
Setelah istri Ki Bowo di bantu oleh beberapa penduduk desa Osing menyiapkan makanan.
Rombongan Aria menyantap hidangan yang di sediakan, Ranggajati dan Ki Sura gelengkan kepala melihat rombongan Aria makan, Apalagi Buto Ijo.
“Entah sudah berapa hari dia tidak makan? Batin Ranggajati melihat cara makan Buto Ijo.
Ranggajati merasa penasaran dengan rombongan Aria, walau Buto Ijo sudah membunuh juragan Suminto, tetapi kepastian darimana asal mereka, Ranggajati harus mengetahui, untuk membuat laporan kepada Raden Kusumo.
Karena dalam beberapa hari lagi, Raden Kusumo akan berkunjung ke kota Panarukan.
Setelah selesai makan, ruangan tengah di bersihkan, meja dan kursi di tata oleh Ki Bowo untuk mereka bercakap cakap membahas apa yang telah terjadi, ki Bowo tak ingin desa Osing terkena imbas terbunuhnya juragan Suminto oleh Buto Ijo.
“Kisanak! Desa Osing hanya terdiri dari petani dan pedagang, kalau sampai Tumenggung Jati Wilis mengetahui anak buahnya tewas di desa kami, desa Osing akan di hancurkan.
“Kami minta bantuan kisanak semua, untuk memikirkan masalah ini, kami para lelaki di desa Osing tidak takut mati, tetapi kami juga tidak bisa, melihat anak serta istri kami mengalami kesulitan setelah kami berjuang sampai titik darah penghabisan.
“Kalau boleh! Kami minta petunjuk, apa yang harus kami lakukan, agar bisa memecahkan masalah ini? Ki Bowo berkata sambil menatap ke arah Wangsa, karena Wangsa orang tertua di rombongan.
“Desa Osing tidak usah khawatir, kalian lakukan saja aktivitas seperti biasa, kami jamin pasukan anak buah Tumenggung Jati Wilis tidak akan terkena imbasnya,” Aria yang menjawab pertanyaan Ki Bowo.
“Anak muda sebaiknya diam, biar orang tua yang bicara,” Ki Sura berkata, setelah mendengar perkataan Aria.
Walau tidak melihat wajah di balik caping, tetapi Ki Sura tahu dari suaranya, orang bercaping masih ber usia muda.
Sejak mereka di luar rumah, Ki Sura sudah memendam perasaan tidak suka karena melihat Aria lebih banyak bicara, daripada mereka yang usianya jauh lebih tua.
Buwana Dewi tidak suka dengan sikap Ki Sura yang memojokkan Aria, langsung menunjuk Ki Sura sambil berkata.
“Kakek tua! Kalau kau masih ingin hidup, lebih baik jaga mulutmu.”
“Kalau bicara yang sopan! Ranggajati membalas perkataan Buwana Dewi.
“Kalian yang tidak sopan, sudah di bantu, tetapi masih tidak tahu terima kasih,” Buwana Dewi berkata dengan nada kesal.
Entah kenapa hati Buwana Dewi tidak suka, jika ada orang yang melecehkan Aria.
“Apa yang kalian bantu? Kalian malah menambah masalah,” Ki Sura membalas perkataan Buwana Dewi.
“Apa kalian tahu! Kenapa kalian masih bisa hidup, walau sudah berkata kasar? Tanya Buto Ijo sambil menatap Ki Sura dan Ranggajati.
Ki Sura dan Ranggajati diam mendengar perkataan Buto Ijo.
“Karena pemimpin kami membisiki, agar kami tidak membunuh kalian,” Buto Ijo berkata dengan nada dingin.
Ki Sura saling tatap dengan Ranggajati setelah Mendengar perkataan Buto Ijo.
Setelah keduanya mengangguk
Ki Sura dan Ranggajati, kemudian memberi hormat kepada Wangsa.
