Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 74 : Bertemu Rombongan Saudagar Asing


__ADS_3

“Jangan ikut campur urusanku,” ucap Buto Ijo sambil menunjuk Wangsa.


“Aku coba dulu bukan seperti yang kau bayangkan resi cabul,” lanjut perkataan Buto Ijo dengan nada kesal.


“Kau bilang apa? Tanya Wangsa sambil melangkah mendekat, mendengar dirinya di sebut Resi cabul.


“Sudah….sudah! Aria berkata mendengar langkah Wangsa.


Wangsa langsung hentikan langkahnya mendengar perkataan Aria.


“Paman Iblis! Ucap Buto Ijo.


Iblis Kawi kerutkan kening, lalu berkata setelah mendengar perkataan Buto Ijo.


“Kau panggil aku apa? Tanya Iblis Kawi.


“Paman iblis,” jawab Buto Ijo.


“Panggil paman Kawi, jangan paman Iblis,” ucap Iblis Kawi.


“Paman Kawi! Untuk saat ini biarlah Suketi ikut dengan ku, setelah urusan selesai di gunung Semeru, aku akan ajak Suketi menemui Naga hijau untuk meminta restu.


“Orang tua, Jo! Ucap Wangsa.


“Kau bisa diam tidak? Dia itu bapakku, aku mau sebut apa, itu urusanku,” ucap Buto Ijo, lama-lama aku cekik lehermu kalau tidak bisa diam,” lanjut perkataan Buto Ijo.


“Jadi untuk saat ini, biar kami bersama dulu agar lebih dekat dan mengenal satu sama lain.”


Iblis Kawi anggukan kepala, mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Buto Ijo.


“Baik! Aku hargai keputusanmu,” jika Suketi kembali menemuimu sambil membawa anak, aku lebih senang,” ucap Iblis Kawi sambil tertawa.


“Maaf! Kalau masalah itu, terus terang aku belum tahu caranya,” jawab Buto Ijo.


Iblis Kawi, Wangsa serta Aria yang mendengar perkataan Buto Ijo tertawa.


Sepasang pedang Kemala walau wajah mereka semu merah, senyum terlihat dari bibir keduanya.


“Kau mau ku beritahu caranya? Tanya Wangsa.


Buto Ijo angkat tangannya dan menjawab perkataan Buto Ijo, Maaf! Aku tidak terima saran dari resi cabul.”


“Bangsat! Tutup mulutmu,” ucap Wangsa di sebut resi cabul oleh Buto Ijo.


“Bagaimana Suketi? Buto Ijo menerima perjodohan ini, tetapi karena keadaan yang tidak memungkinkan kalian untuk menikah, dia meminta waktu,” tanya Nyi Selasih.


Suketi mendengar perkataan Nyi Selasih, kepalanya tertunduk malu sambil anggukan kepala.


Semua tersenyum melihat Suketi anggukan kepala.


“Suketi! Kau cium calon suamimu sebagai tanda jadi perjodohan,” Wangsa kembali ikut bicara.


Mendengar perkataan Wangsa, pipi Suketi langsung merah karena jengah, tetapi kali ini Buto Ijo tidak membentak Wangsa dan menatap ke arah Suketi.


“Setuju tidak dengan usulku,” kembali Wangsa berkata, melihat Suketi diam.


“Apa aku boleh mencium kakang Buto,” Suketi berkata setelah mendengar perkataan Wangsa.


“Calonmu diam, itu tandanya dia mau kau cium,” balas Wangsa.


“Baiklah! Jawab Suketi, perlahan tubuhnya berubah kembali menjadi kera kecil berbulu hitam.


Suketi setelah berubah, langsung melesat ke arah bahu Buto Ijo, saat bibir Suketi mendekati pipi Buto Ijo, Suketi merasakan bibirnya bertemu dengan kulit yang terasa kasar.


Saat Suketi membuka mata, ia melihat bibirnya tengah mencium telapak tangan Buto Ijo.

__ADS_1


Ternyata Buto Ijo menghalangi pipi yang hendak di cium, dengan tangannya.


“Sudah….sudah! Jangan kau dengar ucapan resi palsu itu,” ucap Buto Ijo.


