
“Darimana kau dapatkan air ini? Tanya Brahmana tunggal dengan raut wajah curiga sambil menatap tajam ke arah Wangsa.
“Sudah! Kau jangan banyak tanya, lakukan saja upacara pernikahan ini.
“Ingat baik-baik! Gentong air yang ku bawa untuk manusia bertubuh hijau, awas kalau salah, ku patahkan batang lehermu,” ucap Wangsa.
Brahmana tunggal akhirnya diam dan menuruti perkataan Wangsa, karena sudah tidak ada pilihan lain.
Saat prosesi upacara akan di mulai.
Kepala urusan rumah tangga memberi isyarat kepada Kilani agar menyiapkan segala sesuatu.
Kilani langsung anggukan kepala perlahan mundur, kemudian menuju ke dapur istana.
“Cepat….! Kita mulai masak sekarang.
“Ambil air dalam gentong dan reb….! Belum sempat meneruskan kata “Rebus” Kilani diam sambil menatap gentong air.
“Kemana gentong air untuk masak? Tanya Kilani dengan raut wajah pucat pasi, karena gentong air yang sudah ia taburi racun tidak ada di tempatnya.
“Celaka…..ini bisa celaka! Kilani berkata dalam hati, keringat dingin mulai keluar dari wajah Kepala bagian urusan dapur setelah mendengar perkataan Kepala pelayan.
“Tadi ada tamu baginda Prabu meminta air untuk acara siram pengantin, atas suruhan Brahmana tunggal, jadi aku suruh dia membawa gentong air yang sudah di berkati.
Kilani tak bisa berkata lebih lanjut lagi, tanpa memberi perintah apa yang harus di lakukan, Kilani langsung pergi ke arah panggung upacara pernikahan untuk melihat apa yang terjadi, sekaligus memberitahu kepada Nyoman Sidharta bahwa usahanya telah gagal, karena racun yang di berikan oleh sang paman sudah habis ia taburkan ke gentong air untuk membuat masakan.
Kepala pelayan hanya menatap ke arah Kilani tanpa mengerti apa yang harus ia lakukan.
Tetapi akhirnya kepala pelayan urusan dapur mengambil keputusan sendiri tanpa memperdulikan Kilani, bahwa makanan harus segera di masak.
Kilani setelah sampai di dekat tempat upacara tubuhnya langsung lemas, setelah melihat gentong yang berpita merah ada di atas panggung upacara pernikahan.
“Sedang apa kau disini? Terdengar suara dari belakang tubuh Kilani.
Perempuan bertubuh gempal itu terkejut, mendengar suara di belakangnya.
Ketika berbalik, Kilani langsung memberi hormat setelah melihat orang yang menegurnya.
“Hamba ingin menyaksikan upacara pernikahan ini,” jawab Kilani.
“Apa tugasmu di dapur sudah selesai? Tanya Kepala urusan rumah tangga kepada Kilani.
“Be….belum Nyi,” jawab Kilani.
“Bereskan dulu tugasmu, setelah itu kau bisa menyaksikan upacara pernikahan tuan Aria,” balas kepala urusan rumah tangga istana.
Kilani tak bisa berkata-kata lagi, kemudian melangkah pergi menuju dapur istana.
Kilani hanya ingin memastikan, air yang sudah di beri racun jika di pakai oleh Aria, Kilani masih bisa mempertanggung jawabkannya kepada Nyoman Sidharta.
Brahmana tunggal maju untuk memimpin upacara pernikahan.
“Tuan Aria apa sudah siap? Tanya Brahmana tunggal.
“Tunggu dulu! Biasanya tokoh utama selalu terakhir.
“Jika ketua menikah terlebih dahulu, penduduk yang menyaksikan akan membubarkan diri, kasihan Buto Ijo kalau upacara pernikahannya tidak ada yang menyaksikan,” Wangsa berkata mendengar perkataan Brahmana tunggal.
Hmm!
Suara dengusan keluar dari hidung Brahmana tunggal, mendengar perkataan Wangsa.
“Lakukan saja apa yang di katakan oleh Resi Wangsanaya,” Aria berkata setelah suasana menjadi hening.
