Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 84 : Titik Lemah Ajian Larang Boyo


__ADS_3

Buto Ijo setelah berkata, langsung melesat bersama Wangsa.


Setelah sampai, Buto Ijo langsung menghantam pinggang Tumenggung Wirayuda.


Buk!


“Kembali Tumenggung Wirayuda terpental, tetapi langsung bangkit kembali, sambil tertawa terbahak bahak.


“Serang….kalian serang sepuasnya! Teriak Tumenggung Wirayuda.


“Bangsat! Keras sekali kulitnya,” ucap Wangsa.


“Cepat pikirkan cara untuk mengalahkannya,” ucap Buto Ijo.


“Aku tidak bisa berpikir jika sambil bertempur,” balas Wangsa.


Tumenggung Wirayuda kini menyerang bergantian ketiga arah, karena ia di kepung dari tiga sisi, oleh Aria, Wangsa serta Buto Ijo.


Melihat Tumenggung Wirayuda menyerang Wangsa, Aria melesat sambil tangannya mengantam ke arah punggung.


Buk!


Tumenggung Wirayuda langsung berbalik, kemudian balik menghantam Aria.


Aria langsung berguling setelah merasakan angin deras menuju ke arah wajahnya.


Sambil berguling, kaki Aria menendang kaki Wirayuda.


Plak!


Tumenggung Wirayuda langsung jatuh ke tanah, setelah kakinya di hantam oleh Aria.


Wangsa langsung lompat, kemudian kedua tangan mencakar dada dan perut Tumenggung Wirayuda yang jatuh terlentang.


“Modar sia kehed!? Teriak Wangsa.


Bret….Bret!


Setelah mencakar dengan kekuatan penuh, Wangsa lompat mundur sambil menatap tubuh Tumenggung Wirayuda yang masih terlentang.


Ha Ha Ha


Suara tertawa terdengar dari mulut Tumenggung Wirayuda yang sedang terlentang.


Tubuh Tumenggung Wirayuda tanpa di bantu tangan dan kaki, bergerak naik.


Setelah berdiri, Tumenggung Wirayuda menatap tajam ke arah Wangsa.


Baju yang di pakai Tumenggung Wirayuda hanya tinggal serpihan yang menempel di badan, sisanya hancur terkena pukulan Aria, Buto Ijo serta Wangsa.


Hiasan kepala dan Tali pengikat rambut terlepas, rambut Tumenggung Wirayuda ter urai dan acak acakan, menambah seram penampilan pejabat tua, bawahan Prabu Mapanji Garasakan itu.


Perlahan dari jari Tumenggung Wirayuda keluar kuku, seperti kuku cakar buaya.


Rambut juga mulai berubah warna menjadi hijau, mulut maju memanjang, dengan gigi taring di kiri dan kanan menyembul keluar.


Tumenggung Wirayuda perlahan berubah menjadi manusia setengah siluman.


“Dia mulai menambah kekuatan Aji Larang Boyo, umurnya semakin banyak berkurang,” ucap Wangsa, setelah melihat perubahan yang terjadi pada Tumenggung Wirayuda.


“Jadi dia akan mati, jika terus menggunakan ilmu itu? Tanya Buto Ijo.


Wangsa anggukan kepala, mendengar perkataan Buto Ijo.


“Kita pancing saja supaya dia terus menggunakan ilmu itu, nanti juga si bangsat itu mati sendiri,” kembali Buto Ijo berkata.


“Kau benar,” Wangsa kembali membalas perkataan Buto Ijo, kali ini sambil acungkan jempol.


Buto Ijo semakin senang perkataannya di dengar, apalagi Wangsa sampai memuji dengan jempolnya.

__ADS_1


“Menurutmu, sampai kapan si bangsat itu bisa bertahan? Tanya Buto Ijo.


“Sepertinya dia kuat bertahan sampai 2 Purnama,” jawab Wangsa.


Buto Ijo keningnya berkerut mendengar perkataan Wangsa, otaknya tengah berpikir, lalu berteriak kencang.


