
“Bagaimana bisa aku berpangku tangan, melihat anak yang ku asuh dalam bahaya,” orang yang di panggil Nyai Ratu berkata tanpa menoleh ke arah Mpu Barada.
“Selanjutnya apa yang harus kita lakukan? Tanya Mpu Barada.
“Satu hal lagi yang akan kita lakukan, tetapi bukan sekarang. Nanti di saat waktunya tiba, baru kita akan bertemu lagi dengan Buwana Dewi.”
Nyai Ratu angkat tangannya setelah berkata, kemudian tersenyum ke arah Buwana Dewi.
Buwana Dewi anggukan kepala sambil tersenyum.
Dua bayangan, hijau dan putih melesat pergi dari atas atap rumah Tumenggung Jati Wilis.
Patih Argobumi tersenyum pahit setelah melihat ke adaan Tumenggung Jati Wilis.
Patih Argobumi jadi teringat dengan Prabu Airlangga dahulu ayahnya adalah pengawal pribadi sang Prabu.
Ayahnya pernah cerita bahwa kerajaan Kadiri di lindungi oleh penguasa mahluk ghaib.
Sang pelindung selalu datang bersamaan dengan datangnya pelangi, Prabu Airlangga sangat menghormati pelindung kerajaann, sehingga di buatkan ruangan khusus yang tidak boleh di masuki oleh siapapun, selain sang Prabu dan sang pelindung.
Prabu Mapanji Garasakan juga pernah mendengar cerita ini, sehingga ia mengira gadis terkutuk yang menjadi rebutan para pendekar, ada sangkut pautnya dengan pelindung kerajaan di jaman ayahnya.
Setelah melihat ajian yang di pakai oleh si gadis, patih Argobumi sangat yakin kalau gadis yang sudah menewaskan Tumenggung Jati Wilis ada hubungannya dengan sang pelindung yang dulu oleh Prabu Airlangga di sebut Nyai Ratu.
Karena Ajian yang di pakai oleh si gadis, sama sekali belum pernah di lihat oleh Argobumi, seperti ajian yang bukan di ciptakan oleh manusia.
Buwana Dewi mengambil keris pusaka Naga hitam dari tanah, kemudian tangan kanan yang memegang keris di acungkan ke atas sambil tersenyum, tanda ia sudah memenangkan pertarungan.
Para penduduk dan pedagang yang tidak suka dengan Tumenggung Jati Wilis, langsung sorak memuji dan meng elu-elukan Buwana Dewi.
“Kakang! Ternyata aku bisa bertarung, untuk ke depannya aku tidak akan merepotkan kakang serta yang lain,” Buwana Dewi berkata setelah berada di depan Aria.
“Tidak kusangka! Sri Buwana Dewi ternyata sangat hebat, bagaimana Dewi langsung bisa bertarung, bukankah kemarin sama sekali tidak tahu cara bertarung? Tanya Wangsa.
“Aku di beritahu oleh Kakak Selasih, bahwa pelajaran menari dan ilmu napas untuk meniup suling bisa di pakai untuk bertarung,” jawab Buwana Dewi.
“Tadi aku lihat Dewi juga bisa memakai ajian yang memakai sinar pelangi, bagaimana caranya? Terus terang aku baru lihat ilmu sedasyat itu,” Wangsa kembali bertanya karena ia sangat penasaran.
“Tadi ibu datang bersama pembantunya, kakek berpakaian putih, kemudian ibu mengajari aku caranya menarik pelangi, mereka tadi berada di atap rumah besar itu,” Buwana Dewi berkata sambil menunjuk ke arah atap rumah Tumenggung Jati Wilis.
Raut wajah Wangsa dan Selamet berubah, atap rumah Tumenggung Jati Wilis tidak jauh dari tempat mereka, tetapi mereka semua tidak ada yang melihat dua orang berdiri di atap rumah.
“Dimana ibumu sekarang? Tanya Wangsa.
“Ibu sudah pergi,” jawab Buwana Dewi.
