Iblis Buta

Iblis Buta
Misi Lembusora


__ADS_3

“Jangan ikut campur urusanku, anak muda! Lebih baik kau menyingkir,” Ucap Lembu Sora sambil menatap Ujang Beurit.


Buwana Dewi langsung berbalik dan menatap Lembusora.


“Jangan jauh-jauh dari ketua,” Ucap Ujang Beurit.


Lembusora kembali menatap Buwana Dewi tanpa memperdulikan Ujang Beurit.


Lembusora kembali melesat ke arah Buwana Dewi, tetapi kali ini Buwana Dewi menangkis tangan Lembusora yang hendak menyambar tubuhnya.


Plak!


Lembusora menyeringai setelah suling Buwana Dewi menangkis tangannya.


“Tuan Putri! Hamba di utus oleh yang Mulia Ki Banyu Alas untuk menjemput tuan putri, Ayah tuan putri tidak bisa menjemput dan mengirim hamba untuk menjemput tuan Putri,” Lembusora berkata setelah tangannya berhasil di tangkis oleh putri Ki Banyu Alas.


“Kau salah orang! Aku bukan anak Ki Banyu Alas,” ucap Buwana Dewi.


“Aku tidak mungkin salah, gadis terkutuk yang sudah bebas dan ikut bersama Iblis buta adalah putri Tuan Banyu Alas.


Hmm!


“Gadis terkutuk katamu? Tanya Buwana Dewi, perlahan matanya mulai berubah menjadi biru dan petir myambar nyambar, di sekitar tempat pertempuran, entah kenapa Buwana Dewi kalau mendengar nama gadis terkutuk tidak suka, setelah mendengar cerita ibu angkatnya.


Karena dirinya bukan gadis terkutuk, hanya korban dari keserakahan seorang ayah yang tidak bertanggung jawab.


Lembusora terkejut, saat tangan Buwana Dewi menunjuk ke arahnya, tanpa berpikir panjang Lembusora langsung melesat menjauh, tak lama setelah Lembusora pergi, suara ledakan terdengar dari tempat dimana tadi Lembusora berdiri.


Blar!


Tanah menjadi hitam seperti bekas terbakar api.


“Hebat….hebat! Tidak percuma kau menjadi putri Ketua kami,” Lembusora berkata, setelah melihat tanah berlobang akibat hantaman Buwana Dewi.


Mata Lembusora menatap tajam dan berkilat sambil mulutnya berkomat kamit.


Perlahan kepala Lembusora berubah menjadi kepala kerbau.


Krek….Krek!


Otot-otot tubuh Lembusora perlahan membesar, hidung di kepala kerbau dari Lembusora terdapat gelang emas.


Dari hidung Lembusora keluar asap sewaktu mendengus.


Lembusora ingin bergerak cepat menawan Buwana Dewi, untuk di serahkan kepada sang ketua.


Ajian Raga Lembu langsung di kerahkan untuk melumpuhkan Buwana Dewi.


Whut!


Lembusora melesat ke arah Buwana Dewi.


Buwana Dewi kibasan tanganya ke arah Lembusora.


Lembusora bergerak ke kiri menghindari serangan Buwana Dewi, kemudian melesat kembali.


Lembusora menerkam sambil kedua tangannya berusaha merangkul Buwana Dewi.


Buwana Dewi melesat mundur setombak menghindari terkaman Lembusora.


Dengusan keluar dari hidung Lembusora, ia tidak menyangka Buwana Dewi bisa bergerak cepat, setelah dirinya di serang.

__ADS_1


Ketika hendak bergerak, kedua kaki Lembusora seperti terpaku di tanah, anak buah Ki Banyu Alas hantamkan tangannya ke tanah dengan ajian gebrak bumi.


Blam!


Lembusora melesat kembali ke arah Buwana Dewi, setelah kedua kakinya terlepas dari cengkeraman Ujang Beurit.


Kali Ujang Beurit mati kutu, ajian gebrak bumi adalah lawan dari ajian yang di miliki oleh Si Beurit.


Hantaman Lembusora dengan Ajian gebrak bumi membuat di dalam tanah dalam jarak setombak akan bergetar, dan itu sangat di rasakan oleh ujang Beurit dan tubuhnya akan terluka jika ia tidak melepaskan cengkeramannya dan menjauh dari Lembusora.


Ujang Beurit keluar dari tanah, kemudian melesat ke arah Lembusora yang tengah mengincar Buwana Dewi.


Sementara itu di tempat Lain, Aria, Wangsa, Buto Ijo serta Selamet di bantu oleh anak buah I Gusti Wardana bertempur melawan 100 orang anggota padepokan Elang emas di bantu oleh pasukan Elang raksasa pimpinan Elang jantan.


Sudah 3 orang prajurit tewas oleh Elang raksasa.


Tongkat Aria sudah berubah merah dengan darah murid anggota padepokan Elang Emas, capingnya terlepas, mata berwarna kuning ke emasan menambah wibawa Aria Pilong, sebagian wajah serta tubuh Aria juga penuh dengan darah.


Crep!


Aria balikan tubuh, kemudian tongkatnya menembus ke arah perut murid padepokan Elang emas yang hendak menyerang Aria Pilong dari belakang.


Darah menyembur membasahi tongkat, Aria mencabut tongkat, kemudian lompat setelah merasakan angin golok menuju ke arah kepalanya.


Trang!


