
Elang Raksasa masih mengenali Buto Ijo yang pernah memutuskan salah satu kakinya.
Sang Elang menatap tajam ke arah Buto Ijo, begitu pula dengan Buto Ijo.
Sedangkan para penumpang kapal tidak berani mendekat ke haluan ( bagian depan ) kapal, mereka memilih masuk ke dalam bangunan kapal, sedangkan sebagian lagi pindah ke buritan ( bagian belakang ) kapal.
Dua sayap raksasa terus mengepakan sayapnya di depan kapal, Air laut sedikit bergelombang akibat, kepakan sayap Sang Elang.
Suara cuitan panjang terdengar, Elang yang berada di atas setelah mendengar suara cuitan temannya, tubuhnya langsung melesat cepat ke arah Buto Ijo, paruhnya sedikit terbuka, siap mematuk tubuh Buto Ijo.
“Selamet, Ujang Beurit! Kalian bantu penumpang kapal, jika ada yang di serang oleh peliharaan Elang jantan, kasih tahu mereka agar tidak panik.”
Lanjut perkataan Aria
“Sebab jika mereka panik, akan membahayakan diri sendiri serta penumpang kapal yang lain, Aria berkata memberi perintah kepada Selamet dan Si Beurit.
“Baik ketua! Jawab keduanya.
Selamet langsung melesat ke atap bangunan kapal untuk berjaga jaga, sementara Ujang Beurit menuju ke arah buritan kapal.
Setelah haluan kapal hanya tersisa 3 orang, Aria langsung melesat sambil tongkatnya menghantam ke arah burung Elang yang menyerang Buto Ijo.
Plak!
Sayap Elang mengibas dan menangkis tongkat Aria, sedangkan Aria setelah membantu Buto Ijo, kedua kakinya kembali menginjak lantai kapal.
Sang Elang merasakan sakit di sayapnya kembali melesat tinggi ke udara, sambil mulutnya berkoak, seakan memberitahu kawannya agar berhati hati.
“Kenapa kau hanya menatap saja tidak menyerang? Tanya Wangsa melihat Buto Ijo berdiri dan saling tatap dengan Elang yang pernah bertempur dengannya.
“Karena dia tidak menyerangku,” jawab Buto Ijo.
“Kau kan bisa menyerangnya, kalau dia tidak menyerang,” balas Wangsa.
“Aku tidak bisa berenang, tolol! Ucap Buto Ijo dengan nada kesal.
“Makanya pakai otakmu,” ucap Wangsa yang kesal di sebut tolol.
Setelah berkata, Wangsa mencengkeram sisi perahu kecil, yang ada di kapal penyeberangan, kemudian melemparkan perahu ke arah Elang raksasa.
Shing!
Elang raksasa melihat perahu meluncur ke arah kepala, mengepakan sayapnya dan perlahan tubuhnya terangkat ke udara.
Wangsa langsung melesat dan berdiri di atas perahu, bersiap untuk menghadapi serangan Elang raksasa diatas perahu.
Dua Elang raksasa terus berputar putar di atas kapal yang tengah berhenti, karena Nahkoda kapal tidak berani melanjutkan perjalanan, karena sang Elang bila melihat kapal bergerak, akan semakin ganas.
Melihat Wangsa sudah berdiri di atas perahu, Buto Ijo melemparkan satu perahu ke dekat Wangsa, dan akhirnya perahu mereka berdampingan.
“Kisanak! Kenapa perahu kami di ambil? Kalau ada apa-apa terhadap kapal kami, bagaimana kami bisa menyelamatkan diri,” nahkoda berkata kepada Aria setelah melihat 2 perahunya di lempar oleh Wangsa dan Buto Ijo ke tengah laut.
“Maaf tuan! Aku tak tahu apa yang terjadi, karena aku ini buta,” Aria berkata.
“Jadi….jadi kisanak tidak kenal dengan mereka? Tanya si Nahkoda kapal
“Aku kenal, tetapi aku tidak tahu apa yang sudah mereka lalukan,” jawab Aria, pura-pura tak mengetahui apa yang sudah di lakukan oleh Wangsa dan Buto Ijo.
“Memangnya kau tidak ada lagi perahu seperti yang sudah di lempar oleh mereka? Tanya Aria.
“Ada kisanak! Tetapi semua penumpang, tidak akan tertampung, kalau Elang raksasa itu mengamuk dan menghancurkan kapal kami,” Jawab Nahkoda kapal.
“Kau tenang saja! Elang itu tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap kapalmu, jika kami ada di sini,” balas Aria.
Sang Nahkoda hanya bisa tersenyum kecut mendengar perkataan Aria.