“Terima kasih, Raden! Dan kau juga Wongso, tidak kusangka ternyata kau baik padaku,” Buto Ijo berkata setelah Aria mau mengalah, dan mempersilahkan dirinya melakukan upacara pernikahan terlebih dahulu.
“Baiklah kalau begitu,” Brahmana Tunggal berkata setelah mendengar perkataan Aria dan Buto Ijo, kemudian lanjut berkata.
“Ambil gentong air yang berpita merah! Seru Brahmana tunggal kepada anak muridnya.
Setelah menggeser wadah air yang akan di pakai Aria, dan menggantinya dengan gentong berpita merah.
Brahmana tunggal kemudian mulai merapalkan doa doa suci untuk memohon kepada sang pencipta agar merestui pernikahan.
Suasana langsung hening ketika Brahmana tunggal membaca doa.
Buto Ijo sebentar sebentar melirik ke arah Suketi, wajah gadis itu sudah mulai berkeringat, sementara Brahmana tunggal masih saja membaca doa.
__ADS_1
Buto Ijo mulai cemas, takut Suketi berubah ke bentuk aslinya, karena terlalu lama menggunakan kekuatan dan tak sanggup menahan perubahan wujud.
Ssstt….Ssssstt!
Bibir Buto Ijo perlahan mendesis di depan Brahmana tunggal.
Brahmana tunggal ketika tengah memejamkan mata sambil berdoa, merasa terganggu mendengar suara yang keluar dari mulut Buto Ijo, tetapi Brahmana tunggal berusaha kosentrasi dan terus memanjatkan doa.
Ssssttt….Ssssssttt!
Suara desisan Buto Ijo kembali terdengar setelah melihat Brahmana tunggal belum juga membuka mata.
Akhirnya Brahmana tunggal perlahan membuka mata, kepalanya mengangguk angguk ke atas, se akan bertanya kepada Buto Ijo, ada apa? sambil terus membaca doa.
Setelah mendapat isyarat, Buto Ijo berkata pelan, “cepat baca doanya, tolol! Nanti calon istriku tidak kuat menahan lebih lama lagi.”
Brahmana tunggal kerutkan kening mendengar perkataan Buto Ijo, kemudian gelengkan kepala, memberi isyarat kepada Buto Ijo, bahwa ia tidak bisa menghentikan doa.
Raut wajah Buto Ijo mulai berubah kelam melihat isyarat Brahmana tunggal.
Ketika melihat ke arah Suketi, dari tubuh calon istrinya mulai keluar bulu-bulu halus, keringat juga mulai membanjiri tubuh Suketi.
Buto Ijo melihat ke adaan Suketi, tangan kananya tampak mengepal dan hendak berdiri, dengan niat menghantam Brahmana Tunggal.
Tetapi saat hendak berdiri, bahunya di tahan oleh Selamet, sambil berkata.
“Saudara Buto Ijo tenang saja, biar aku yang selesaikan,” ucap Selamet.
“Cepat beritahu Brahmana tolol itu, sebelum kepecahkan batok kepalanya,” bisik Buto Ijo.
Selamet anggukan kepala mengerti akan kegelisahan Sang kawan, kemudian menghampiri Brahamana tunggal dan berbisik.
“Kalau doa mu tidak kau hentikan sekarang juga, aku jamin kau akan tewas dengan kepala hancur.”
Brahmana tunggal langsung berhenti baca doa saat mendengar bisikan Selamet, setelah menarik napas dalam-dalam untuk meredam kekesalan hatinya.
Brahmana tunggal lalu menyuruh anak muridnya menggeser gentong berpita merah yang tadi di bawa oleh Wangsa.
Setelah gentong berada di dekat Sepasang pengantin! Kembali Brahmana tunggal membaca doa untuk menyucikan air yang di pakai syarat untuk memandikan sepasang pengantin.
“Cepat tolol! Siram langsung, tidak usah was wes wos lagi,” gerutu Buto Ijo.
“Baru kali ini aku hendak menikahkan orang, tetapi di atur oleh orang yang akan menikah,” gerutu Brahmana tunggal dalam hati, karena kesal terus mendengar makian yang keluar dari mulut Buto Ijo.
