Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 97 : Bertemu Resi Lanang Jagad


__ADS_3

Aria terkejut mendengar suara lembut yang menyebut namanya, “siapa kisanak? Tanya Aria.


Aria berusaha mengalirkan tenaga dalam ke arah mata, tetapi tak berhasil, tenaganya dalamnya seperti terkunci dan tak bisa di salurkan.


“Raden tak usah repot mengerahkan tenaga, bukankah Raden ke gunung Semeru hendak mencari aku? Tanya suara lembut itu.


Aria terkejut, kemudian langsung sujud setelah mendengar ucapan lembut di depannya.


“Apa Resi Lanang jagad yang berada di hadapanku? Tanya Aria.


“Raden benar! Aku Lanang Jagad,” suara lembut itu, kembali berkata.


“Tadi aku jatuh ke dalam jurang, jadi Resi yang telah menolongku? Tanya Aria.


“Aku tidak menolong Raden,” jawab Resi Lanang Jagad, “hidup dan mati seseorang sudah ada garisnya, di tolong atau tidak. Manusia akan mati jika memang umurnya sudah di tentukan,” lanjut perkataan Resi Lanang Jagad.


“Bangkitlah Raden! Aku bukan mahluk yang patut Raden sembah.”


Aria tetap sujud, tetapi lama kelamaan tubuhnya terangkat, walau sekuat tenaga Aria bertahan dalam sujudnya.


Sang Resi tersenyum kembali, setelah Aria duduk.


“Aku berada dimana sekarang? Tanya Aria.


“Raden berada di tempatku! Balas Resi Lanang jagad.


“Tempat dimana antara ada dan tiada, aku ada jika orang meyakini ada, dan tiada jika orang yakin aku ini tiada,” lanjut ucapan Resi Lanang Jagad.


“Sahabatku Buto Ijo, apa dia juga terjatuh kedalam jurang? Tanya Aria.


“Abdi setia mu itu tidak apa apa Raden, tetapi setelah Buto Ijo tidak bersamamu, ia akan kembali seperti dulu,” ucap Sang resi sambil tersenyum.


Raut wajah Aria berubah, setelah mendengar perkataan Resi Lanang jagad karena Aria tahu seperti apa Buto Ijo dahulu, sebelum menjadi abdi setianya.


“Raden tidak usah khawatir, takdir tidak akan bisa berubah dan Buto Ijo akan kembali seperti semula, jika ia bertemu Raden,” ucap resi Lanang jagad, seperti mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Aria Pilong.


Aria anggukan kepala mendengar perkataan Resi Lanag jagad.


“Maaf Raden! Tolong pejamkan mata,” ucap Resi Lanang jagad.


Aria menuruti perkataan sang Resi, setelah memejamkan mata, Aria merasakan wajahnya seperti di usap.


“Sekarang buka mata,” ucap Resi Lanang Jagad.


Aria setelah membuka mata, sinar terang terlihat dan tampak di depannya duduk seorang tua dengan jenggot putih menjuntai, selempang kain putih menutup sebagian kepala, begitu pula dengan badan yang tertutup kain selempang putih.


Raut wajah sang resi tampak ramah serta senyum tak pernah lepas dari bibir sang resi.

__ADS_1


Aria setelah membuka mata dan bisa melihat resi Lanang jagad serta, ruangan yang seperti dalam goa, langsung sujud kembali di depan resi Lanang Jagad.


“Terima kasih! Karena resi sudah bisa membuat Aria melihat kembali,” Ucap Aria.


Senyum tampak di bibir sang Resi mendengar perkataan Aria.


“Mata Raden bisa melihat jika Raden ada di tempatku, tetapi mata Raden akan kembali seperti semula jika Raden keluar dari tempat ini,” balas sang resi.


“Bangkitlah! Seru Resi Lanang jagad melihat aria masih saja sujud.


Aria bangkit dan duduk mendengarkan perkataan Resi Lanang Jagad.


“Apa Raden tahu dengan kecemasanku, selama ini? Tanya Resi Lanang jagad.


Aria anggukan kepala mendengar perkataan Resi Lanang Jagad, “Aria mendengar kabar dari leluhur Naga Langit dan Nyi Selasih serta Resi Wangsanaya.


“Tetapi Aria tidak mengerti, penyebabnya kekacauan ini Resi Lanang jagad lebih tahu, tetapi kenapa Resi tidak sekalian menghabisi orang itu sehingga kekacauan bisa berakhir? tanya Aria.


Resi Lanang jagad menarik napas mendengar pertanyaan Aria, lalu menjawab.


“Aku dan Larang tapa adalah satu guru, ada satu janji yang sudah kita sepakati bersama, kami sudah di sumpah untuk tidak saling membunuh, sehingga aku tidak bisa berbuat apa-apa melihat tindak tanduk adik seperguruan ku.


“Dahulu Larang tapa adalah seorang yang tidak banyak bicara dan terus giat berlatih, tetapi setelah terus berlatih dengan keras, ia masih tak mampu unggul dariku, sehingga Larang tapa seperti memelihara api dalam sekam terhadap diriku.


“Perasaan benci mulai timbul di hati Larang tapa, setelah aku di percaya menjadi penjaga di tanah Jawa.


