Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 86 : Arah Dan Tujuan Kita Berbeda


__ADS_3

Para penduduk dan prajurit Tumapel geger setelah pintu ghaib yang di pasang oleh Nyi Selasih terbuka, mereka melihat rumah Tumenggung Wirayuda habis terbakar, serta puluhan mayat prajurit bergelimpangan di sekitar rumah Tumenggung Wirayuda.


Ratusan prajurit langsung bergerak menuju rumah Tumenggung Wirayuda, setelah menadapat laporan dari penduduk yang melihat keadaan rumah.


Raut wajah mereka berubah setelah melihat satu mayat terlentang dengan kepala hancur, dari hiasan di tubuh dan celana yang di pakai, para prajurit tahu bahwa orang yang kepalanya hancur adalah Tumenggung Wirayuda.


Ribuan prajurit yang beras di Tumapel langsung di perintahkan menyebar, untuk mencari orang yang telah membunuh sang Tumenggung.


Surat langsung di kirim ke ibukota Kahuripan, memakai satu ekor merpati.


“Isi surat yang dikirim memberitahu, bahwa Tumenggung Wirayuda tewas! Tetapi di dalam surat tidak di tulis nama si pembunuh, karena mereka ( yang menulis surat ) memang tidak tahu siapa yang membunuh sang penguasa Tumapel.


Sementara itu, Aria sambil di gendong oleh Buto Ijo bersama dengan rombongan, terus berjalan menjauhi kota Tumapel.


Setelah melihat jalan yang menuju ke arah gunung Semeru, dari semak belukar muncul seorang gadis.


Andira tersenyum, setelah melihat Aria dan rombongannya datang.


“Ku pikir kalian tidak akan melewati jalan ini,” ucap Andira.


“Jadi kau mengharapkan kami tewas! Aku tahu maksudmu, agar semua harta bisa kau miliki,” ucap Buto Ijo sambil melotot.


“Ih! Kakak kedua selalu saja berpikiran buruk kepadaku,” balas Andira.


“Mana….Mana barang daganganku nona? Tanya saudagar Ming dengan raut wajah cemas.


“Mari ikut aku! Seru Andira, sambil tubuhnya melesat, masuk ke dalam hutan kecil yang ada di belakangnya.


Rombongan Aria mengikuti Andira, setelah masuk ke dalam, tampak beberapa ekor kuda serta kereta kuda berisi barang-barang milik juragan Ming.


Juragan Ming melihat kereta kuda miliknya, langsung lari, kemudian menciumi kain yang menutupi kereta barang miliknya.


Hmm!


“Melihat barang, langsung lari sambil tertawa, tetapi giliran melihat musuh, langsung tak sadarkan diri,” ucap Buto Ijo sambil menatap saudagar Ming yang sedang senang, setelah melihat barang dagangannya masih utuh.


Aria memutuskan istirahat di sekitar kereta kuda, sedangkan Wangsa di suruh sesekali untuk melihat keluar, jikalau ada prajurit Tumapel yang mencari pembunuh Tumenggung Wirayuda.


Karena Aria yakin, prajurit tumapel yang tidak berada di rumah Tumenggung serta penduduk Tumapel sudah mengetahui bahwa pemimpin mereka tewas dan rumahnya habis terbakar.


Andira setelah membawa kereta kuda masuk kedalam hutan, mengambil ranting bercabang, kemudian menghapus bekas roda kereta di jalan dengan ranting pohon, agar jejaknya tidak di ketahui musuh.


Karena kecerdikan Andira, tempat mereka bersembunyi aman dari kejaran prajurit Tumapel.


“Tuan Li Ho! Apa anak buahmu tidak ada yang selamat? Tanya Aria.


“Semuanya tewas dengan gagah berani tuan Aria.


“Kalau tuan Buto Ijo dan tuan Wangsa tidak datang membantu, mungkin aku dan adikku juga akan tewas bersama mereka,” balas Li Ho.


“Apa tuan Aria akan ke kota Daha? Tanya Saudagar Ming, yang ikut bicara mendengar Li Ho dan Aria Pilong bercakap cakap.

__ADS_1


“Kami akan melanjutkan perjalanan kami, tuan! Maaf kali ini kita berbeda arah,” ucap Aria.


“Setelah daganganku habis, aku akan pulang ke negeriku dan aku mengundang tuan untuk datang ke Tiongkok.


“Aku sangat senang jika tuan Aria mau berkunjung kesana.” Balas Saudagar Ming.


Li Mei menatap Aria dari balik cadarnya, raut wajahnya seperti berharap dan menunggu jawaban, dari perkataan saudagar Ming.


“Mungkin di lain kesempatan, jika urusanku di tanah Jawa sudah selesai, untuk menambah pengalamanku, tawaran tuan Ming akan kupikir kan lagi,” balas Aria.


“Kami tunggu kedatangan tuan Aria,” tiba-tiba Li Mei berkata dengan nada penuh harap.


Li Ho langsung menatap ke arah Li Mei setelah mendengar perkataannya, sedangkan Andini melirik dari sudut matanya, mendengar perkataan Li Mei.


“Aku dan Raden akan kesana! Ucap Buto Ijo.


