
Aria terus menemani Wulan yang coba menghapal kitab 7 racun.
Sesudah 2 hari di temani oleh Aria sambil bersemedi menggabungkan kekuatan pemberian Naga Langit.
Akhirnya Wulan berhasil menghapal apa yang tertulis dalam kitab 7 racun.
Racun 2 Dunia
Racun Rogo pati
Racun 7 langkah
Racun Alas Bumi
Racun ucapan Dewa
Racun Liur Naga.
Tatapan Dewi Racun
Setelah Wulan berhasil menghapal kitab 7 racun, Wulan dan Aria di saksikan oleh Wisesa membakar kitab 7 racun.
Wisesa menyiapkan perbekalan untuk rombongan Aria dan dirinya, malam sebelum keberangkatan, mereka berkumpul di ruang tengah.
Mata Wulan terus berkaca-kaca, mengingat dirinya akan berpisah dengan sang ayah dan padepokan Wisanggeni yang sedari kecil ia tempati.
“Perjalanan ke gunung semeru lumayan jauh Raden, melewati 2 kota besar dan 3 gunung jika melalui jalur selatan, setelah melewati Gunung Wilis, akan sampai di kota Daha, kemudian melanjutkan perjalanan menuju gunung Kelud, gunung Kawi, lalu belok menuju Tumapel dan akhirnya sampai di gunung Semeru.
“Jika melewati jalur utara setelah tiba di gunung Kawi, berbelok ke arah utara melalui gunung Welirang serta Bromo, baru sampai di semeru.
“Butuh waktu puluhan hari jika Raden ingin pergi ke gunung Semeru,” ucap Wisesa memberi gambaran perjalanan yang akan di lalui oleh Aria beserta rombongan.
“Ayah! Bagaimana jika membawa kereta kuda biar tidak terlalu letih di jalan,” ucap Wulan setelah mendengar perkataan sang ayah.
“Kalau hanya untuk ke kota memakai kereta kuda mungkin tidak menjadi masalah, tetapi jika turun naik gunung, apa kereta kuda bisa lewat? Tanya Wisesa.
Wulan diam mendengar penjelasan sang ayah.
“Buto Ijo apa kau pernah ke gunung Semeru? Tanya Wisesa.
“Pernah,” jawab Buto Ijo, sambil lalu.
“Apa kau masih ingat jalan menuju kesana? Kembali Wisesa bertanya.
“Tidak,” jawab Buto Ijo.
“Tidak apa paman! Kami akan ke gunung Semeru sambil melihat-lihat keadaan serta situasi di perjalanan, apakah firasat yang di peroleh Resi Lanang Jagad akan menjadi kenyataan, akan terlihat nanti di sepanjang perjalanan kami,” Aria ikut menimpali perkataan Wisesa.
Wisesa lalu menawarkan muridnya yang tahu jalan menuju Semeru untuk mendampingi, tetapi Aria menolak.
Wisesa mendengar penolakan Aria, akhirnya hanya bisa berdoa untuk keselamatan putrinya dan pemuda itu selama dalam perjalanan menuju Semeru.
Ke esokan hari, satu ekor kuda melesat ke arah timur, keluar menuju ke arah pegunungan Wilis.
Kuda terus di pecut oleh Wulan yang membonceng Aria Pilong, Sedangkan Buto Ijo terus berlari mengikuti kuda yang di tunggangi oleh sang junjungan.
Beberapa hari berkuda, hanya istirahat jika ingin makan dan agar kuda istirahat, 3 hari perjalanan, rombongan Aria sampai di kawasan kaki gunung Wilis.
“Hati-hati Raden! Ini sudah masuk daerah kekuasaan Ki Loreng geni,” ucap Nyi Selasih.
Aria anggukan kepala mendengar perkataan Nyi Selasih, kemudian memberitahu Wulan
“Hati-hati Wulan! Pasang mata, karena kita sudah masuk di daerah kaki gunung Wilis.”
“Kenapa kau bisa tahu, kita sudah di kaki gunung Wilis? Tanya Wulan.
__ADS_1
“Ada yang memberitahu aku,” jawab Aria.
Semakin mereka masuk mengikuti jalan, di tengah hutan, hari semakin gelap.
