Iblis Buta

Iblis Buta
Ijin Dan Restu Prabu Anak Wungsu


__ADS_3

Prabu Anak Wungsu keluar dari tempat persembunyianya setelah situasi terkendali.


Orang pertama yang di temui oleh Prabu Anak Wungsu adalah Aria serta rombongannya.


Di antar oleh panglima laut I Gusti Wardana, Prabu Anak Wungsu langsung menuju Aria yang masih berada di depan benteng istana.


“Tuan….tuan pendekar! Terima kasih atas pertolongan tuan sekalian,” Prabu Anak Wungsu langsung memberi hormat dan berkata, setelah bertemu dengan Aria Pilong.


Aria Pilong membalas perkataan Prabu Anak Wungsu sambil balas memberi hormat.


“Maaf….maaf! Bila kami membuat keributan, di tempat Baginda Prabu,” balas Aria setelah di beritahu oleh Selamet, yang menghampiri mereka adalah Prabu Anak Wungsu dan panglima I Gusti Wardana.


“Kami justru senang dengan keributan ini, karena keributan yang tuan pendekar katakan, telah melepaskan kami rakyat Bali dari malapetaka,” Prabu Anak Wungsu berkata sambil tersenyum setelah mendengar perkataan Aria.


“Mari-mari tuan pendekar! Kita berbincang bincang di dalam istana, maafkan kami karena acara sambutan untuk tuan pendekar jadi berantakan,” Prabu Anak Wungsu berkata sambil mempersilahkan Aria.


Prabu Anak Wungsu juga memerintahkan Panglima I Gusti Wardana untuk membersihkan mayat prajurit dan Elang raksasa yang tewas.


Aria senang dengan Prabu Anak Wungsu, perkataannya tulus dan tidak segan-segan berkata terlebih dahulu untuk menyapa.


“Benar yang di katakan oleh Nahkoda kapal, Raja yang memerintah di Bali adalah orang yang bijaksana dan cinta terhadap rakyatnya, itu terbukti dari perkataan beliau yang ramah dan sopan,” Aria berkata dalam hati setelah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Prabu Anak Wungsu


Sesampainya di dalam istana, jamuan di lakukan oleh sang Prabu, makanan ter enak dan minuman segar serta kue di hidangkan untuk menyambut tamu istimewa yang telah menyelamatkan istana Tampak Siring dari teror ketua padepokan Elang Emas, si Elang jantan.


Buto Ijo tanpa banyak basa basi langsung mengambil satu ayam bakar dan langsung melahapnya.


Prabu Anak Wungsu menemani Aria bersantap, sambil bercakap-cakap.


“Kenapa hanya ada permaisuri, kemana putra putri Prabu Anak Wungsu? Tanya Aria saat bercakap cakap.


Prabu Anak Wungsu menarik napas dalam-dalam mendengar perkataan Aria.


“Dewa Agung tidak memberikan kepercayaan kepadaku untuk membesarkan putra atau putri,” balas Prabu Anak Wungsu dengan nada sedih.


“Maafkan aku baginda, aku tidak bermaksud untuk membuat baginda sedih,” Ucap Aria.


“Tidak apa-apa tuan Aria, aku hanya pasrah dengan ketetapan yang sudah di tentukan oleh Dewa terhadapku, aku hanya berharap rakyatku makmur, sejahtera,” balas Prabu Anak Wungsu


“Apa ini adalah istri tuan Aria? Tanya Prabu Anak Wungsu.


“Buwana Dewi belum menjadi istri Kakang Aria, Baginda,” Buwana Dewi yang menjawab, wajahnya merah di sebut istri Aria oleh Prabu Anak Wungsu.


Lanjut perkataan Buwana Dewi, sambil tundukkan kepala.


“Kami berdua mau minta ijin kepada Prabu Anak Wungsu, tetapi jika sang Prabu berkenan.”


“Ijin! Ijin untuk apa? Tanya Prabu Anak Wungsu, kemudian lanjut berkata “katakan saja.”

