Iblis Buta

Iblis Buta
Kau Atau Aku Yang Berkuasa?


__ADS_3

I Gusti Wardana hanya bisa terpana melihat Aria dalam waktu singkat bisa merobohkan Elang Raksasa, begitupula dengan prajurit anak buah Si panglima.


Prajurit yang sudah geram, bergerak ke arah Elang raksasa sambil menenteng senjata.


“Jangan bunuh Elang itu, dia sudah tidak berdaya,” Aria berkata ketika mendengar suara kaki kuda melangkah ke arah Elang yang tengah kesakitan.


“Nanti kalau Elang ini sembuh, dia akan membuat kekacauan lagi dengan memangsa para penduduk,” ucap salah seorang prajurit.


“Biarkan saja, jangan lukai burung itu,” kembali Aria berkata.


Para prajurit saling pandang, kemudian menatap ke arah Panglima Laut I Gusti Wardana.


“Kenapa kalian malah saling tatap! Seru Buto Ijo.


“Apa kalian ingin merasakan seperti burung itu, mari….mari sini! Lanjut perkataan Buto Ijo.


“Sewaktu Elang belum terluka, kalian lari terbirit birit, tetapi setelah Elang berhasil di lukai, kalian langsung ingin beraksi, se akan akan kalian yang sudah berhasil melumpuhkan Elang raksasa itu.”


Wangsa langsung melirik ke arah Buto Ijo mendengar perkataan si raksasa.


“Tumben mulutnya sehat,” batin Wangsa.


Para prajurit anak buah I Gusti Wardana langsung tundukkan kepala, setelah mendengar perkataan Buto Ijo yang sudah menyindir mereka.


“Buwana Dewi, apa kau bisa menunggang kuda? Tanya Aria.


“Sepertinya bisa kakang,” jawab Buwana Dewi.


“Panglima! Beri aku kuda yang jinak,” Aria meminta se ekor kuda.


“Pakai saja kuda milikku, ia jinak dan mudah di tunggangi,” ucap Panglima I Gusti Wardana.


“Apanya yang jinak, tadi lompat-lompat,” Buto Ijo angkat bicara.


“Tentu saja lompat-lompat, kalau kau tarik buntutnya,” Wangsa ikut bicara setelah mendengar perkataan Buto Ijo.


“Kalau buntut kudanya tidak ku tarik, mereka sudah kabur semua, lantas siapa yang jadi penunjuk jalan? Tanya Buto Ijo.


“Kabur juga kan akhirnya balik lagi,” jawab Wangsa.


“Silahkan, nona! ucap I Gusti Wardana setelah turun dari kuda, kemudian menyerahkan tali kekang kuda kepada Buwana Dewi.


Buwana Dewi naik ke punggung kuda, kemudian tangannya menjulur ke arah Aria, “mari kakang! Seru Buwana Dewi.


Aria memegang tangan, kemudian tubuhnya melesat naik.


Buwana Dewi setelah Aria naik, ke atas kuda kemudian berkata.


“Peluk pinggangku, kakang! Biar tidak jatuh.”


Aria tersenyum, kemudian memeluk pinggang Buwana Dewi.


Kuda perlahan bergerak, setelah Buwana Dewi menarik tali kekang kuda.


Buto Ijo yang berlari di samping kuda Buwana Dewi, berkata kepada Suketi, “Peluk leherku dengan erat agar kau tidak jatuh.”


Sementara itu, di istana Tampak Siring, formasi pemanah mulai tidak kuat menahan pasukan Elang.

__ADS_1


Begitupula dengan pasukan tombak, sedikit demi sedikit mereka mulai mundur, sebagian prajurit membawa obor di pakai untuk mengusir Elang raksasa.


“Suara tabuhan alat-alat musik semakin menambah suana kacau, alat musik di bunyikan untuk mengganggu pendengaran Elang yang tajam, sehingga kosentrasi mereka untuk menyerang menjadi terganggu.


“Baginda! Lebih baik baginda menunggu di dalam istana,” ucap Panglima Wisnutama.


“Di dalam atau di luar sama saja, jika istana Tampak Siring berhasil mereka kuasai,” Prabu Anak Wungsu membalas perkataan.


