
Raut wajah Tumenggung Adiguna berubah kelam, melihat 3 anak buahnya yang di andalkan, tewas di depan mata.
Tumenggung Adiguna mencabut keris dari pinggang sambil menatap tajam Aria Pilong.
“Pantas saja kakang Wirabumi berani, ternyata dia punya andalan pendekar buta,” ucap Tumenggung Adiguna.
Aria tidak menjawab, karena Aria merasakan Aura yang berbeda berada di tangan Tumenggung Adiguna.
“Hati-hati Raden, Tumenggung Adiguna menggunakan keris Naga sasra.
Keris Naga sasra adalah keris yang bisa memberikan Aura besar kepada orang yang menggunakannya, rasa percaya diri dan kemampuan orang itu akan meningkat jika menggunakan keris Naga sasra,” ucap Nyi Selasih.
Aria anggukan kepala mendengar perkataan Nyi Selasih.
Langkahnya mulai berhati-hati setelah mendengar perkataan Nyi Selasih.
Setelah mengerahkan tenaga dalam ke arah mata, Aria melihat Sinar ke emasan memancar dari tangan Tumenggung Adiguna.
Bargo bersiap dengan dua tulang rahang kerbau yang di pakai sebagai senjata, langkah mereka terlihat sangat hati-hati.
“Jangan menimbulkan suara,” bisik Tumenggung Adi guna kepada Bargo.
Bargo mengerti maksud sang atasan, tubuhnya bergerak semakin pelan, agar tidak ada suara yang bisa di dengar oleh Aria.
“Celaka! Ucap Sarka, melihat Tumenggung Adiguna dan Bargo perlahan mulai mengurung dan mendekat ke arah Aria.
“Jo! Kalau mereka menyerang diam-diam, Raden dalam bahaya,” kembali Sarka berkata.
“Memangnya kau pikir Raden itu bangsa cucurut! Ucap Buto Ijo.
“Kalau tidak bertempur Raden memang buta, tapi kalau bertempur Raden bisa melihat,” lanjut ucapan Buto Ijo.
“Tunggu….tunggu dulu! Aku tidak mengerti dengan ucapanmu,” balas Sarka sambil keningnya berkerut.
Mendengar perkataan Sarka, kali ini Buto Ijo menoleh ke arah pemuda itu.
“Kau lihat saja! Aku malas menjelaskan kepada orang tolol seperti mu,” ucap Buto Ijo.
“Bangsat! Sebenarnya yang tolol itu aku atau kau,” Sarka berkata dalam hati, sambil menatap ke arah Aria Pilong.
Tentu saja Sarka tidak mengerti maksud perkataan Buto Ijo, karena pemuda itu baru sehari bergabung dengan rombongan Aria.
Bargo setelah dekat, melesatkan senjatanya ke arah kepala Aria, melihat sinar hitam bergerak cepat, Aria Pilong angkat tongkatnya menangkis.
Trang!
Aria terdorong mundur satu langkah, akibat kerasnya hantaman Bargo
Melihat musuhnya terdorong, kembali tangan kiri menghantam ke arah dada.
Tak ada pilihan lain, Aria kembali menangkis.
__ADS_1
Trang!
Kembali Aria terdorong mundur, tetapi kali ini Bargo tidak mau melepaskan senjatanya yang menempel di tongkat Aria.
Raksasa bertubuh hitam itu, kemudian mendorong Aria.
Aria yang ikut terdorong terus berusaha menahan sampai kedua tangan memegang batang tongkat.
Tumenggung Adiguna melihat kesempatan bagus, langsung menusukan kerisnya berusaha membokong Aria.
Whut!
Wulan, Rara Ayu serta Sarka sampai menjerit melihat keris Tumenggung Adiguna menusuk punggung Aria.
Aria mendorong Bargo, setelah tongkat berhasil terlepas dari senjata Bargo, perlahan tubuhnya bergeser ke kiri.
Bret!
Keris Naga Sasra menusuk pinggang Aria, tetapi hanya mengenai baju pemuda itu.
Sarka yang melihat Aria berhasil menghindari serangan Tumenggung Adiguna, baru mengerti maksud dari perkataan Buto Ijo.
Tumenggung Adiguna terkejut, setelah serangannya berhasil di hindari, kerisnya melesat kembali menusuk leher Aria dari sisi kanan.
Whut!
Aria yang berhasil melepaskan senjata Bargo, lalu tundukkan badan menghindari serangan, kemudian tongkatnya berputar menyambar kaki Bargo dan Tumenggung Adiguna, melihat tongkat menyambar, keduanya lompat sambil balik menyerang dari atas.
Bargo menghantam ke arah bahu kiri Aria, sedangkan Tumenggung Adiguna menusuk Ubun-Ubun Aria.
“Raden! serap semua kekuatan leluhur dan gunakan Aji Cakra Candhikkala.
Mendengar bisikan Nyi Selasih, tanpa Ragu Aria menancapkan tongkatnya, kedua tangan dari bawah bergerak naik, perlahan tubuh Aria bersinar kuning ke emasan, serta kedua tangan berubah warna menjadi merah seperti lembayung senja, mengandung ajian Cakra Candhikkala.
Tumenggung Adiguna terkejut dan berusaha menarik tusukannya, tapi terlambat.