__ADS_1


“Kami berdua dalam tiga hari kedepan, ingin melakukan acara pernikahan di istana Tampak Siring,” balas Buwana Dewi.


Ha Ha Ha


“Selamat….Selamat! Aku sekali lagi ucapkan selamat kepada kalian berdua,” Seru Prabu Anak Wungsu.


“Kalian berdua memang pasangan sempurna,” Prabu Anak Wungsu lanjut berkata.


“Aku beserta orang dari istana tampak siring akan menyiapkan acara pernikahan kalian, kalian tidak usah khawatir, kalian berdua Silahkan jalan jalan untuk menikmati pemandangan pulau Bali.”


Aria tersenyum begitupula dengan Buwana Dewi, raut wajah Buwana Dewi tampak ceria.


“Tuan Aria beruntung, Nona Buwana Dewi sangat cantik,” ucap Prabu Anak Wungsu.


Aria tersenyum pahit mendengar perkataan Prabu Anak Wungsu, karena kecantikan Buwana Dewi hanya bisa di nikmati oleh orang lain, tidak untuk dirinya yang tidak bisa melihat wajah Buwana Dewi.


“Aku dengar ada beberapa pejabat kerajaan yang berkhianat terhadap Prabu Anak Wungsu? Tanya Aria, untuk membelokan percakapan ke arah lain.


“Benar! Patih Nyoman Sidharta dan Senopati kembar, Gala dan Gali termakan oleh bujuk rayu Elang jantan,” jawab Prabu Anak Wungsu.


“Apa mereka sudah tewas? Tanya Aria.


“Mereka berhasil melarikan diri bersama ratusan prajurit,” jawab Prabu Anak Wungsu.


“Aku akan menyuruh anak buahku untuk menangkap patih dan kedua Senopati,” balas Aria.


“Tidak….tidak! Kami sudah banyak merepotkan tuan sekalian, aku sudah menyuruh Panglima Wisnutama untuk memburu ketiga pengkhianat itu, sebaiknya tuan sekalian istirahat,” balas Prabu Anak Wungsu mendengar perkataan Buto Ijo, sekaligus memastikan kepada Aria bahwa ia belum membutuhkan bantuan untuk memburu orang kerajaan yang telah berkhianat.


“Aku akan umumkan bahwa ini adalah pernikahan kerajaan, Rakyat harus ikut merayakan kebahagiaan kalian berdua.


“Maaf! Kalau tidak ada halangan mungkin ada satu lagi pasangan yang akan menikah bareng bersama kami.


“Siapa? Apa yang hendak menikah ada di sini? Tanya Prabu Anak Wungsu sambil menatap ke arah anak buah Aria.


“Orang yang baginda maksud adalah orang yang paling banyak makannya,” Wangsa ikut bicara.


Prabu Anak Wungsu langsung menatap ke arah Buto Ijo, setelah mendengar perkataan Wangsa.


“Jadi tuan ini yang akan menikah? Tanya Prabu Anak Wungsu, “mana pasangannya? Lanjut pertanyaan Prabu Anak Wangsa.


Wangsa hendak menunjuk ke arah Suketi yang saat itu mulutnya penuh dengan kue, tetapi ia urungkan niatnya.


Sedangkan Prabu Anak Wungsu kerutkan. Kening, setelah pertanyaannya tidak ada yang menjawab.


Suketi turun dari meja, ketika mendengar tidak ada yang menjawab pertanyaan Prabu Anak Wungsu.


Perlahan Asap mengepul di ruangan, Prabu Anak Wungsu terkejut, pengawal kerajaan langsung berjaga-jaga di sekitar Prabu Anak Wungsu.

__ADS_1


Setelah asap menghilang, tampak seorang gadis dengan raut wajah hitam manis, bermata bulat dan bibir indah serta tubuh berisi yang di balut kebaya hitam, berdiri di samping Buto Ijo, kemudian memberi hormat kepada Prabu Anak Wungsu.


