Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 76 : Kecurigaan Sugriwa


__ADS_3

Saudagar Ming Serta Li Ho akhirnya bisa bernapas lega, setelah Buto Ijo dan Wangsa terpisah selama perjalanan.


Wangsa naik kereta, bersama Aria dan sepasang pedang Kemala di temani Li Mei, sedangkan Buto Ijo tidak mau naik kereta kuda dan lebih memilih berlari, mengikuti kereta yang di taiki oleh Aria Pilong.


Didalam kereta besar yang di sediakan oleh saudagar Ming, Andira yang penasaran lalu bertanya kepada Wangsa.


“Kakak pertama! Kenapa selalu bertengkar dengan kakak kedua? Tanya Andira.


“Kau dengar sendiri bukan! Dia itu susah di beritahu, keras kepala dan selalu tidak mau kalau di nasehati,” jawab Wangsa.


“Bukannya sama denganmu,” Andira berkata dalam hati setelah mendengar perkataan Wangsa.


“Seharusnya kakak pertama mengalah terhadap kakak kedua, kalau kakak pertama sudah tahu sipat kakak kedua seperti itu,” Andini membalas perkataan Wangsa.


“Enak saja! Aku ini kakak pertama, masa harus mengalah sama adik, dimana mana adik yang harus turut dengan perkataan kakak pertamanya,” Wangsa membalas perkataan Andini.


Kalau Wangsa sudah bicara seperti ini, Andini lebih baik diam, karena percuma saja berkata, apa yang di katakannya tidak akan masuk di kepala Wangsa.


“Saudari Li Mei kenapa memakai cadar? Tanya Andira.


“Tradisi pakaian di tempat kami seperti ini,” jawab Li Mei dengan bahasa yang kaku.


“Bagaimana dengan tempat saudari Li Mei, apa sama dengan tempat kami di sini? Kembali Andira bertanya.


“Di negaraku lebih maju, sedangkan di sini lebih terbelakang,” jawab Li Mei.


“Apa maksudmu dengan terbelakang? Tanya Wangsa.


Hmm!


Dengusan keluar dari mulut Aria, mendengar nada Wangsa yang bertanya kepada Li Mei.


“Aku tidak akan marah! Adik ketiga tenang saja,” jawab Wangsa mendengar suara dengusan Aria.


“Negeri kami lebih maju dan teratur dari pada negeri kalian, kerajaan terpusat di satu tempat, tidak seperti di sini banyak kerajaan yang berdekatan,” balas Li Mei.


“Aku jadi ingin berkunjung kesana, mendengar ceritamu,” Aria ikut bicara.


“Aku ikut dengan kakak ketiga! Seru Andini sambil tundukkan kepala, mendengar perkataan Aria.


“Kau suka dengan adik ketiga ya? Tanya Wangsa dengan pandangan penuh selidik, sambil menatap Andini.


“Aku….aku hanya ingin bersama dengan kakak ketiga,” jawab Andini.


Hari menjelang senja, sebelum matahari terbenam rombongan saudagar Ming yang di pimpin Li Ho mencari desa di sepanjang perjalanan untuk menginap, karena melanjutkan perjalanan di malam hari sangat berbahaya bagi anggota rombongan.


Li Ho mendapat informasi dari anak buahnya bahwa di depan ada kampung lumayan besar bernama kampung Jatijajar.


Di kampung jatijajar ada tempat menginap dan rumah makan, karena desa jati jajar adalah desa tempat persinggahan yang terdekat dari Tumapel.


Desa Jatijajar di pimpin oleh Ki demang jati, bekas seorang kepala prajurit Kahuripan yang sudah mengundurkan diri.

__ADS_1


Desa Jatijajar merupakan desa yang berada di perbatasan antara Kadiri dan Kahuripan.


Di desa itu terdapat satu barak prajurit yang di kelilingi benteng kayu yang tinggi, di dalam barak terdapat 100 prajurit Kahuripan yang berjaga jaga, bilamana ada penyusup masuk dari kerajaan Kadiri.