“Apa ibumu bersama kakek tua,” Wangsa lalu memberitahu ciri-ciri Mpu Barada.
Buwana Dewi anggukan kepala.
“Jadi ibumu bersama Mpu Batara? Tanya Buto Ijo.
“Barada, Jo! Seru Wangsa.
“Aku tidak tahu namanya, tetapi setahu aku dia pembantu ibu yang mengasuhku,” balas Buwana Dewi.
“Jangan-jangan ibu asuh mu adalah….ucap Buto Ijo, raut wajahnya tampak seperti sedang berpikir.
Wangsa kerutkan kening saat Buto Ijo tak meneruskan perkataannya, kemudian bertanya.
“Kau tahu perempuan yang mengasuh Buwana Dewi?
__ADS_1
“Pasti dia! Seru Buto Ijo.
“Katakan bangsat! Dia….dia saja, sebenarnya kau tahu tidak? Tanya Wangsa dengan raut wajah kesal.
“Makin tua, kau makin tidak sabar,” balas Buto Ijo.
Buto Ijo menarik bahu Wangsa, kemudian berbisik di telinga sang Resi.
“Ibu asuh Buwana Dewi, pasti istri Mpu Batara,”
Plak!
Buto Ijo terhuyung selangkah setelah pipinya di tampar oleh Wangsa.
“Bangsat! Aku serius tanya, kau malah bercanda,” Wangsa berkata dengan nada kesal.
“Resi keparat! Kenapa kau main pukul, memangnya perkataanku salah? Tanya Buto Ijo, sambil mengusap usap pipinya yang panas terkena tamparan Wangsa.
“Diam kau, tolol! Percuma aku bicara denganmu,” balas Wangsa.
“Ibu Asuh Buwana Dewi adalah Nyai Ratu penguasa laut Jawa,” kali ini Aria yang bicara.
Hmm!
“Rupanya sang Legenda,” batin Wangsa setelah mendengar perkataan Aria.
“Kau dengar tidak, siapa ibu asuh Buwana Dewi? Tanya Wangsa sambil melotot ke arah Buto Ijo.
“Kupikir istri Mpu Batara,” jawab Buto Ijo.
“Barada, tolol! Wangsa berkata dengan nada kesal.
“Kakang! Apa boleh keris ini menjadi senjataku? Tanya Buwana Dewi sambil memperlihatkan keris pusaka Naga hitam milik Tumenggung Jati Wilis.
“Panah, pedang, suling serta selendang adalah senjata yang pas untuk wanita, ini malah ingin keris, aneh! Ucap Buto Ijo.
“Aku tidak bicara denganmu! Balas Buwana Dewi.
Mendengar perkataan Buwana Dewi, Buto Ijo berkata kepada Suketi.
“Suketi! Aku tidak ijinkan, jika kau memilih keris sebagai senjata.”
Suketi langsung anggukan kepala, mendengar perkataan Buto Ijo.
“Belegug, sia! Keris jeung awak suketi, gede keneh keris na, suketi deuk kumaha nyepengna, mun senjatana keris, batur ge mikir , te kudu di omongkeun,” ( tolol, Lu! Keris sama badan Suketi masih gedean keris, kalau keris jadi senjata, gimana Suketi memegangnya, orang juga mikir, ga usah di di katakan lagi ) Ucap Wangsa dengan nada kesal.
“Bicara apa kau? Tanya Buto sambil melotot.
“Kalau tidak tahu, lebih baik diam,” jawab Wangsa.
“Jang! Apa artinya ucapan resi palsu tadi? Kali ini Buto Ijo bertanya kepada Si Beurit.
“Suketi tidak suka keris,” jawab ujang Beurit.
Hmm!
“Awas kau, kalau bicara pakai bahasa yang tidak ku mengerti, aku akan menyuruh ujang untuk meng artikan perkataanmu,” Buto Ijo berkata setelah mendengar arti ucapan Wangsa, dari Ujang beurit.
Phuih!
Wangsa meludah mendengar perkataan Buto Ijo.
