Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 81 : Bara Di Kota Tumapel


__ADS_3

Buto Ijo yang terus berlari tanpa henti akhirnya lewat tengah malam sampai di Tumapel, setelah bertanya tempat tinggal Tumenggung Wirayuda, Buto Ijo langsung menanyai seorang prajurit jaga.


Setelah mendengar kabar bahwa rombongan saudagar Ming di tawan, baru Buto Ijo mulai melampiaskan kemarahan, sehingga se isi rumah Tumenggung Wirayuda gempar dan langsung mengurung Buto Ijo.


Buto Ijo sambil teriak-teriak terus menghantam prajurit Tumapel yang mengurung dirinya.


“Wirayuda keparat, Keluar kau! Biar cepat ku patahkan batang lehermu,” teriak Buto Ijo.


Suara teriakan prajurit dan suara Pluit tanda bahaya, serta kentongan prajurit jaga, membuat rumah Tumenggung Wirayuda Ramai.


Puluhan obor menerangi langit malam, di sekitar kediaman Tumenggung Wirabumi.


Wirabumi dan seorang kakek tua yang di sebut Rajawali hitam, terus mengawasi Buto Ijo yang tengah mengamuk.


Tetapi kakek tua yang hendak bergerak, tangannya di tarik oleh Tumenggung Wirayuda, “tunggu dulu Ki,” ucap Tumenggung Wirayuda, setelah mendengar teriakan dari samping rumahnya.


“Tawanan melarikan diri…..tawanan melarikan diri,” teriak beberapa orang prajurit.


“Keparat! Siapa yang berani membebaskan tawanan? Ucap Tumenggung wirayuda dengan nada geram mendengar teriakan tawanan melarikan diri.


“Mari kita kesana, Ki! Seru Tumenggung Wirayuda, sambil melesat ke arah samping rumahnya.


Dua bayangan langsung melesat, ke arah dimana Aria baru saja keluar dari rumah tahanan dan sedang di kepung oleh puluhan prajurit Tumapel.


Aria memegang tombak yang berhasil ia rebut, sebagai ganti tongkatnya dan terus menyabetkan tombak sambil melindungi saudagar Ming.


Saudagar Ming setelah melihat kepandaian Aria, selalu berada di belakang pemuda itu, karena saudagar Ming yakin hanya Aria yang bisa menyelamatkan nyawanya dari serangan prajurit Tumapel.


Li Ho memakai tombak, sedangkan Li Mei dan Andini merebut Pedang, ketiganya bergerak gesit menghindar sambil balas menyerang.


Aria memutar tombak, lalu menangkis golok yang membacok kepalanya.


Trang!


Golok terpental akibat pantulan badan tombak yang lentur, setelah golok terpental, Aria menyabetkan tombaknya ke arah perut.


Bret!


Perut prajurit Tumapel robek, isi perut prajurit naas itu keluar dan tubuhnya langsung ambruk.


“Saudagar Ming apa kau punya kepandaian? Tanya Aria.


“Sedikit, tuan Aria,” jawab Saudagar Ming.


“Ambil pedang dan bertahan, aku akan membantu tuan Ming jika ada yang menyerang,” balas Aria, yang tubuhnya sedang beradu punggung dengan saudagar Ming.


“Terima kasih tuan Aria,” ucap Saudagar Ming dengan suara bergetar.


Ming Tao Lim merasa terharu mendengar perkataan Aria, yang berusaha melindunginya.


Saudagar bertubuh gempal itu merasa malu, karena tadi di dalam penjara, ia sempat mempunyai pikiran buruk terhadap Aria Pilong.


Berhenti!


Teriakan menggelegar terdengar dari mulut Tumenggung Wirayuda, setelah melihat puluhan prajuritnya tewas.


Aria kerutkan keningnya mendengar suara teriakan yang di kerahkan dengan tenaga dalam tinggi.


“Tumenggung Wirayuda,” ucap Aria dengan nada dingin.


“Hati-hati tuan Aria,” bisik Ming Tao Lim.


Aria anggukan kepala mendengar perkataan Saudagar Ming.


Tumenggung Wirayuda menatap tajam ke arah Ming Tao Lim.


“Berani sekali orang asing mengacau di tempatku, katakan siapa yang telah membantu kalian keluar dari penjara? Tanya Tumenggung Wirayuda sambil menatap tajam ke arah Ming Tao Lim.


