
“Dasar gila, Cepat pergi! Awas kalau berkeliaran di dekat padepokan Bayugeni, ku tebas batang lehermu,” teriak salah seorang pemuda, apalagi setelah melihat dua gadis yang bersama mereka, lari kembali ke padepokan.
“Benar kakang! Adik kelima dan ketiga sampai lari melihat orang gila ini,” balas salah satu dari pemuda itu.
Kening Aria berkerut, mendengar ia di sebut gila.
“Maaf! Siapa yang kisanak sebut gila? Tanya Aria, hatinya mulai panas mendengar perkataan kedua pemuda yang berdiri di hadapannya.
“Kenapa kau masih bertanya? Tanya salah seorang pemuda.
“Ambil cermin dan lihat penampilanmu,” lanjut perkataan pemuda itu.
“Aku buta! Jadi tidak dapat melihat, jika kisanak tidak mau memberitahu sekarang ada di mana, tidak menjadi soal buatku, tetapi tidak usah menyebut aku gila,” balas Aria dengan kata-kata dingin.
Seorang pemuda yang dari tadi diam, kemudian berkata.
“Maaf Kisanak! Kami tidak tahu jika kisanak buta, sebab kenapa kedua adik seperguruan ku menyebut kisanak gila? Karena saat ini kisanak tidak memakai baju dan celana,” ucap seorang pemuda yang cukup tenang dan berkata lebih sopan.
“Aria terkejut, tanpa sadar tangan kirinya bergerak ke bawah, setelah memegang. Kemudian telapak kirinya langsung terbuka, berusaha menutupi tubuh bagian bawah.
Aria langsung jongkok, setelah merasa kalau ia berdiri tetap tak bisa menutupi bagian bawah tubuhnya.
“Aduh, celaka! Kenapa Resi Lanang jagad menurunkan aku di tempat ramai, pantas tadi badanku terasa dingin, rupanya tidak memakai baju dan celana,” batin Aria.
Wajah Aria langsung merah, setelah ingat. tadi ada suara jeritan dari 2 orang gadis yang bersama ketiga pemuda, yang kini berada di hadapannya.
“Kakang, coba lihat! Pasti dia pura-pura malu, mana ada orang waras tidak sadar, kalau dia tidak memakai baju dan celana,”
Pemuda yang berbicara sopan angkat tangan, memberi isyarat agar kedua adik seperguruannya tenang.
“Kisanak dari mana dan mau kemana? Tanya pemuda itu.
“Kalau aku bilang mau ke Bromo, mereka pasti curiga kepadaku,” batin Aria.
“Aku tadi di puncak Semeru, kisanak! Aku lalu tertidur di puncak, setelah bangun, sudah ada di sini dan tidak berpakaian.
“Apa ini masih di puncak gunung Semeru? Tanya Aria.
Ketiga pemuda saling pandang mendengar cerita Aria, lalu pemuda sopan berkata, setelah mendengar perkataan Aria.
“Kisanak sekarang berada di lereng utara kaki gunung Semeru, tepatnya berada di dekat padepokan Bayugeni.
“Celaka….celaka! Siapa yang memindahkan aku kesini, Jangan-jangan kalian ya? Mana pakaianku, cepat berikan,” ucap Aria berusaha bersandiwara, untuk menutupi tujuannya dan menutupi malu, karena ia tidak memakai pakaian.
Dan sandiwara Aria berhasil.
Ketiga pemuda saling pandang mendengar perkataan Aria.
“Tidak….tidak, bukan kami, kisanak! Kami justru kaget, lihat kisanak ada di sini dalam ke adaan tidak berpakaian,” jawab pemuda itu.
“Jangan-jangan dia di jaili oleh Ki uban! Kakek yang suka mengusir murid padepokan Bayugeni, saat mencari kayu bakar di dekat puncak Semeru,” ucap salah seorang pemuda.
“Benar….benar yang di katakan oleh adik ke empat,” balas kakak kedua.
