
“Untuk apa! Memangnya tadi kau belum melihat? Tanya Aria.
“Sudah! Aku bisa menciumi dan membedakan bau darah siluman, mungkin saja darah anak buahku ada yang sama dengan darah milik Suketi,” jawab Kalasrenggi.
Aria memberikan kendi kecil berisi darah Suketi kepada Kalasrenggi.
Setelah menerima kendi dari Aria, Kalasrenggi membuka tutup kendi, lalu hidungnya membaui darah di dalam kendi.
Keningnya berkerut setelah membaui darah, setelah menutup kendi kecil, Kalasrenggi mengamati sekeliling kendi kecil pemberian Mpu Barada.
“Kendi ini memang bagus, tetapi tidak mengandung aura seperti kendi pusaka,” batin Kalasrenggi.
“Kalau hanya darah siluman yang masih perawan, anak buahku juga banyak, tetapi kenapa harus darah Suketi? pasti darah yang berada di dalam kendi sudah di beri mantra oleh Mpu Barada,” Kalasrenggi lanjut berkata dalam hati.
Setelah melihat dan meneliti, Kalasrenggi memberikan kendi kecil kepada Aria.
“Sudah kau periksa? Tanya Aria.
“Sudah! Tidak ada yang aneh dengan bau darah Suketi, mungkin darah ini sudah di beri mantra oleh Mpu Barada,” jawab Kalasrenggi.
“Mari kita lanjutkan perjalanan,” Kalasrenggi lanjut berkata.
Aria anggukan kepala.
Tetapi baru dua langkah, Kalasrenggi berkata kepada Wangsa.
“Berikan sebagian pusaka jarum tongkat emas kepadaku, untuk berjaga-jaga.”
“Bagaimana ketua? Tanya Wangsa kepada Aria, setelah mendengar perkataan Kalasrenggi.
“Berikan 5 batang jarum emas,” ucap Aria.
Wangsa memberikan 5 batang jarum emas kepada Kalasrenggi setelah mendengar perintah Aria.
“Raden! Biar aku gendong, agar kita cepat sampai di desa atau kota terdekat.”
Aria anggukan kepala mendengar perkataan Buto Ijo.
Rombongan melesat menuju ke arah timur.
Saat berada dalam gendongan Buto Ijo, Aria terus berpikir tentang gadis yang di kutuk, bukan terkutuk jika menurut hatinya.
Pengiwa berkata, jika ada yang berhasil menyelamatkan gadis itu, semua keinginan terkabul, tetapi setelah mendengar cerita Mpu Barada, bukan seperti apa yang ia dengar dari Pengiwa.
“Apa memang ada yang menyebarkan berita bohong, agar keberadaan gadis itu terus di buru oleh orang dunia persilatan? Batin Aria.
Teka teki ini bisa terjawab setelah berhasil membebaskan gadis itu.
Rombongan terus bergerak ke arah timur sesuai petunjuk yang di berikan oleh Mpu Barada.
Setelah bertanya pada pemburu atau penebang kayu yang mereka temui di hutan, ternyata kota Panarukan lumayan jauh dan letaknya berada di sisi laut.
“Desa Telaga warna berada di depan! Mari kita menuju desa itu, sebelum hujan semakin besar,” Selamet yang selalu berada di depan, jika mendapat keterangan ada desa atau kota di dekat mereka, karena Selamet yang akan menyiapkan tempat di desa atau kota yang akan mereka singgahi.
Rombongan bergerak semakin cepat, karena rintik air hujan sudah mulai jatuh membasahi bumi.
Setelah sore rombongan berhenti di depan gapura sebuah desa.
“Kau tidak salah tempat? Tanya Wangsa kepada Selamet, saat rombongan berdiri di depan gapura desa yang bertuliskan.
“Selamat datang di Desa Telaga Warna.”
Wangsa bertanya, karena melihat desa terlihat sepi dan tak ada penduduk yang lalu lalang.
“Desa ini memang sepi, tetapi ada penginapan untuk kita berteduh, karena hujan mulai turun, nama desa ini yang membuat aku tertarik, tetua,” jawab Selamet sambil menatap Wangsa dengan penuh arti.
“Telaga dan cuaca sedang hujan,” itu yang terbesit di pikiran Wangsa setelah mendengar perkataan Selamet.
“Kau benar! Siapa tahu pelangi akan muncul di sini,” ucap Wangsa.
Phuih!
“Mau di mana pelanginya turun? Di sumur,” Buto Ijo berkata, setelah mendengar perkataan Wangsa.
“Telaga Warna, Jo! pasti ada telaga di sekitar desa ini,” balas Wangsa.
“Maneh pariksa kabeh daerah iye, kade sing apik, ulah aya nu kaliwat, Jang! wangsa berkata kepada si Beurit dengan bahasa yang mereka berdua mengerti.