Elang jantan hatinya mulai bertanya-tanya, kenapa si Badrun belum juga kembali, hanya prajurit penunggang kuda biasa, biar ada 100 orang tidak akan pengaruh buat Elang raksasa, tetapi Si Badrun setelah mengejar sampai kini belum juga kembali,” Batin Elang jantan.


Lembusora yang memimpin seratus anak buah Padepokan Elang Emas mendekati istana, prajurit Tampak siring berusaha menjaga pintu gerbang utara, agar tidak bisa di terobos oleh pihak musuh.


Tetapi prajurit yang menjaga pintu gerbang bukan tandingan Lembusora yang merupakan salah satu anak buah kepercayaan Ki Banyu alas.


Brak!


Pintu gerbang utara hancur, seratus orang padepokan Elang emas, setelah masuk langsung membunuh prajurit yang mereka temui, dan terus merangsek ke arah alun-alun istana Tampak Siring, tujuan Elang jantan menyerang istana Tampak Siring adalah untuk membunuh Prabu Anak Wungsu dan petinggi kerajaan yang tidak mau bekerja sama dengannya.


Elang kaki satu turun setelah Alun-alun istana berhasil di kuasai.


Elang jantan lompat dari punggung Peliharaannya, sambil membawa jarum pusaka tongkat emas


Sedangkan ketiga Elang raksasa terbang di atas istana Tampak Siring.


Setelah berada beberapa langkah di depan Prabu Anak Wungsu dan para pejabat kerajaan Bali.


Elang jantan berdiri sambil bertolak pinggang, lagaknya terlihat sangat congkak, tak lama kemudian Lembusora datang bersama anak murid padepokan Elang emas.


“Prabu Anak Wungsu! Sebelum aku mengambil jalan kekerasan, aku memberikan kau satu kesempatan lagi serta para pejabat kerajaan Bali untuk bergabung dengan padepokan Elang emas, bagaimana? Tanya Elang jantan.


“Kau pikir aku mau bergabung dengan padepokan yang terdiri dari buronan dan para penjahat? Prabu Anak Wungsu berkata lantang, membalas perkataan Elang jantan.


“Kesempatan terakhir untuk kalian! Siapa yang mau bergabung denganku, aku akan menjamin keselamatannya.”


Patih Nyoman Sidharta setelah menarik napas panjang, lalu melangkah ke arah Elang jantan.


“Aku bergabung dengan ketua padepokan Elang emas,” Nyoman Sidharta berkata.


“Bagus….bagus! Aku senang dengan keputusan Patih Nyoman Sidharta,” ucap Elang jantan.


Panglima Wisnutama menatap geram ke arah patih Nyoman Sidharta.


“Dasar penghianat!? Teriak Prabu Anak Wungsu sambil menunjuk ke arah sang patih.


“Tuan Elang jantan sudah menjanjikan kepadaku, jika aku mau bergabung, aku akan di angkat menjadi raja Bali menggantikan kau,” Patih Nyoman Sidharta berkata mendengar perkataan Prabu Anak Wungsu.


“Sudaraku sekalian, mari kita menatap masa depan seperti yang sudah kita rencanakan,” lanjut perkataan Nyoman Sidharta.


Dua orang Senopati dengan raut wajah sama, langsung bergabung, dengan patih Nyoman Sidharta.


“Tak kusangka, Senopati Gala dan Gili juga ikut terhasut oleh mereka,” ucap panglima Wisnutama.


sang panglima terkejut setelah melihat prajurit dari kerajaan Bali yang di bawah kedua Senopati langsung bergerak ke arah rombongan Elang jantan.


“Rupanya mereka sudah mempersiapkan ini,” batin panglima Wisnutama.


Posisi Prabu Anak Wungsu semakin terjepit, pasukannya mulai terpecah, walau masih menang jumlah, tetapi dengan adanya Elang jantan, Prabu Anak Wungsu tak bisa berkutik.

__ADS_1


Patih Nyoman Sidharta adalah seorang licik, saat Elang jantan memberikan ultimatum kepada Prabu Anak Wungsu melalui dirinya.


