
Lowo Ireng terkejut setelah merasa tubuhnya berat dan terus bergerak turun, padahal ia sudah mengerahkan tenaga dalam.
Lowo ireng merasa penasaran lalu melihat ke bawah.
Kakek kurus itu terkejut bukan kepalang melihat Buto Ijo sedang bergelantung sambil memegangi kakinya.
“Keparat! Lepaskan kakiku,” teriak Lowo Ireng sambil menggoyangkan kakinya yang di pegang Buto Ijo.
“Diam kau bangsat! Cepat turunkan aku, kalau tidak! Ku patahkan nanti kakimu,” balas Buto Ijo.
“Lepaskan saja tanganmu dari kakiku, kalau mau turun,” balas Lowo Ireng sambil terus menggerakkan kakinya.
“Tak usah banyak bacot! Cepat turun, Atau,” Buto Ijo berkata sambil meremas kaki Lowo Ireng.
Lowo Ireng langsung diam mendengar ancaman Buto Ijo, perlahan tubuhnya turun ke lantai Arena.
Setelah kaki Buto Ijo menginjak lantai arena, tubuh Buto Ijo langsung berputar, begitu pula dengan tangan yang sedang mencengkeram kaki Lowo ireng.
“Bangsat! Apa yang kau lakukan!? Teriak Lowo Ireng, kepalanya pusing dan matanya mulai berkunang kunang, setelah Buto Ijo memutar tubuhnya lewat kaki yang sedang di cengkeram.
“Lepaskan….lepaskan!? Teriak Lowo Ireng.
“Baik! sesuai permintaan,” ucap Buto Ijo sambil melepaskan kaki Lowo Ireng, tubuh Lowo ireng setelah di putar kemudian di lepaskan, tubuhnya langsung melesat keluar arena.
Whut!
Lowo Ireng hanya bisa pasrah saat tubuhnya melesat di udara, kepalanya pusing seperti di putar-putar, sehingga ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Bahurekso melihat tubuh Lowo Ireng melayang, langsung melesat menyambar Lowo Ireng.
Setelah berhasil menangkap tubuh Lowo Ireng, Bahurekso langsung menuju arena dan berdiri di hadapan Buto Ijo.
Bahurekso melepaskan tangannya dari pinggang Lowo Ireng.
Lowo Ireng setelah terlepas, langsung duduk di lantai arena, kepalanya pusing dan perutnya mual, tak lama kemudian dari mulut Lowo Ireng menyembur air serta bekas makanan yang tadi ia makan, Lowo Ireng muntah-muntah di tengah Arena.
Bahurekso bergerak menjauh dari Lowo Ireng, karena tak mau terkena muntahan dari kelelawar hitam.
Ha Ha Ha
“Hai Ireng! Kowe ngidam? Tanya Buto Ijo sambil tertawa.
“ini kuberi kau pisang, biar pusing mu hilang,” lanjut perkataan Buto Ijo sambil melempar kulit pisang yang buahnya baru saja ia makan.
Whut….plak!
Kulit pisang yang di lempar oleh Buto Ijo langsung mengenai wajah Lowo Ireng.
Phuih!
“Melihat muntah serta mukamu, aku jadi mual,” ucap Buto Ijo, setelah berkata, Buto Ijo melemparkan pisang satu tandan yang ada di tangan kirinya.
Whut….Buk!
Buah pisang berjatuhan, setelah wajah Lowo ireng terhantam satu tandan pisang.
Lowo ireng perlahan tubuhnya terjengkang kebelakang, setelah terkena lemparan satu tandan buah pisang, Lowo ireng tak sadarkan diri di lantai arena, di temani oleh puluhan pisang di sekitar wajah dan tubuhnya.
Sarka yang melihat kelakuan Buto Ijo hanya bisa gelengkan kepala, sambil berkata dalam hati.
“Dasar Buta gelo! Nya ho’oh jengker, ari di timbul ku Cau saturuy mah,”*
Bahurekso hanya bisa diam melihat ulah Buto Ijo, karena mata Bahurekso tidak pernah lepas menatap ke arah Aria, yang sudah berdiri di tengah arena sambil memegang tongkat.