Aria setelah menangkis bacokan golok musuh, tangan kiri menghantam dengan Ajian Mawageni.


Blar!


Tubuh murid padepokan Elang emas terpental dan tewas seketika dengan dada bolong.


Anggota Elang emas tak berani menyerang, mereka hanya bisa berdiri sambil menunggu.


Hati anggota padepokan Elang emas bergidig melihat pembataian yang di lakukan oleh orang padepokan Jagad Buwana terhadap kawan mereka.


Elang Jantan serta 2 Elang raksasa hanya berputar putar di atas mereka, Elang jantan tidak berani turun untuk membantu anak buahnya yang sudah ketakutan.


Elang jantan berusaha membokong anggota Jagad Buwana, tetapi hasilnya selalu nihil, hanya anak buah I Gusti Wardana yang menjadi korban kekesalan Elang jantan.


Keris Pusaka Naga Hitam mulai memperlihatkan pamornya, diam-diam tanpa di ketahui oleh sang pemilik, keris pusaka Naga hitam setelah berhasil membunuh akan menyerap aura korbannya, semakin banyak aura yang berhasil di serap, pamor keris pusaka Naga Hitam semakin mengerikan.


Asap hitam mengepul dari badan keris, tangan Selamet yang menggenggam Keris pusaka Naga hitam tampak gemetar.


“Kenapa tangan mu, Met? Tanya Buto Ijo melihat, tangan Selamet yang memegang keris pusaka Naga hitam gemetar.


“Keris ini selalu ingin bergerak, saudara Buto! Tanganku gemetar karena berusaha menahan keris ini,” jawab Selamet.


“Kenapa di tahan-tahan? Kau ikuti saja kemauannya,” balas Buto Ijo.


Selamet anggukan kepala, mendengar saran Buto Ijo.


Tiba-tiba Selamet langsung melesat, keris pusaka Naga hitam tegak lurus ke depan.


Crep!


Setelah menusuk leher anggota padepokan Elang emas yang tengah berkumpul.


Keris melesat ke samping.


Crash!

__ADS_1


Seorang anggota padepokan Elang emas langsung rubuh, setelah lehernya terkena tebasan keris Naga hitam.


Selamet menghilang dengan Aji Halimun, setelah berdiri di belakang, keris menusuk punggung musuh.


Crep!


Buto Ijo sampai melotot melihat gerakan Selamet yang biasanya sopan dan lemah lembut, tetapi kali ini Selamet sangat berbeda.


Selamet seperti seorang malaikat maut yang menghabisi satu persatu anggota padepokan Elang emas yang tersisa, menghilang ke kiri muncul di kanan, membuat bingung anggota padepokan Elang emas dan membuat mereka kalut, menyerang serabutan jika melihat asap bergerak.


Perlahan asap hitam yang muncul dari badan keris semakin pekat, gerakan Selamet semakin cepat.


Satu orang yang tersisa langsung lemparkan senjata, lari ketakutan setelah melihat 18 orang kawan yang berada di dekatnya Tewas satu persatu di tangan Selamet.


Selamet melepaskan gengaman keris pusaka Naga hitam, keris langsung melesat ke arah satu orang yang tengah melarikan diri.


Crep!


Keris Naga hitam menancap di kepala, perlahan keris bergerak-gerak, kemudian keluar dan melesat langsung kembali masuk ke dalam Warangka yang ada di pinggang Selamet,”


“Hebat….hebat kau, Met! Seru Buto Ijo.


Salah satu Elang raksasa memekik panjang, melihat pembantaian yang di lakukan oleh Selamet.


Buto Ijo mengambil salah satu batang pohon yang terdapat di dekatnya, kemudian melemparkan batang poho ke arah Elang yang baru saja memekik, sambil teriak.


“Berisik.”


Elang raksasa bergerak naik menghindari, lemparan Buto Ijo.


Lemparan Buto Ijo terus melesat dan menimpa sebuah kedai kopi.


Brak….Prak!


Suara atap hancur dan pecahan meja serta kursi di dalam kedai kopi yang sudah di tinggalkan oleh pemiliknya terdengar.


Phuih


“Dasar tolol! Ucap Wangsa.


“Diam kau! Wajahmu sudah berubah seperti kucing tetapi masih saja bisa bicara bahasa manusia,” ejek Buto Ijo ketika mendengar ia di sebut tolol.


“Aku manusia! Tentu saja bisa bahasa manusia, dasar tolol,” Balas Wangsa, perlahan wajahnya berubah kembali seperti semula.


“Buwana Dewi….dimana Buwana Dewi? Aria berkata ketika tidak mendengar suara sang gadis.


Mereka baru sadar setelah membereskan seratus anak murid Elang Emas, Buwana Dewi terlepas dari pantauan.


“Di sana! teriak Wangsa, sambil melesat karena melihat Ujang Beurit sedang bertempur dengan Lembusora.


Lembusora terus mendekati Buwana Dewi, tetapi Si Beurit selalu mengganggu sehingga membuat Lembusora kesal dan memutuskan untuk membunuh si Beurit terlebih dahulu.


Aria langsung melesat ke arah suara Wangsa.


Elang jantan dari atas, melihat Aria mencemaskan gadis yang tengah berdiri sambil memegang suling.


Senyum tampak dari bibir Elang jantan.


Elang jantan berkata sambil mengelus-elus leher Elang kaki satu.


“Kita tangkap gadis itu.”

__ADS_1


__ADS_2