
Buto Ijo mengambil obor dari tangan Ki Bayan, lalu mulai menuntun Aria masuk ke dalam goa.
Setelah Buto Ijo masuk, tak lama kemudian Ki Bayan menutup kembali pintu goa dengan batu besar.
“Semoga kalian berhasil,” batin Ki Bayan, sambil melangkah kembali ke padepokan Jagawana.
Setelah masuk, Buto Ijo melihat jalan di dalam goa lumayan besar, tetapi semakin ke dalam jalan semakin mengecil tetapi jalan masih enak untuk di lalui dan tak ada hambatan.
Suara air menetes mengenai batu terdengar jelas, jika Buto Ijo berbicara, gaung suara Buto Ijo juga terus menggema di dalam goa.
Suketi yang berada di bahu, sesekali mengambil kue yang berada di dalam buntelan yang mereka bawa, kue lalu di masukan ke dalam mulut Buto Ijo.
Setelah jalan lebar yang mereka lalui, Buto Ijo melihat satu lobang seperti pintu masuk goa, setelah melewati lobang pintu masuk yang kedua, Buto Ijo berhenti karena melihat, jalan yang akan ia lewati sangat panjang dan menanjak dengan kiri kanan jurang yang sangat dalam.
“Bagaimana dengan jalan yang kita lalui ini? Tanya Aria kepada Buto Ijo setelah Buto Ijo berhenti melangkah.
“Jalan setapak dan mulai menanjak, Raden. Harap hati-hati! karena jalan batu ini lumayan licin,” jawab Buto Ijo.
“Maaf sudah merepotkan mu,” balas Aria.
“Aku ini pelayan Raden, jadi Raden tidak usah berkata seperti itu,” ucap Buto Ijo.
Aria tidak tahu, bahwa jalan yang akan di lalui berada di tengah, yang kiri kanannya jurang, yang kedalamannya susah untuk untuk di ukur.
Buto Ijo tak mau memberitahu apa yang ia lihat, karena tak ingin Aria merasa khawatir.
Nyi Selasih juga tak pernah bicara atau keluar dari tubuh Aria, karena tanpa setahu Aria dan Buto Ijo. Di dalam goa batu ada semacam kekuatan ghaib yang membuat makhluk halus tidak bisa menggunakan kekuatannya.
Aria sudah berusaha beberapa kali menyalurkan tenaga dalamnya ke mata, berusaha melihat jika ada aura dari mahluk tak kasat mata di dalam goa, tetapi hanya kegelapan yang terlihat oleh Aria.
Semakin lama jalan yang di lalui oleh Buto Ijo semakin curam dan licin, Buto Ijo melangkah dan tak bicara, ia terus menuntun Aria dengan sangat hati-hati.
“Raden! Lebih baik Raden ku gendong saja, biar cepat sampai,” ucap Buto Ijo.
Aria anggukan kepala, mendengar perkataan Buto Ijo.
“Suketi! Aku akan menggendong Raden dan kau yang pegang obor,” Buto Ijo berkata.
Suketi anggukan kepala, saat tangan mungilnya hendak menerima obor dari tangan Buto Ijo, tiba-tiba obor padam, karena kain yang menjadi bahan agar api menyala, habis terbakar.
__ADS_1
Hmm!
Buto Ijo mendengus setelah tahu obor di tangannya padam.
“Ada apa? Tanya Aria.
“Tidak ada apa-apa Raden,” jawab Buto Ijo.
“Raden Silahkan naik ke punggungku,” lanjut perkataan Buto Ijo.
Aria tahu bahwa obor yang di bawa Buto Ijo telah padam, karena ia tidak merasakan panas dari obor yang ada di tangan Buto Ijo, tetapi ia tidak menanyakan lebih lanjut.
Setelah Aria naik ke punggung Buto Ijo, dengan langkah hati-hati, Buto Ijo mulai berjalan sambil kakinya meraba raba terlebih dahulu.
Di bahu kanan ada Suketi dan buntelan makanan, di punggung ada Aria, sedangkan ke adaan goa sangat gelap setelah obor padam.
Semakin berjalan, Buto Ijo semakin hati-hati, karena dalam kegelapan Buto Ijo melihat, ratusan titik sinar yang seperti menatapnya.
Suketi yang berada di bahu dan tangannya tengah memegang kue, langsung merapat ke arah leher Buto Ijo, setelah melihat puluhan titik sinar.
Tiba-tiba Aria merasakan, angin melesat ke arah mereka.
Sret!
Bayangan hitam terpental, setelah terkena kibasan Aria.
Aria terkejut, karena kali ini yang bergerak datang jumlahnya sangat banyak, sehingga ia bingung, karena gerakan mereka sangat cepat, terdengar jeritan Suketi yang ada di bahu Buto Ijo.
Buto Ijo terkejut, tangan kirinya mengibas ke arah bayangan hitam.
