
Setelah berembug dengan yang lain tentang pembentukan Padepokan, Aria mempercayakan semuanya kepada Wangsa, Nyi Kidung kencana dan Singabarong.
Aria tidak bisa ikut dengan mereka, karena harus melanjutkan perjalanan menuju gunung Semeru.
Ke esokan hari, rombongan terpecah menjadi dua, Aria dan Buto Ijo melanjutkan perjalanan menuju Semeru, sedangkan Wangsa, Nyi Kidung kencana dan Singabarong bergerak ke arah barat, menuju ke gunung Kawi.
Buto Ijo yang hanya berdua, lalu menggendong Aria untuk melanjutkan perjalanan.
Buto Ijo terus berlari menuju ke arah timur dari hutan gelap, karena menurut Singabarong, gunung Semeru terletak di arah timur.
Nanti setelah satu hari perjalanan, gunung Semeru akan terlihat dari kejauhan, menurut petunjuk dari Singabarong.
Jika tidak ada perintah dari Aria untuk berhenti, Buto Ijo terus berlari tanpa kenal lelah.
Setelah berlari seharian, akhirnya Buto Ijo menemukan jalan yang biasa di pakai penduduk.
Buto Ijo juga melihat gunung menjulang tinggi dari kejauhan.
“Raden! Apa gunung itu adalah Semeru? Tanya Buto Ijo.
“Mana aku tahu,” jawab Aria, kau tanyakan saja pada orang yang lewat,” lanjut perkataan Aria.
“Ini memang jalan yang biasa di pakai oleh orang, tetapi aku dari tadi tidak melihat orang yang lewat,” ucap Buto Ijo.
“Turunkan aku! Kita jalan kaki saja,” balas Aria, setelah mendengar perkataan Aria.
Buto Ijo menurunkan Aria, lalu mereka mulai berjalan mengikuti jalan yang menurut Buto Ijo adalah jalan menuju gunung Semeru.
“Jalan ini rata, sepertinya sering di lalui oleh kereta kuda,” ucap Aria setelah berjalan dan merasakan jalan yang ia injak.
“Raden benar! Jalan ini memang agak lebar dan rata, sedangkan kiri kanan hanya ada hutan bambu serta pohon Jati,” balas Buto Ijo.
Buto Ijo dan Aria berjalan sambil bercakap-cakap.
Tak lama setelah mereka berjalan, telinga Aria mendengar ada suara derap kaki kuda, mendekat ke arah mereka.
“Buto Ijo! Ada suara kuda mendekat, kau jangan banyak bicara, biar aku yang bertanya,” ucap Aria.
“Baik Raden! Balas Buto Ijo.
Dua ekor kuda yang di tunggangi sepasang muda mudi mendekat, kedua orang yang memakai pakaian berwarna ungu menarik tali kekang kuda, setelah melihat ada dua orang yang berjalan di tengah jalan.
“Maaf kisanak! Kisanak menghalangi jalan kami,” ucap si pemuda dengan sopan.
“Maafkan kami tuan, kami tidak tahu kalau ada yang lewat, balas Aria.
Lalu menarik tangan Buto Ijo dan melangkah ke tepi jalan.
“Saat kuda hendak bergerak, Aria langsung bertanya.
“Maaf tuan! Apa kami boleh bertanya? Ucap Aria.
Si pemuda kerutkan kening mendengar perkataan Aria.
“Silahkan kisanak, apa yang ingin di tanyakan? ucap Si pemuda.
“Kami ingin ke gunung Semeru, tetapi tidak tahu jalan, jika tuan tahu jalan menuju gunung Semeru, apa boleh kami minta petunjuk dari tuan,” jawab Aria.
“Ini jalan menuju ke arah gunung Semeru, gunungnya juga sudah terlihat,” ucap Si pemuda.
“Maaf tuan, saya buta! Jadi tidak tahu jalan, dan melihat gunung Semeru yang tuan katakan,” balas Aria.
Si pemuda lalu memandang gadis yang tengah bersamanya.
Melihat si gadis anggukan kepala, pria muda itu lalu berkata.
“Kalau begitu! Tuan bisa jalan bersama sama dengan kami, kami juga akan ke gunung Semeru, tepatnya ke padepokan Jagawana yang ada di kaki gunung Semeru,” ucap Si pemuda.
Aria memberi hormat mendengar kata-kata sopan serta ajakan untuk jalan bersama.
“Tuan memakai kuda, sedangkan kami jalan kaki, tuan tunjukan saja jalannya, agar kami tidak merepotkan tuan muda,” balas Aria.