“Aku ingin lihat! Tindakan apa yang akan Kakang lakukan, setelah tahu kekacauan yang aku buat.


“Ternyata Larang tapa sudah merencanakan kekacauan ini sudah lama sekali.


Lanjut perkataan Resi Lanang Jagad.


“Kalau hanya dia sendiri, aku tidak terlalu cemas, tetapi dia melibatkan mahluk tak kasat mata, dan itu sangat berbahaya bagi ke seimbangan alam di tanah Jawa ini, jika dibiarkan, kekacauan akan meluas ke luar Jawa.


“Setelah tirakat beberapa waktu, aku dan sahabatku akhirnya menemukan petunjuk yang ada di diri Raden.


“Takdir yang aku lihat semakin kuat, setelah Raden bertemu dan di didik oleh penjaga utara.


“Penjaga utara! Seru Aria sambil kerutkan keningnya.


“Benar! Bukankah Raden, di asuh oleh Suro Keling? Ucap Lanang Jagad sambil tersenyum.


Aria sudah mendengar, bahwa Ajian Cakra Candhikkala milik Resi Lanang Jagad, dan ia mempelajari ilmu itu dari kakek angkatnya, Suro keling. Aria yakin kakek angkatnya ada hubungan dengan resi Lanang jagad, tetapi yang tak di sangka oleh Aria adalah, bahwa kakeknya ternyata seorang penjaga utara.


Resi Lanang Jagad tersenyum melihat kerut di kening Aria.


“Raden tidak usah bingung, karena semua sudah ada yang mengatur dan diatur.

__ADS_1


Nanti Raden akan mengerti maksud perkataanku ini.”


“Jadi apa langkah selanjutnya yang harus Aria lakukan? Tanya Aria.


“Hentikan kekacauan di tanah Jawa, siapapun pelakunya, jika mengacau dan menimbulkan banyak korban, maka harus di tindak,” ucap Resi Lanang Jagad, kali ini sang Resi berkata dengan nada tegas.


“Dengan kemampuan yang Raden miliki sekarang, Raden tidak akan mampu mengatasi kekacauan ini, ilmu Larang tapa yang berasal dari cahaya dan petir sangat berbahaya,” ucap Resi Lanang jagad.


“Tetapi waktu bertempur denganku, Resi Larang tapa terluka dan melarikan diri,” balas Aria.


“Itu karena Kekuatan Raden di bantu oleh Naga Langit, tetapi jika Larang tapa bergabung dengan para siluman seperti panglima hitam dan siluman merah, Raden tidak akan mampu menghadapi mereka semua.


“Bukankah sewaktu bertempur dengan Larang tapa, Raden sudah tak kuat, jika saja Larang tapa tidak melarikan diri dan terus bertempur, Raden sekarang tidak akan duduk di hadapanku.”


Aria menarik napas mendengar perkataan sang Resi dan Aria semakin kagum dengan Resi Lanang jagad. Ternyata semua yang sudah ia lakukan, Resi Lanang jagat sudah mengetahui.


Melihat Aria diam, Resi Lanang jagad berkata kembali.


“Mereka yang hendak membuat kekacauan di tanah Jawa akan berkumpul di gunung Bromo.


“Raden harus mempersiapkan diri dan mempunyai bekal yang cukup, untuk hadir di pertemuan yang akan di adakan di gunung Bromo.


“Aku akan memberikan dua ilmu kanuragan untuk Raden, tetapi Raden juga harus ingat, ilmu yang akan ku berikan untuk memberantas kekacauan, bukan menciptakan kekacauan.


Aria anggukan kepala mendengar perkataan sang Resi.


Melihat Aria anggukan kepala, Resi Lanang jagad berkata kembali


“Dahulu! Kedua ilmu itu dimiliki oleh orang yang berbeda dan di pakai untuk mengalahkan satu sama lain dan akhirnya kedua ilmu itu seperti lenyap di telan bumi.


“Sampai akhirnya setelah tirakat panjang, aku mendapat wangsit dan berhasil mempelajari kedua ilmu itu.


“Ilmu yang pertama mempunyai daya penghancur yang sangat dasyat, sedangkan ilmu kedua di ciptakan oleh seorang Resi untuk bertahan dari segala macam serangan.


“Jika Raden belum di takdirkan untuk mati, Raden tidak akan terluka oleh pukulan atau senjata apapun, setelah mempelajari Ajian ini.


“Ajian ini di ciptakan oleh Resi Subali yang setengah tubuhnya berbentuk kera.


“Selama 3 Purnama Raden harus menjalani tirakat ( bertapa ) menyucikan diri untuk mempelajari kedua ajian ini.


“Apa Raden sanggup menjalani tirakat, untuk mempelajari kedua ajian ini? Tanya Resi Lanang Jagad.


Karena tirakat yang di jalankan untuk mempelajari ajian cukup berat, aria lalu bertanya.


“Kalau Aria boleh tahu! Apa nama ajian yang akan di pelajari?


Resi Lanang jagad tersenyum mendengar perkataan aria, lalu berkata.

__ADS_1


“Ajian yang pertama adalah, Ajian Rengkah gunung, sedangkan yang kedua di beri nama, Ajian Pancasona.


__ADS_2