedip.
tampan sekali.
caera tersenyum melihat Deva masih tidur nyenyak. pasti suaminya ini sangat kelelahan. tadi malam Deva sangat bersemangat. entah apa yang di berikan Deva padanya. Deva memberinya minuman yang rasanya hampir menyerupai minuman penambah stamina. tapi tidak berwarna. seperti air putih biasa.
entah kenapa, setelah minum, rasa lelah itu sirna. seperti belum melakukan apa-apa. itu membuat Deva meminta jatahnya entah sampai berapa ronde.
tubuh caera terasa remuk. ngilu di seluruh persendiannya. apalagi di pinggul dan pangkal pahanya. rasanya sudah tidak bisa berjalan lagi. Deva terlalu sering merenggangkan paha caera. begini lah jadinya. pinggulnya terasa linu.
Deva menggempurnya tanpa ampun. dasar perjaka karatan, ia menghabiskan malam dengan mencurahkan banyak benih cinta di dalam tubuh caera. selalu mau lagi dan lagi.
caera sampai mau pingsan saja rasanya. sudah lah panjang, gemuk, berotot, selalu menyumpal intinya sampai pagi menjelang.
caera melirik jam di atas nakas. dia kaget. ternyata sudah hampir jam sebelas siang. dia bangun kesiangan. dan Deva masih tidur.
rasa malu dan perasaan tidak enak muncul di hatinya. bagaimana mau keluar kamar pada jam segitu? pastilah mereka akan menggodanya nanti. pengantin baru bangun kesiangan.
perlahan, caera bergeser ke tepi ranjang. membiarkan Deva masih tidur. menarik selimut tipis untuk menutupi tubuh polosnya.
tapi lutut dan pinggulnya terasa linu. caera kesusahan bergerak. mencoba turun dari ranjang dengan berpegangan pada meja nakas. merasa lebih baik, caera melangkah ingin ke kamar mandi.
bruukk!!
caera jatuh. lututnya tidak kuat menyangga tubuhnya. lutut itu lemas. menggeletar ketika melangkah. caera jatuh ke karpet empuk berbulu halus di lantai.
Deva terjengkit kaget dan bangun mendadak. menoleh ke sebelahnya, tapi istrinya sudah tidak ada. celingak-celinguk mencari dari mana asal suara seperti orang jatuh tadi.
melongokkan kepalanya ke samping ranjang. dan sangat kaget melihat istrinya menelungkup di sana sambil memegangi lututnya.
"astaga!! sayang!!"
sontak Deva bangun. dengan panik bergegas ke samping ranjang. tidak mempedulikan tubuh polosnya terpampang jelas.
"sayang!! kamu kenapa??"
Deva merengkuh tubuh caera. membopongnya ke atas ranjang. wajah caera tampak sedikit pucat.
"kenapa Ra?" tanyanya lagi panik.
"lutut ku lemas Dev. tidak bisa berjalan" jawab caera gemetar.
"astaga! kamu sakit sayang?"
Deva menempelkan tangannya ke dahi Caera. mengukur suhu tubuh istrinya. tapi tidak panas. Deva menatap wajah pucat caera.
"sebentar sayang. aku akan panggil Zaki"
Deva berlari kearah pintu kamar. ingin membukanya tapi caera berteriak kencang.
"deevv!!"
Deva menoleh kaget. menatap caera cemas.
"ada apa Ra?"
"sini"
caera menggerakkan tangan memanggil Deva untuk mendekat. Deva berbalik. kembali mendekati caera. caera merasa malu melihat kelakuan Deva yang tengil ini.
"Dev, jangan begitu"
"apa sayang?"
"itu"
caera menunjuk bagian bawah Deva. Deva melirik ke bawahnya. terlihat ular naga yang tertidur menggantung lemah. lalu mendongak melihat istrinya lagi. dan nyengir kuda.
"dia tidur sayang"
"iiihh.. bukan masalah tidur. tutup dulu dong. kamu mau keluar dengan polos begitu?"
__ADS_1
"uuppss!!"
Deva menepuk jidatnya. untung saja istrinya memenggilnya dengan cepat. kalau tidaaakk... mampuslah dia. dangat konyol jika Deva keluar tanpa sehelai benangpun menempel di tubuhnya. dan yang paling parah, ular naganya kelihatan lagi lemah.
"ah.. ya ya.."
Deva beranjak ke lemari dan mengambil bathrobe lalu memakainya. lalu mendekati caera lagi.
"kamu butuh istirahat sayang"
"tapi aku mau mandi dulu Dev"
"hmm.. baiklah. sini, aku gendong"
"jangan ah" caera menolak.
"sudah sini. biar aku yang mandiin"
caera tak bisa menolak ketika Deva membopongnya ke kamar mandi. membuang selimut tipis yang menutupi tubuh caera di sembarang tempat.
mendudukkan istrinya di dekat wastafel. lalu ia membuka keran air dan mengisi bathup. sambil menunggu air penuh, Deva menoleh ke arah istrinya. caera merapatkan pahanya dan menyilangkan tangannya di dada. tidak hanya dingin, tapi malu.
Deva tersenyum geli. mendekati caera dan berlutut di depannya. menepelkan keningnya ke kening caera.
"hehe.. kenapa di tutup sayang?"
Deva menarik tangan caera yang menutupi dadanya. tapi caera bertahan. tidak mau membuka tangannya.