Dentuman dasyat terdengar ketika ajian Cakra candhikala menahan keris Naga sasra dan senjata rahang kerbau milik Bargo.
Blam!
Tumenggung Adiguna terpental, keris Naga sasra terlepas dari gengaman tangan sang Tumenggung, begitu pula dengan Bargo, tubuhnya terhuyung beberapa langkah, sedangkan senjata tulang rahang kerbau hancur terkena hantaman Aji Cakra Candhikkala.
Hoaks!
Tumenggung Adiguna serta Bargo muntahkan darah segar, keduanya langsung duduk setelah memakan obat pulung yang mereka bawa, berusaha memulihkan luka dalam yang mereka derita.
Begitu pula dengan Aria, terlihat lelehan darah segar keluar dari sisi bibir Aria.
Wulan, Rara Ayu, Sarka serta Buto Ijo langsung memburu ke arah Aria.
Suasana di tempat pertempuran langsung hening.
__ADS_1
Tak lama kemudian derap ratusan kaki kuda terdengar, suara terompet berkumandang dan gerbang terbuka.
Raut wajah Tumenggung Adiguna pucat mendengar suara terompet.
Kereta kuda yang indah masuk ke dalam halaman, prajurit berpakaian dan senjata lengkap langsung mengitari Kereta kuda, pintu kereta terbuka.
Seorang Pria paruh baya yang memakai mahkota di kepalanya, dengan penuh Wibawa turun dari kereta.
Tumenggung Wirabumi, Resi Sarpa kencana, Rara Ayu, serta para prajurit bawahan Tumenggung Wirabumi langsung sujud setelah pria yang memakai mahkota itu turun dan berdiri di halaman rumah Tumenggung Wirabumi sambil di kelilingi prajurit berpakaian lengkap.
“Salam sejahtera Gusti Agung baginda Prabu Sri Samarawijaya, semoga para Dewa selalu memberi kesejahteraan kepada sang Prabu Sri Samarawijaya.”
Tumenggung Wirabumi berkata Lantang.
Tumenggung Adiguna yang terluka dalam, dengan memaksakan diri sujud.
Wulan dan Sarka ketika mendengar teriakan lantang Tumenggung Wirabumi juga langsung sujud, setelah tahu siapa orang yang berdiri di depan mereka.
Hanya Aria dan Buto Ijo yang masih tegap berdiri, mereka berdua sepertinya tak terpengaruh dengan teriakan lantang Tumenggung Wirabumi.
Mata Sri Samarawijaya menatap tajam ke arah Tumenggung Adiguna, kemudian berkata dengan penuh Wibawa.
“Adiguna! Ternyata benar laporan para Telik sandi, bahwa kau sering membuat kekacauan.
“Tadinya aku menganggap laporan para Telik Sandi hanya angin lalu, tetapi semakin lama berita tentangmu terus saja mengusik telingaku, sampai hari ini baru mataku terbuka,” Sri Samarawijaya berkata sambil menatap ke arah Tumenggung Adiguna.
“Ampun….ampun baginda Prabu! Jangan dengar perkataan orang yang berusaha memfitnah hamba.
“Hamba selalu setia kepada Prabu Sri Samarawijaya dan Kadiri,” jawab Tumenggung Adiguna.
“Tumenggung Adiguna, kali ini perbuatanmu sudah melewati batas, aku tidak percaya kepada orang yang berusaha membunuh saudaranya sendiri, percuma kau memberikan seribu alasan, karena mataku sekarang melihat sendiri,” balas Sri Samarawijaya dengan nada geram.
“Ampun baginda Prabu, semua ini hamba lakukan untuk kejayaan kerajan Kadiri,” Tumenggung Adiguna berkata.
“Tak usah banyak alasan, keris Naga sasra yang kau curi sudah menjadi bukti! Ucap Prabu Sri Samarawijaya.
“Tangkap pengacau ini dan jebloskan ke penjara,” lanjut ucapan Prabu Samarawijaya.
Beberapa prajurit Kadiri langsung melumpuhkan Tumenggung Adiguna dan Bargo yang tengah terluka dalam.
Tumenggung Adiguna teriak-teriak mengatakan bahwa dirinya tak bersalah, tapi teriakannya tidak di dengar, para prajurit Prabu Samarawijaya, para prajurit kemudian menyumpal mulut Tumenggung Adiguna lalu mengikat tubuh sang Tumenggung dan Bargo, lalu membawa mereka pergi.
Setelah Tumenggung Adiguna serta Bargo di amankan, Prabu Samarawijaya berkata kepada Tumenggung Wirabumi.
“Bangkitlah paman! Ucap Sang Prabu.
Wirabumi serta yang lain ikut bangkit setelah mendengar perkataan Sang Prabu.
Seorang panglima pengawal Raja yang berdiri di samping Prabu Sri Samarawijaya, menunjuk ke arah Buto Ijo dan Aria.
“Kenapa kalian berdua tidak sujud setelah tahu Raja kalian datang? Tanya Panglima pengawal Prabu Samarawijaya.
__ADS_1
Aria menoleh ke arah panglima itu, kemudian membalas perkataannya.
“Kau saja tidak sujud, kenapa aku harus sujud.”