“Hamba bernama Suketi, pasangan Kakang Buto Ijo yang akan menikah bersama Raden Aria.


Prabu Anak Wungsu tampak tercengang melihat perubahan wujud Suketi.


“Jadi….jadi nona ini yang tadi duduk di meja? Tanya Prabu Anak Wungsu setelah melihat bibir Suketi masih ada sisa kue yang tadi ia makan, sang Prabu tidak mau menyinggung dengan menyebut Suketi adalah kera.


“Benar! Itu adalah Suketi, dia adalah putri Raja kera yang menguasai gunung Kawi,” Aria menjawab pertanyaan Prabu Anak Wungsu.


“Rupanya seorang Siluman, pantas saja rombongan mereka bisa membunuh Elang jantan dan tunggangannya,” batin Prabu Anak Wungsu setelah mendengar perkataan Aria.


“Kenapa diam, Kau tidak setuju dengan pernikahanku? Tanya Buto Ijo sambil menatap Prabu Anak Wungsu.


“Tidak….tidak! Aku setuju, aku hanya terkejut melihat perubahan wujud Nona Suketi,” jawab Prabu Anak Wungsu.


“Kami memang bukan orang seperti yang Prabu bayangkan,” Aria ikut bicara.


“Aku mengerti tuan pendekar, di dunia ini memang bukan hanya tempat tinggal manusia seperti kita, tetapi juga tempat tinggal Mahkluk tak kasat mata,” Balas Prabu Anak Wungsu.


“Kakakku raja Kadiri yang sudah mangkat, aku dengar mempunyai pelindung kerajaan yang di panggil Nyai Ratu.”


“Siapa kakak sang Prabu? Tanya Aria, mendengar perkataan Prabu Anak Wungsu.


“Kakakku adala Prabu Airlangga, setelah kakakku menikah dengan putri Raja Dharmawangsa Teguh, kakakku akhirnya menjadi raja setelah mertuanya di gulingkan oleh musuh-musuhnya,” jawab Prabu Anak Wungsu.


“Jadi Prabu Samarawijaya dan Prabu Mapanji Garasakan masih keponakan Prabu Anak Wungsu? Tanya Aria dengan raut wajah terkejut, karena tidak menyangka bahwa kerajaan Bali masih ada tali persaudaraan dengan kerajaan Kadiri dan Kahuripan.


“Tuan benar! Kedua raja itu masih keponakanku,” jawab Prabu Anak Wungsu sambil lanjut berkata.


“Aku berniat mengundang Kedua kerajaan untuk menghadiri acara pernikahan, acara pernikahan ini pasti meriah.”


“Tidak usah mengundang mereka! Aku hanya ingin menikah secara sederhana, tidak usah dengan acara kebesaran,” Aria membalas perkataan Prabu Anak Wungsu.


“Tidak mengapa tuan, serahkan urusan ini padaku, aku jamin mereka akan datang, tetapi aku minta waktu agar pernikahannya di undur beberapa hari, agar kedua kerajaan bisa datang dan melihat pernikahan kedua tuan pendekar,” Prabu Anak Wungsu berkata, karena berpikir bahwa Aria malu dan merasa rendah diri kalau pernikahannya akan di hadiri oleh kedua pejabat dari dua kerajaan besar dari tanah jawa bagian timur.


“Belum tentu kedua kerajaan mau datang di acara pernikahanku,” balas Aria.


“Memangnya kenapa? Tanya Prabu Anak Wungsu dengan raut wajah tak mengerti.


Aria menjawab pertanyaan Prabu anak Wungsu sambil tersenyum dingin.


“Karena aku sudah membunuh beberapa Tumenggung dan Senopati di kedua kerajaan itu.


Prabu Anak Wungsu langsung diam, mendengar perkataan Aria, dalam hatinya kembali bertanya tanya sambil menatap pemuda yang ada di depannya.


“Siapa pemuda ini sebenarnya?

__ADS_1


__ADS_2