Setelah memegang gayung bergagang panjang yang terbuat dari batok kelapa.
Perlahan setelah Brahmana tunggal membuka tutup gentong air, bau harum bumbu rempah langsung tercium di hidung mereka yang ada di atas panggung.
Aria kerutkan keningnya begitupula dengan Selamet, hanya Brahmana tunggal yang tidak terpangaruh, karena dia sudah mencium bau air, sewaktu Wangsa membawa gentong tersebut naik ke atas panggung.
Ketika hendak menyiram kepalanya, Buto ijo terlebih dahulu bertanya.
“Air apa yang kau siramkan ini? Tanya Buto Ijo.
“Air sayur,” jawab Brahmana tunggal dengan nada kesal sambil menyiramkan air ke kepala Buto Ijo.
Brahmana tunggal kembali mengambil air dalam gentong dan menyiramkan kembali ke kepala Buto Ijo.
Brahmana tunggal terkejut setelah dua kali menyiram kepala Buto Ijo, dari kepala Buto Ijo serta kulit raksasa berkulit hijau yang baru saja ia siram, mengepul asap putih dengan berbagai macam bau.
Perlahan baju yang di pakai oleh Buto Ijo hancur, suara erangan keluar dari mulut Buto Ijo, setelah mengerang mulut Buto Ijo langsung teriak, kulit Buto Ijo yang berwarna hijau, perlahan berubah menjadi hitam seperti terbakar.
Suketi, Aria, selamet Wangsa serta Buwana Dewi berdiri dan menghampiri ke arah Buto ijo.
Suasana di sekitar panggung upacara pernikahan langsung gempar, Prabu Anak Wungsu bertanya kepada panglima laut, I Gusti Wardana, apa yang terjadi.
“Hamba juga tidak tahu, hamba akan cari tahu dulu baginda,” I Gusti Wardana berkata kepada Prabu Anak Wungsu.
Setelah berkata, I Gusti Wardana langsung melesat ke arah panggung.
Nyoman Sidharta yang tengah menyamar dan berada di antara para penduduk, melihat suasana gempar, dalam hati bertanya tanya entah apa yang sedang terjadi di atas panggung upacara pernikahan.
Senopati Gala yang ada di dekat Nyoman Sidharta kemudian di suruh oleh sang patih untuk mencari tahu apa yang terjadi, sedangkan Senopati Gali mencari Kilani.
Diatas panggung, Buto Ijo yang tengah duduk bersimpuh sambil teriak-teriak dan akhirnya tubuh Buto Ijo tersungkur.
Suketi terus menjerit-jerit di samping tubuh Buto Ijo yang sudah terkapar.
__ADS_1
Setelah berpikir apa yang terjadi, Wangsa langsung melesat dan menendang gentong air yang ia bawa.
Brak!
Gentong air pecah, air yang tumpah dan membasahi panggung upacara langsung berbuih dan mengeluarkan asap berwarna putih.
Selamet yang melihat kejadian itu langsung mencabut keris, tubuhnya menghilang dan sudah berada di samping Brahmana tunggal, saat keris pusaka Naga hitam hendak menusuk leher sang Brahmana tunggal, terdengar teriakan Wangsa.
“Tunggu dulu! Jangan bunuh dia.”
Selamet urungkan niatnya mendengar perkataan Wangsa.
Hmm!
“Apa yang terjadi? Tanya Aria dengan raut wajah kelam.
“Saudara Buto Ijo sepertinya di siram memakai air beracun, ketua! Jawab Selamet.
Tubuh Brahmana tunggal tampak gemetar mendengar perkataan Selamet, karena dia yang baru saja menyiram kepala Buto Ijo.
“Apa yang terjadi? Tanya I Gusti Wardana ketika baru sampai dan melihat Buto Ijo terkapar.
“I Gusti Wardana! Air yang di pakai upacara oleh kalian ternyata beracun, jangan salahkan aku, kalau kalian semua akan terkena imbas dari kelicikan kalian sendiri,” teriak Aria sambil tangannya kirinya menunjuk ke arah I Gusti Wardana, wajah Aria tampak menakutkan ketika menatap Panglima laut, I Gusti Wardana.