Nguk….nguk!


Suara Suketi terdengar dari bahu Buto Ijo.


“Kau tunggu rumah saja! Ucap Buto Ijo, mendengar suara Suketi.


Plak!


Tangan mungil Suketi menampar pipi Buto Ijo.


“Hai gendut! Kalau berlari, kira-kira sampai di tempatmu berapa hari? Tanya Buto Ijo.


“Berlari! Ucap Ming Tao Lim sambil menatap ke arah Li Ho.


“Bagaimana nanti saja! Ucap Buto Ijo setelah mendengar perkataan Li Ho.


“Tuan Li! Apa tuan Li tahu jalan menuju Daha? Tanya Aria.


“Terus terang kami tidak tahu tuan,” jawab Li Ho.


Aria anggukan kepala.


“Kalau kami tidak ada tujuan, kami pasti mengantar tuan, tetapi kami tak bisa,” balas Aria.


“Kami sudah banyak merepotkan tuan Aria, kami tidak berani meminta tuan Aria untuk menemani kami ke kota Daha,” ucap Li Ho.


“Apa boleh buat,” Aria berkata dalam hati.


“Adik ke empat dan kelima, apa boleh aku minta tolong? Tanya Aria.


“Katakan saja kakak! Kalau kami bisa, kami akan berusaha membantu kakak ketiga,” jawab Andini.


“Aku minta tolong kepada kalian berdua, menjadi penunjuk jalan saudagar Ming.


“Kalian cukup antar mereka sampai ke gunung Kelud, setelah sampai sana, tolong suruh orang dan beberapa pengawal untuk mengiringi Saudagar Ming agar selamat sampai di kota Daha,” Aria berkata.

__ADS_1


Andini terkejut dan tak menyangka permintaan Aria adalah menjadi penunjuk jalan Saudagar Ming, itu artinya mereka akan berpisah, karena berbeda arah tujuan.


Andini menatap Aria, matanya tampak berkaca-kaca, benih cinta mulai tumbuh di hati Andini, tetapi Akhirnya mereka harus berpisah.


“Apa….apa tidak ada lagi yang bisa mengantar, selain kami berdua? Tanya Andini dengan nada sedih.


Aria tersenyum mendengar perkataan Andini.


“Tidak ada lagi yang bisa aku percaya untuk mengantar saudagar Ming, selain adik ke empat dan adik kelima,” jawab Aria sambil tersenyum.


“Tapi….tapi aku masih ingin bersama kakak ketiga,” jawab Andini dengan nada sedih.


“Nona tidak perlu repot-repot! Kami akan bertanya jalan menuju Daha kepada orang yang kami temui,” ucap Li Ho, setelah melihat sepertinya Andini keberatan untuk mengantar mereka.


Andini sebenarnya menunggu jawaban dari Aria, tetapi setelah tak ada kata-kata keluar dari mulut Aria, Andini membalas perkataan Li Ho.


“Kami berdua akan mengantar kalian sampai di gunung Kelud, setelah sampai di gunung Kelud, kalian akan di antar oleh orang dari keluarga Kemala untuk sampai di kota Daha.


Aria anggukan kepala setelah mendengar kesanggupan Andini.


“Kalian berdua jika sudah berada di gunung Kelud, tingkatkan lagi ilmu kalian, dan belajar di bawah bimbingan Naga hijau, suatu saat aku akan ke gunung Kelud untuk menemui kalian, dan aku harap kepandaian kalian bisa membantuku untuk berjuang, menegakkan keadilan di tanah jawa ini.”


Andini langsung tersenyum gembira mendengar perkataan Aria yang hendak ke gunung Kelud.


“Kakak ketiga jangan khawatir, kami berdua akan giat belajar, agar kepandaian kami tinggi dan tidak lagi menjadi beban buat kakak bertiga! Aku serta Andira tidak akan mengecewakan kakak ketiga,” balas Andini, ada setitik harapan dalam hati Andini setelah mendengar Aria akan ke gunung Kelud.


“Bagus! Seru Buto Ijo setelah mendengar perkataan Andini.


Buto Ijo lalu berkata kembali.


“Kalau tidak ada wanita, kami akan lebih cepat sampai tujuan.”


Phuih!


“Jadi maksudmu, Kita bertiga saja yang berangkat ke Semeru dan Wanita tidak boleh ada yang ikut? Tanya Wangsa.


Buto Ijo anggukan kepala.


Melihat Buto Ijo anggukan kepala, bibir Wangsa tampak tersenyum.


“Suketi! Kau nanti ikut bersama adik ke empat dan kelima mengantar rombongan saudagar Ming,” ucap Wangsa.


“Suketi ikut denganku,” ucap Buto Ijo,


“Bukankah tadi kau bilang tidak boleh ada wanita dalam rombongan kita,” balas Wangsa.


“Benar,” balas Buto Ijo.


“Sekarang, aku mau bertanya padamu.


“Suketi, pria atau Wanita? Lanjut perkataan Wangsa.

__ADS_1


Buto Ijo mendengu kesal setelah mendengar pertanyan Wangsa, kemudian menjawab.


“Kera”


__ADS_2