“Maafkan kami, kisanak! Kami hanya tidak suka anak buah kisanak selalu memotong pembicaraan.
__ADS_1
“Kami terima kasih, karena kisanak memberitahu anak buah kisanak untuk tidak membunuh kami,” Ucap Wangsa sambil memberi hormat.
Ki Sura tahu kalau rombongan ini mengamuk, mereka semua akan tewas, Ranggajati walau mempunyai kemampuan, tetapi Ki Sura yakin melawan salah satu dari rombongan tamu Ki Bowo, Ranggajati tidak akan menang.
“Siapa pemimpin? Tanya Wangsa.
Ki Sura dan Ranggajati saling tatap mendengar perkataan Wangsa, kening keduanya berkerut tanda tak mengerti.
“Bukankah kisanak adalah pemimpin rombongan ini? Tanya Ki Sura.
“Pemimpin kami adalah orang yang tadi kau maki,” jawab Wangsa dengan nada dingin.
Raut wajah Ki Sura langsung berubah pias, lututnya gemetar setelah mendengar perkataan Wangsa, begitupula dengan Ranggajati serta Ki Bowo.
“Pantas saja kalau dia yang bicara, semua menurut, ternyata pemimpin rombongan adalah pemuda bercaping itu,” batin Ki Bowo.
“Maaf….maafkan hamba kisanak! Hamba hanya orang dusun yang tidak tahu tingginya langit, dalamnya laut. Sekali lagi hamba minta maaf dan menyesal telah berkata tidak sopan terhadap kisanak,” Ki Sura berkata dengan tubuh gemetar.
Aria hanya menarik napas mendengar perkataan Ki Sura, Aria memang memerintahkan kepada anak buahnya untuk tidak membunuh sembarangan, dan menyembunyikan identitas mereka yang berasal dari padepokan Jagad Buwana, karena Aria ingin melihat perkembangan situasi yang terjadi di Panarukan.
Suasana semakin hangat dan Ranggajati belum tahu siapa Rombongan Aria dan berasal darimana masih menjadi misteri untuknya.
Aria memutuskan untuk mengawal Ranggajati yang akan kembali ke Panarukan, membawa barang dagangan dan hasil bumi desa Osing.
Aria tahu tujuan Tumenggung Jati Wilis, faktor ekonomi memang bisa jadi penentu dari satu kota atau padepokan.
Padepokan Jagad Buwana tidak menerima murid membayar iuran kepada padepokan.
Padepokan semacam Jagad Buwana, untuk menunjang kegiatan padepokan dan murid yang lain, biasanya mengandalkan dari perdagangan, jasa pengawalan atau pengiriman untuk menunjang aktivitas padepokan, semakin besar padepokan dan mempunyai cabang dimana mana, semakin besar pula biaya yang di butuhkan.
Tetapi Tumenggung Jati Wilis tidak tahu, bahwa Dana Padepokan Jagad Buwana bukan berasal dari Raden Kusumo, tetapi dari Iblis Kawi.
Tetapi Aria tidak mau Usaha Raden Kusumo di acak acak, karena Jagad Buwana membutuh kan orang seperti Raden Kusumo, serta informasi dari para pedagang yang berada di bawah naungan sang Raden.
Orang seperti Jati Wilis sangat berbahaya, oleh karena itu, Aria berniat ke kota Keta ( sekarang di sebut Besuki, yang berada di kec. Situbondo ) untuk membunuh Jati Wilis agar sang Tumenggung tidak lagi mengganggu Jagad Buwana atau Raden Kusumo.
Setelah malam mereka berembug, Pagi-pagi beberapa pedati yang membawa barang hasil bumi, serta barang dagangan yang sudah di beli Ranggajati.
Rombongan mulai bergerak menuju kota Panarukan.
Aria menyuruh rombongannya memakai caping, untuk menutupi identitas mereka, karena mudah di kenali setelah mengikuti acara di pertemuan gunung Bromo.
