
Dendam Elang Jantan kepada Jagad Buwana sudah merasuk ke dalam tulang.
Tetapi setelah mendengar beberapa cabang perguruan yang baru saja ia dirikan, hancur oleh Aria, Elang jantan berpikir untuk mencari tambahan anggota untuk menyerang padepokan Jagad Buwana.
Satu-satunya jalan pintas, dia harus bisa mengambil Alih kerajaan yang kekuatannya lemah, pilihan Elang jantan adalah Bali, dengan bantuan Elang raksasa serta anak buah Ki Banyu Alas, Elang jantan yakin bisa memaksa Prabu Anak Wungsu untuk menyerahkan prajurit yang ia miliki.
Satu opsi yang di berikan oleh Elang Jantan.
Prabu Anak Wungsu tetap menjadi pemimpin di Tampak Siring, tetapi yang mengendalikan Tampak Siring adalah dirinya.
Niat Elang Jantan sudah di katakan kepada patih Nyoman Sidharta, untuk di sampaikan kepada Prabu Anak Wungsu.
Prabu Anak Wungsu setelah menerima ancaman, meminta Patih Nyoman Sidharta agar tidak bicara kepada orang lain tentang ancaman Elang jantan, agar penduduk tidak cemas, sambil mencari cara menghadapi Elang Jantan serta peliharaannya.
Tetapi Elang raksasa butuh makan, dan makanan yang mudah di dapat oleh Elang raksasa adalah para nelayan dan penduduk yang sedang bercocok tanam.
Itu sebabnya Elang jantan menyuruh para Elang raksas memangsa serta meneror para penduduk
Untuk memberi peringatan kepada Prabu Anak Wungsu, jika permintaan Elang jantan tidak di turuti mereka akan terus memangsa para penduduk.
Itu sebabnya Prabu Anak Wungsu sangat gembira menerima surat dari I Gusti Wardana yang mengatakan sudah menemukan pendekar yang dapat membunuh Elang raksasa.
Sedangkan Elang jantan marah karena Prabu Anak Wungsu tidak juga memberi jawaban, di tambah rombongan Aria sampai di Bali, tekad Elang jantan semakin kuat untuk membalas dendam, sedangkan Ki Banyu Alas mengirimkan salah seorang anak buahnya yang ia percaya bernama Lembusora untuk membantu Elang jantan.
Rombongan Pengendara Elang di pimpin Elang jantan melesat menuju istana Tampak Siring.
Sedangkan Lembusora memimpin 100 orang anak padepokan Elang emas yang terdiri dari para buronan dunia persilatan maupun kerajaan.
Seratus ekor kuda setelah turun dari gunung, langsung menggebrak di jalan yang menuju ke arah Istana Tampak Siring.
***
“Aku sudah tidak sabar ingin segera sampai di Tampak Siring,” bisik Buwana Dewi saat berdua di dalam kereta kuda bersama Aria Pilong.
Aria tersenyum dari balik capingnya mendengar perkataan Buwana Dewi, kemudian menggenggam tangan calon Istrinya.
“Kita menikah, setelah Nyi Selasih selesai memulihkan tenaga, agar Nyi Selasih dapat menyaksikan hari bahagia itu,” balas Aria Pilong.
“Benar apa yang kakang katakan, Nyi Selasih harus hadir di acara pernikahan kita,” ucap Buwana Dewi sambil tersenyum.
Rombongan berjalan dengan santai sambil menikmati pemandangan Alam.
Istana Tampak Siring sudah berbenah atas perintah Prabu anak Wungsu.
Hiasan dari janur kelapa serta umbul-umbul terpasang di sepanjang jalan yang menuju istana Tampak Siring untuk menyambut kedatangan Rombongan Aria.
Sementara itu para petani yang sedang mencangkul di sawah sangat terkejut dan tak bisa menghindar, setelah se ekor Elang menyambar dan langsung menelan petani naas tersebut.