“Kalau kau berwujud manusia aku mau di cium, tetapi kalau kau berbentuk kera, lebih baik tidak usah,” batin Buto Ijo.


“Iblis Kawi, sekarang urusan sudah selesai dan kami akan melanjutkan perjalanan,” Aria berkata.


“Tunggu dulu suami, iblis Kawi belum menunjukkan kesetiannya pada suami,” Nyi Selasih berkata sambil menatap Iblis Kawi.


“Iblis Kawi, aku sekarang bukan ratu lagi, suamiku yang menjadi raja di gunung Lawu, tunjukan hormat dan kesetiaanmu pada Suamiku,” ucap Nyi Selasih dengan nada penuh wibawa.


Suketi loncat dari bahu Buto Ijo, setelah mendapat isyarat dari Iblis Kawi, lalu keduanya sujud di depan Aria.


“Aku iblis Kawi serta putriku, memberi hormat kepada Raja gunung Lawu dan kami akan selalu setia kepada penguasa gunung Lawu,” Iblis Kawi berkata sambil bersujud.


Nyi Selasih tersenyum sambil anggukan kepala, melihat iblis Kawi serta Suketi.


“Bangkitlah! Aku terima kalian dengan senang hati,” ucap Aria.


Setelah memberi hormat, Suketi kembali ke wujud kera dan lompat ke bahu Buto Ijo.


Iblis Kawi lalu mengajak rombongan Aria ke tempat kediamannya.


Di tempat kediaman Iblis Kawi, mereka bercakap cakap.


“Yang Mulia! Di gunung Kawi banyak harta manusia hasil rampokan kami, Yang mulia boleh membawanya, hasil rampokan dan harta yang kami punya, bisa untuk membangun sebuah kerajaan kecil, jika Yang mulia ingin membangun suatu negeri,” Iblis Kawi berkata.


“Untuk saat ini aku belum membutuhkannya, kalau aku butuh harta itu, aku akan menyuruh orang untuk mengambilnya,” balas Aria.


Iblis Kawi anggukan kepala, lalu ia menepuk tangan dua kali, setelah menepuk tangan, 3 ekor monyet membawa beberapa kantong perbekalan Aria yang terbang ketika Wangsa dan Iblis Kawi bertempur.


“Ini perbekalan Yang mulia, sudah di temukan oleh anak buahku,”


“Terima kasih,” ucap Aria yang masih bertelanjang dada.


Andini serta Andira sangat senang, mendengar perkataan penguasa gunung Kawi yang hendak memberi mereka pedang pusaka.


“Kakak ketiga, mari Andini bantu untuk memakai baju dan merapihkan rambut kakak ketiga,” Andini berkata sambil tundukkan kepala.


“Tidak usah! Aku bisa memakai baju sendiri,” balas Aria.


Raut wajah Andini terlihat kecewa mendengar penolakan Aria.


“Tapi tolong rapihkan rambutku, karena aku tidak bisa melakukannya,” ucap Aria.


Raut wajah Andini kembali ceria mendengar perkataan Aria.


Sementara itu, Nyi Selasih yang berada di dalam tubuh Aria berkata kepada Aria.


“Sepertinya gadis itu suka sama Suami,”


“Aku sudah punya istri jawab Aria.”


Suara Aria yang tengah berbicara dengan Nyi Selasih terdengar oleh Andini.


“Aku tahu kakak ketiga sudah ber istri,” ucap Andini dengan nada sedih, entah kenapa hatinya merasa sakit mendengar perkataan Aria.


“Aku sedang bicara dengan istriku, bukan dengan adik ke empat,” ucap Aria setelah mendengar perkataan Andini.


“Maaf, kakak! Andini pikir kakak sedang bicara dengan Andini.


Setelah Aria memakai pakaian, Andini mulai menyisir dan merapihkan rambut Aria.


Setelah semuanya beres, Aria serta rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju Tumapel.

__ADS_1


Kali ini rombongan bertambah 1, se ekor kera kecil yang selalu berada di bahu Buto Ijo.


Setelah turun dari gunung Kawi, jalan raya semakin besar.


Setelah sampai di perbatasan, terdapat jalan cagak, satu ke arah utara dan satu ke arah timur.