"aku sudah lihat semua sayang. tidak hanya ini, tapi ini juga"
Deva menujuk dada, dan meraba paha caera. mengatakan kalau dia sudah melihat keduanya. caera masih bertahan menyilangkan tangan dan merapatkan kedua pahanya.
"kamu jahil soalnya Dev"
"hahaaa..."
Deva tergelak. lucu melihat istrinya ini. menggemaskan. lalu ia bergerak ke depan wastafel. mengambil dua sikat gigi dan pastanya. memberi pasta ke sikat gigi, lalu menyerahkannya pada caera.
sama-sama menyikat gigi. sesekali saling menatap. Deva masih tertawa melihat caera. sementara caera hanya sesekali menatapnya.
"sudah sayang. kenapa lama sekali?"
"heemmmpp"
caera tak bisa bicara karena mulutnya penuh busa pasta gigi. caera menggerakkan tangannya menyuruh Deva menyingkir dari wastafel. agar dia bisa berkumur.
Deva tertawa geli. ia tahu maksud istrinya. agar dia tidak mengganggunya lagi. Deva bergerak agak menjauh. caera bangkitdari duduknya dengan susah payah. mengernyitkan alisnya menahan ngilu di pangakal pahanya.
melihat itu, Deva langsung memapahnya. membawa caera ke wastafel.
"kenapa bandel sayang. kamu sakit"
Deva menahan tubuh caera. caea berkumur dan menyeka mulutnya. menoleh menatap Deva.
"sakit yang?"
caera menggeleng. Deva membopongnya lagi dan mendudukkannya di pinggir bathup.
"sini aku periksa dulu"
Deva mencoba merenggangkan paha caera. tapi caera menolak. Deva mendongak.
"aku periksa Ra" ujar Deva agak memaksa.
aduuh.. Dev. kalau kamu yang periksa, yang ada bukan sembuh. malah tambah nih penyakit ku
"bukan yang itu sayang. tapi ini"
caera menunjuk selang kangannya Tanpa melebarkan pahanya.
"kok itu? bukannya si mungil?"
__ADS_1
"ha?! si mungil?" caera melongo.
"iya.. itu si mungil"
Deva menunjuk gundukan yang menyembul sedikit diantara paha caera. wajah caera merah padam. sungguh mesum suaminya ini. bisa-bisanya menyebut inti caera dengan si mungil.
"bukan Dev. tapi pinggul ku"
"oohh.. kalau begitu, si mungil tahan banting dong?"
"iisshh.. mesum kamu ah" caera cemberut malu.
"hahaa.."
"aku mau pipis, Dev"
"oke sayang"
Deva membopong caera lagi. masuk ke toilet. menanti caera di luarnya. karena kloset ada paling pojok dan menyendiri.
caera merasakan perih yang luar biasa di daerah intinya ketika pipis. ia yakin pasti robek. mengingat lamanya waktu mereka bergu Mul tadi malam, pasti intinya lecet.
meringis menahan perih. mengingat betapa mengagumkan ular naga Deva. caera sampai geleng-geleng kepala.
Deva datang, dan membopongnya lagi. menaruhnya di bathup yang telah terisi setengah.
rasa nyaman langsung menyergapnya ketika masuk ke air hangat di bathup. lalu Deva membuka bathrobe nya. tanpa malu di depan caera.
caera mendelik ngeri melihat ular naga itu setengah bangun dan berayun ke kanan dan ke kiri. Deva melirik caera yang melotot ke arah ular naganya.
usil aaahh..
Deva sengaja menggoyangkan ular naganya. naga itu bergerak lamban menampar paha kiri dan kanannya.
glek!
caera menelan salivanya kasar. membuang pandangannya ke arah lain. sungguh.. Deva ingin terbahak. istrinya sungguh polos dan lugu. dan pemalu pastinya.
Deva masuk ke dalam bathup. tapi tidak langsung duduk. dia sengaja berdiri di depan caera. menunggu caera berpaling ke arahnya.
dan benar saja. begitu caera menatap ke depan, Deva menggoyangkan lagi naga itu. membuat caera mendelik dan langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"deevvv.. usil kamu ah!"
"hahaahaa..."
Deva terbahak. lalu duduk dan di depan caera. mereka berhadap-hadapan. Deva menarik tangan caera yang menutupi wajahnya.
menurut, caera membuka wajahnya. mereka saling menatap satu sama lain. ingat kejadian malam pertama tadi malam. lalu sama-sama terkikik geli.
"sayang, kamu nikmat sekali"
"ah.. gombal kamu"
"sungguh. aku masih belum lupa bagaimana rasanya"
caera tersipu. Deva mendekat. mengecup bibir caera sekilas.
"bagaimana naga ku sayang?"
caera tak bisa menjawab.
"hmm? kamu suka tidak?"
Deva menowel pipi istrinya. caera mengangguk malu.
"kalau begitu, kita ulangi ya?"
kkrruukk.. kruuukk..
perut caera meradang. bunyinya sampai memecahkan kesunyian kamar mandi. Deva mengerjapkan matanya. tak menyangka istrinya sudah kelaparan.
__ADS_1
"aduuhh.. maaf sayang. ayo cepat mandi. nanti kamu sakit"
bukan nanti Dev! tapi sudah sakit ini! mana perih, paha ngilu, lapar lagi!