“Orang buta bisa apa? Batin Si Nahkoda, sambil berlalu dan menyaksikan apa yang akan terjadi, dari bangunan di tengah kapal.
Sementara itu di tengah laut, dua perahu tengah terombang ambing oleh ombak.
__ADS_1
“Kenapa kau kemari? Tanya Wangsa.
“Aku tak bisa membiarkan kau bertempur sendiri,” jawab Buto Ijo.
Phuih!
“Kalau kau tak bisa berenang, malah bikin repot aku,” balas Wangsa.
“Untuk apa aku harus berenang? Aku kan berada di atas perahu,” ucap Buto Ijo.
Dua Elang yang berputar putar, Suaranya terus menjerit jerit, seakan sedang merencanakan untuk menyerang.
“Kita berpencar,” ucap Wangsa sambil mendayung dengan pendayung yang ada di perahu, menjauhi perahu Buto Ijo, setelah melihat dua Elang raksasa menukik dari langit, menyerang ke arah mereka.
Elang ber kaki satu tidak ikut mengejar Wangsa, sang Elang menukik ke arah perahu Buto Ijo.
Syuuut!
Buto Ijo melihat Elang menyambar dari atas, langsung tiarap di perahu sehingga badannya rata dengan tepian perahu, dan akhirnya Buto Ijo terhindar dari sambaran Elang raksasa.
Sedangkan Wangsa bersiap dengan pendayung yang terdapat di dalam perahu, dimana ia berada.
Syuuuut!
Saat Elang raksasa menyambar, Wangsa langsung menghantamkan dayung kayu ke arah kepala Elang raksasa.
Elang raksasa merasakan bahaya mengancam, sayapnya langsung terbuka, tubuh yang meluncur menjadi tertahan dan naik kembali, tetapi dayung yang di pegang oleh Wangsa melesat menghantam paha Sang Elang.
Buk!
Suara pekikan panjang terdengar, saat paha Elang terkena hantaman.
Elang raksasa langsung melesat naik ke udara sambil terus memekik kesakitan, akibat pahanya terkena hantaman dayung kayu.
Sedangkan Buto Ijo masih saja kesulitan untuk balas menyerang, karena terus tiarap di lantai perahu, agar tidak terkena patukan atau cenkeraman sang Elang.
Jika Buto Ijo berdiri, perahu kecil yang ia taiki langsung oleng terkena deburan ombak, setelah perahunya oleng, Buto Ijo duduk kembali, tak berani berdiri.
“Bagaimana bisa melawan Alap-alap, mau berdiri saja tidak bisa,” batin Nahkoda kapal.
Elang kaki satu yang menaruh dendam, setelah beberapa kali menyambar tidak menemui sasaran, kali ini serangannya berubah, saat tubuh Elang meluncur, Buto Ijo kembali rebahkan diri.
Suketi yang melihat kekasihnya kesusahan, berteriak sambil lompat ke sana kemari.
Melihat Buto Ijo rebahkan diri, kini Elang kaki satu, cakarnya terbuka dan mencengkeram pinggirkan kapal.
Krak!
Setelah berhasil mencengkeram pinggiran kapal, kedua sayapnya terbuka dan mulai mengepak ngepak, berusaha menarik perahu ke atas dengan satu kakinya.
“Eh….Eh….Loh, Kok naik? Ucap Buto Ijo, saat merasakan perahu yang ia pakai mulai naik ke udara.
Melihat musuhnya sedang mengepakan sayap, berusaha mengangkat perahu yang ia pakai, Buto Ijo langsung menendang kaki Elang yang mencengkeram perahu.
Plak….Krak!
Suara pekik kesakitan terdengar, kaki Elang yang mencengkeram langsung menghancurkan bagian samping perahu, sebelum sang elang melesat tinggi naik ke langit biru, kedua Elang berputar putar, kali ini keduanya mengelilingi kapal penumpang.
“Kemari, So! Perahuku mau tenggelam,” teriak Buto, yang bagian samping perahunya jebol terkena cenkeraman kaki Elang, air laut perlahan mulai masuk, membasahi kaki Buto Ijo.
Phuih!
“Bedegong sia teh, kehed! Ucap Wangsa dengan nada kesal mendengar teriakan Buto Ijo, sambil mendayung perahunya menghampiri perahu Buto Ijo, yang perlahan mulai turun, karena banyak kemasukan air.
Satu Elang menukik menyambar ke arah buritan kapal, berusaha menyambar salah seorang penumpang.
Nahkoda kapal yang melihat Elang menyambar dari atas, langsung berteriak kencang.
“Menyingkir, cepat sembunyi!? Teriak sang Nahkoda.