Ujang Beurit anggukan kepala.
Si Beurit dengan ajian dasar bumi, lantas masuk ke dalam tanah, dan mulai melaksanakan perintah resi Wangsanaya, memeriksa Daerah di sekitar desa Telaga warna.
“Ngomong apa kau dengan si ujang? Tanya Buto Ijo.
__ADS_1
“Bukan urusanmu! Seru Wangsa.
“Bangsat! Di tanya benar, susah sekali kau menjawab,” balas Buto Ijo.
Wangsa dan rombongan mengikuti Selamet yang menuju ke tempat penginapan.
Penginapan tampak kotor dan tidak terawat, banyak sarang laba-laba menjadi hiasan di sudut-sudut ruangan penginapan.
“Apa tidak ada penginapan lain? Tanya Kalasrenggi.
“Hanya ada satu penginapan di telaga warna,” Selamet menjawab pertanyaan Kalasrenggi.
Seorang kakek tua dengan kain pembersih yang di taruh di bahu menghampiri.
“Kisanak yang tadi memesan kamar? Tanya orang tua itu.
“Benar Ki,” jawab Selamet.
“Untung kisanak cepat datang, kalau tidak! kamar tuan sudah di borong oleh, orang dari padepokan Srigunting,” balas Kakek tua.
“Padepokan Srigunting? Tanya Wangsa.
“Benar kisanak! Sesudah kisanak ini memesan kamar,” sambil jempolnya menunjuk Selamet, “datang orang dari padepokan Srigunting memborong semua kamar.”
“Padepokan Srigunting! Kenapa dalam perjalanan aku tidak melihat mereka,” ucap Selamet.
“Kau kenal dengan padepokan Srigunting? Tanya Wangsa.
“Padepokan Srigunting, berasal dari gunung Merapi, mereka mengandalkan kecepatan, seperti layaknya burung srigunting,” jawab Selamet.
“Dari Gunung Merapi! Untuk apa mereka jauh-jauh datang ke timur Jawa? Tanya Wangsa.
“Kenapa kau masih bertanya? Tentu saja memburu manusia terkutuk itu,” Kalasrenggi yang menjawab perkataan Wangsa.
“Sudahlah! Asal mereka tidak mengganggu, Kita jangan mencampuri urusan orang lain,” ucap Aria.
Mereka lalu menempati kamar yang sudah di sediakan.
Beberapa pasang mata, tampak mengawasi Aria serta kawan-kawan ketika jalan ke arah kamar.
Setelah makan malam yang di bawa Selamet, Aria menerima laporan dari Ujang.
“Ketua! Banyak orang bergerak menuju ke arah pinggiran desa, di sana ada telaga musiman, jika musim hujan
“Saat ini air di telaga mulai naik, dan aku yakin jika nanti malam rintik hujan tidak juga berhenti, aku yakin pelangi akan muncul di desa ini.
“Itu sebabnya banyak orang yang berkumpul di sekitar telaga warna,” Aria berkata kepada Anak buahnya.
“Apa kau kenal dengan pendekar yang berada di dekat telaga? Tanya Kalasrenggi.
“Sebagian dari padepokan Elang emas, tetapi sisanya aku tidak tahu, orang Elang emas aku tahu, karena rambut anggotanya yang berwarna kuning ke emasan.
“Kalau begitu! Lebih baik kita istirahat, besok pagi-pagi kalian lihat pelangi dari sini, jika memang benar ada! Baru kita ke telaga warna.
Semua keluar dari kamar Aria, kecuali Buto Ijo.
Aria bersemedi di dalam kamar, berusaha menenangkan hati dan menambah tenaga dalam, sedangkan Buto Ijo terus merayu Suketi untuk berubah wujud menjadi manusia.
“Ayo lah Suketi! Kemarin kau gampang berubah ketika Mpu Barada meminta darahmu, kenapa sekarang tidak bisa? Tanya Buto Ijo.
“Kakang! Kita harus menikah dulu, baru bebas melakukan apa saja, kalau sekarang aku berubah menjadi manusia, pasti kakang akan melakukan hal yang di larang,” jawab Suketi.
“Memangnya kenapa? Toh kita akan menikah,” balas Buto Ijo.
“Belum tentu, kakang! Karena perjalanan masih panjang, aku atau kakang belum bisa di pastikan selamat setelah kembali dari Alas Purwo.
Hmm!
“Aku hanya penasaran, kata orang kawin itu enak! Tapi dimana enaknya? dan apa rasanya yang membuat kawin itu enak.”
“Nanti juga kakang Buto akan tahu, jika kita sudah menikah,”
Suketi tetap tak bergeming walau di bujuk oleh Buto Ijo.
Saat tengah malam, rintik hujan yang mengenai Atap rumah, masih terdengar.