“Tuan Tumenggung Wirayuda, bebaskan kami! Aku tidak jadi berdagang dengan tuan,” balas Ming Tao Lim.


Phuih!


“Berani sekali kau bicara, setelah menghianati aku,”ucap Tumenggung Wirayuda.

__ADS_1


“Wirayuda, Lepaskan mereka! Mereka tidak tahu apa-apa, aku yang membunuh semua orang-orangmu,” ucap Aria.


Tumenggung Wirayuda kerutkan kening sambil menatap ke arah Aria, yang kini berdiri di sisi Ming Tao Lim.


“Siapa kau? Tanya Tumenggung Wirayuda, sambil menatap Aria yang memakai pakaian Li Ho.


“Kau kenal dengan Senopati Singalodra? Tanya Aria.


Tumenggung Wirayuda kerutkan kening mendengar perkataan Aria.


“Singalodra adalah kemenakan ku! Apa kau kenal dengan Singalodra? Tanya Tumenggung Wirayuda.


“Kau tahu siapa yang membunuh Senopati Singalodra? Aria tidak menjawab dan balik bertanya.


“Singalodra tewas oleh Iblis Buta,” jawab Tumenggung Wirayuda.


“Kau kini sedang berdiri di depan iblis buta,” ucap Aria dengan nada dingin, sinar kuning ke emasan terlihat setelah Aria membuka kelopak matanya.


Aria langsung melesat sambil menusukan tombaknya ke arah dada Tumenggung Wirayuda.


Ketika Aria berbicara dengan Tumenggung Wirayuda, Aria Pilong mengerahkan tenaga dalamnya ke mata, sehingga Aria dapat melihat aura dari Tumenggung Wirayuda.


“Bangsat buta!? Teriak Tumenggung Wirayuda sambil bergerak ke kanan, menghindari tusukan tombak Aria Pilong.


Aria melihat Tumenggung Wirayuda bergerak ke kanan, tombaknya melesat menyamping, menyambar pinggang Tumenggung Wirayuda.


“Keparat! Ucap Tumenggung Wirayuda sambil mundur satu tombak, menghindari serangan tombak Aria.


Ming Tao Lim setelah Aria berhadapan dengan Tumenggung Wirayuda, langsung di kepung oleh prajurit Tumapel.


Keringat dingin keluar dari tubuh Ming Tao Lim melihat para prajurit mulai maju mendekat.


Li Ho, Li Mei serta Andini tidak bisa menolong, karena mereka juga sedang di kepung oleh puluhan prajurit Tumapel.


Belum lagi kakek berpakaian hitam dengan rambut, jenggot serta kumisnya yang berwarna putih tengah mengawasi.


“Mundur….mundur kalian! Seru Ming Tao Lim, sambil menyabet kan pedangnya ke kanan dan ke kiri, kemudian ke arah prajurit yang mendekat.


Seorang prajurit bertubuh besar menyeringai, kemudian berteriak sambil lompat membacok kepala Ming Tao Lim dari atas.


Buk!


Tubuh prajurit terpental karena tubuhnya terhantam oleh prajurit yang di lempar Buto Ijo.


Suketi melesat dari bahu Buto Ijo ke arah seorang prajurit, setelah sampai di bahu prajurit Tumapel, Tangan mungil Suketi menarik urat besar di leher sang prajurit.


Bret!


Prajurit naas itu langsung rubuh sambil memegangi lehernya, Suketi lompat ke tanah di samping Buto Ijo, perlahan tubuhnya membesar dan berdiri di samping Buto Ijo.


“Kera….kera jadi besar,” ucap Ming Tao Ling sambil menunjuk ke arah Suketi yang tubuhnya yang berbentuk kera, tetapi sekarang besarnya hampir sama dengan Buto Ijo.


Brak!


Ming Tao Lim langsung ambruk tak sadarkan diri karena terkejut, setelah melihat tubuh Suketi berubah menjadi besar.


Rajawali hitam setelah melihat Buto Ijo dan Suketi, bibirnya tersenyum kemudian melesat dan berdiri di hadapan Buto Ijo dan Suketi.


Buto Ijo dan Suketi tidak memperdulikan Rajawali hitam yang berdiri di hadapan mereka.


“Kenapa dia? Tanya Suketi, sambil menunjuk Ming Tao Lim.


“Saking kagumnya si gendut itu melihatmu, dia sampai pingsan,” ucap Buto Ijo sambil menyeringai.


