
Patih Argobumi diam tak membalas perkataan Aria, biarpun nada yang di katakan oleh pemuda yang kini menjadi kawannya bersipat ancaman terhadap Prabu Mapanji Garasakan, Patih Argobumi dapat memaklumi dan tidak marah, karena memang sudah bukan rahasia umum, jika dua negara berperang yang paling menderita adalah rakyat.
“Kita lihat saja nanti ke depannya seperti apa, aku akan berusaha membujuk Prabu Mapanji Garasakan untuk menahan hasrat untuk berperang, apalagi Prabu Samarawijaya masih kakak Prabu Mapanji Garasakan, walau berbeda ibu,” patih Argobumi membalas perkataan Aria.
“Lebih baik kita istirahat di rumah Jati Wilis sambil membahas hal lain saja,” lanjut perkataan Argobumi.
“Makanan lebih penting, kau suruh anak buahmu masak untuk kami,” Buto Ijo yang membalas perkataan Patih Argobumi.
Patih Argobumi tertawa mendengar perkataan Buto Ijo, mereka lalu melangkah menuju ke rumah Jati Wilis.
Buto Ijo langsung lari ke dapur, karena tidak sabar menunggu makanan yang akan di masak, sang raksasa mencari makanan yang langsung bisa ia santap.
“Kalian berdua sangat serasi! Seru patih Argobumi sambil menatap Aria dan Buwana Dewi bergantian.
Saat mereka sudah berkumpul di satu meja, menunggu makanan yang sedang di buat oleh para pelayan di kediaman Jati Wilis.
“Terima kasih paman patih,” Buwana Dewi membalas perkataan Patih Argobumi, rona wajah Buwana Dewi langsung merah mendengar perkataan sang patih.
“Apa kalian sudah menikah? Patih argobumi kembali bertanya sambil menatap Aria dan Buwana Dewi.
Aria menarik napas mendengar perkataan Patih Argobumi.
Sedangkan Sri Buwana Dewi melirik ke arah Aria, setelah mendengar pertanyaan patih Argobumi.
“Menjadi kekasih saja belum, masa sudah menikah,” Wangsa yang menjawab pertanyaan patih Argobumi.
“Maaf….maaf! Aku pikir ketua adalah pasangan Buwana Dewi,” patih Argobumi membalas perkataan Wangsa.
“Raden Kusumo juga mempunyai cucu perempuan yang sangat cantik, apa Raden sudah memperkenalkan Anjani kepada Ketua? Tanya Patih Argobumi.
Raut wajah Buwana Dewi berubah ketika Patih Argobumi menyebut nama Anjani, entah kenapa setiap mendengar ada gadis yang di kaitkan dengan Aria, hati Buwana Dewi merasa kesal dan tak suka.
“Sebenarnya Anjani sudah kenal terlebih dahulu dengan ketua daripada aku,” lanjut perkataan Raden Kusumo.
“Kalau untuk masalah itu, aku hanya bisa berharap, hanya ketua yang berhak memutuskan, kalau Anjani aku yakin, cucuku tidak akan menolak.”
Raden Kusumo seperti mendapat jalan, setelah patih Argobumi membicarakan masalah pernikahan.
Sewaktu mereka bertemu, Raden Kusumo heran melihat Aria bersama gadis cantik, raden Kusumo akui bahwa kecantikan gadis yang bersama sang ketua, masih berada di atas cucu nya.
Tetapi setelah mendengar sebutan gadis terkutuk, yang ceritanya ia dengar dari beberapa pedagang, Raden Kusumo berpikir, apa gadis itu mau menikah dengan aria?
Raden Kusumo lanjut berkata.
“Aku juga berterima kasih kepada ketua, karena sudah menyelamatkan Rama dari prajurit Jati Wilis.
“Hati hamba tidak tenang setelah mendengar, Rama sedang di buru oleh Jati Wilis.”
__ADS_1
“Raden tidak usah berkata seperti itu, Rama adalah kawanku, dia pasti bertindak sama, jika aku yang mengalami kesulitan,” Aria membalas perkataan Raden Kusumo.
Makanan di hidangkan, setelah beres menyantap makanan dan bercakap cakap sebentar, patih Argobumi dan Raden Kusumo pamit pada Aria untuk membereskan masalah gudang utara, sementara rombongan Aria di persilahkan istirahat di tempat kediaman Tumenggung Jati Wilis.
Buwana Dewi tidak mau di kamar lain, ia hanya ingin bersama Aria.
Setelah berada di dalam kamar, Buwana Dewi berkata sambil menatap ke arah Buto ijo yang tengah membawa dua buah kendi, berisi tuak dan air putih.