__ADS_1
Sarka yang tengah duduk sambil menahan sakit di bahu akibat tinju Lowo Ireng, langsung bangkit setelah melihat Aria berdiri di tengah arena.
“Terima kasih, Raden sudah datang membantu ku,” ucap Sarka sambil memberi hormat.
Aria anggukan kepala mendengar perkataan Sarka.
Sementara itu mereka yang berada di luar arena dan kenal dengan Aria Pilong langsung berdiri, di awali oleh Wulan yang langsung bertepuk tangan di susul Kemuning serta Sekar Arum.
Tumenggung Wirabumi berdiri, Ki Demang surya, panglima Sanjaya akhirnya Prabu Samarawijaya melihat panglima Sanjaya berdiri, akhirnya ikut berdiri sambil bertepuk tangan, hanya Senopati Singalodra yang diam, sambil menatap tajam ke arah Arena sayembara.
Setelah Prabu Samarawijaya duduk di ikuti oleh yang lain.
Senopati Singalodra mulai bicara.
“Tumenggung Wirabumi kenapa Iblis buta itu ada di tengah arena? Bukankah dia tidak terdaftar mengikuti sayembara? Tanya Senopati Singalodra sambil berdiri dan menunjuk ke arah Aria Pilong.
Aria mendengar perkataan Senopati Singalodra langsung membalas sebelum Tumenggung Wirabumi bicara.
“Kalau kau berani, sini! Masuk arena dan berhadapan denganku,” ucap Aria.
“Diam kau! Aku tidak bicara denganmu,” teriak Senopati Singalodra sambil menunjuk ke arah Aria.
Tumenggung Wirabumi bingung apa yang harus ia katakan, karena ucapan Senopati Singalodra memang benar, Aria tidak ikut mendaftar.
Setelah lama tak mendengar jawaban dari Tumenggung Wirabumi, Senopati Singalodra beralih ke Prabu Samarawijaya.
“Baginda Prabu, hamba mohon keadilan, jika tidak! sayembara ini akan hamba laporkan kepada Baginda raja Mapanji Garasakan,” Senopati Singalodra berusaha mengancam Prabu Samarawijaya.
“Ini sayembara kami, untuk orang dan pendekar dari Kadiri, kenapa malah Senopati Singalodra yang balik mengatur kami? Tanya Tumenggung Wirabumi.
“Diam kau! Aku tak bicara denganmu,” Senopati Singalodra kali ini berkata sambil menunjuk ke arah Tumenggung Wirabumi.
“Kau yang diam keparat!? Lihat posisimu di sini, kau hanya seorang Senopati, berani sekali kau membentak ku, kau sudah bosan hidup? Tanya Tumenggung Wirabumi sambil menunjuk ke arah Senopati Singalodra.
Tumenggung Wirabumi langsung diam mendengar perkataan Singalodra.
Melihat suasana makin tegang antara Tumenggung Wirabumi dan Senopati Singalodra, Prabu Samarawijaya angkat bicara.
“Tumenggung Wirabumi! Apa pendekar Aria sudah mendaftar? Tanya Prabu Samarawijaya.
“Belum baginda Prabu,” jawab Tumenggung Wirabumi.
“Kalau belum mendaftar, lebih baik turun, karena aturannya sudah di tetapkan.” Ucap Prabu Samarawijaya.
“Ini baru perkataan bijak seorang Raja,” Senopati Singalodra langsung berkata, setelah mendengar ucapan Prabu Samarawijaya.
Hmm!
Senopati Singalodra mendengus setelah lama tak mendengar Tumenggung Wirabumi bicara.
“Tumenggung Wirabumi kenapa tidak bicara? Tanya Senopati Singalodra.
Tumenggung Wirabumi menarik napas panjang, saat Tumenggung Wirabumi hendak bicara.
Tiba-tiba panglima Sanjaya berdiri.
