
Buwana Dewi yang tadinya teriak, langsung diam melihat tubuh ayahnya membungkuk, kemudian mengambil kepala dan menyambung.
“Hati-hati ketua! Itu Ajian Rawarontek, hampir sama dengan Pancasona,” Wangsa coba mengingatkan Aria tentang ilmu yang di miliki Ki Banyu Alas.
“Maksudmu, ajian yang tidak bisa mati? Tanya Buto Ijo.
“Benar,” jawab Wangsa.
“Kalau seperti itu, lebih baik Raden berdamai saja dengan Ki Banyu Alas,” Buto Ijo coba memberi saran.
Kening Wangsa berkerut mendengar perkataan Buto Ijo.
“Apa maksudmu dengan berdamai, apa kau tidak tahu siapa Ki Banyu Alas? Tanya Wangsa.
“Aku tahu! Ki Banyu Alas Ayahnya Buwana Dewi,” jawab Buto Ijo.
“Bukan itu, tolol! Balas Wangsa dengan nada kesal, kemudian lanjut berkata.
“Ki Banyu Alas adalah iblis berwujud manusia, dia harus di bunuh.
“Kenapa harus di bunuh? Tanya Buto Ijo dengan nada kencang, karena tidak setuju dengan Wangsa.
“Pelankan suaramu, tolol! Coba kau lihat, Buwana Dewi langsung melotot ke arah kita,” bisik Wangsa.
“Aku hanya kasihan dengan Raden kalau mereka bertempur,” ucap Buto Ijo, kali ini suaranya tidak sekeras tadi.
“Kenapa kasihan kepada ketua, memangnya kau pikir ketua akan kalah? Tanya Wangsa.
“Raden tidak akan kalah, mereka berdua punya ilmu yang membuat mereka bisa hidup kembali, walau badan mereka hancur.”
“Coba kau pikir, kalau mereka berdua bertempur dan tidak ada yang mati, harus berapa hari, bulan atau tahun berkelahi.
“Tidak bisa menikah, mau makan susah, apalagi tidur, kasihan ketua! Aku juga sebagai pengawal, tidak bisa makan, karena harus siap jika ketua dalam bahaya.
“Benar tidak alasanku? Kenapa mereka harus berdamai.”
“Kau mungkin benar, Jo! Kalau Ki Banyu Alas mau bertobat, tetapi kalau tidak, apa harus di diamkan dia berbuat jahat?
Melihat Buto Ijo diam, Wangsa lanjut berkata.
“Ketua harus mencari kelemahan ajian Rawarontek yang di miliki Ki Banyu Alas, jika ingin memenangkan pertarungan.”
Buto Ijo hanya anggukan kepala mendengar keterangan Wangsa, karena yang dikatakan oleh Wangsa memang benar.
Sementara itu, Ki Banyu Alas menatap tajam ke arah Aria.
__ADS_1
“Aku terlalu memandang remeh, ternyata kau juga bukan manusia sembarangan, pasti ada mahluk ghaib di belakangmu, karena kau bisa ajian Rogo Demit,” Ki Banyu Alas berkata sambil menatap Aria.
“Aku ingin mengajak Ki Banyu Alas tinggal bersama, lepaskan semua ambisi Ki Banyu Alas untuk mengacaukan dunia,” balas Aria.
“Jangan menggurui ku, kau pikir kau sudah menang karena berhasil menebas kepalaku? Tanya Ki Banyu Alas dengan nada dingin.
“Bukan itu maksud dari perkataanku, Ki!
“Buwana Dewi ingin kau kembali ke jalan yang benar dan tinggal bersama kami,” jawab Aria.
“Buwana Dewi memang akan tinggal bersama kami, tetapi tidak denganmu, karena Buwana Dewi adalah Jodohku,” Sentanu ikut bicara mendengar perkataan Aria dan gurunya.
“Diam kau, anak kerbau! Jangan suka ikut campur dengan urusan orang tua,” Kali ini Buto Ijo yang membalas perkataan Sentanu.
“Kau yang diam! Aku berhak bicara, karena aku adalah calon suami Dewi, dan umurku tidak jauh beda dengan Iblis Buta,” Sentanu berkata sambil menunjuk ke arah Buto Ijo.
“Jangan suka tunjuk-tunjuk orang, nanti ku patahkan tanganmu,” balas Buto Ijo melihat dirinya di tunjuk oleh Sentanu.
“Diam kalian semua!? Teriak Ki Banyu Alas, Suaranya menggelegar sampai menggetarkan ruangan istana Tampak Siring.
“Sentanu! Pimpin anak buah kita dan serang semua Mahkluk bernyawa yang ada di sini, bunuh tanpa terkecuali,” ucap Ki Banyu Alas dengan nada dingin.
Aria mendengar perkataan Ki Banyu Alas, raut wajahnya berubah kelam, begitupula dengan Buwana Dewi.
Iblis Kawi, Singabarong serta Nyai Kidung kencana, pimpin Anak buah kita untuk menghadapi Siluman Alas Purwo, habisi mereka, jika mereka tetap bersikeras akan mengganggu manusia.
