DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 84


__ADS_3

dalam perjalanan ke kantor dari sekolah Gino, caera tidak banyak bicara. tatapan caera tak lepas dari wajah Deva. rasa hatinya berkecamuk. tak tahu harus melukiskannya dengan apa.


kanvas terlalu bersih untuk menerima goresan hatinya yang penuh rasa haru. hatinya seperti di cubit ribuan tangan mungil. memberikan banyak rasa yang menghujam hatinya.


pandangan takjub menatap Deva. lelaki yang selalu jahil padanya. selalu senang membuatnya cemberut karena ulah nakalnya. tapi tadi, dia bersikap sangat bijaksana. menunjukkan sikap seorang ayah yang melindungi anak tersayangnya. menjadi tameng besar untuk Gino dan dirinya.


"kau sudah mengatur jadwal ke royal group Jack?"


tanya Deva pada Jacko.


"ya. royal group menyanggupi apa yang kita minta. dan nanti asisten tuan Bram akan menyiapkan acara launching bisnis baru kerja sama kita"


jawab Jacko masih fokus menyetir di depannya. sesekali Jacko melirik lewat kaca spion depan.


mata caera tak lepas menatap wajah tampan milik Deva. masih tak percaya dengan apa yang di alaminya sekarang. hati caera di penuhi rongga yang siap menerima Deva.


tapi, ia sungguh tak pantas mengharapkan Deva bisa menerima segala kekurangannya. hatinya menjerit. Deva terlalu sempurna untuknya.


siapa dia?


seorang wanita yang dikhianati karena punya kekurangan. wanita yang tidak terlalu cerdas. wanita biasa, yang tidak punya kelebihan apapun. wanita yang selalu merasa minder karena merasa tak pantas untuk di cintai.


dan Deva?


seorang lelaki yang punya segudang prestasi. pemuda lajang yang bisa memiliki wanita mana saja yang ia inginkan. seorang pebisnis handal dan kaya raya. punya reputasi baik di mana saja. punya bisnis bertaburan di dalam dan luar negeri.


hatinya berdenyut antara bahagia dan nyeri menjadi satu. apa saja yang keluar dari mulut Deva, semuanya serasa seperti bunga yang bertaburan memercikkan warna indah di mata caera.


caera menunduk. matanya memanas. pandangannya buram menatap tangannya yang saling bertaut dan meremas resah.


sungguh besar apa yang telah di lakukan Deva untuknya. tapi apa balasan yang pantas bisa caera beri untuk membalas deva? cinta? apakah tidak terlalu naif hanya memberikan cinta di hidup yang serba tuntutan ini?


dada caera terasa sesak. ia tak mendengar lagi obrolan Deva dan jacko. sesekali Deva memainkan tabletnya untuk mengecek berita bisnis terbaru.


air mata itu jatuh dengan sendirinya tanpa suara. sampai caera melihat tepat di bawah wajahnya, telapak tangan Deva menangkup menampung air matanya.


air mata itu jatuh tepat di tangan Deva. menggenang di sana tanpa bisa mengalir mencari tempat yang lebih rendah.


sebelah tangan Deva meraih dagunya. menatapnya dengan rasa sayang. menghapus sisa air mata yang mengalir di pipi caera.

__ADS_1


"aku sudah bilang kan, aku tidak suka kau menangis?"


ujar Deva sambil mengusap pipi caera lembut.


makin di cubit rasanya jantung caera. tuan tampan ini selalu memporak-porandakan hatinya.


"kenapa menangis?"


tanya Deva lagi.


caera tidak bisa menjawab. hanya air mata yang mewakili rasa haru yang menghujam dadanya.


"karena kau mencintai ku bukan?"


tanya Deva lagi seraya tersenyum dan menggoda caera.


ya tuan Dev.. aku mencintai mu.. tapi.. aku tak pantas!


hati caera menjerit pilu. hanya menatap netra coklat terang itu dengan nanar. air matanya banyak terkuras memburamkan pandangannya. hatinya terasa teriris sembilu.


"jangan menangis lagi" Deva mengulum senyum. "aku mencintai mu" bisiknya.


caera tak kuasa menahan haru yang menjebol jantungnya. segera ia peluk Deva dengan erat. tak tahu harus bagaimana mengungkapkan rasa terima kasih yang mengembang memenuhi rasa di hati. Deva membalas pelukan itu dan mengelus lembut rambut caera.


hanya itu yang dapat terucap dari bibir caera yang bergetar.