Suasana di desa yang berada di luar kawasan Istana Tampak Siring langsung gempar, kentongan dari bambu di pukul, untuk memberi tanda akan bahaya yang mengancam para penduduk.
Suara kentongan yang saling bersahutan akhirnya terdengar sampai ke istana Tampak Siring.
Patih Nyoman Sidharta dengan Raut wajah pucat langsung melapor kepada Prabu Anak Wungsu.
__ADS_1
“Baginda Prabu! Lima Ekor Elang raksasa di pimpin oleh Elang jantan mengamuk dan memangsa para penduduk yang sedang bercocok tanam,” Patih Nyoman Sidharta memberi laporan.
“Keparat, Dasar iblis! Seru Prabu Anak Wungsu dengan nada geram.
“Siapkan pasukan panah untuk bersiap,” Prabu Anak Wungsu memberi perintah kepada patih Nyoman Sidharta.
“Tapi Prabu! Apa pasukan panah berguna untuk menghalau ke 5 Elang raksasa? Tanya Patih Nyoman Sidharta.
Hanya untuk sementara, sampai menunggu kedatangan tamu yang bersama Gusti Wardana.
“Bagaimana jika tamu yang di undang tidak sanggup menghadapi Elang jantan, bukankah kerajaan kita akan lebih terancam, Baginda? Kembali Nyoman Sidharta berkata.
“Aku tidak peduli, lebih baik aku mati daripada menjadi boneka Elang jantan,” Prabu Anak Wungsu membalas perkataan Sang Patih.
“Cepat siapkan pasukan panah dan Tombak, usahakan mereka yang bertenaga besar, untuk menghalau pasukan Elang jantan,” kembali Prabu Anak Wungsu berkata, setelah melihat Nyoman Sidharta masih saja diam.
Nyoman Sidharta bergegas menyiapkan pasukan panah dan Tombak, sementara itu, kentungan dari bambu terus di bunyikan, untuk memperingatkan para penduduk akan adanya bahaya.
Di depan istana Tampak Siring terdapat alun-alun yang luas.
Di alun-alun istana para prajurit panah mulai berdatangan setelah mendapat perintah dari Patih Nyoman Shidarta.
Tak lama kemudian, 200 prajurit panah Serta 100 orang prajurit ber tombak, sudah berkumpul dan berbaris rapi di alun-alun istana Tampak Siring.
Prabu Anak Wungsu setelah melihat pasukan panah berkumpul, kemudian berteriak kencang.
Elang raksasa sedang membabi buta menyerang dan memangsa penduduk Tampak Siring, kita sebagai pelindung rakyat, tidak boleh berdiam diri, sebentar lagi pasti mereka menyerang ke istana.
Siapkan busur dan anak panah kalian, serta tombak dan juga lembing untuk membunuh Elang raksasa yang selama ini, selalu mengacau dan meneror penduduk.
Pasukan panah setelah mendengar arahan dari Prabu Anak Wungsu, kemudian bersiap dan membentuk Formasi panah yang biasa mereka latih, untuk menyambut serangan Elang raksasa.
Terompet serta alat musik di kumpulkan dan siap di bunyikan untuk menghalau para Elang.
Prabu Anak Wungsu, patih Nyoman Sidharta, panglima perang kerajaan Bali serta beberapa Senopati berdiri di depan istana, menunggu dengan hati cemas sambil menatap ke arah langit.
Tak lama kemudian suara pekik Elang terdengar, satu Elang berputar putar di atas istana Tampak siring.
Perlahan Elang Raksasa turun, bibir Elang jantan tersenyum penuh ejekan, melihat ratusan pasukan panah yang sudah di siapkan oleh Prabu Anak Wungsu, pengendara Elang tidak takut walah ratusan prajurit panah ada di bawah.
Elang jantan berteriak kencang.
“Prabu Anak Wungsu! Bagaimana dengan tawaranku? Tanya Elang jantan.