Rombongan saudagar Ming mulai memasuki jalan desa, di kiri kanan jalan tampak pohon jati yang berjajar rapi di sepanjang jalan menuju desa Jatijajar.


Kepala prajurit yang bernama Sugriwa, bertubuh besar dan berkulit hitam serta ki Demang jati sudah menunggu di gerbang desa, mendengar ada rombongan besar yang masuk ke desa Jatijajar.


Li Ho, Saudagar Ming serta rombongan Aria yang berada di dalam satu kereta, turun dan berdiri di belakang Li Ho.


“Maaf tuan! Kami sedang dalam perjalanan menuju Tumapel, jika di perkenankan, kami akan menginap di desa ini dan besok kami akan melanjutkan perjalanan menuju Tumapel.


Sugriwa dan Ki demang jati memberi hormat kepada Li Ho dan saudagar Ming.


“Kami sudah di beri kabar oleh Tumenggung Wirayuda, rombongan tamu Tumenggung akan lewat desa Jatijajar, apa benar ini adalah rombongan saudagar Ming Tao Lim yang dimaksud oleh Tumenggung ? Tanya Ki demang Jati.


“Aku Ming Tao Lim, pedagang yang di undang oleh Pembesar kerajaan Kahuripan,” jawab Saudagar Ming.


“Selamat datang tuan Ming! Kami sudah menunggu tuan dari kemarin,” ucap Ki demang Jati, aku Ki demang Jati, kepala desa jatijajar dan ini adalah kepala prajurit Sugriwa yang menjaga desa Jatijajar,”


Saudagar Ming, Li Ho dan yang lain memberi hormat kepada Ki Demang Jati dan Sugriwa, kecuali rombongan Aria yang berada di dalam kereta.


Perlahan rombongan mulai masuk ke dalam desa jatijajar.


Sugriwa berbisik kepada Ki demang Jati.


“Ki demang! Menurut surat yang di kirim dari Tumapel, rombongan saudagar Ming di kawal oleh 20 orang lebih murid pilihan dari padepokan Gajahwungkur, tetapi aku tidak melihat satupun anak murid padepokan Gajahwungkur,” ucap Sugriwa.


“Apa benar yang kau katakan? Tanya Ki demang jati.


Ki demang Jati kerutkan keningnya mendengar perkataan Sugriwa.


“Mari kita tanyakan kepada saudagar Ming,” ucap Ki demang Jati yang langsung di balas oleh anggukan kepala Sugriwa.


Dengan langkah cepat, Ki demang Jati dan Sugriwa menyusul kereta saudagar Ming.


“Tunggu dulu tuan! Seru Ki demang Jati.


Li Ho angkat tangan, memberi isyarat kereta untuk berhenti.


Kali ini mereka yang ada di dalam kereta kuda keluar dan turun, setelah kereta berhenti dan melihat isyarat dari Li Ho.


“Ada apa tuan? Tanya Li Ho melihat Ki demang jati menghentikan iring-iringan mereka.


“Kami mohon maaf! Ada satu hal yang lupa kami tanyakan tuan,” ucap Ki demang Jati.


Li Ho kerutkan keningnya mendengar perkataan Ki demang Jati, lalu bertanya.


“Apa yang tuan hendak tanyakan, katakan saja? Balas Li Ho.


“Menurut surat yang di kirim dari Tumapel kepada kami, rombongan tamu Tumenggung Wirayuda di kawal oleh anak murid padepokan Gajahwungkur, tetapi kami tidak melihat satupun murid padepokan Gajahwungkur bersama rombongan tuan? Tanya Ki demang Jati.

__ADS_1


Saudagar Ming menarik napas dalam-dalam mendengar perkataan Ki demang Jati, sebelum berkata.


“Rombongan kami memang di jemput oleh sekitar 20 orang lebih di gunung Welirang, tetapi di tengah perjalanan, rombongan kami di hadang oleh perampok,” ucap saudagar Ming.