“Aria membuka mata, warna kuning ke emasan di matanya bersinar, karena ia merasakan di luar kamarnya seperti ada sinar merah yang melesat dari kamar Kalasrenggi yang posisi kamarnya bersebelahan dengan Aria.
“Buka jendela kamar! Seru Aria kepada Buto Ijo.
Setelah jendela terbuka, Aria melesat ke arah sinar merah yang melesat dengan cepat, menjauh dari penginapan.
Hmm!
__ADS_1
“Siluman Api keparat! Hujan hujan masih saja ingin tahu urusan orang,” dengus Buto Ijo sambil menyusul Aria yang melesat terlebih dahulu.
“Apa Raden punya pemikiran yang sama denganku? Tanya Nyi Selasih.
“Pikiranku memang mengarah kesana, tetapi aku ingin menangkap terlebih dahulu mahluk itu dan menanyainya,” jawab Aria.
Aria terus mengikuti aura merah yang terlihat.
Setelah berada agak dekat, Aria melemparkan tongkatnya yang sudah di salurkan ajian Cakra candhikala.
Shing!
Tongkat melesat dengan cepat ke arah Siluman api.
Crep!
Tongkat menembus pinggang kiri Siluman api.
Mahluk ghaib itu terpental, tangannya berusaha mencabut tongkat dari pinggangnya.
Sret….Trak!
Setelah mencabut tongkat, siluman api membanting tongkat Aria karena kesal.
“Keparat! Gara-gara hujan, aku tak bisa berubah menjadi bola api,” ucap Siluman api dengan nada kesal, sambil menahan sakit di pinggangnya, darah berwarna hitam tampak mengucur dari pinggang siluman api.
Siluman api melihat Aria mulai mendekat, lalu bersiap untuk pergi melarikan diri, saat tubuhnya hendak melesat, tiba-tiba Siluman Api mundur setombak kebelakang, karena Aria sudah berdiri di hadapannya.
Aria melihat Aura siluman api bertambah besar, tanda hendak melarikan diri , langsung menggunakan Ajian Rogo Demit, dan tepat berada di depan siluman api.
“Mau apa kau? Tanya Siluman api.
“Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kau di dekat kamarku? Aria balik bertanya.
“Aku sedang lewat, tidak tahu siapa saja yang berada di dalam penginapan,” jawab Siluman api.
“Dusta! Seru Buto Ijo yang baru saja sampai.
“Biar aku yang habisi dia, Raden! Lanjut perkataan Buto Ijo.
Buto Ijo yang memang tak suka terhadap siluman api, mulai bersiap.
“Jangan bunuh! Aku ingin menanyai dia,” Aria berkata.
Sebelum Buto Ijo menjawab, satu bayangan melesat dengan cepat dari arah kanan, kepalan tangan berwarna merah menghantam ke arah kepala siluman api.
Siluman api merasakan sambaran angin tajam dari samping kanan, langsung menoleh.
Raut wajah siluman api tampak tak percaya, setelah melihat orang yang menghantamnya, siluman api tak sempat menghindar.
Prak!
Darah hitam muncrat, kepala siluman api hancur berantakan terkena ajian Bola matahari yang di salurkan ke kepalan tangan.
Tubuh Siluman api perlahan menghitam dan seperti terbakar, kemudian menjadi debu hitam lalu lenyap bersama air hujan.
“Maaf! Saudara Buto Ijo, Aku mendahului mu,” ucap Kalasrenggi sambil tersenyum.
“Tidak apa-apa! Aku memang paling benci kepada siluman api, dia memang pantas mati,” ucap Buto Ijo.
Suara dengusan keluar dari hidung Aria, setelah mendengar perkataan Kalasrenggi.
Kalasrenggi langsung menoleh mendengar suara dengusan Aria, lalu bertanya.
“Ketua tidak suka aku membunuhnya? Tanya Kalasrenggi dengan sorot mata tajam.
“Aku bukannya tidak suka kau membunuhnya, sebenarnya aku ingin menangkap dan menanyainya terlebih dahulu,” jawab Aria.
“Maaf kan aku! Aku tidak tahu maksud ketua,” balas Kalasrenggi.
“Sudahlah, menyesal juga percumah, dia sudah mati,” Aria membalas perkataan Kalasrenggi.
“Memang apa yang ketua tanyakan? Tanya Kalasrenggi.
“Siapa yang menyuruhnya untuk memata-matai aku,” jawab Aria.
Hmm!
“Sayang sekali,” ucap Kalasrenggi sambil menarik napas, seperti sedang menyesal mendengar perkataan Aria.
Raut wajah Kalasrenggi berubah ketika mendengar perkataan Buto Ijo.
“Hai botak, kenapa kau tiba-tiba ada di sini?
__ADS_1