“Hanya Ki Uban orang yang selalu usil dan suka mengusir orang yang ada di puncak gunung Semeru,” lanjut perkataan pemuda itu.
“Ki Uban, siapa dia? Batin Aria mendengar pembicaraan kedua pemuda.
“Guru….guru, Itu dia, masih ada di sini! Ucap Adik kelima.
“Adik berbalik, jangan lihat kedepan! Teriak murid ketiga dari perguruan Bayugeni.
Mendengar perkataan kakak seperguruan, sang adik langsung berbalik, apalagi setelah melihat pemuda yang tengah jongkok seperti menatap ke arahnya.
__ADS_1
“Siapa kau! Cepat katakan, jangan berlagak gila di depan Bayusena,” teriak seorang lelaki tua yang datang bersama kedua orang gadis.
“Guru….tenang dulu! Sepertinya dia orang baik-baik,” kemudian pemuda itu menceritakan apa yang tadi Aria ceritakan.
Hmm!
“Begitu rupanya! Cepat bawa dia ke padepokan, sebelum Ki Uban datang,” ucap Bayusena sambil matanya menata ke kanan dan ke kiri, untuk memastikan bahwa orang yang ia khawatirkan tidak berada di sekitar sini.
Kedua pemuda langsung mendekati Aria, ketika kedua tangan hendak menarik, Aria menolak.
“Jangan….jangan! Aku pinjam baju dulu, baru ke padepokan Bayugeni,” ucap Aria.
“Beri dia pakaian, memangnya kalian mau gendong dia dalam ke adaan seperti itu? Tanya Bayusena yang merupakan ketua padepokan Bayugeni.
Salah seorang pemuda berlari, tak lama kemudian datang kembali membawa baju serta celana untuk Aria.
“Kalian berbalik! Seru Aria Pilong ketika hendak memakai baju dan celana.
Phuih!
“Yang malu itu harusnya kami! Kau kan buta, berpakaian dimana saja tidak ada pengaruhnya untukmu,” ucap Bayusena yang kesal melihat Aria menyuruh mereka berbalik.
“Biar aku buta, tadi aku dengar ada suara gadis! Bagaimana Jika gadis itu melihat aku telanjang? Balas Aria.
Bayusena diam mendengar perkataan Aria, lalu mengajak kedua murid wanita kembali ke padepokan.
Setelah berpakaian, Aria kemudian di tuntun menuju padepokan Bayugeni.
Aria meminta ijin untuk membersihkan badan, kalau benar apa yang dikatakan oleh resi Lanag jagad itu artinya dia tidak mandi kurang lebih sudah hampir 40 hari.
Sewaktu Aria di temukan, tubuh Aria memang penuh debu dan sebagian wajahnya hitam.
Setelah mandi dan memakai pakaian, rambut panjangnya di biarkan ter urai, ketiga pemuda terkejut setelah melihat wajah Aria yang tampan, mereka juga terbelalak saat melihat mata Aria yang berwarna kuning ke emasan.
“Apa….apa dia orang yang tadi di luar padepokan? Tanya Nagini, murid ketiga Bayusena.
“Benar! Dia yang tadi kita lihat sedang telanjang.”
Hus!
Ucap Nagini kepada adik seperguruannya yang bernama Bidara.
Raut wajah keduanya langsung merah, setelah teringat kembali sewaktu melihat Aria berdiri sambil telanjang bulat.
Bayusena setelah melihat wajah Aria Pilong langsung berpikir, bahwa pemuda yang ada di depannya bukan pemuda biasa, karena penampilan Aria Pilong tidak seperti seorang anak petani.
Setelah Aria duduk, kemudian langsung di tanya oleh ketua padepokan.
“Dimana keluargamu? Tanya Bayusena.
“Aku tidak tahu! Mereka meninggalkan aku, mungkin karena aku Buta,” balas Aria.
Memang benar menurut perkataan orang bijak, jika sudah sekali melakukan kebohongan, maka akan berlanjut ke kebohongan berikutnya.
Dan itu yang sedang terjadi pada Aria saat ini.
