Iblis Buta

Iblis Buta
Kota Di Pesisir Pantai


__ADS_3

Buwana Dewi akhirnya tidur setelah Meracau dan mengganggu Aria.


Buto Ijo juga terkena imbas, karena tuak yang ia bawa, Aria memarahi Buto Ijo yang menunda tuak sembarangan sehingga di minum oleh Buwana Dewi.


“Apa Buwana Dewi sudah tidur? Tanya Wangsa.


Aria anggukan kepala mendengar perkataan Wangsa.


“Buwana Dewi menyukai ketua,” lanjut perkataan Wangsa.


“Aku tahu! Balas Aria.


“Kenapa ketua tidak menikah saja? Tanya Wangsa mendengar perkataan Aria.


“Aku juga menyukai Buwana Dewi, begitu pula dengan Nyi Selasih yang merestui aku untuk menikah dengan Buwana Dewi.


“Tetapi paman tahu sendiri bagaimana kesusahan ku,” jawab Aria.


Wangsa menarik napas mendengar perkataan Aria, sang resi mengerti dengan kesusahan ketuanya.


“Buwana Dewi tidak tahu tujuan kita, ketua! Kalaupun nanti Buwana Dewi tahu dan kalian sudah menikah, menurutku jika kita kasih penjelasan yang terjadi, aku yakin Buwana Dewi akan mengerti dengan tujuan ketua,” ucap Wangsa mendengar perkataan Sang Ketua.


“Tidak akan ada anak yang suka, jika mendengar kabar orang tuanya akan di bunuh, apalagi yang akan membunuh adalah orang terdekatnya,” Aria membalas perkataan Wangsa.


Setelah menarik napas panjang, Aria mengajak Wangsa keluar kamar, agar Buwana Dewi bisa istirahat dengan tenang.


Setelah keduanya keluar kamar.


Mata Buwana Dewi terbuka, dan langsung bangkit dari tempat tidurnya, raut wajahnya tampak kelam, seiring dengan suasana hatinya yang sedang tidak menentu, air mata bercucuran turun dari kedua bola mata yang indah.


“Apa benar tujuan kakang Aria adalah membunuh orang tuaku? Batin Buwana Dewi bertanya dalam hati.


Tanpa sengaja saat berusaha menghilangkan pusing di kepala akibat salah minum, Buwana Dewi mendengar percakapan antara Aria dan Wangsa, hati Buwana Dewi sangat terkejut setelah mengetahui tujuan Aria yang sebenarnya adalah membunuh orang tuanya, yang hingga kini ia tidak tahu siapa orang tuanya yang di maksud oleh Aria dan kenapa Aria hendak membunuh orang tuanya.


Dengan hati sedih dan kecewa, Buwana Dewi keluar dari jendela kamar, hanya satu tujuannya, berusaha mencari ibu angkatnya yang selama ini mengasuh serta merawat, Buwana Dewi hendak menanyakan siapa orang tuanya kepada sang ibu angkat.


Aria tahu Buwana Dewi pergi setelah mendapat laporan dari pelayan, saat tidak melihat si gadis dan pintu jendela yang sudah terbuka.


“Sepertinya dia mendengar apa yang kita bicarakan,” Aria berkata kepada Wangsa.


Dari raut wajah Aria tampak sedikit kecewa dengan sikap Buwana Dewi, kenapa ia tidak menanyakan langsung perihal orang tuanya terlebih dahulu.


“Aku akan mencari Buwana Dewi,” ucap Selamet.


“Tidak usah! Buwana Dewi pergi karena keinginannya sendiri, percuma kalian kejar, dia tidak akan kembali sebelum menemukan jawaban apa yang ia ingin ketahui.


“Persiapkan bekal perjalanan, kita akan melanjutkan perjalanan menuju Alas Purwo,” Aria berkata.

__ADS_1


Selamet anggukan kepala, kemudian menyiapkan barang-barang yang akan mereka bawa.


Raden Kusumo setelah di beri tahu oleh Wangsa, bahwa ketua akan segera berangkat ke Alas Purwo.


Raden Kusumo langsung menuju kamar Aria dan menanyakan kenapa sang ketua buru-buru.


“Lebih cepat lebih baik! Jawab Aria ketika Raden Kusumo menanyakan.


“Alas Purwo adalah hutan di sisi laut, hutan yang sangat luas dan banyak tempat untuk bersembunyi serta jebakan jebakan alam yang membuat Alas Purwo di takuti.


“Ketua harus hati-hati, apalagi Elang jantan sangat licik,” Raden Kusumo berkata.


“Menurut beberapa anak buah ku, ada satu tempat yang di yakini merupakan markas padepokan Elang emas.


Tempat itu bernama Lembah Merah, satu tempat yang sangat rahasia


Sampai kini keberadaan lembah merah, masih menjadi misteri, sedangkan bangunan di dekat Alas Purwo yang katanya markas Elang jantan, mereka salah sangka karena itu hanya markas kedua padepokan Elang emas dan tempat untuk Elang jantan istirahat.


