
Elang jantan melihat Lembusora terus berusaha mendekat ke arah gadis yang tengah berdiri, begitupula dengan Aria.
Elang jantan yakin gadis itu bukan gadis sembarangan.
Setelah memberi perintah kepada Raja Elang, jarum pusaka Tongkat emas menunjuk ke arah Buwana Dewi sambil memberi perintah.
“Serang!
Raja Elang kaki satu memekik panjang, kemudian melesat ke arah Buwana Dewi, cakar kakinya terbuka, siap menangkap gadis yang di maksud oleh sang Tuan.
Dua Elang lainnya berusaha menghalau Buto Ijo dan Selamet agar tidak membantu Aria.
“Met! Masing-masing satu,” Buto Ijo berkata setelah di hadang oleh se ekor Elang, saat hendak menuju ke tempat Buwana Dewi.
“Baik! Saudara Buto,” Balas Selamet, kali ini ia tidak membatasi gerak keris pusatka Naga hitam yang semakin haus melihat aura dari Elang raksasa, aura alam yang berusia ratusan tahun lebih akan menambah pamor keris tersebut menjadi semakin angker.
Wangsa Melesat ke arah Buwana Dewi, melihat Elang jantan menyerang.
Tubuh Wangsa lompat dan cakarnya menghantam ke arah kaki raja Elang.
Plak!
Raja Elang tidak bergeming terkena cakaran Wangsa, karena kulit sisiknya keras, cakar macan Wangsa tak bisa melukai kaki Raja Elang.
“Disini ketua! Seru Wangsa memberi tanda kepada Aria.
Aria langsung melesat, tongkat yang sudah di aliri ajian Cakra Candhikkala menghantam tepat kaki raja Elang sebelum menangkap Buwana Dewi.
Plak!
Pekik panjang terdengar dari mulut raja Elang, tubuhnya langsung bergerak naik, ketika kakinya serasa patah di hantam oleh tongkat Aria.
Sambil bergerak naik, sayap Raja Elang mengibas ke arah Aria, yang tengah berada di udara.
Aria terhempas terkena angin besar yang keluar dari kibasan sayap Raja Elang.
Buwana Dewi melesat, kemudian memeluk pinggang kekasihnya, perlahan turun bersama.
Setelah raja Elang naik, Wangsa langsung membantu si Beurit yang mulai kewalahan dan sudah terkena beberapa kali pukulan Lembusora.
“Kakang tidak apa-apa? Tanya Buwana Dewi.
“Aku tidak apa-apa,” jawab Aria Pilong.
“Baju dan rambut kakang penuh dengan darah,” Buwana Dewi berkata kembali, sambil mengusap rambut Aria.
“Jangan jauh dariku,” Aria berkata sambil menggenggam tangan Buwana Dewi.
“Orang di utus oleh ayah untuk membawaku,” ucap Buwana Dewi, lanjut perkataan sang Dewi, “ilmunya tinggi dan tenaganya besar, kakang harus hati-hati.”
Aria anggukan kepala mendengar perkataan Buwana Dewi, Aria melihat aura Lembusora memang besar, auranya berwarna hijau.
“Kenapa kau tidak melawan? Tanya Aria.
“Tidak ada air di sekitar sini,” jawab Buwana Dewi.
“Tetapi waktu itu kau bisa menciptakan dan menarik tenaga pelangi? Tanya Aria.
“Terjadi begitu saja,” jawab Buwana Dewi.
“Kalau benar dia adalah utusan ayahmu, dia tidak akan mencelakai mu, Kau tenang saja! Jangan jauh-jauh dariku,” balas Aria berusaha menenangkan hati Buwana Dewi.
“Baik kakang,” jawab Buwana Dewi.
Tanpa setahu Aria, langit di atas istana Tampak Siring mulai tertutup awan gelap, angin berhembus kencang, tanda akan datangnya hujan.
Melihat kemesraan Aria dan Buwana Dewi, wajah Elang jantan berubah kelam, teringat akan istrinya yang tewas di tangan Buto Ijo.
__ADS_1
“Kau asyik bermesraan sementara aku menderita karena kehilangan istriku,” nada dingin keluar dari mulut Elang jantan.