“Apa ayahmu seorang pembesar? Tanya Bayusena.
“Bukan, dia seorang saudagar besar kisanak! Dan aku adalah putra satu-satunya, mungkin ayahku malu mempunyai anak buta, jadi aku di tinggalkan sendirian di sini,” jawab Aria.
Bayusena saling pandang dengan murid-muridnya, menurut Bayusena ini adalah salah satu jalan keluar dari masalah yang sedang di hadapi oleh padepokan Bayugeni.
“Apa tuan muda mau bertemu kembali dengan ayah tuan? Tanya Bayusena.
__ADS_1
“Mau kisanak! Ucap Aria.
Pucuk di cinta ulam pun tiba, Aria tidak menyangka ia bisa se beruntung ini.
Tetapi keningnya berkerut saat mendengar lanjut perkataan Bayusena.
“Wani piro?
Aria kerutkan kening mendengar perkataan Bayusena.
“Maksud kisanak? Tanya Aria.
“Iya! Tuan muda berani membayar berapa kepada padepokan Bayugeni, agar bisa kembali bersama ayah tuan muda,” jawab Bayusena.
“Jadi….jadi kalian meminta bayaran? Tanya Aria Pilong.
“Tuan muda! Terus terang padepokan kami sedang kesulitan, gara-gara kelima murid tolol ini, padepokan kami di suruh membayar ganti rugi sebesar dua kali lipat kepada juragan Sukir,” jawab Bayusena.
“Kelima murid tolol ku ini menghilangkan barang yang mereka jaga,” lanjut perkataan Bayusena.
“Berapa yang kalian minta? Tanya Ari.
“Jika tuan muda bisa bertemu dengan ayah tuan, tuan muda harus membayar padepokan Bayugeni sebesar 5000 keping uang emas, bagaimana? Balas Bayusena.
Aria tampak berpikir mendengar perkataan Bayusena.
“Kenapa mahal sekali? Tanya Ari.
“Kami mempunyai hutang sebesar 4000 keping uang emas, sementara yang 1000 keping akan aku bagikan kepada murid padepokan Bayugeni, kemudian aku akan menutup padepokan Bayugeni,” Ucap Bayusena dengan nada sedih, sambil matanya menatap ke arah langit-langit.
Aria diam mendengar perkataan Bayusena.
“Baik! Nanti setelah aku bertemu dengan keluargaku, kisanak akan mendapat 5000 keping uang emas.
Padepokan Bayugeni memang tidak mempunyai banyak murid dan Bayusena terancam bangkrut, apalagi di tambah dengan masalah dengan saudagar Sukir, semakin membuat Bayusena berniat menutup padepokan Bayugeni.
Raut wajah Bayusena serta kelima muridnya langsung tersenyum, setelah mendengar perkataan Aria.
“Kapan kalian membawa aku, mencari keluargaku? Tanya Aria.
“Setelah kami tahu tempat tuan muda tinggal, kami akan langsung mengantar tuan muda kesana,” jawab Bayusena.
“Kami tinggal di kota Wengker,” jawab Aria.
“Apa kau bilang! Wengker,” ucap Bayusena dengan nada tinggi, mendengar nama kota yang jauh dari tempat dimana kini ia berada.
“Kalau tuan muda tinggal di Wengker, kenapa tuan muda bisa ada di gunung Semeru? Tanya Bayusena.
“Aku tidak tahu dimana aku berada, kisanak! Karena aku ini buta,” ucap Aria.
“Siapa nama ayah tuan muda? Orang yang sudah tega meninggalkan tuan sejauh ini,” tanya Bayusena.
“Keluargaku bernama Wangsa,” ucap Aria yang tak mau menyebut ayah.
“Apa kau pernah dengar sebelumnya, ayahmu ingin pergi kemana? Tanya Bayusena.
Aria anggukan kepala mendengar perkataan Bayusena.
“Kemana tujuan ayah, tuan muda? Tanya Bayusena.
Aria menjawab pertanyaan Bayusena.
“Bromo”
__ADS_1