Diam-diam Nyoman Sidharta mulai menghasut sebagian pejabat dan Senopati yang tidak suka dengan kepemimpinan Prabu Anak Wungsu yang di nilai terlalu lembek, setelah mendapat dukungan yang cukup.


Nyoman Sidharta menunggu saat yang tepat seperti saat ini, untuk mengambil alih tahta, karena ia juga memiliki sebagian prajurit yang berada di bawah pimpinan Senopati kembar, Gala dan Gali.


“Lembusora! Lumpuhkan Prabu Anak Wungsu,” Elang jantan memberi perintah kepada anak buah Ki Banyu Alas.


Baru saja Lembusora melangkahkan kaki, langkahnya langsung terhenti, setelah mendengar pekik panjang saling bersahutan.


Elang jantan melihat satu batang pohon melesat ke atas seperti di lemparkan ke arah elang peliharaannya, matanya tampak liar dan raut wajahnya berubah kelam.


“Musuhku sudah datang,” ucap Elang jantan.


Setelah berkata, Elang jantan melesat naik ke punggung Elang berkaki satu.


Elang jantan menepuk-nepuk leher Elang kaki satu.


“Mari Kita Tuntaskan Dendam kesumat ini, kawan.”


Raja Elang anggukan kepala seperti mengerti apa yang di katakan oleh sang majikan, setelah Raja Elang memekik panjang, perlahan kedua sayapnya mengepak dan tubuhnya bergerak naik, siap bertempur hidup dan mati dengan orang yang sudah membunuh sang majikan dan memakan kakinya sewaktu bertempur di gunung Bromo.


Setelah Elang jantan naik untuk menghadapi musuh, Mata Lembusora menatap tajam ke arah Prabu Anak Wungsu.


Lembusora melesat ke arah Prabu Anak Wungsu, tangan kanan siap menghantam kepala Prabu Anak Wungsu.


Raut wajah Panglima Wisnutama terkejut, sang panglima langsung memburu ke arah Lembusora, kedua telapak tangan panglima Wisnutama menghantam ke arah dada Lembusora.


Lembusora bergerak menghindar ke arah kiri, kemudian kakinya dengan cepat menendang pinggang Panglima Wisnutama.


Buk!


Panglima Wisnutama terpental dan jatuh sambil muntahkan darah segar dari mulut, tanda terluka dalam.


Setelah membereskan Wisnutama, Lembusora kepalanya menoleh ke arah Prabu Anak Wungsu, tetapi raut wajah Lembusora pucat, setelah tidak melihat Prabu Anak Wungsu sudah tidak ada di tempat.


Lembusora balikan tubuh, matanya menatap ke kiri dan ke kanan, dan akhirnya melihat ke arah sekeliling, tetapi orang yang ia cari sudah tidak ada di tempat.


“Kemana Prabu Anak Wungsu? Tanya Lembusora kepada Nyoman Sidharta.


“Tadi….tadi Ada Asap yang menyelimuti tubuh Prabu Anak Wungsu, kemudian menghilang bersama asap itu,” jawab Nyoman Sidharta.


Sementara itu, di luar benteng istana Tampak Siring, Prabu Anak Wungsu hanya bisa menatap heran ke arah Panglima I Gusti Wardana yang sudah berada di depannya.


“Kenapa aku bisa berada di sini? Tanya Prabu Anak Wungsu sambil menatap panglima Laut I Gusti Wardana.


“Tidak usah banyak bicara, ikut saja dengan panglima I Gusti Wardana bersembunyi di tempat aman.


“Biar kami yang menghabisi Elang jantan,” balas orang yang telah menyelamatkan Prabu Anak Wangsa.


“Hati-hati tuan pendekar, Elang Jantan tokoh sakti yang sangat berbahaya, lebih baik tuan menyingkir.” Ucap Prabu Anak Wungsu.


“Prabu Tidak usah khawatir, Elang jantan tidak akan bisa melukai aku,” balas orang itu.


Prabu Anak Wungsu menatap I Gusti Wardana, lalu bertanya setelah mendengar perkataan orang itu.


“Memangnya dia siapa? Tanya Prabu Anak Wungsu.

__ADS_1


I Gusti Wardana menjawab.


“Selamet.”


__ADS_2