"kenapa berterima kasih sayang? aku adalah daddynya Gino bukan? sudah seharusnya aku melakukan itu"


Deva menepuk-nepuk punggung caera dengan sayang.


"maaf tuan Dev. aku tak mampu membalas lebih"


bibir caera bergetar mengatakan itu. sangat merasa bersalah tak mampu membalas lebih kebaikan Deva.


"tidak perlu sayang. aku tidak meminta itu"


bisik Deva. mengecup puncak kepala caera.


caera melepas pelukannya gugup. melirik kaca spion tepat mata Jacko menatapnya dari sana. caera menunduk lagi. tak berani melihat mata tajam Jacko menghujam hatinya.

__ADS_1


mereka telah sampai di kantor. caera menarik napas panjang. menetralisir debaran jantungnya agar bisa normal lagi. cepat menghapus sisa air matanya agar tak terlihat karyawan lain, kalau dia baru saja merasakan melankolis yang tak pantas di tunjukkan di kantor.


Deva mengajaknya turun dari mobil. caera menurut saja. memantapkan hatinya untuk tidak peduli tatapan mata sinis dan gunjingan karyawan lain, karena melihatnya datang ke kantor bersama Deva.


memasuki area lobi kantor, berjalan di belakang Deva dan Jacko. semua karyawan menunduk hormat ketika mereka melewati lobi. caera mengangguk tersenyum pada Sisil di meja resepsionis. gadis itu tersenyum riang sambil sempat melambaikan tangannya menyapa caera.


tapi di ujung lobi, caera melihat Kiki berdiri di samping pilar. memiringkan bibirnya dan menatap caera dengan sinis. dengan langkah lambat, caera dapat melihat gerakan bibir Kiki mengucapkan satu kata yang membuat jantung caera berhenti.


"pe la cur"


ucap Kiki tanpa suara. hanya bibirnya bergerak pelan mengucapkan kata kotor itu padanya. caera menghentikan langkahnya. menatap tajam pada Kiki. terkejut tidak menyangka Kiki akan mengatakan itu padanya.


di ujung sana, Kiki terkikik senang melihat caera tertegun menyadari kata-katanya tadi. lalu Kiki beranjak pergi dengan menjulurkan lidahnya mengejek caera dan mengulangi kata-katanya lagi seperti tadi. lalu menghilang di belokan kantin.


"Ra"


Deva memanggilnya dari dalam lift yang belum tertutup. caera menoleh dan melihat Deva dan Jacko menatapnya menunggu di dalam lift.


segera caera cepat melangkah menuju lift. bergabung bersama Deva dan Jacko di sana.


"ada apa?"


tanya Deva menatapnya dan area lobi bergantian.


caera menyimpulkan, kalau Deva dan Jacko tidak melihat apa yang di lakukan Kiki padanya.


"tidak ada tuan. saya hanya melihat Sisil tadi"


jawab caera menyembunyikan apa yang terjadi.


Deva dan Jacko diam. pintu lift tertutup. caera hanya menunduk Saja. takut Deva bisa melihat dari matanya, kejanggalan sikapnya tadi.


pintu lift terbuka. mereka keluar, dan berjalan menuju ruangan masing-masing. tapi, sebulum Jacko masuk ke ruang kerja Deva, caera menghentikan Jacko.


"tuan asisten" Jacko menoleh. "terima kasih tuan" caera membungkuk berterima kasih pada Jacko.


caera melirik Jacko , karena merasa tak ada reaksi dari pria black sweet itu. jacko tertegun. hanya menatap caera dengan mimik wajah yang tak bisa di gambarkan caera. datar. tapi mata itu.. mata itu menyiratkan keteduhan dan tatapan tak percaya caera mengucapkan terima kasih padanya dengan formal.


Jacko tak menjawab. hanya mengangguk sedikit, lalu masuk ke dalam ruangan Deva.

__ADS_1


caera merasa aneh dengan sikap Jacko yang selalu menunjukkan tanpa expresi. kemarin dengan Gino, caera melihat Jacko seperti orang normal pada umumnya. tapi kenapa ketika di depan caera dia selalu menunjukkan mimik wajah datar?


caera mengedikkan bahu. lalu melangkah masuk ke ruangannya. terserah Jacko sajalah.


__ADS_2