Ambisi untuk menangkap Buwana Dewi berubah menjadi membunuh gadis itu, untuk membalaskan dendam atas kematian istrinya, Elang jantan ingin Aria ikut merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang ia cintai.
Elang jantan lompat dari punggung raja Elang, setelah memberitahu sahabatnya agar membunuh gadis yang bersama Aria.
Jarum pusaka tongkat emas berubah sebesar lengan, suara nyaring terdengar saat tongkat menghantam tanah.
Trang!
“Kau pindah kebelakangku! Seru Aria sambil menarik Buwana Dewi, melihat aura besar keluar dari tubuh Elang jantan.
Sementara itu di udara, Raja Elang terus memekik panjang sambil menunggu kesempatan membunuh Buwana Dewi.
Wangsa dan Ujang Beurit tidak bisa membantu karena sibuk dengan Lembusora, begitupula Buto Ijo serta Selamet dengan musuhnya masing-masing.
Aria bersiap bersama tongkat, begitu pula Buwana Dewi dengan sulingnya.
Elang Jantan menendang jarum pusaka tongkat emas, tongkat yang tengah berdiri melesat ke arah Aria.
Shing!
Aria terkejut, angin tongkat sangat jelas terdengar oleh telinga Aria, menandakan tongkat bergerak sangat cepat.
“Hati-hati! Seru Aria, sambil tangannya mengibas kan tongkat berusaha menahan serangan Elang jantan.
Trang!
Suara nyaring kembali terdengar, saat kedua tongkat bertemu.
Jarum pusaka tongkat emas, setelah berhasil di tangkis, bergerak kembali ke tangan Elang Jantan.
Elang jantan lompat, sambil menghantamkan tongkat emas ke arah kepala Buwana Dewi.
Buwana Dewi dengan gemulai layaknya seorang penari bergerak ke kanan menghindari serangan, kemudian suling menyabet ke arah pinggang Elang jantan.
Plak!
Untung tenaga yang di gunakan tidak terlalu besar, sehingga tidak berpengaruh terhadap Elang jantan.
Raja Elang melesat menyerang Buwana Dewi melihat majikannya terkena serangan Buwana Dewi, jari kaki Raja Elang terbuka siap mencengkeram tubuh sang gadis.
Aria hantamkan Ajian Mawageni dengan tangan kiri, sinar merah melesat ke arah Raja Elang.
Raja Elang memekik panjang, sambil mengibaskan kedua sayapnya, Dua gelombang angin menghantam ke arah Ajian Mawageni yang di lesatkan Aria.
Blam!
Bunga api yang terbawa angin menyebar dan membakar semak, daun serta ranting kering bekas batang pohon yang di papas Wangsa, apapun yang terkena sambaran langsung terbakar, suasana langsung gempar, sebagian prajurit anak buah I Gusti Wardana segera menyingkir, tidak kuat menahan api yang mulai membesar.
Kedua Elang yang tengah melawan Buto Ijo dan Selamet langsung melesat naik, karena takut bulu mereka tersambar api,
Suara petir menyambar, perlahan rintik hujan turun dan mulai memadamkan sebagian api sehingga tidak membesar dan merembet kemana mana.
Elang jantan ragu untuk menyerang ketika melihat api membesar, tetapi saat hujan turun dan membasahi bulunya, Elang jantan melanjutkan niatnya.
Raja Elang kaki satu terbang dengan cepat, di sela-sela api yang mulai padam terkena rintik air hujan.
Tujuannya hanya satu, menangkap Buwana Dewi.
Tap!
Setelah berhasil menyambar, Jari-jari di kaki Raja Elang langsung merapat dan mengurung Buwana Dewi, siap menunggu perintah sang majikan.
“Kakang….”
Teriakan panjang Buwana Dewi terdengar, saat dirinya tak bisa menghindar dan di bawa terbang oleh peliharaan Elang jantan.
__ADS_1
Aria melesat ke arah suara teriakan Buwana Dewi, tetapi dari samping kiri, jarum pusaka tongkat emas tanpa si sangka menghantam perut Aria.
Buk!
