
Ujang Beurit setelah mendengar arahan Aria, langsung bergerak mencari gudang utara.
Aria memang menyuruh Ujang Beurit untuk mengamati, bukan Selamet, karena Ujang Beurit lebih aman dan risiko terlihat lebih sedikit daripada Selamet.
Setelah melihat gudang utara yang di maksudkan oleh Selamet.
Ujang Beurit muncul di dalam gudang.
Matanya menatap barang-barang yang ada di dalam gudang, ratusan tumpuk kain biasa, kain sutra, bahan pangan serta barang-barang lain yang beraneka ragam.
“Entah sudah berapa banyak padepokan Elang emas merampok pedagang anak buah Raden Kusumo, sehingga bisa mengumpulkan barang-barang sebanyak ini,” batin Ujang Beurit.
Ujang Beurit mendengar suara pintu gudang terbuka, perlahan tubuhnya masuk ke dalam tanah.
Seorang pria berpakaian Bangsawan di kawal beberapa prajurit masuk ke dalam, di ikuti oleh beberapa orang yang rambutnya kuning ke emasan.
Hmm!
“Rupanya Mata elang yang menjadi penggerak orang-orang dari padepokan Elang emas,” batin Ujang Beurit, setelah melihat orang-orang yang masuk ke dalam gudang.
Jati Wilis melihat barang-barang yang ada di dalam gudang.
Tumpukan kain, bahan pangan, baja serta besi untuk bahan senjata, belum lagi perhiasan dan mutiara.
“Hebat….hebat! Bagaimana kalian bisa mendapatkan barang sebanyak ini? Tanya Jati Wilis.
“Itu perkara mudah Tumenggung,” jawab Mata elang sambil tersenyum, kemudian lanjut berkata.
“Kami mempunyai orang yang di beri nama Panca muka, karena ia ahli dalam mengubah wajahnya, Panca muka menyamar menjadi anak buah Raden Kusumo, Panca muka memberi informasi kepada kami, pedagang anak buah Raden Kusumo yang akan masuk dan keluar membawa barang dagangan.”
“Hebat….hebat! Orang-orang padepokan elang emas memang hebat,” Jati Wilis membalas perkataan Mata Elang.
“Ini 5000 keping uang emas dan 5000 keping uang perak,” lanjut perkataan Jati Wilis sambil memberi isyarat kepada anak buahnya memberikan 2 peti yang ia bawa.
“Tumenggung! Untuk barang sebanyak ini, uang yang Tumenggung berikan tak ada artinya, tetapi Tumenggung juga harus ingat dengan janji yang sudah di ucapkan, Tumenggung harus memberi kemudahan kepada Perguruan Elang emas di wilayah kerajaan Kahuripan, serta membantu Padepokan Elang emas melawan padepokan Jagad Buwana,” Mata Elang berkata untuk mengingatkan Jati Wilis akan janji yang sudah ia ucapkan.
“Tuan Mata Elang jangan khawatir, Jati Wilis tahu mana kawan dan mana lawan.
“Sedikit lagi anak buah Raden Kusumo akan aku usir, usaha dagang di Panarukan dan Keta akan ku ambil alih.
“Setelah semuanya beres, aku akan membantu Padepokan Elang emas mendirikan markas di dua kota, Keta dan Panarukan,” ucap Jati Wilis.
“Baik….baiklah kalau begitu! Aku akan menyampaikan berita baik ini kepada ketua Elang jantan,” Mata Elang membalas perkataan Jati Wilis.
Mata Elang memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membawa 2 peti berisi uang, setelah kedua peti di bawa anak buahnya, rombongan Mata elang melesat pergi meninggalkan gudang utara.
Tumenggung Jati Wilis setelah rombongan Mata elang pergi tertawa terbahak bahak.
Ha Ha Ha
“Lihat Ki Udel….lihat barang-barang ini, semuanya milikku, seorang tua yang di panggil Ki Udel tak menanggapi perkataan Jati Wilis, tetapi matanya menatap ke arah sekeliling gudang.
Jati Wilis menoleh ke arah pengawal pribadinya, setelah perkataannya tidak di tanggapi.
“Ada apa Ki? Tanya Jati Wilis, melihat sang pengawal matanya terus menatap ke arah sekeliling gudang.
“Perasaan ku mengatakan kita sedang di awasi, Tumenggung,” ucap lelaki tua itu.
Hmm!
“Cepat periksa ke sekeliling gudang! Seru Jati Wilis setelah mendengar perkataan pengawalnya.