Bayangan hitam kembali melesat pergi.
Langkah Buto Ijo berhenti lalu matanya menatap ke arah sekeliling, kini bukan puluhan lagi titik sinar yang di lihat oleh Buto Ijo, tetapi jumlahnya sudah ribuan titik.
“Titik apa yang ada di atas, jumlahnya banyak sekali? Batin Buto Ijo.
Tanpa sepengetahuan Buto Ijo, makanan ( kue ) yang di bawa olehnya dan di makan Suketi, menjadi pemancing ribuan kelelawar yang menjadi penghuni goa.
Ribuan kelelawar mencium bau makanan yang di makan oleh Suketi dan menjadi pemicu sehingga ribuan kelelawar bergerak menyerang Suketi yang tangannya tengah memegang makanan, begitu pula dengan gembolan yang berisi makanan yang di bawa oleh Buto Ijo.
__ADS_1
Satu dua masih bisa mereka atasi, tetapi setelah ribuan kelelawar bergerak bersama sama ke arah mereka, seperti layaknya air bah yang datang dari berbagai sisi, membuat Aria, Buto Ijo dan Suketi terkejut.
“Turunkan aku, cepat! Seru Aria, mendengar suara mencicit serta kepakan sayap dari berbagai arah.
Aria dengan satu tangan mengibas, sementara tangan lain memutar tongkat, sedangkan Buto Ijo, dengan satu tangan melindungi Suketi dalam pelukannya, sementara tangan yang lain bergerak kesana kemari berusaha menghalau, kelelawar yang menyerang mereka.
Cakaran kaki dan gigitan kelelawar yang menempel di tubuh Buto Ijo tidak dirasa, begitupula yang ada di tubuh Aria, tangan kanan Buto Ijo, mengambil dan langsung meremas kelelawar yang menempel di tubuhnya.
Semakin lama kelelawar penghuni goa semakin bertambah banyak, apalagi setelah mencium bau darah dari tubuh, Buto Ijo, Aria serta kelelawar yang hancur diremas Buto Ijo, kelelawar kelelawar itu semakin ganas menyerang.
Tanpa pikir panjang Aria melesat ke samping sambil satu tangan mengibas, sedangkan tongkat terus berputar, Buto Ijo sangat terkejut berusaha menangkap tangan Aria yang perlahan menjauh, tapi terlambat.
Aria dengan satu tangan mengibas, suara puluhan kelelawar terpental terdengar saat mahluk itu terkena hawa pukulan Aria, tetapi kening Aria berkerut setelah kakinya meraba raba ke bawah, ke kiri dan kanan tak ada tempat untuk kakinya berpijak.
“Celaka! Batin Aria, tongkat Aria berputar berusaha menghantam apa saja, tetapi tongkat tetap menemui tempat kosong.
“Raden kembali ke sini,” kiri kanan jalan adalah jurang!? Teriak Buto Ijo dengan nada cemas.
Tetapi peringatan Buto Ijo terlambat, tubuh Aria Pilong dengan sangat cepat jatuh.
Buto Ijo hanya mendengar suara Aria yang berteriak, agar Buto Ijo segera meninggalkan goa.
“Raden….Raden! Teriak Buto Ijo dengan suara menggelegar, tetapi tak ada balasan.
Buto Ijo sambil memeluk Suketi, perlahan kembali seperti yang di katakan oleh Aria.
Batu penutup goa hancur di hantam oleh Buto Ijo, Buto Ijo dengan tubuh penuh luka akibat gigitan kelelawar langsung berlari ke arah padepokan Jagawana, setelah Buto Ijo sampai padepokan, lalu meminta Ki Bayan untuk menyiapkan tali panjang dan puluhan batang obor, untuk mencari Aria yang jatuh.
Ki Bayan, Jalak Ireng, Surajaya serta Rama dan Anjani langsung melesat ke arah jalan rahasia, setelah mendengar keterangan Buto Ijo bahwa Aria jatuh kedalam jurang yang ada di dalam goa.
Sementara itu, Aria yang tubuhnya terus melesat, hanya bisa pasrah, beberapa kali tangan kanan dan kiri menghantam ke samping, tetapi pukulannnya seperti lenyap, sedangkan tongkatnya sudah jatuh entah kemana.
Aria hanya bisa pasrah dan berdoa, setelah tahu dirinya terjatuh ke dalam jurang.
Saat Aria berserah diri dan pasrah, tiba tiba sinar putih menyelimuti tubuh Aria pilong, sinar putih terus membungkus tubuh Aria Pilong seperti menjadi sebuah kepompong, lalu sinar putih melesat membawa Aria Pilong, tanpa di sadari oleh Aria sendiri.
Setelah lama dirinya tidak juga jatuh, Aria kerutkan kening, apalagi setelah mendengar suara lembut dari depannya.
“Selamat datang, Raden Aria.”
__ADS_1