Aria terpental terkena hantaman jarum pusaka tongkat emas.
Hoaks!
Aria semburkan darah segar dari mulut, akibat luka dalam terkena hantaman tongkat Elang jantan.
Aria berusaha bangkit ia mencemaskan Buwana Dewi, luka dalam tidak terlalu ia pikirkan, ia akan sembuh kembali dari luka dalam karena Aria memiliki ajian pancasona.
Elang jantan sepeti orang gila, jarum pusaka tongkat emas ia acung acungkan ke atas sambil tertawa.
Ha Ha Ha
“Kau rasakan sekarang, bagaimana rasanya kehilangan orang yang kau cintai,” teriak Elang jantan sambil tertawa terbahak bahak.
“Sahabatku, bunuh gadis itu! Balaskan dendam istriku yang tewas oleh anak buahnya,” teriak Elang jantan.
“Jangan….jangan Bunuh dia, dia adalah putri Ki Banyu Alas,” teriak Lembusora mendengar suara Elang jantan.
Elang jantan tidak memperdulikan perkataan Lembusora, kembali jarum pusaka tongkat emas ia acungkan ke udara, sambil teriak memberi perintah kepada Raja Elang.
“Bunuh.”
“Tidak….aku tidak mau mati dan berpisah dengan kakang Aria,” batin Buwana Dewi saat merasakan tubuhnya mulai terhimpit oleh jari kaki raja Elang.
“Tidak….kau tidak bisa memisahkan kami,” teriak Buwana Dewi.
Memikirkan akan berpisah dengan Aria, dan perkawinannya yang sangat ia impikan akan hancur berantakan kalau dirinya tewas
Perlahan mata Buwana Dewi berubah warna menjadi biru, rintik hujan yang turun dari langit tidak jatuh ke tanah, melainkan berkumpul di sekitar tubuh Buwana Dewi dan menyelimutinya.
Raja elang berusaha mencengkeram kakinya, meremukan tubuh Buwana Dewi, tetapi kaki raja elang menekan pelindung air yang di ciptakan oleh Buwana Dewi.
Air hujan kembali berkumpul, butiran demi butiran bergabung dan membentuk seperti lengan gurita.
Raja Elang memekik panjang, saat lengan air yang tercipta dari ajian Banyu Weling mulai membelit tubuh Elang Kaki satu.
Raja Elang terus memekik kesakitan, saat tubuhnya di himpit oleh air bertekanan tinggi.
Sayapnya perlahan membuka, tetapi kembali lengan air yang seperti selang besar, membelit semakin kencang.
Krek….Krek!
Suara derak badan tulang raja Elang terdengar, jari kakinya perlahan terbuka.
Seiring tubuhnya jatuh ke tanah, mata Raja Elang sebelum tewas menitikan air mata, teringat akan anaknya di kawah gunung Agung yang baru belajar terbang.
Elang berbulu hitam yang sangat langka, Elang jantan sangat sayang dengan keturunan Raja elang yang berbulu hitam.
Karena bulu hitam menandakan keganasan dan kesetiaan ( kelak Elang hitam akan menjadi sahabat anak Aria Pilong di next sesion )
“Nak! Jaga Dirimu baik-baik! Perlahan mata raja elang kaki satu terpejam, seiring tulang tubuhnya terus berderak, akibat kemarahan Buwana Dewi.
Tornado air muncul dan naik ke atas menyambut tubuh Buwana Dewi yang turun setelah di lepas oleh Raja Elang.
Saat berada di atas tornado air, kembali tangan Buwana Dewi mengibas, satu tombak air melesat ke arah salah satu Elang raksasa yang menjadi musuh Buto Ijo.
Whut….Blar!
Tombak air menghantam Elang raksasa.
Elang raksasa langsung jatuh dan tewas seketika.
Semua mata menatap ke arah Buwana Dewi yang tengah berdiri di atas atas pusaran tornado air yang meliak liuk.
__ADS_1
Buwana Dewi menunjuk ke arah Elang jantan yang berdiri dengan raut wajah pucat, ketika melihat sahabatnya Raja Elang tewas di tangan Buwana Dewi.
“Sekarang giliranmu.”