“Aku ingin bicara dengan kakang Aria,”
“Memangnya aku melarang? Tanya Buto ijo.
“Kau keluar dulu! Seru Buwana Dewi.
Buto ijo menoleh ke arah Aria, melihat Aria anggukan kepala, Buto ijo keluar dari kamar setelah menaruh kendi di atas meja.
Setelah Buto ijo keluar dari kamar, Buwana Dewi langsung duduk di kursi yang berada di depan Aria.
“Kakang! Siapa Anjani? Tanya Buwana Dewi.
“Cucu Raden Kusumo, memangnya ada apa? Tanya Aria.
“Buwana Dewi tahu! Tetapi bukan itu yang hendak di tanyakan,” Buwana berkata sambil menatap Aria, “apa kakang akan menikah dengan Anjani? Tanya Buwana Dewi.
“Tidak,” jawab Aria.
“Kenapa kau menarik napas panjang? Tanya Aria sambil tersenyum.
“Tidak apa, aku senang mendengar jawaban kakang Aria,” Buwana Dewi berkata sambil tersenyum.
“Kenapa kakang tidak menjawab pertanyaan patih Argobumi? Tanya Buwana Dewi.
“Pertanyaan yang mana? Aria balik bertanya.
“Tentang pasangan kekasih,” jawab Buwana Dewi.
Aria diam mendengar perkataan Gadis yang ada di depannya.
Aria teringat kembali akan tujuannya ke Alas Purwo dan itu terus menghantui pikirannya jika Buwana Dewi menyinggung hubungan mereka.
Aria memang tidak bisa melihat Buwana Dewi, tetapi ia tahu ketulusan gadis ini terhadapnya, apalagi Buwana Dewi sudah mendapat restu dari Nyi Selasih, istrinya.
“Maafkan Buwana Dewi, kakang! Buwana Dewi berkata, setelah Aria diam dan tampak sedang berpikir.
Buwana Dewi memberikan satu kendi ke arah Aria.
Aria menarik napas panjang, lalu meraih kendi yang di sodorkan, kemudian menenggak isinya.
__ADS_1
Melihat Aria minum, Buwana Dewi langsung minum dari kendi lain yang di bawa Buto Ijo.
“Kenapa air ini rasanya asam dan pahit,” Buwana Dewi berkata dalam hati, sambil terus meminum air dalam kendi yang di bawa Buto Ijo sampai habis.
Perlahan rona wajah Buwana Dewi berubah warna menjadi kemerahan dan matanya terlihat sayu menatap Aria.
“Kakang! Buwana Dewi berkata pelan, saat kepalanya terasa pusing, dan gairahnya meningkat sewaktu melihat Aria.
“Kenapa kau? Tanya Aria, mendengar suara Buwana Dewi yang mendesah ketika memanggilnya.
Buwana Dewi tak menjawab, tetapi tangannya meraih tangan Aria dan mulai meremas.
Hmm!
Aria mendengus saat merasakan remasan tangan Buwana Dewi.
“Aku suka kakang Aria! Seru Buwana Dewi, wajahnya mulai mendekati wajah Aria Pilong.
Aria kerutkan keningnya saat merasakan ******* napas dari hidung Buwana Dewi.
******* napas dari hidung Buwana Dewi terasa panas saat menerpa wajahnya.
Perlahan Bibir Buwana Dewi mendekati bibir Aria Pilong.
Aria tak bergerak, hatinya berdebar, bau harum ******* napas Buana Dewi yang menerpa wajah dan hidung aria, membuat jantung Aria berdetak lebih kencang dari biasanya.
Mulut Buwana Dewi terbuka dan perlahan mulai ******* bibir Aria.
Aria tak menolak ciuman Buwana Dewi, tetapi keningnya berkerut dan hidungnya mencium bau aneh yang keluar dari mulut Buwana Dewi.
Aria mendorong Buwana Dewi, sehingga ciuman Buwana Dewi terlepas.
“Kenapa kakang? Tanya Buwana Dewi.
Aria mengambil kendi yang di minum Buwana Dewi, setelah mencium bau yang keluar dari kendi tersebut, aria berkata.
“Pantas! Seru Aria.
“Pantas apa kakang? Tanya Buwana Dewi tak mengerti.
Aria menjawab pertanyaan Buwana Dewi.
“Mulutmu bau Tuak,”
———————————————————
Untuk para Reader yang ber agama Islam, selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, semoga di bulan penuh berkah ini, amal ibadah kita bertambah dan kita semua di beri Rahmat dan kemudahan segala urusan serta kesehatan oleh Allah SWT. Amin
__ADS_1