Plak!


Suketi menampar pelan pipi Buto Ijo.


“Kakang Buto mengejek aku,” Suketi berkata, sambil tundukkan kepala.


“Benar! Kakang Buto tidak bohong,” ucap Buto Ijo.


Hmm!

__ADS_1


Dengus Rajawali hitam, melihat Buto Ijo bercakap cakap dengan Suketi tanpa mengindahkan kehadirannya.


“Nanti kalau si gendut sadar, kau tanyakan saja! Kalau dia bohong, biar ku patahkan batang lehernya,” lanjut perkataan Buto Ijo.


Hmm!


Kembali Rajawali hitam mendengus mendengar perkataan Buto Ijo.


“Diam kau, bangsat! Kau tak lihat aku sedang bicara.


“Hmm….Hmm! Terus dari tadi.


“Kalau tak bisa diam! Ku pelintir nanti batok kepalamu,” ucap Buto Ijo sambil melotot.


Rajawali hitam kerutkan kening mendengar makian Buto Ijo.


“Bangsat! Kenapa kau memaki aku? Balas Rajawali hitam sambil melotot, tubuhnya langsung melesat, lalu tangan kanan menghantam ke arah dada Buto Ijo.


Bret!


3 jari Rajawali hitam layaknya cakar rajawali merobek baju Buto Ijo.


Buto Ijo mengantam ke arah kepala Rajawali hitam.


Plak!


Tangan kiri Rajawali hitam menangkis hantaman Buto Ijo.


Rajawali hitam langsung melesat mundur, setelah berhasil menangkis serangan Buto Ijo, karena melihat Suketi hendak bergerak menyerangnya.


Rajawali hitam menatap tajam ke arah dada Buto Ijo, ia yakin tadi 3 jarinya mengenai dada Buto Ijo, tetapi Rajawali hitam tidak melihat darah keluar dari dada Buto Ijo dan sepertinya Buto Ijo tidak terluka.


“Rupanya benar menurut cerita yang kudengar, bahwa kau kebal pukulan,” ucap Rajawali hitam.


Buto Ijo membanting capingnya, lalu menatap Rajawali hitam.


“Siapa kau orang tua? Tanya Buto Ijo.


“Aku Rajawali hitam, orang yang akan membunuhmu,” jawab Rajawali hitam.


“Kali ini wajah Buto Ijo terlihat jelas, karena cahaya merah menerangi tempat dimana Buto Ijo dan Rajawali hitam berhadapan.


Cuaca yang tadinya dingin mulai terasa hangat.


“Bukankah kalian bertiga, mana satu orang lagi? Tanya Rajawali hitam.


“Ada yang sedang dia kerjakan,” jawab Buto Ijo.


Rajawali hitam yang tubuhnya membelakangi rumah Tumenggung Wirayuda kerutkan keningnya, mendengar perkataan Buto Ijo.


Rajawali hitam berpikir satu orang lagi ( Wangsa ) pasti sedang menyusun siasat, setelah mendengar perkataan Buto Ijo.


“Apa yang dia lakukan? Tanya Rajawali Hitam.


Buto Ijo menunjuk Rajawali hitam.


Rajawali hitam kerutkan keningnya, lalu menunjuk dirinya sendiri.


“Bukan kau, tetapi di belakangmu, tolol!


Rajawali Hitam langsung berbalik setelah mendengar perkataan Buto Ijo.


Raut wajah Rajawali hitam berubah pucat, setelah melihat api mulai membesar dari rumah Tumenggung wirayuda.


Cahaya merah dan cuaca yang berubah hangat, ternyata berasal dari api yang membakar rumah Tumenggung Wirayuda.


Wangsa bersama Andira yang berkuda, di belakang Buto Ijo, setelah sampai dan melihat puluhan prajurit tewas, bersama Andira masuk kedalam rumah Tumenggung Wirayuda.


Setelah melumpuhkan puluhan prajurit di dalam rumah Tumenggung Wirayuda, Wangsa dan Andira, kemudian membakar rumah Tumenggung wirayuda.


Satu bayangan putih bergerak cepat, dan sudah berdiri di samping Buto ijo.


Setelah berdiri di samping Buto ijo, Wangsa berkata sambil menatap Rajawali hitam.

__ADS_1


“Mundur, Jo! Biar aku yang hadapi.”


__ADS_2