Belum sempat, para anak buah melaksanakan perintah sang ketua, langkah mereka terhenti, saat mendengar suara lonceng yang terus menggema, semakin lama suara lonceng semakin keras terdengar.
Kleneng….kleneng….Kleneng.
Ki Banyu Alas angkat tangan memberi isyarat agar Sentanu jangan dulu pergi.
Sedangkan Bibir Buwana Dewi tersenyum mendengar suara bunyi lonceng, yang biasa terdapat di kereta kuda Nyai ratu penguasa Laut utara, yang tak lain adalah ibu Angkat Buwana Dewi.
Tak lama kemudian, pintu ruangan istana terbuka, Dua orang masuk melangkah, seorang pria berselempang kain putih, dengan pakaian berwarna sama, sementara satu lagi, wanita Angguk memakai pakaian berwarna hijau, tampak di kepala wanita tersebut di hiasi mahkota yang bertabur Intan permata.
Keduanya melangkah dengan anggun memasuki ruangan istana Tampak siring.
“Salam untuk Nyai Ratu,” Ki Banyu Alas berkata.
Ratu Laut utara anggukan kepala sambil tersenyum dan membalas perkataan Ki Banyu Alas.
“Kita bertemu lagi Banyu Alas.”
“Ibu! Seru Buwana Dewi sambil mendekat.
__ADS_1
“Bagaimana kabarmu, Buwana Dewi? Tanya Nyai Ratu.
“Buwana Dewi baik-baik saja, Buwana Dewi senang ibu bisa datang di acara pernikahanku dengan kakang Aria,” Jawab Buwana Dewi.
“Tidak bisa! Kau harus ikut denganku ku ke Alas Purwo,” Ki Banyu Alas angkat bicara mendengar perkataan Buwana Dewi.
“Banyu Alas! Semakin lama kau semakin jauh berubah, apa kutukanku masih tidak membuat kau sadar? Tanya Ratu laut utara dengan nada dingin.
“Aku sudah menerima hukuman karena perbuatanku, tetapi urusan putriku berbeda dari urusan antara aku dan Nyai Ratu,” jawab Ki Banyu Alas.
“Urusan Buwana Dewi juga urusanku, karena aku yang telah merawatnya dari kecil,” balas Ratu Laut utara.
“Tidak bisa!? Teriak Ki Banyu Alas, “dia adalah putri dari Istriku, jadi aku berhak terhadapnya.”
“Kalau aku tidak berjanji, sekarang kau tidak akan bicara seperti itu di depanku, Banyu Alas,” ucap Ratu Laut utara dengan nada dingin.
Ha Ha Ha
“Jaman sudah berubah nyai Ratu, siapa yang kuat, dia akan menguasai dunia ini, jangan samakan Banyu Alas yang dulu dengan sekarang,” Ki Banyu Alas tertawa kemudian berkata membalas perkataan Ratu laut utara.
“Kau pikir ajian Rawarontek yang kau miliki bisa membuat kau menjadi penguasa di dunia ini? Kau mimpi,” Ratu laut utara berkata.
“Mungkin buat Ratu ilmu yang aku miliki tidak berguna, tetapi Ratu harus ingat dengan janji yang sudah Ratu ucapkan sendiri, bahwa Ratu tidak akan mencabut nyawaku, walau apapun yang sudah aku lakukan,” balas Ki Banyu Alas.
“Aku memang tidak bisa bertindak terhadapmu, tetapi aku bisa memusnahkan semua anak buahmu yang ada di luar.” Ratu laut utara membalas perkataan Ki Banyu Alas.
“Laksanakan pernikahan antara Buwana Dewi dengan Aria Pilong sekarang juga, aku yang akan menjadi saksi dari pihak wanita,” lanjut perkataan Ratu laut utara.
“Barada! Kau yang akan memimpin upacara pernikahan putri angkatku.”
“Baik! Ratu,” jawab Mpu Barada.
“Tidak bisa! Aku adalah calon suami putri guru, Buwana Dewi harus menikah denganku,” Sentanu berkata, ia tidak terima mendengar perkataan Ratu Laut utara.
“Hai anak kerbau! Lebih baik kau diam, kalau kau tetap ingin menikah, biar nanti aku carikan kau pasangan yang setimpal untuk mu,” Buto Ijo yang kesal dengan Sentanu, ikut bicara.
“So! Carikan anak kerbau ini, calon pengantin wanita,” lanjut perkataan Buto Ijo.
“Memangnya ada wanita yang mau dengannya? Tanya Wangsa.
“Kau cari saja kerbau betina, pasti mau dengannya,” jawab Buto Ijo.
“Ratu Laut utara! Jangan anggap remeh muridku, karena kakek anak ini bukan orang sembarangan, aku yakin jika kalian bertempur, belum tentu kau akan menang melawan dia.
“Siapa yang mampu melawan Ratu Laut utara? Tanya Mpu Barada.
__ADS_1
Ki Banyu Alas kemudian menjawab pertanyaan Mpu Barada.
“Resi Sapta Darma.”