
Nyoman Sidharta mencabut keris dari perut Kilani, sambil mendorong bahu wanita bertubuh gempal itu.
Tangan Kilani hanya bisa menunjuk ke arah Nyoman Sidharta, seakan tidak percaya bahwa ia tewas di tangan, suami bibinya.
“Kau….Kau, Setan licik! Seru Kilani sambil menunjuk ke arah Nyoman Sidharta sebelum tubuhnya ambruk ke tanah dan tewas.
Senopati Gala serta beberapa pengawal tak bisa berkata apa-apa melihat Nyoman Sidharta menusuk Kilani, mereka tahu seperti apa sipat sang patih, sehingga tidak ada suara komentar atau protes saat Nyoman Sidharta membunuh Kilani dengan cara keji.
“Sembunyikan mayat kerbau ini! Seru Nyoman Sidharta dengan nada kesal, memberi perintah kepada anak buahnya
“Dimana adikku? Tanya Senopati Gala.
“Gali sedang berada dekat tenda kerajaan, aku menyuruhnya berjaga-jaga di sana.
“Kalau keadaannya memungkinkan, kita langsung bunuh Prabu Anak Wungsu,” jawab Nyoman Sidharta.
“Ini waktu yang tepat! Ketika keadaan sedang kacau,” Seru Senopati Gala sambil lanjut berkata.
“Jika raksasa itu tewas terkena racun Ular hitam, para tamu tidak akan memperdulikan pihak kerajaan, mereka pasti mengurus mayat kawan mereka, kesempatan itu kita pakai untuk menghabisi Prabu Anak Wungsu.”
Patih Nyoman Sidharta anggukan kepala mendengar perkataan Senopati nya.
“Para tamu dari Jawa tidak akan peduli dengan pihak kerajaan, apalagi tadi aku dengar Si Iblis buta sudah mulai kesal dan menantang pihak kerajaan.
“Ini saat yang tepat untuk menghabisi Prabu Anak Wungsu,” batin Nyoman Sidharta.
Saat ini ambisi Nyoman Sidharta adalah membunuh Prabu Anak Wungsu karena dendam, bukan untuk merebut kekuasaan, karena Nyoman Sidharta tahu, dirinya setelah membunuh Prabu Anak Wungsu tidak akan bisa keluar dari istana tampak siring dengan selamat.
Tetapi dendam kesumat karena sudah menjadi seorang buronan akan ia tuntaskan hari ini, dengan cara membunuh Prabu Anak Wungsu.
“Kita bergerak bersama Senopati Gali, kita habisi Prabu Anak Wungsu di tenda kerajaan,” Nyoman Sidharta memberi perintah setelah menetapkan hati untuk menuntaskan dendam.
Semua langsung berangkat menuju ke arah tenda Prabu Anak Wungsu.
Di tengah panggung upacara, iblis Kawi masih sibuk berusaha menenangkan Suketi.
Sedangkan Wangsa yang sedang memangku tubuh Buto Ijo, tiba-tiba melihat daging berwarna merah sahabatnya perlahan tertutup kembali oleh kulit berwarna hijau.
Hmm!
“Rupanya kulit Buto Ijo yang hancur akibat racun kini mulai pulih kembali,
Itu artinya dia baik-baik saja,” batin Wangsa.
Baru saja Wangsa berkata dalam hati, tubuh Buto Ijo yang ada di pangkuannya perlahan bergerak-gerak.
“Jo….Jo! Kamu sudah sadar? Tanya Wangsa dengan perasaan gembira.
Suara erangan terdengar dari mulut Buto Ijo setelah tubuhnya bergerak-gerak.
Perlahan mata Buto Ijo terbuka, ketika melihat Wangsa tengah memangku dirinya, Buto Ijo lalu bertanya.
“So! Aku sudah menikah apa belum? Tanya Buto Ijo, tampak mulutnya seperti meringis menahan sakit ketika berkata.
“Sudah! Cepat kau bangun, Suketi sedang mengamuk, kalau kau tidak menenangkan Suketi, nanti istrimu bisa di bunuh orang,” jawab Wongso.