“Kisanak tidak usah sungkan! Kisanak bisa pakai kudaku ini untuk berdua, sedangkan aku bisa berkuda bersama adikku ini,” ucap Si pemuda.
“Banyak-banyak terima kasih atas kebaikan tuan muda, pamanku tidak bisa menunggang kuda, biar kami jalan kaki saja,” balas Aria.
Setelah mendengar perkataan Aria, si pemuda kembali menatap sang adik.
__ADS_1
“Kita jalan bersama-sama saja kakang, sekarang banyak rampok berkeliaran, kasian mereka, jika nanti bertemu dengan rampok,” suara merdu terdengar dari mulut sang gadis.
Mendengar perkataan si adik, pemuda itu anggukan kepala, kemudian turun dari kuda, lalu memegang tali kekang dan mulai menuntun kudanya berjalan, kemudian berkata.
“Mari kisanak! Kita jalan bersama.” Ucap si pemuda dengan sopan.
Aria tersenyum dari balik caping mendengar perkataan kedua muda mudi ini.
“Tuan muda dan nona sangat baik, semoga kebaikan tuan muda dan nona mendapat balasan yang setimpal,” ucap Aria yang berjalan sambil di tuntun oleh Buto Ijo.
“Sesama manusia harus saling tolong menolong kisanak,” ucap si pemuda.
Aria anggukan kepala mendengar perkataan si pemuda.
“Aku bernama Aria Pilong tuan muda, dan pamanku ini bernama,” Aria diam sebentar saat hendak menyebut Buto Ijo.
“Pamanku biasa di panggil Jo,” ucap Aria memperkenalkan diri, saat teringat Wangsa biasa memanggil Jo.
“Aku Rama dan ini adikku Anjani, kami adalah saudara kembar kisanak,” balas Rama setelah memperkenalkan diri.
Rama dan Aria bercakap cakap sambil jalan, sedangkan Anjani hanya diam mendengarkan keduanya bercakap-cakap.
Apa saudara Rama murid padepokan jagawana? Tanya Aria.
“Bukan kisanak, kami murid Resi Jayaprana yang ditugaskan oleh guru kami untuk membantu padepokan Jagawana, dari gangguan para perampok yang semakin marak di sekitar gunung Semeru.
“Perampok? Tanya Aria.
“Benar tuan! Mereka berkepandaian tinggi, mereka merampok dan membunuh penduduk dan orang yang lewat menuju gunung Semeru.
“Ki Bayan ketua padepokan Jagawana yang turun temurun menjaga di kaki gunung Semeru meminta bantuan guru kami, tetapi guru kami sudah tidak mau mencampuri urusan dunia, sehingga mengutus kami berdua untuk membantu Ki Bayan.
“Aneh! Seru Aria.
“Biasanya perampok tidak pilih-pilih orang yang akan di rampok, mau mereka keluar, atau masuk, ya di rampok,” lanjut perkataan Aria.
“Kisanak benar! Guruku juga berkata seperti yang kisanak katakan, bahwa ada yang aneh di gunung Semeru,” balas Rama.
Sudah cukup jauh mereka jalan, mata Rama menatap batang kayu besar yang melintang di tengah jalan.
“Ada apa? Tanya Aria.
“Sepertinya ada yang menghadang perjalanan kita,” bisik Buto Ijo.
“Jangan bertindak sebelum ada perintah dariku,” ucap Aria dengan suara pelan.
“Baik Raden,” balas Buto Ijo.
Rama dan Anjani langsung mencabut pedang dari punggungnya, setelah melihat, batang kayu melintang di tengah jalan.
“Keluar! Jangan hanya pandai bersembunyi,” teriak Rama sambil matanya menatap ke arah sekeliling.
Aria tersenyum dingin dari balik caping, setelah mendengar gerakan dari beberapa pohon.
Whut….Whut!
Sepuluh bayangan hitam melesat dan berdiri di atas pohon yang sengaja di palangkan di jalan.
“Kalian mau kemana? Tanya Salah seorang yang memakai topeng hitam dan berdiri paling depan.
“Kami hendak menuju padepokan Jagawana,” balas Rama.
“Sebaiknya kalian kembali saja! Gunung Semeru sekarang tertutup,” balas orang bertopeng hitam.
“Siapa kalian? Kenapa kalian menghalangi kami pergi ke gunung Semeru? Tanya Rama.
“Kau tidak usah banyak bacot, anak muda! Kembali sekarang juga sebelum terlambat,” balas Pria bertopeng.
“Sepertinya kalian yang selama ini mengganggu para penduduk yang hendak menuju gunung Semeru,” ucap Rama.
“Tuan Aria sebaiknya menjauh,” lanjut perkataan Rama.