Ranggajati membawa rombongan memutar jalan, karena jika ke Panarukan melewati kota Keta akan sangat berbahaya.
Rombongan bergerak pelan karena Pedati di tarik oleh kerbau dan sapi.
Ki Sura, Ranggajati serta kedua kawannya naik kuda, Aria dan Buwana Dewi naik di atas pedati, Buto Ijo dan Ujang Beurit jalan kaki, sedangkan Selamet, Wangsa serta Raden untung naik kuda.
“Kenapa pedati di tarik oleh Kerbau dan sapi, bukan kuda? Tanya Wangsa.
“Memang laju pedati lambat, tetapi Sapi dan kerbau juga termasuk salah satu dagangan kami, Kisanak! Jadi buat apa memboroskan uang membeli kuda, kalau ada kerbau dan sapi yang bisa kita pergunakan,” Ranggajati memberikan jawaban atas pertanyaan Wangsa.
__ADS_1
Wangsa anggukan kepala, perkataan Ranggajati benar, seorang pedagang memang selalu harus memperhatikan biaya pengeluaran dan pemasukan.
Sudah satu hari rombongan yang di pimpin Ranggajati bergerak, saat hendak memutar dan menjauh dari kota Keta, kota yang menjadi basis kekuatan Tumenggung Jati Wilis.
Debu mengepul di udara, serta suara teriakan orang yang menggebrak kudanya.
Rombongan berhenti, Ranggajati kerutkan kening melihat puluhan ekor kuda bergerak menuju ke arah rombongannya.
“Cepat pergi….100 pasukan Keta sedang menuju ke sini,” teriak salah seorang pemuda.
Orang yang teriak, hentikan kudanya setelah melihat Ranggajati.
“Kenapa kau ada disini? Tanya pemuda itu yang tak lain adalah Rama, cucu Raden Kusumo.
“Aku baru membeli dagangan dan hasil bumi di desa Osing, sekarang akan menuju Panarukan.
“Tinggalkan saja dagangannya, lekas pergi! Nyawa lebih penting dari dagangan itu, kami sedang di kejar oleh seratus lebih pasukan Jati Wilis.
Wangsa kerutkan kening melihat Rama bersama puluhan penunggang kuda.
“Kenapa harus lari? Jagad Buwana tidak akan mundur jika musuh ada di depan mata,” ucap Wangsa.
“Siapa kau? Tanya Rama dengan tatapan curiga melihat Wangsa memakai caping.
Ranggajati dan Ki Sura menatap ke arah Wangsa dengan pandangan curiga.
“Kenapa dia tahu kalau, tuan muda Rama anggota Jagad Buwana,” batin Ranggajati.
“Aku Wangsa, pengawal ketua,” Wangsa menjawab perkataan Rama.
“Resi Wangsanaya! Ternyata kalian sudah sampai di sini.
“Ketua….mana ketua? Tanya Rama sambil matanya melihat sekeliling, mencari sosok yang sangat ia hormati.
“Ketua! Teriak Rama sambil melesat ke arah salah satu pedati, kemudian memberi hormat.
“Lama tak bertemu saudara Rama,” Aria berkata.
“Benar ketua! Balas Rama, pemuda itu sangat senang bertemu Aria di tempat ini.
Rama kemudian berbalik ke arah puluhan penunggang kuda yang
“Kita selamat….kawan-kawan kita selamat! Teriak Rama.
Lanjut perkataan Rama.
“Ketua ada bersama kita,”
“Ketua Jagad Buwana? Mana orangnya tanya Ki Sura kepada Wangsa yang berada di sampingnya.
“Apa dia ada sini? Ki Sura bertanya kembali, karena Wangsa belum menjawab.
__ADS_1
“Ada! Jawab Wangsa, lanjut perkataan sang Resi.
“Kemarin kau memaki dia.”