__ADS_1
Raden Kusumo dan Selamet hanya bisa gelengkan kepala melihat Wangsa dan Buto Ijo, jika mereka sudah beradu omong, pasti bertengkar.
“Benar apa yang di katakan oleh Buto Ijo,” Aria berkata kepada Buwana Dewi.
“Dewi sudah mempunyai suling, untuk apa keris? Tanya Aria.
“Apa suling bisa di pakai jadi senjata? Tanya Buwana Dewi.
“Tentu saja bisa! Nanti aku yang akan mengajari mu,” Aria berkata sambil tersenyum dari balik caping.
Buwana Dewi memberikan keris pusaka Naga hitam kepada Aria.
Setelah menerima keris pusaka Naga hitam, Aria lalu berkata kepada Selamet.
“Met! Ambil warangka ( sarung ) keris ini.”
Selamet langsung bergerak, tak lama kemudian Selamet sudah berdiri di depan Aria sambil menyodorkan warangka keris pusaka naga hitam.
Aria tidak mengambil warangka dari tangan Selamet, tetapi malah menyodorkan keris pusaka Naga hitam sambil berkata.
“Keris ini untukmu! Menurutku, hanya kau yang cocok menggunakan keris ini, anggap ini hadiah dari Buwana Dewi.”
“Terima kasih ketua….terima kasih Sri Buwana Dewi, Selamet berkata sambil memberi hormat, Selamet sama sekali tidak menyangka Aria akan memberikan keris pusaka Naga hitam kepadanya, hati sang utusan sangat senang sekali.
Wangsa anggukan kepala mendengar keputusan Aria yang memberikan keris pusaka Naga hitam kepada Selamet.
“Pilihan yang tepat,” batin Wangsa.
Patih Argobumi merasa tidak di anggap oleh Aria dan rombongannya.
Sang patih memerintahkan kepala prajurit untuk membubarkan penduduk dan para pedagang, para prajurit juga di perintahkan oleh patih Argobumi untuk mencatat harta di gudang utara dan menuliskan nama-nama pedagang yang di rampok oleh Mata elang.
Kepala prajurit memerintahkan anak buahnya untuk melaksanakan perintah sang patih.
Setelah membubarkan para pedagang dan penduduk yang menonton pertempuran, sebagian prajurit langsung bergerak ke barat kota.
Setelah semua pedagang dan penduduk serta sebagian prajurit pergi, halaman di luar benteng rumah Tumenggung Jati Wilis tampak lengang.
“Aku tidak akan memaksa gadis itu, karena aku tahu siapa yang berada di belakangnya.
“Tetapi aku tidak bisa berdiam diri melihat padepokan Jagad Buwana bertindak sesuka hati tanpa memperdulikan pejabat tinggi kerajaan yang ada di depannya.
“Jika aku menang, aku ingin keris pusaka Naga hitam di kembalikan, karena keris pusaka Naga hitam adalah salah satu peninggalan Prabu Airlangga yang di berikan kepada ayah Jati Wilis karena jasa-jasanya, keris pusaka Naga hitam termasuk salah satu pusaka Kerajaan Kahuripan,” Patih Argobumi berkata.
“Kalau kau kalah? Tanya Aria dengan nada dingin.
“Apa yang kau inginkan dariku? jawab Patih Argobumi.
“Nanti akan kupikir kan lagi! Jawab Aria.
Setelah Aria menjawab, Patih Argobumi langsung pasang kuda-kuda, lalu tangan kanan memegang pusaka Gada bumi yang ia sandarkan diatas bahu.
Aria tersenyum, kemudian membuka dan melemparkan capingnya ke tanah.
Plak!
Kedua kaki berdiri tegap sedangkan tangan kanan memegang tongkat, Aria berkata setelah siap untuk bertarung.
“Sudah kau pikir, apa yang kau inginkan? Tanya Patih Argobumi melihat Aria sudah bersiap.
Aria menjawab pertanyaan Patih Argobumi.
__ADS_1
“Kalau kau kalah! Jadi anak buahku.”