“Kita lanjutkan perjalanan atau istirahat di sini? Tanya Wulan melihat hari semakin gelap.
“Sebaiknya cari tempat yang nyaman untuk istirahat, besok kita lanjutkan lagi perjalanan,” jawab Aria, karena mereka berkuda dari siang sampai sekarang belum istirahat, mulut kuda mulai berbuih dan terus meringkik seakan berkata, bahwa mereka juga butuh istirahat.
Setelah lebih dalam masuk ke hutan, Wulan melihat satu pohon besar yang di sekeliling pohon terhampar rumput hijau, tempat yang pas untuk istirahat.
“Kita istirahat di bawah pohon itu, di sekitar sini juga banyak rumput untuk makan kuda,” ucap Wulan memberitahu Aria.
“Baiklah! Balas Aria.
Mereka lalu turun dari kuda, kemudian duduk di bawah pohon, sedangkan kuda di biarkan makan rumput.
“Kau cari kayu bakar, sekalian kalau ada ayam hutan atau kelinci, untuk makan malam,” Aria memberi perintah kepada Buto Ijo.
Buto Ijo tanpa berkata lalu masuk ke dalam hutan, mencari apa yang telah di pesan oleh Aria.
Satu ikat kayu kering sudah terkumpul, tinggal ayam hutan atau kelinci yang belum di dapat oleh Buto Ijo, sementara hari mulai beranjak malam, suasana di dalam hutan semakin gelap gulita.
“Kemana aku harus mencari ayam hutan? Ucap Buto Ijo, sambil melihat ke dalam hutan.
Sementara itu, tanpa di sadari oleh Buto Ijo, tak jauh dari tempatnya duduk, puluhan pasang mata tengah menatap ke arah Buto Ijo.
Puluhan pasang mata itu tak lain adalah Ki Ronojiwo bersama Suto Abang dan puluhan anak buah mereka.
“Apa benar informasi yang kau dapat bahwa hari ini mereka akan lewat? Tanya Ki Ronojiwo.
“Benar kakang! Menurut anak buahku, mereka bertiga dengan satu kuda.”
“Apa anak buahmu tidak salah lihat? Kembali Ki Ronojiwo bertanya.
“Tidak salah kang! 3 orang masuk ke dalam hutan ini,” jawab Suto Abang.
“Aku tidak tahu, wajahnya tidak terlihat jelas, karena memakai caping,” balas Suto Abang.
Ki Ronojiwo memanggil anak buahnya.
“Do….Gendo cepat kesini! Ucap Ki Ronojiwo
“Ada apa ketua? Tanya Gendo
“Kau kesana dan coba cari tahu siapa orang itu! Kalau kawan, ajak ia bergabung, tetapi kalau musuh, kau habisi saja orang itu,” Ronojiwo berkata.
“Baik ketua,” balas Gendo
Ki Ronojiwo memerintahkan Gendo bukan tanpa alasan, karena Gendo adalah anak buahnya yang sering berkelana dan mengenal banyak orang dunia Persilatan.
“Kalau pendekar yang banyak hartanya langsung saja aku sikat, lumayan buat tidur besok malam sama Minten,” batin Gendo sambil terbayang tubuh Minten yang bahenol.
Gendo perlahan melangkah keluar dari sisi lain dimana tempat Ronojiwo bersama adik seperguruannya bersembunyi.
Ketika sudah berada di dekat orang yang ia tuju, Gendo perlahan berdehem, supaya di dengar oleh orang bercaping yang tengah duduk.
Tapi setelah Gendo berdehem, orang tersebut seperti tak mendengar.
Deheman Gendo semakin keras, sampai Gendo terbatuk batuk.
Buto Ijo angkat kepalanya melihat ke arah Gendo, tetapi tak lama kepalanya menunduk lagi.
Gendo yang merasa di remehkan langsung menghampiri dan menghardik Buto Ijo.
“Hei kau! Sombong sekali tidak mengindahkan deheman raja begal gunung Wilis,” ucap Gendo dengan nada sombong.
Hmm!
Dengus Buto Ijo mendengar perkataan Gendo.