“Bangsat! Dasar resi penipu,” ucap Buto Ijo dengan geram.


“Kau bukannya berpikir, tetapi terus saja bertanya, kalau aku tahu! Adik ketiga sudah mengalahkannya, dasar tolol! Aku jadi susah kosentrasi, terus kau ajak bicara,” balas Wangsa dengan nada kesal.


Li Ho melihat Wangsa dan Buto Ijo terus beradu mulut, sementara Aria bertempur dengan Tumenggung Wirayuda, bertanya kepada Andini.


“Apa mereka berdua selalu seperti itu? Tanya Li Ho.


“Aku belum lama bersama mereka, tetapi selama aku jalan dengan mereka, ya seperti itu,” jawab Andini.


“Hanya kakak ketiga yang bisa membuat keduanya diam,” lanjut perkataan Andini.


“Aku tahu! Pemimpin kalian yang sebenarnya adalah tuan Aria,” balas Li Ho.


Andini diam, tak membalas perkataan Li Ho.


Ajian Cakra candhikalla di pakai oleh Aria, tubuh Tumenggung Wirayuda tampak merah seperti terbakar setelah terkena hantaman, wajahnya juga mengerut tanda ia merasakan sakit, akibat hantaman ajian Cakra Candhikkala, tetapi itu tak berlangsung lama, Tumenggung Wirayuda sudah pulih kembali dan menyerang Aria secara membabi buta.


“Kalau begini terus, tenagaku bakal habis terkuras,” batin Aria sambil menghindari serangan Tumenggung Wirayuda.


Tumenggung Wirayuda terus memburu Aria.


Buto Ijo dan Wangsa melihat Aria mundur, keduanya bergerak ke arah yang berlawanan, menghantam dari kanan dan kiri.


Buk….plak!


Tangan kanan Buto Ijo menghantam rusuk Tumenggung Wirayuda, sedangkan tangan Wangsa menghantam telak kepala sang Tumenggung.


Tumenggung Wirayuda meraung, kedua tangan mengibas ke arah Buto Ijo dan Wangsa, Wangsa mundur setelah melihat tangan musuh menyerang, sedangkan Buto Ijo, bahunya terkena hantaman Tumenggung Wirayuda, Buto Ijo terhuyung mundur dua langkah.


“Serang….pilih bagian mana yang kau suka,” ucap Buto Ijo menirukan perkataan Tumenggung Wirayuda.


Tumenggung Wirayuda langsung memburu Buto Ijo, kaki kanannya menendang perut.


Buk!


Kali ini Buto Ijo terpental setelah perutnya terkena tendangan, tubuhnya ambruk ke tanah.


Kembali Tumenggung Wirayuda melesat, tetapi sebelum ia sampai, Wangsa yang menggunakan ajian Maung suci menghantam punggung Tumenggung Wirayuda.


Buk!


Tumenggung Wirayuda terpental, tubuhnya menghantam batang pohon, seorang prajurit Tumapel yang berdiri dekat sang majikan, perlahan mundur,


Bret!


Cakar Tumenggung Wirayuda menyambar leher anak buahnya, prajurit naas itu langsung tersungkur dan tewas seketika.


Aria berdiri dan matanya menatap ke arah Tumenggung Wirayuda.


“Suami! Terdengar suara Nyi Selasih berkata.


“Aku mendapat bisikan dari Leluhur, kelemahan dari ajian Larang Boyo terletak di tempat tersembunyi di bagian tubuh.


“Aku tak bisa lama lagi bertahan, jika ayam jantan berkokok dan hari menjelang pagi, pagar ghaib ku akan hilang,” ucap Nyi Selasih.


“Baiklah Nyi, aku akan berusaha mencari kelemahan ajian Larang Boyo milik Tumenggung Wirayuda,” balas Aria.


Wangsa yang tubuhnya bertambah kuat dengan ajian Maung suci bertempur dengan Tumenggung Wirayuda.


Wangsa tidak menggunakan kekuatan, ia lebih memilih menggunakan kecepatannya, Wangsa memukul lalu menghindar dan terus seperti itu.