Raut wajah ki demang Jati dan Sugriwa berubah, mereka terkejut mendengar perkataan saudagar Ming.


“Apa….apa benar yang tuan katakan? Lalu siapa yang merampok tuan dan apa yang terjadi dengan anak murid padepokan Gajahwungkur? Tanya Ki demang Jati.


“Semua pengawal yang di kirim oleh Tumenggung Wirayuda bertempur dengan gagah berani, tetapi perampok lebih banyak, mereka akhirnya tewas melawan perampok, tetapi untungnya kami di tolong oleh rombongan pendekar yang sedang lewat,” jawab saudagar Ming.


Sugriwa kerutkan keningnya mendengar perkataan saudagar Ming, lalu ikut bicara.


“Setahu aku dari gunung Welirang sampai Tumapel adalah jalur yang aman, jikalau ada perampok pasti di sekitar gunung Kawi, tetapi rombongan tuan tidak melewati gunung Kawi, rampok darimana yang berani menyerang tamu Tumenggung Wirayuda? Tanya Sugriwa.


“Mana kami tahu tuan prajurit,” jawab saudagar Ming.


“Apa mereka pendekar yang sudah menolong tuan Ming? Tanya Sugriwa sambil menunjuk ke arah rombongan Aria Pilong.


“Benar tuan! Kelima pendekar ini yang sudah menolong kami,” jawab saudagar Ming.


Sugriwa dan Ki demang Jati saling pandang, mendengar perkataan saudagar Ming.


Naluri keprajuritan Sugriwa merasa ada yang salah dari perkataan saudagar Ming.


Karena ia tahu, jalur Welirang sampai Tumapel, sugriwa belum pernah mendengar ada perampok berkeliaran.


Sugriwa menatap tajam ke arah Wangsa dan Buto Ijo yang berada di depan.


“Kalau aku boleh tahu! Kalian pendekar darimana dan apa nama padepokan kalian? Tanya Sugriwa, sambil mata kepala prajurit desa Jatijajar itu menatap penuh selidik, ke arah Wangsa dan Buto Ijo.


Li Ho dan saudagar Ming menatap cemas ke arah, kedua orang yang sering beradu omong itu.


Aria yang berdiri di belakang Wangsa dan Buto Ijo berkata pelan.


“Hati-hati, Jangan bicara sembarangan! Nanti mereka curiga kepada kita.”


Li Mei dari balik cadar melirik ke arah Aria, setelah mendengar perkataan pemuda itu.


Buto Ijo setelah mendengar bisikan Aria, lalu berkata kepada Wangsa, “kau saja yang jawab! Aku takut salah bicara,” ucap Buto Ijo.


Wangsa anggukan kepala mendengar perkataan Buto Ijo.


“Kami memang orang yang sudah menolong rombongan tuan-tuan ini dari para perampok,” ucap Wangsa sambil memberi hormat.


“Kalian dari padepokan mana? Kembali Sugriwa bertanya, karena Tumenggung Wirayuda selalu menegaskan kepada bawahannya, agar hati-hati terhadap pendekar Kadiri yang masuk ke wilayah Kahuripan.


“Kami tidak punya perguruan tuan,” jawab Wangsa.


Li Ho serta saudagar Ming tersenyum sambil saling pandang dan anggukan kepala, mendengar perkataan sopan dari Wangsa yang menjawab pertanyaan Sugriwa.


“Lalu apa tujuan kalian ke Tumapel? Kembali Sugriwa bertanya kali ini nadanya sedikit tinggi dan matanya melotot ke arah Wangsa.

__ADS_1


Wangsa melihat Sugriwa melotot ke arahnya, emosinya mulai naik, lalu berkata dengan nada dingin, sambil balas menatap Sugriwa dengan pandangan bengis dari balik caping.


“Hai, Hitam! Jangan pelatat pelotot kepadaku, nanti ku colok matamu.”


__ADS_2