Prabu Samarawijaya, Tumenggung Wirabumi serta Singalodra menoleh ke arah panglima Sanjaya.
“Ada apa, Panglima? Tanya Prabu Samarawijaya.
“Ada satu hal yang ingin hamba sampaikan, Baginda! Biar semua orang tahu,” jawab Panglima Sanjaya.
“Katakan saja,” ucap Prabu Samarawijaya.
__ADS_1
“Sebenarnya kami sudah membuat kesepakatan dengan tuan Aria,”
Prabu Samarawijaya kerutkan kening mendengar perkataan panglima Sanjaya, begitu pula Tumenggung Wirabumi.
Sedangkan raut wajah Senopati Singalodra berubah kelam mendengar perkataan Panglima Sanjaya.
“Aku, Senopati Singalodra serta ketiga ketua padepokan Tangan hitam akan bertempur di arena melawan tuan Aria,” lanjut perkataan Panglima Sanjaya.
Raut wajah Prabu Samarawijaya berubah mendengar perkataan panglima Sanjaya.
“Berarti apa yang di katakan oleh Aria Pilong sewaktu di pertemuan benar,” batin Prabu Samarawijaya.
“Aku menyatakan mundur dari pertarungan, dan mengaku kalah dari tuan Aria,” panglima Sanjaya berkata.
Prabu Samarawijaya tersenyum mendengar perkataan Panglima Sanjaya.
Sang Prabu mengerti arti dari perkataan Panglima Sanjaya.
Sewaktu di pertemuan, Aria berkata bahwa panglima Sanjaya bertemu dengan Senopati Singalodra hendak membicarakan kerjasama untuk menyerang kerajaan Kadiri.
Aria tahu dan menantang mereka.
“Jika panglima Sanjaya mundur, itu artinya sang Panglima tidak akan bekerja sama dengan Senopati Singalodra,” batin Prabu Samarawijaya
“Aku sangat menghargai keputusan panglima,” Prabu Samarawijaya berkata sambil tersenyum.
Hmm!
“Baik! Kalau begitu,” tiba-tiba Senopati Singalodra berkata.
“Baginda Prabu! Hamba akan terima tantangan si Iblis Buta.
“Tetapi ini hanya pertarungan antara hamba pribadi dan tak ada hal lain dalam pertarungan ini,” Senopati Singalodra berkata seperti itu karena panglima Sanjaya sudah tidak berada di pihaknya.
“Prabu Samarawijaya tak menjawab, matanya menatap ke arah Aria Pilong, dalam hatinya berkata.
“Maafkan aku, Raden Aria.”
“Silahkan Senopati! Seru Tumenggung Wirabumi sambil tersenyum sinis.
“Iblis buta! Kau memang bisa menghilang, tetapi aku tahu batasan ilmu yang kau gunakan.
“Tetapi aku sangsi, apa kau bisa mengatasi kecepatanku?
Setelah berkata, tubuh Senopati Singalodra tiba-tiba lenyap dari kursi, hanya terlihat sinar putih melesat menuju ke arah arena sayembara.
Panglima Sanjaya, Prabu Samarawijaya, Tumenggung Wirabumi serta resi Sarpa kencana sangat terkejut, melihat kecepatan gerak Senopati Singalodra.
Aria setelah mendengar perkataan Senopati Singalodra, langsung mengerahkan tenaga dalamnya ke arah mata.
Mata Aria bersinar setelah tenaga dalamnya tersalur, Aria dapat melihat Aura putih perwujudan Senopati Singalodra melesat sangat cepat menuju ke arahnya.
Dalam sekejap mata, Senopati Singalodra sudah berdiri di hadapan Aria Pilong.
Hmm!
Aria mendengus sambil menatap ke arah Senopati Singalodra yang ada di depannya, kemudian bertanya dengan nada dingin.
“Ada hubungan apa kau dengan Larang Tapa?
————————————————————-
“Dasar Raksasa gila! Ya pasti kelenger, kalau di timpuk sama pisang satu tandan.”*
__ADS_1