Tumenggung Wirayuda sangat geram dan terus memburu Wangsa yang gerakannya lebih cepat.

__ADS_1


Sementara Tumenggung Wirayuda sibuk dengan Wangsa.


Aria memberitahu Buto Ijo, perihal titik lemah dari ajian Larang Boyo berada di tempat tersembunyi di bagian tubuh.


“Menurutmu di mana titik lemah itu? Karena aku tidak bisa melihat bentuk tubuh manusia,” ucap Aria.


Kening Buto Ijo berkerut mendengar perkataan Aria.


Suketi sudah berubah wujud menjadi seorang wanita, bersama Andini, Li Ho dan Li Mei datang menghampiri Aria.


Buto Ijo menatap Suketi, kemudian bertanya.


“Suketi! Biasanya dimana tempat yang paling tersembunyi dari seseorang? Tanya Buto Ijo.


Setelah berkata, Buto Ijo langsung melihat ke arah bawah tubuh Suketi.


Plak!


Suketi langsung menampar pipi Buto Ijo.


“Tidak sopan,” ucap Suketi.


“Kenapa kau menampar ku? tanya Buto Ijo sambil melotot.


“Kakang Buto tidak sopan,” jawab Suketi.


“Tempat tersembunyi adalah titik lemah ajian Larang Boyo, aku tanya! Kau malah menampar.


“Kakang berkata seperti itu, kenapa mata kakang Buto langsung melihat ke bawah tubuh Suketi? Tanya Suketi.


“Kalau itu, mataku bergerak sendiri tanpa di perintah,” Jawab Buto Ijo.


Li Mei yang mendengar perkataan Buto Ijo tentang titik lemah di tempat tersembunyi, langsung mengamati pertempuran antara Wangsa dan Tumenggung Wirayuda.


Mata Li Mei semakin menyipit dan terus memperhatikan sekilas titik sinar yang terkadang muncul, tetapi terkadang titik itu langsung lenyap kembali.


“Apa kakak ketiga sudah mendapat gambaran dimana tempat tersembunyi itu? Tanya Andini.


Aria gelengkan kepala mendengar perkataan Andini.


“Kakak ketiga bisa menggunakan tubuhku untuk mencari gambaran dimana titik lemah itu,” ucap Andini dengan suara pelan, dengan raut wajah merah merona.


“Aku tahu titik lemah dari Tumenggung Wirayuda,” ucap Li Mei.


“Dimana? Tanya Buto Ijo sambil menatap Li Mei.


Saat mata Buto Ijo bergerak ke bawah hendak melihat bagian bawah tubuh Li Mei.


Kaki Suketi langsung menendang kaki Buto Ijo.


Plak!


Buto ijo hanya bisa meringis.


Li Mei yang terus memperhatikan Tumenggung Wirayuda, melihat titik aneh yang timbul tenggelam.


Setelah pertempuran antara Wangsa dengan Tumenggung Wirayuda semakin dekat ke arah mereka, Li Mei semakin jelas melihat titik itu.


Dan titik itu memang berada di tempat tersembunyi, bisa terlihat dan bisa juga tidak.


“Adik Li Mei! Apa kau sudah tahu di mana tempatnya? Tanya Aria.


“Aku tahu,” jawab Li Mei.


Li Mei tang terus memperhatikan dan akhirnya tahu, titik terang itu terlihat saat Tumenggung Wirayuda bicara, tetapi titik terang itu tidak terlihat jika sang Tumenggung diam.


Entah apa titik terang yang terlihat oleh Li Mei, tetapi tempat tersembunyi yang di maksud oleh Aria, Li Mei sangat yakin dengan nalurinya yang berkata, bahwa titik terang yang ia lihat adalah titik lemah ajian Larang Boyo.


“Dimana tempatnya? Tanya Aria.

__ADS_1


Li Mei menjawab perkataan Aria.


“Titik lemah ilmunya, berada di dalam mulut Tumenggung Wirayuda.”


__ADS_2