DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 58


__ADS_3

setelah menginstruksikan pada beberapa pengawal untuk menjaga di beberapa titik bagian rumah sakit, lalu Jacko bergerak membuka pintu bagian belakang mobil.


mereka kini berada di depan halaman rumah sakit milik keluarga Elliot, yang di gadang-gadang adalah rumah sakit terbesar dan terlengkap peralatan medisnya di kota ini.


tadi pagi-pagi sekali, Zaki menelepon Jacko untuk segera datang bersama Deva ke rumah sakit. tadinya mereka telah ada jadwal rapat di sebuah perusahaan yang bermitra dengan mereka. tapi harus mengundurkan jadwal itu sampai nanti siang.


memasuki area private yang hanya di lalui orang-orang yang berkepentingan saja.tidak lewat jalur umum yang di lalui pengunjung rumah sakit. Deva dan Jacko melangkah lebar-lebar. tampak sedikit terburu-buru.


setelah sampai pada ruang ICU, mereka telah di tunggu Zaki di sana bersama beberapa dokter lain.


"bagaimana keadaannya?"


tanya Deva.


"memburuk"


jawab Zaki lemah.


Zaki yang biasanya selalu bercanda, kini sikap seriusnya keluar sempurna.


Deva terus berjalan menuju ruang kerja zaki. kini mereka semua berjalan beriringan. masuk kedalam dan Deva duduk menghadap ke layar besar.


"kau tidak bisa melakukan sesuatu?"


wajah Deva muram. aura dingin sangat mendominasi.


"ini sudah penanganan yang paling maksimal Dev" Zaki menyalakan layar. tampak gambar scan jantung di sana. " lihat ini Dev. jantung paman Nugraha sudah di pasangi tiga ring. sekarang kondisinya makin tidak baik. gagal jantung. kondisi jantungnya terlalu lemah untuk memompa darah ke seluruh tubuh. sekarang paman Nugraha masih dalam keadaan koma"


Braaakk!!!


Deva bangkit dan menggebrak meja kerja Zaki. semua dokter di ruangan itu mengkerut ngeri. Deva marah merasa kinerja dokter yang tidak mampu bekerja dengan baik.


"apa hanya segini kemampuan kalian? aku membayar kalian untuk menyelamatkan nyawa! bukan untuk menyerah!"


dada Deva bergemuruh. wajahnya merah. menatap dokter satu persatu.


para dokter diam tak berkutik. hanya Zaki yang masih terlihat mencoba tenang menghadapi kemarahan Deva.


"kami sudah berusaha semaksimal mungkin Dev"


kata Zaki memberanikan diri.


Deva kembali duduk. bersandar di kursi dan melipat tangannya. sebelah tangannya menopang dagu sampai menutupi wajahnya sedikit. dia terlihat sangat frustasi.


Zaki melirik Jacko yang ada di sebelah Deva. berdiri tegak di sana. meminta Jacko untuk menenangkan bos nya.


"di mana bibi Arum?"


tanya Deva setelah diam agak lama.


"ada di ruang perawatan. bibi agak lemah kondisinya"


jawab Zaki.


"bawa aku ke sana"


Deva bangkit dari duduknya. Zaki berjalan lebih dulu. mengarahkan Deva ke ruang perawatan VIP.


Zaki, Deva, dan Jacko masuk ke dalam ruang perawatan. terlihat seorang wanita terbaring lemah di atas brankar. dengan selang infus menancap di sebelah tangannya. ada seorang yang menungguinya di sana.


"Dev"


sapa lelaki setengah abad itu.


"paman Santoso"


mereka bersalam dan saling memeluk. sudah lama sekali Santoso tidak bertemu Deva. sejak Gisel keponakannya melarikan diri dengan lelaki pilihannya.


"bagaimana keadaan bibi, paman?"


tanya Deva setelah mereka saling melepas pelukan.


"dia terguncang. masih lemah"


Deva berdiri di sebelah brankar Arum. ibunya Gisel.

__ADS_1


wanita itu membuka matanya dan menoleh melihat Deva. matanya berkaca-kaca melihat siapa yang berdiri di sampingnya.


"Deva"


lirihnya menyebut nama Deva.


"bibi"


Deva mendekat, duduk di kursi samping brankar.


"kau datang"


"ya bibi"


Deva menggenggam tangan Arum yang lemah.


"paman mu Dev"


ujarnya terisak. Arum sangat terguncang melihat suaminya dalam keadaan kritis.


"ya bi. bersabarlah "


wanita itu menangis tanpa suara. hanya air matanya yang berlinang. Deva sangat terenyuh melihat Arum lemah karena suaminya di ambang kematian.


seorang dokter masuk dan mendekati Zaki. membisikkan sesuatu padanya. Zaki mengangguk dan melirik pada Deva yang masih duduk memegangi tangan Arum.


Zaki melirik pada Jacko yang menatapnya. menggerakkan dagunya sedikit membuat Jacko mengerti apa maksud Zaki.


Jacko mendekat pada Deva. berbisik pelan agar Arum tidak mendengar.


"paman ingin bertemu dengan mu"


Deva diam saja. melihat pada Arum yang masih menangis.


"bibi, aku keluar dulu"


ujarnya pelan.


Arum menoleh padanya dan mengangguk lemah. Deva melepaskan genggamannya dan berdiri melihat Zaki. Zaki mengangguk.


kata Deva permisi pada Santoso.


santoso mengangguk. Deva lalu bergegas keluar dari ruang perawatan Arum. di ikuti Zaki dan Jacko.