Aria anggukan kepala, lalu menarik tangan Buto Ijo menjauh.
Serang!
Teriak pemimpin dari para penghadang setelah mendengar perkataan Rama.
__ADS_1
Seorang pria bertopeng melesat dan di sambut oleh sabetan pedang Rama.
Trang!
Pedang Rama di tangkis golok pria bertopeng, tapi sabetan Anjani yang ke arah punggung, menebas punggung pria yang menangkis pedang sang kakak.
Bret!
Pria bertopeng langsung tersungkur, sang pemimpin melihat anak buahnya tewas, tangannya menyambar ke arah Anjani, tapi gadis itu melesat, sambil pedangnya berbalik dan menyabet perut pemimpin rampok.
Pemimpin rampok yang hendak membokong, kemudian mundur sambil tangannya melempar senjata rahasia berupa paku-paku beracun ke arah Anjani.
Anjani langsung memutar pedang di depan dada, melihat serangan senjata rahasia musuh.
Tring….tring!
Paku-paku beracun berhamburan di tanah setelah menghantam putaran pedang Anjani.
Buto Ijo melihat paku yang ada di dekatnya kerutkan kening, lalu berbisik kepada Aria.
“Mereka orang-orang dari padepokan Tangan hitam.”
Hmm!
“Sepertinya mereka tengah memata matai aku,” bisik Aria, setelah mendengar perkataan Buto Ijo.
“Kita bunuh saja mereka! Bisik Buto Ijo.
“Jangan! Masih banyak kawan mereka di tempat ini, kedua sahabat kita menurutku masih sanggup untuk menghabisi mereka yang ada di sini,” balas Aria.
Buto Ijo hanya diam mendengar perkataan Aria sambil menatap ke arah perampok bertopeng hitam, yang merupakan penyamaran dari orang-orang padepokan tangan hitam.
Rama dan Anjani memainkan pedang berpasangan, ilmu pedang kedua kakak beradik kembar itu sangat indah dan saling isi satu sama lain.
Jika Anjani menyerang, Rama melindungi sang adik, begitu pula dengan Rama yang menyerang, keduanya bergerak saling berdekatan satu sama lain, membuat para perampok topeng hitam, satu persatu mulai rubuh terkena sabetan dari kedua saudara, murid Resi Jayaprana.
“Awas di belakang! Teriak Buto Ijo melihat golok pendek menyambar ke arah punggung Rama.
Sebelum Rama berbalik, Aria menendang batu yang berserakan dan tepat mengenai Pergelangan tangan musuh yang sedang memegang golok.
Tuk!
“Sebelum golok jatuh,” Rama berbalik dan menebas perut musuh.
Sret!
Musuh langsung tersungkur dengan perut robek besar, dan sebagian isi perut keluar.
Sang pemimpin melihat anak buahnya satu persatu tewas, tubuhnya melenting sambil melemparkan paku beracun ke arah Rama, tapi pemuda itu dengan cepat menghantam dengan tangan kiri, serangkum angin menggebu keluar dari tangan si pemuda, merontokkan paku beracun musuh.
Setelah senjata rahasia rontok, hanya mayat bergelimpangan yang terlihat dari gerombolan topeng hitam, sementara itu sang pemimpin sudah tak terlihat, setelah melarikan diri masuk ke dalam hutan.
Rama dan Anjani saling tatap, setelah melihat mayat para perampok.
Setelah bercakap pelan dengan sang adik, Rama kemudian berkata kepada Aria.
“Kisanak! Kami harus segera pergi ke padepokan Jagawana, kisanak lebih baik memakai kudaku berdua dengan Jo, sedangkan aku dengan Anjani.
“Maaf tuan muda, kalau kami di paksa ikut, biar saya bersama tuan muda, sedangkan Jo sudah biasa berlari, jadi tidak masalah,” balas Aria.
“Apa saudara Jo sanggup mengikuti lari kuda kami? Tanya Rama.
Suara dengusan keluar dari hidung Buto ijo mendengar pertanyaan Rama.
“Tuan tidak usah pikirkan aku, pecut saja kuda tuan, biar kita cepat sampai di padepokan Jagawana.”
Mendengar perkataan Buto ijo, Rama tersenyum, kemudian berkata.
“Terima kasih tuan ikut memikirkan padepokan Jagawana,” ucap Rama.
“Maaf aku ingin cepat sampai bukan karena padepokan Jagawana,” balas Buto Ijo.
“Lantas karena apa? Tanya Rama sambil kerutkan kening.
Buto Ijo lalu menjawab.
“Karena aku lapar dan ingin cepat makan di padepokan itu.”
__ADS_1