__ADS_1
“Kau dengar tidak perkataanku? Tanya Gendo dengan nada tinggi, karena pertanyaannya belum juga di jawab.
“Kau mau apa? Tanya Buto Ijo sambil menatap ke arah Gendo dari balik capingnya.
“Cepat katakan siapa kau dan keluarkan semua hartamu jika kau ingin selamat,” ucap Gendo sambil mencabut golok dari pinggangnya.
“Kau kenal aku? Buto Ijo balik bertanya, sambil menyeringai dari balik capingnya.
“Tak usah cerewet, aku tak kenal dengan bangsa cecurut! Ucap Gendo sambil memutar mutar golok di atas kepala, berusaha menakut-nakuti Buto Ijo.
“Cepat keluarkan hartamu! Seru Gendo sambil menunjuk dengan golok.
“Hartaku Cuma kalung,” jawab Buto Ijo.
“Mana kalungnya! Cepat berikan,” balas Gendo dengan tidak sabar, sambil sesekali melirik ke belakang.
Buto Ijo membuka 2 buah kancing baju atas, lalu memperlihatkan kalung dengan liontin batu berwarna hijau.
Mata Gendo bersinar melihat kalung Buto Ijo, ketika tangannya hendak menarik kalung, Gendo baru sadar bahwa liontin batu dengan kulit si pemilik, sama warnanya.
Tangan Gendo tidak jadi menarik kalung dan coba mengingat ingat, siapa orang yang berkulit hijau dan memakai liontin batu hijau.
Raut wajah Gendo berubah pucat pasi, setelah mengingat orang dengan ciri di depannya itu.
Melihat orang di depannya diam dan ragu.
Buto Ijo berkata kembali sambil menatap ke arah Gendo.
“Kau kenal denganku, bukan? Tanya Buto Ijo sambil menyeringai, mata Buto Ijo tampak berkilat menatap Gendo yang pucat pasi, dan kakinya mulai gemetar.
“Aku….aku tidak kenal! Ucap Gendo sambil melemparkan goloknya ke tanah, Gendo sering mendengar kabar dari kawan-kawannya selama merantau, bahwa tokoh golongan hitam yang bernama Buto Ijo, akan membunuh orang yang kenal dengannya.
“Tidak mungkin! Melihat gelagatmu, kau pasti kenal aku,” kembali Buto Ijo berkata.
“Tidak….kita tidak saling kenal! Ucap Gendo sambil kedua tangan bergoyang.
Saat kaki kanan Gendo mundur satu langkah.
Buto Ijo bergerak cepat ke arah Gendo, setelah dekat, tangan Buto Ijo yang besar dan panjang, langsung memegang kepala Gendo kemudian memutarnya.
Krek!
Wajah Gendo yang menghadap Buto Ijo sampai berbalik arah menghadap ke belakang, ke tempat persembunyian Ronojiwo.
Setelah memelintir leher Gendo, Buto Ijo langsung membanting tubuh Gendo ke tanah.
Brak!
“Aku sedang berpikir keras mencari ayam, malah datang mengganggu,” ucap Buto Ijo dengan nada kesal, kemudian menendang mayat Gendo ke arah tempat persembunyian Ronojiwo.
Buk!
Mayat Gendo melayang ke arah tempat persembunyian Ronojiwo.
Ronojiwo dan Suto Abang terkejut melihat mayat Gendo yang terlentang, tetapi wajahnya menghadap ke bawah.
Ronojiwo, Suto Abang serta puluhan anak buah mereka melesat keluar dari tempat persembunyiannya, setelah tahu Gendo tewas.
Mereka langsung mengurung Buto Ijo yang menyeringai sambil menatap ke arah sekeliling orang-orang yang mengepungnya.
“Siapa kisanak? Kenapa Kisanak bunuh anak buahku? Tanya Ronojiwo dengan nada gusar.
Buto Ijo tidak menanggapi perkataan orang di depannya, tapi malah balik bertanya sambil menatap Ronojiwo.
“Kau kenal aku?
“Memangnya kau siapa, dan apa keuntungan buatku jika aku kenal denganmu? Ronojiwo balik bertanya.
“Kalau kau kenal aku, kau bisa mati dengan tenang,” jawab Buto Ijo
__ADS_1