“Jalan mana yang akan kita tempuh jika pergi ke Tumapel? Tanya Wangsa kepada Andini.


“Jalan ke arah timur,” Andini berkata sambil menunjuk ke kanan jalan, yang lebih besar daripada jalan ke arah kiri.


Ketika mereka mulai berjalan menuju ke arah Tumapel, suara derap puluhan kaki kuda terdengar dari arah belakang, suara riuh dari beberapa kereta kuda.


“Minggir….minggir” beri jalan kepada saudagar Ming! Seru beberapa orang berkuda melihat rombongan Aria.


Puluhan kuda serta 4 kereta kuda mewah dan besar, perlahan bergerak.


“Minggir kau! Bentak seorang pria berkuda, kepada Buto Ijo.


Buto Ijo langsung menghantam leher kuda, yang di tunggangi oleh pengawal yang tadi sudah membentaknya.


Buk!


Kuda langsung terjungkal dan tewas seketika.


Suasana geger, puluhan orang berkuda langsung mengurung rombongan Aria.


“Tahan! Jangan menyerang,” teriak seorang pria paruh baya, dengan logat bahasa terdengar aneh.


“Maaf tuan! Kami rombongan pedagang saudagar Ming dari negeri Tiongkok yang hendak menuju Tumapel.


“Kenapa tuan menyerang rombongan kami? Tanya pria asing itu.


“Dia membentak aku! Seru Buto Ijo, “masih untung bukan lehernya yang aku hantam,” lanjut perkataan Buto Ijo.


Setelah Dinasty Ming membuka jalur sutra untuk memperluas kekuasaan dan membuka jalur perdagangan, banyak para pedagang dari negeri Tiongkok yang mencoba berdagang di negeri tetangga dan salah satu tujuan mereka adalah tanah Jawa, karena menurut beberapa pedagang yang sudah ke tanah Jawa, kain sutra yang berasal dari negeri mereka sangat di minati dan anggota kerajaan berani membeli sutra berkualitas dengan harga tinggi, sehingga banyak para saudagar dari Tiongkok mencoba peruntungan di tanah Jawa, salah satunya adalah saudagar Ming Tao Lim.


“Ada masalah apa pendekar Liong Ho? Tanya saudagar Ming kepada kepala pengawalnya, setelah kereta berhenti lama.


“Tidak apa-apa tuan, hanya salah paham saja,” ucap Liong Ho.


Dari pengalaman Liong Ho, para pendekar dari tanah Jawa sangat menakutkan karena mencampurkan kepandaian dengan ilmu ghaib yang terkadang di luar nalar, berbeda dengan mereka yang mengandalkan kecepatan dan ilmu menotok jalan darah.


Apalagi setelah melihat Buto Ijo yang berkulit hijau mampu menewaskan se ekor kuda dengan sekali pukul, membuat Liong Ho tidak mau ber urusan dengan Buto Ijo serta rombongannya.


“Kami minta maaf dan ingin berteman dengan kawan-kawan sekalian, jika tuan-tuan tidak keberatan! Mari bergabung dengan kami.” Liong Ho berkata.


“Tuan Liong jangan berteman sembarangan, coba lihat! Sepertinya mereka adalah rombongan sirkus yang biasa atraksi di alun-alun Tumapel, ada monyet, ada orang buta serta dua gadis memakai pedang yang mempertunjukkan kebolehan silat.


Liong Ho kerutkan kening mendengar perkataan para pengawal bayarannya yang mengatakan Buto Ijo adalah rombongan sirkus.


“Kakak pertama! Sirkus itu apa? Tanya Buto Ijo, dengan wajah kelam.


“Sirkus itu, kau menari nari sambil di temani oleh Monyet,” jawab Wangsa.


Hmm!


“Rupanya kalian sudah bosan hidup, menyebut aku sirkus,”


“Lantas kalau bukan sirkus! Kau itu apa?


Whut….Prak!


Baru saja sang pengawal berkata, kepalanya pecah di hantam tinju Buto Ijo.


Setelah memecahkan kepala orang yang bertanya, baru Buto Ijo menjawab.

__ADS_1


“Kami Iblis pencabut nyawa.”


__ADS_2