Puluhan prajurit langsung bergerak menyebar, setelah mendengar perkataan sang Tumenggung.
Ujang Beurit yang jejaknya mulai tercium perlahan meninggalkan gudang utara dan kembali ke penginapan.
Setelah sampai di penginapan, Aria dan yang lain masih berkumpul.
Ujang Beurit langsung melaporkan apa yang ia lihat dan dengar.
Semua percakapan antara Jati Wilis dengan Mata elang di laporkan kepada Aria.
“Jadi itu perjanjian antara Jati Wilis dengan Padepokan Elang emas,” Aria berkata setelah mendengar cerita anak buahnya.
“Benar, ketua! Jawab Si Beurit.
__ADS_1
“Kalau kerajaan Kahuripan sampai di susupi oleh padepokan Elang emas, ini sangat berbahaya.
“Perang antara Kadiri dan Kahuripan pasti tidak akan terhindarkan.
Jati Wilis sebagai pendukung kerajaan Kahuripan akan menyerang Kadiri, sementara padepokan elang emas akan melaksanakan janjipati sang ketua, memburu di manapun Jagad Buwana berada, ini tak bisa si biarkan,” Aria berkata.
“Apa penguasa Kahuripan setuju dengan tindakan Jati Wilis? Tanya Wangsa.
“Hal itu memang harus kita pastikan terlebih dahulu,” jawab Aria.
“Bagaimana dengan gedung utara? Tanya Aria.
“Kalau ketua mau menyalurkan tenaga dalam, aku rasa bisa menarik gudang utara,” jawab Si Beurit.
“Setelah kau tarik apa bisa sekalian memindahkannya, Jang? Tanya Wangsa.
“Memangnya dia kuda,” Buto Ijo yang menjawab pertanyaan Wangsa.
“Diam kau! Aku tak bicara denganmu,” balas Wangsa.
“Memindahkan barang adalah soal mudah, tetapi saat menarik gudang ke dalam tanah akan menimbulkan suara gemuruh, pasti di dengar oleh penduduk di sekitar gudang,”
Sinar hijau keluar dari tubuh Aria, Nyi selasih berdiri di samping sang suami, Buwana Dewi yang berada di sisi lain dari Aria menatap ke arah Nyi Selasih.
“Aku akan memakai pagar ghaib, agar orang dari luar tidak melihat dan mendengar apa yang terjadi saat memindahkan,” Nyi Selasih berkata.
“Terima kasih Nyi,” ucap Aria mendengar perkataan Nyi Selasih.
“Sama-sama suami,” jawab Nyi Selasih sambil tersenyum.
Raut wajah Buwana Dewi berubah mendengar perkataan Nyi Selasih, hawa di dalam ruangan berubah sangat dingin, seiring dengan perubahan wajah Buwana Dewi yang berubah kelam.
Aria kerutkan kening, Wangsa, Buto Ijo serta Selamet menatap ke arah sekeliling ruangan, setelah hawa di dalam berubah sangat dingin.
Nyi Selasih melesat dan berdiri di depan Buwana Dewi, kemudian memegang tangan sang Dewi.
“Adik Sri Buwana Dewi! setelah aku menggunakan pagar ghaib, tenaga ku akan terkuras dan tak bisa menemani Raden Aria, kuharap kau dapat menggantikan aku menjaga Raden.”
Buwana Dewi anggukan kepala mendengar perkataan Nyi Selasih, perlahan hawa di dalam ruangan berubah kembali menjadi hangat.
“Aku mengerti! Kau tenang saja, tempatmu tidak akan tergantikan,” Nyi Selasih berkata sambil tersenyum.
Raut wajah Buwana Dewi berubah merah, kepalanya mengangguk, lalu tundukkan kepala.
“Lebih cepat lebih baik! Nyi Selasih kembali berkata, sambil menatap Aria.
Aria anggukan kepala, kemudian berkata.
“Mari kita ke gudang utara!
***
Ujang Beurit memimpin rombongan menuju gudang utara.
Setelah dekat dengan Gudang utara, Selamet dan Wangsa keliling di sekitar gudang, untuk memastikan ada tidaknya penjaga di sekitar gudang.
Melihat 2 orang penjaga, Wangsa memberi tanda kepada Selamet.
Selamet anggukan kepala, keduanya melesat.
Whut….Buk!
Seorang penjaga langsung ambruk, setelah urat di lehernya di tepak oleh Wangas.
Seorang penjaga juga berhasil di lumpuhkan oleh Selamet dengan cara yang sama.