“Jadi mereka mempunyai markas tersembunyi? Tanya Aria.


“Hal ini bukan rahasia umum ketua, setiap partai besar pasti ada tempat rahasia yang tersembunyi,” Selamet ikut bicara.


Sesudah bercakap cakap dengan patih Argobumi dan menitip pesan untuk Raden untung, agar ia menunggu di kota Panarukan.


Aria, Wangsa, Selamet, Ujang Beurit dan Buto Ijo serta di temani Suketi, berangkat di pagi hari melanjutkan perjalanan ke Alas Purwo tanpa di temani oleh Buwana Dewi.


Dalam perjalanan menuju Alas Purwo, rombongan beberapa kali menemui desa kecil dan besar hancur akibat keganasan Padepokan Elang emas.


Jika desa tersebut tidak mau tunduk kepada padepokan Elang emas, dapat di pastikan desa itu akan hancur atau kosong karena di tinggalkan oleh penduduknya, pindah ke desa lain atau membuka lahan baru di tempat aman, agar mereka tidak di ganggu oleh orang dari padepokan Elang emas.


Semakin lama mereka berjalan, hawa semakin panas.


“Kenapa udara panas sekali? Tanya Aria.


“Kita sudah turun dari gunung, ketua! Kita sekarang berada di sisi laut.


“Menurut petunjuk dari orang yang kutemui, tak lama lagi kita sampai di kota kalipuro,” Selamet berkata.


“Kau sudah menyiapkan tempat di sana untuk ketua? Tanya Wangsa.


“Tetua jangan khawatir, aku sudah pesan tempat di sana,” jawab Selamet.


“Makanannya bagaimana? Tanya Buto Ijo.


“Saudara Buto Ijo Jangan khawatir, kalipuro banyak ikan, semuanya nikmat jika di bakar,” balas Selamet.


“Kau suka ikan Suketi? Tanya Buto Ijo.

__ADS_1


“Memangnya Suketi kucing, Jo,” Wangsa berkata.


“Diam kau! Selalu saja ikut campur urusanku dengan Suketi,” Buto Ijo berkata dengan nada kesal.


Mereka terus berjalan, dan akhirnya sampai di penginapan yang sudah di siapkan oleh Selamet.


“Banyak sekali orang bicara dengan logat yang berbeda? Aria berkata sewaktu mendengar percakapan orang kalipuro sewaktu mereka menuju penginapan.


“Kota yang berada di pesisir pantai memang seperti itu, banyak orang datang dari berbagai daerah menggunakan perahu atau kapal untuk melakukan perdagangan,” jawab Wangsa.


Seperti biasa jika mereka berada di tempat baru, Selamet dan Ujang Beurit selalu mencari tahu, situasi dan keadaan orang-orang disana.


Malam hari setelah makan malam, Selamet dan Ujang Beurit memberi laporan atas penyelidikan mereka.


“Ketua! Ternyata kota ini di kuasai oleh padepokan Elang emas,” ucap Selamet.


“Kota ini merupakan sumber uang milik padepokan Elang emas, mereka menyewakan perahu kepada para nelayan dan memungut pajak dari para pedagang yang berdagang di kalipuro,” lanjut perkataan Selamet.


“Siapa yang memimpin padepokan Elang emas di kota ini? Tanya Aria.


“Kalau aku tidak salah, pemimpin padepokan Elang emas di kota ini adalah Iwa Brengos, seorang bekas bajak laut yang terkenal ganas,” jawab Selamet.


“Mana ada Iwak Brengos ( ikan berkumis ),” Buto Ijo berkata setelah mendengar perkataan Selamet.


“Iwa, tolol! Telingamu terganggu ya? Setiap orang berkata, selalu saja kau salah sebut,” Wangsa berkata dengan nada kesal.


“Sudah….sudah! Ucap Aria mendengar keduanya mulai beradu omong.


“Apa yang kau dapat, Jang? Tanya Aria.


“Di sebelah timur kota ada desa bernama Ketapang, di desa itu adalah tempat penyeberangan menuju pulau Bali, Anak Wungsu adalah raja Tampak siring, adik termuda dari Prabu Airlangga,” Ujang Beurit berkata.


“Apa hubungannya cerita kau dengan tujuan kita? Tanya Aria.


“Kalau ketua mau ke Alas Purwo lewat jalan belakang, kita bisa menyebrang dari Ketapang, kemudian lewat Bali menyebrang kembali dan sampai di Tegaldlimo.


“Tegaldlimo? Tanya Aria.


Buto Ijo, Wangsa dan Selamet juga merasa penasaran dengan keterangan.


“Tegaldlimo adalah tempat paling ujung Alas Purwo, Ujang yakin di sana tempatnya,” jawab Si Beurit.


“Tempat siapa Tegaldlimo, Jang? Tanya Buto Ijo.


Ujang Beurit menjawab pertanyaan Buto Ijo.


“Penguasa Alas Purwo, Ki Banyu Alas.”

__ADS_1


__ADS_2