__ADS_1
Ujang Beurit sudah siap, sambil memegang balok kayu panjang untuk menghantam, begitupula dengan Selamet yang berdiri di atas gedung kapal, sambil memegang keris pusaka Naga hitam.
Setelah melihat Elang raksasa mulai mendekat, Selamet menghilang dari atap gedung kapal dengan ajian Halimun, setelah berada di dekat badan Elang, keris pusaka Naga hitam langsung menusuk ke arah perut Elang raksasa.
Crep!
Pekik kesakitan terdengar dari mulut Elang, sayapnya yang besar langsung mengibas ke arah Selamet.
Whut….Brak!
Selamet terkejut, tubuhnya langsung terhempas dan menabrak tiang layar hingga patah, Selamet pegangi pinggangnya yang serasa patah akibat menghantam tiang layar, “Selamet….Selamet, tidak kepalaku duluan yang menghantam tiang layar,” batin Selamet merasa bersyukur.
Suara riuh terdengar, Aria melesat menangkap tiang kapal yang patah, kemudian langsung melemparkan tiang layar ke arah Sang Elang.
Shing!
Karena insting binatang lebih peka jika menghadapi bahaya, tubuhnya bergerak naik sambil mengibaskan kedua sayapnya.
Elang raksasa bergerak naik dan berhasil menghindari lemparan Aria.
Kapal penyeberangan limbung dan bergoyang ke kiri dan kanan , barang-barang kecil yang ada di luar terbang dan jatuh ke laut setelah terkena angin dari kibasan sayap Elang, jerit ketakutan dari penumpang kapal terdengar.
Raut wajah Aria berubah kelam mendengar suara tangis anak kecil dan wanita penumpang kapal yang ketakutan saat kapal mulai oleng.
“Pemilik kapal! Kau ada tombak? Tanya Aria setengah berteriak, karena ia tidak tahu dimana sang Nahkoda berada.
Tak lama kemudian terdengar suara sang Nahkoda yang tengah tiarap sambil mendekati Aria.
“Ada….ada kisanak! Lanjut perkataan sang nahkoda.
“Kami ada lembing besar, yang biasa kami gunakan untuk memburu ikan paus.”
“Berikan padaku,” balas Aria mendengar sang Nahkoda mempunyai Lembing.
Nahkoda mengambil lembing yang ujungnya terikat tambang besar, lalu memberikan lembing kepada Aria.
“Kau di sini saja menjadi mataku, tunjukan padaku dimana Elang itu berada,” ucap Aria, sambil tangan kirinya menarik baju si Nahkoda yang hendak melangkah pergi setelah memberikan lembing.
“Kedua Elang raksasa itu sedang berputar putar di langit, kisanak! Jawab si Nahkoda denga raut wajah pucat, karena takut.
Kedua Elang setelah berputar putar di atas langit, keduanya mulai turun, tetapi keduanya tidak menyerang Aria dan rombongannya, begitupula penumpang kapal.
Kedua Elang seperti sudah tahu, bahwa serangan langsung tidak akan membuat musuhnya yang ber ilmu tinggi gampang di lukai.
Keduanya berputar mengelilingi kapal sambil mengibaskan sayapnya ke arah kapal.
Angin besar dari kibasan kedua sayap Elang, membuat kapal mulai oleng ke kiri dan kanan.
Buto Ijo terus menggerutu sambil memegangi kaki Wangsa, saat perahu kecil yang mereka taiki berdua, sampai terlempar terkena kibasan Sayap Elang.
“Sepertinya mereka hendak menenggelamkan kapal ini,” batin Aria menyadari situasi yang di lakukan oleh kedua Elang raksasa.
“Cepat beritahu posisi mereka! Seru Aria kepada sang Nahkoda.
“Kiri….kanan….tunggu, mereka di depan! Si Nahkoda berkata.
“Yang benar kau bicara,” teriak Aria dengan nada kesal, mendengar perkataan Nahkoda kapal yang terus saja berubah.
“Susah menentukan tempat pastinya, kisanak! Karena keduanya selalu bergerak cepat, tidak diam di tempat,” balas si Nahkoda mendengar teriakan Aria.
Suasana semakin genting, karena bukan saja kapal yang terkena angin dari kibasan sayap Elang raksasa, begitu pula air laut yang berubah menjadi ombak dan ikut menghempaskan perahu.
Di saat suasana genting.
Perlahan kedua elang berhenti mengibas, keduanya melesat naik.
Selamet yang sudah berada di atap gedung kapal, matanya melihat satu titik bergerak mendekat dari kejauhan.
Telinga Aria bergerak gerak saat mendengar suara nada seruling yang merdu dan semakin lama semakin jelas terdengar, senyum terlihat di bibir Aria, dalam hatinya berkata.
__ADS_1
“Apa dia yang datang?