Wangsa dan Selamet memberi tanda kepada Aria, kemudian melesat ke arah pohon yang ada di dekat gudang utara.
Perlahan kabut tipis menyelimuti di sekitar gudang utara.
Melihat Aura Nyi Selasih mulai menyelimuti bangunan gudang, Aria menepak bahu Si Beurit yang duduk di depannya.
Ujang Beurit merapalkan ajian Dasar bumi.
Kedua tangan bergerak dari atas ke bawah, keringat mulai terlihat mulai menetes di wajah pemuda bermata sayu.
__ADS_1
Tangan Aria berputar, kemudian perlahan kedua telapak tangannya menekan punggung Si Beurit.
Plak!
Ujang Beurit tersenyum, tenaga dalamnya bertambah puluhan kali lipat.
Setelah kedua tangan menarik dari atas ke bawah, kemudian tangan kanan si Beurit menepak tanah.
Brak!
Suara gemuruh mulai terdengar, perlahan gedung utara turun seperti di tarik ke dalam bumi.
Setelah hanya tersisa atap gudang, telapak tangan kiri ujang Beurit mengantam ke arah tanah.
Brak!
Suara gemuruh dan berderak kembali terdengar, sampai bangunan gudang utara benar-benar lenyap, dan tanah sudah tampak seperti semula.
Ujang Beurit mengusap peluh di kening, tubuhnya sangat lelah setelah mengerahkan tenaga, menarik bangunan yang lumayan besar beserta isinya.
Buwana Dewi perlahan mengelap keringat di wajah Aria, dengan kain selendang yang melingkar di pinggang.
Buto Ijo mengangkat tubuh Aria, sedangkan Wangsa membawa Ujang Beurit, sedangkan Selamet bersama Buwana Dewi, mereka kembali ke penginapan untuk istirahat dan memulihkan tenaga.
Pagi hari di kota keta penduduk mulai ber aktivitas ada yang menuntun kerbau sambil membawa cangkul menuju sawah yang akan di bajak, beberapa orang memikul sayuran dan hasil bumi untuk si jual ke pasar.
“Minggir….minggir….dua orang prajurit lari seperti di kejar setan.
Brak!
Seorang penduduk yang sedang memikul sayuran di tabrak, keduanya jatuh, kepala dan tubuh si prajurit di penuhi sayuran.
“Bangsat….kurang ajar! Teriak penduduk yang sayurannya hancur, sambil melemparkan seikat kangkung ke arah prajurit yang berusaha bangkit dan melanjutkan lari nya menuju ke arah gedung kediaman Tumenggung Jati Wilis.
Plak!
Kangkung menghantam kepala si prajurit, tetapi si prajurit tidak peduli dan terus melanjutkan larinya, sambil teriak kencang.
Hilang….Hilang!
Tok….Tok….Tok!
Suara ketukan terdengar saat pintu kamar megah, di ketuk oleh pengawal Tumenggung Jati Wilis.
Hmm!
“Ada apa pagi-pagi sudah mengetuk pintu,” gerutu Tumenggung Jati Wilis, sambil menyuruh seorang pelayan untuk membuka pintu kamar.
Setelah pintu di buka, seorang pengawal langsung memberi laporan.
“Apa kau bilaaang!? Teriak Tumenggung Jati Wilis, sambil melotot ke arah prajurit yang kepalanya terdapat beberapa batang kangkung.
“Hi….hilang, Tumenggung! Gu….gudang hilang.”
Suasana di dalam gedung Tumenggung Jati Wilis langsung gempar.
Siang hari kota Keta gempar, ratusan Prajurit kota menyisir sudut kota dan memeriksa tempat-tempat mencurigakan.
Buto Ijo tertawa terbahak bahak melihat puluhan prajurit mondar mandir sambil berlari.
“Hebat kau, Jang! Gara-gara ulahmu seisi kota langsung gempar,” Buto Ijo berkata sambil angkat jempolnya ke arah Beurit.
Ujang Beurit hanya tersenyum tipis mendengar pujian Buto Ijo.
“Jangan gembira dulu, karena Ini belum selesai,” Aria berkata.
“Apalagi yang harus kita lakukan? Tanya Wangsa.
“Selamet cari tahu dimana markas padepokan elang emas.
“Jika sudah berhasil menemukan markas padepokan Elang emas di kota ini.
“Nanti malam! Ucap Aria sambil tersenyum.
“Kita pindahkan gudang utara ke markas padepokan Elang emas.”
__ADS_1