"bagaimana?"


tanya Deva dingin.


"baru sadar. dia mencari mu"


kata Zaki.


berjalan ke arah ruang ICU lagi. berhenti di depan pintu. Zaki menarik lengan Deva pelan. Deva menoleh pada Zaki.


"usahakan paman tidak terlalu banyak bicara"


ujar Zaki pelan.


Deva diam saja. menatap pintu ruang ICU itu dengan pikiran yang kacau. menarik napas panjang dan menghempaskannya kuat. seakan menguatkan hati untuk menemui nugraha.


membuka pintu perlahan dan masuk ke dalam. berhenti mematung memandang ke brankar. Nugraha terbaring lemah di sana. wajah pucat itu masih terpejam. di pasang selang oksigen di hidungnya. dan banyak kabel terpasang di dadanya dan beberapa anggota tubuh yang lain.


Deva mendekat pelan sekali. memandang paman Nugraha dengan hati tercabik. pria tua ini mengingatkan pada ayahnya. Nugraha juga berperan penting dalam hidup Deva. tapi Gisel membuat semua berubah.


Nugraha membuka matanya dengan lambat. tampak sangat susah payah mengumpulkan tenaga untuk menarik naik kelopak matanya.


"deeevv.."


panggilnya pelan sekali. hampir tak terdengar.


Deva mematung. memandangi lelaki tua itu dalam diam. Nugraha menggerakkan jarinya lambat, memanggil Deva.


Deva tersadar. ia bergerak hati-hati mendekat ke brankar Nugraha.


"paman"

__ADS_1


kata Deva lirih.


"aku... ingin.. bi..ca.. ra.."


kata Nugraha terbata-bata.


Deva duduk di samping brankar. memegang tangan lemah Nugraha yang kini sudah banyak keriput di kulitnya. mendekatkan kepalanya dan mencium tangan tua itu.


Nugraha menaikan tangannya dan memegang kepala Deva. mengelusnya perlahan sekali sangat lemah.


"kau.. anak.. yang.. pa.. Ling.. ku sayang"


katanya lagi.


Deva masih menunduk di samping nugraha. membiarkan lelaki itu mengelus kepalanya perlahan.


"tet..ap lah.. begini"


ujarnya lagi.


Deva tidak tahan. ia meremat kain sprei di samping brankas. berusaha menahan air matanya. dia juga menyayangi Nugraha seperti ayahnya. hatinya terasa di remas. sangat menyesakkan.


"Dev.. maaf..kan.. aku"


suara itu menyentakkan Deva.


Deva mendongak. matanya sudah di penuhi air mata yang siap meluncur. dia memegang tangan Nugraha dan menurunkan dari kepalanya. menggenggam tangan itu dan di taruh di wajahnya. ia cium tangan keriput itu.


"paman. itu bukan salah mu"


ujar Deva dengan suara bergetar menahan tangis.


Nugraha menoleh dengan lemah. menatap Deva dengan mata sayu. napasnya terlihat tersengal halus.


air mata lelaki tua itu mengalir. menatap mata Deva yang sudah merembeskan cairan bening.


"maa.. af..kan.. putri ku"


katanya lagi.


tangan itu meremas jemari Deva dengan lemah.


Deva makin terisak. hatinya tidak tahan melihat orang yang di anggap sebagai ayahnya ini meminta maaf atas kesalahan putrinya.


"lupakan itu paman"


ujar Deva.


"aku.. akan..per..gi.." napasnya tersengal lagi. " satu.. lagi.. permin..ta.. an.. terakkkhh...Ir ku"


Deva mengelus-elus tangan Nugraha dengan sayang. masih menatap lelaki itu dengan rasa haru.


"to..long lah... dia... se...tee...lah.. aku pergi"


"ya paman"


"devaa... kau anak .. lelll ..aki ku.."


"ya paman. aku anak mu. jangan pergi"


Deva menunduk menagis. hilang rasa gagah di dadanya. dia hanya seorang anak yang menyayangi ayahnya. tak ingin ayahnya pergi meninggalkannya. ada rasa menyesal menyusup di hatinya. menyesali kini dia menjauhi lelaki yang selalu mendukungnya dari kecil, karena terluka oleh putrinya.


Nugraha diam. matanya terpejam. remasan tangannya melemah.


Deva mendongak. menatap takut ke arah Nugraha. memperhatikan napas lelaki itu. Deva bernapas lega. terlihat napas Nugraha teratus dan tersengal sesekali. mungkin dia kelelahan karena memaksakan diri untuk berbicara.


"tenang lah paman. istirahatlah"


pelan-pelan ia melepaskan tangannya dari genggaman tangan Nugraha. ia membiarkan sebentar tangan Nugraha terlepas dari tangannya. meletakkan dengan hati-hati.


setelah ia rasa Nugraha sudah lebih tenang, Deva melangkah keluar. di pintu, Jacko berdiri tegak menatapnya.


mereka saling tatap. mata itu bicara semuanya. menceritakan kesedihan mendalam yang tersisa. mata itu tak tahan hanya diam saja. ia meneteskan cairan bening yang mewakili rasa sakit di hati tak ingin di tinggalkan paman tersayangnya.


tanpa aba-aba lagi, Deva memeluk Jacko erat. Jacko diam tak bergerak. hanya matanya yang terpejam. mengerti perasaan Deva sekarang. perlahan Jacko menaikkan tangannya ke belakang punggung Deva dan membalas memeluk pria yang terlihat rapuh saat ini.

__ADS_1


😭


__ADS_2