I Gusti Wardana mundur dua langkah sambil goyangkan tangannya dan berkata.
“Tahan tuan Aria! Jangan terpacing emosi, kami tidak tahu apa yang terjadi, Prabu Anak Wungsu yang menyuruhku untuk mencari tahu apa yang terjadi.”
“Tahan ketua! Aku yang mengambil air ini dari dapur istana,” ucap Wangsa setelah meneliti air dalam gentong yang ia bawa.
Wangsa lalu menceritakan, bagaimana Brahmana tunggal cemas karena hanya ada satu wadah air di atas panggung upacara, sedangkan pasangan pengantin ada dua, begitu pula dengan wadah airnya.
Sehingga ia harus mencari air untuk upacara Pernikahan Buto Ijo.
Wangsa menceritakan semua kejadian dari awal sampai akhir kepada Aria dan kawan-kawan.
Tanpa di sadari oleh mereka yang tengah bersama I Gusti Wardana membelakangi Suketi yang tengah duduk bersimpuh di samping Buto ijo
Suketi menangis terisak-isak di samping tubuh Buto Ijo yang sebagian tubuhnya berwarna hitam, perlahan kulit hitam di tubuh Buto Ijo mengelupas dan hancur menjadi debu, daging berwarna merah terlihat.
Rasa sedih Suketi semakin menjadi melihat keadaan suaminya ( karena prosesi pernikahan sudah selesai, siraman yang di lakukan hanyalah ritual pelengkap )
Perlahan bulu halus di tubuh Suketi yang tadi di lihat oleh Buto Ijo semakin memanjang, seiring perubahan di tubuh Suketi yang mulai membesar.
Bulu yang tadinya halus mulai menebal dan mengeras, memenuhi tubuh Suketi.
Lantai panggung bergetar, tiang-tiang panggung upacara pernikahan berderak.
Brak!
Aria dan kawannya terkejut, begitupula yang menyaksikan acara pernikahan, sebagian penduduk menjerit ketakutan dan berhamburan meninggalkan istana Tampak Siring.
Prabu anak Wungsu menatap sedih ke arah panggung upacara, dari mata sang Prabu tampak berkaca kaca, raut wajah sang Prabu seperti tak percaya, upacara pernikahan yang ia siapkan untuk menghormati orang yang sudah menyelamatkan negaranya, hancur berantakan.
Selamet menyambar tubuh Buto Ijo, kemudian bergerak mundur, Buwana Dewi menarik tangan Aria agar menjauh.
Sedangkan Wangsa menatap ke arah Suketi dengan tatapan penuh rasa bersalah, karena tidak memeriksa air yang di pakai untuk sahabatnya.
Semua meninggalkan panggung upacara pernikahan.
Suketi dengan kesedihan mendalam, tanpa sadar mengeluarkan kekuatan tersembunyi yang ada di dalam tubuhnya.
Suketi berubah menjadi kera besar dengan tinggi hampir sama dengan pohon kelapa, lantai panggung hancur akibat injakan Suketi.
Mata Suketi yang berwarna merah tampak buas, sambil menatap ke arah sekelilingnya.
Sementara itu di pohon besar yang ada di dekat alun-alun istana Tampak Siring.
Se ekor kera besar yang menyaksikan upacara pernikahan hanya gelengkan kepala.
Iblis Kawi sebelum acara di mulai sudah menemui Aria dan memberikan restu kepada Suketi dan Buto Ijo untuk melangsungkan pernikahan, Iblis Kawi juga minta ijin kepada Aria.
Iblis Kawi tidak bisa mendampingi anaknya dari dekat, Iblis Kawi hanya melihat dan mengawasi mereka dari jauh sambil memeriksa keadaan, karena Iblis Kawi merasakan ada pergerakan ribuan mahluk ghaib yang mendekati upacara pernikahan Aria Pilong.
Mengalami situasi aneh tersebut, batin Iblis Kawi bertanya tanya melihat berbagai peristiwa yang terjadi, karena Iblis Kawi tahu, bukan pernikahan anaknya yang membuat pulau Bali penuh dengan hawa siluman.
“Pasti ada sesuatu di balik pernikahan Aria Pilong.”
__ADS_1