“Aku tidak bisa menerima tawaranmu, karena kau bukan manusia,” teriak Prabu Anak Wungsu.
“Sekarang kau sudah berani bicara, tidak minta waktu lagi kepadaku,” Balas Elang jantan.
“Waktu yang kau berikan masih ada 2 hari lagi, kenapa kau datang hari ini? Tanya Prabu Anak Wungsu.
“Karena kau sudah mengundang Iblis buta, itu sebabnya aku datang lebih cepat untuk menghabisi kalian semua,” jawab Elang Jantan dengan nada geram.
“Iblis buta! Aku tak mengerti dengan ucapanmu? Tanya Prabu Anak Wungsu.
__ADS_1
“Iblis buta yang telah membunuh Elang peliharaanku saat berburu di laut, kau jangan mungkir!? Teriak Elang Jantan dengan nada gusar.
“Serang! Teriak Prabu Anak Wungsu memberi perintah kepada Prajurit panah, ketika Elang jantan selesai berkata.
Ratusan anak panah, langsung melesat ke arah Elang kaki satu.
Elang jantan menepak leher sang Elang, saat prajurit mulai memanah!
Raja Elang langsung mengepakan kedua sayap, perlahan tubuhnya naik, sedangkan ratusan anak panah yang menyerang rontok terkena kibasan sayap elang.
“Serang dengan tombak! Teriak panglima Wisnutama kepada anak buahnya.
Puluhan tombak melesat cepat ke arah Raja Elang.
Shing….Shing….Shing!
Tangan Elang jantan sudah memegang pusaka jarum tombak emas.
Tombak langsung mengibas, angin besar serta puluhan jarum emas melesat ke arah para prajurit.
Teriakan para prajurit yang terkena jarum emas terdengar, mereka langsung ambruk karena tenaga mereka lenyap, akibat pengaruh jarum emas.
Beberapa tombak lewat di dekat tubuh Elang raksasa.
Raja Elang melesat naik lebih tinggi, kemudian ia memberi perintah kepada 4 penunggang lain.
“Serang! Bunuh semua yang ada di sini,” perintah Elang jantan dengan nada bengis.
Syuuut….Syuuut….Shing!
Anak panah yang di lepaskan dari punggung Elang balas menyerang, mengenai orang yang di incar oleh si pengendara Elang.
“Celaka! Panah kita terlalu ringan, dan tak bisa melukai elang-elang raksasa itu,” patih Nyoman Sidharta berkata setelah melihat, panah yang sudah di lepaskan jatuh ke tanah terkena kibasan angin dari sayap Elang.
“Lepaskan panah api! Seru panglima Wisnutama memberi perintah.
Whut….Whut!
Elang melesat lebih tinggi, saat prajurit Bali mulai menggunakan panah yang ujung panah di beri api.
Di Istana Tampak Siring peperangan mulai berkobar antara prajurit panah kerajaan Bali dengan para penunggang Elang, yang di pimpin oleh Elang jantan.
Sementara Itu, setelah menaiki bukit rombongan Panglima I Gusti Wardana perlahan mulai menuruni bukit, dari kejauhan, suara kentungan terdengar, serta suara musik yang nadanya tidak beraturan.
Rombongan langsung berhenti, setelah melihat titik hitam melayang layang di atas istana Tampak Siring, serta tombak api yang melesat mengeluarkan cahaya merah dan asap hitam.
“Kenapa ramai sekali di atas istana Tampak Siring? Tanya I Gusti Wardana.
Mendengar perkataan I Gusti Wardana Buto ijo balas bertanya.
“Bukankah kau bilang kedatangan kami akan di sambut oleh Prabu Anak Wungsu?
“Memang benar! Aku sudah mengirim surat kepada baginda Prabu untuk menyambut kedatangan tuan pendekar,” jawab I Gusti Wardana.
__ADS_1
“Kenapa kau bingung, dasar tolol! Balas Buto Ijo sambil lanjut berkata.
“Itu acara untuk menyambut kedatangan kami.”