“Sakit sekali, So! kulitku seperti di bakar oleh api, panas sekali,” Jawab Buto Ijo, tetapi setelah Buto Ijo menjawab, raksasa bertubuh hijau tersebut ingat dengan perkataan wangsa.
“Apa….apa kau bilang tadi, Suketi mau di bunuh? Tanya Buto ijo.
Wangsa anggukan kepala, sambil matanya melirik ke arah Suketi yang berubah menjadi kera raksasa.
__ADS_1
Buto Ijo sambil merasakan sakit, kemudian bangkit berdiri, melihat kera besar tengah mengamuk, dan berusaha di tenangkan oleh se ekor kera, Buto Ijo langsung melesat, tanpa bertanya atau melihat, ketika Kera tersebut berada di belakang tubuh Suketi.
Buto Ijo langsung menghantam Kera yang tampak selalu menghindar sewaktu di serang oleh Suketi, tinju Buto Ijo langsung menghantam kepala kera yang tak lain Iblis kawi dari samping, tanpa di sadari oleh Iblis kawi sendiri.
Buk!
Iblis Kawi terpental terkena tinju Buto Ijo.
Brak!
Tubuh iblis kawi terpental dan menghantam salah satu pos prajurit jaga.
Iblis kawi langsung bangkit sambil gelengkan kepala berusaha menahan sakit akibat terkena hantaman orang.
“Bangsat! Siapa yang membokong aku,” gerutu Iblis kawi sambil menahan sakit di kepalanya.
Suketi ketika melihat ayahnya terpental, wajahnya semakin tampak ganas, tanpa melihat ke arah orang yang menyerang Iblis Kawi, Suketi berputar dan tangannya yang besar menghantam kepala Buto Ijo.
Plak….Brak!
Buto Ijo yang tak menyangka akan di serang, terpental dan menghantam benteng istana hingga roboh.
Robohan batu benteng istana menimpa Buto Ijo, tampak kaki yang bergerak -gerak, sedangkan setengah tubuh Buto Ijo tertutup oleh runtuhan batu benteng istana.
Suketi melihat musuhnya terlempar, langsung melesat memburu.
Buto ijo berusaha keluar dari runtuhan batu benteng istana, baru saja tangannya hendak bergerak, Buto ijo merasakan kakinya ada yang mencengkeram.
Suketi setelah sampai, Kemudian menarik kedua kaki Buto Ijo dan langsung membantingnya ke tanah.
“Brak….auuugghh!
Suara teriakan Buto ijo terdengar, saat tubuhnya terhempas dengan keras ke tanah.
Perlahan tangan kanan Suketi menggerak-gerakan tubuh Buto ijo.
Tubuh Buto ijo bergerak ketika tangan besar Suketi menggerakkan tubuhnya, perlahan matanya terbuka.
Melihat Buto ijo bergerak dan matanya terbuka.
Senyum terlihat di bibir Suketi.
Perlahan tubuh Suketi jongkok dengan menekuk kedua kaki, sehingga paha dan dengkulnya menutupi dada.
Suketi berubah kembali menjadi gadis hitam manis yang baru saja di nikahi Buto ijo.
Mata Buto ijo melotot melihat Suketi jongkok sambil kedua paha dan dengkul menutupi dada, karena saat ini tidak ada benang sehelai pun yang menutupi tubuh Suketi, semua pakaian Suketi hancur ketika tubuhnya berubah menjadi besar.
“Kenapa kau tidak pakai baju? Tanya Buto ijo, kemudian bangkit dan duduk di depan Suketi sambil matanya menatap ke kiri dan kanan.
“Bajuku hancur, kakang,” jawab Suketi.
“Pergi….pergi kalian! Jangan kesini,” teriak Buto Ijo ketika melihat Wangsa dan beberapa penduduk mendekat.
Wangsa hentikan langkah karena ia melihat keadaan Suketi, begitupula dengan beberapa penduduk.
Seorang pemuda melihat gadis cantik jongkok tanpa busana, merasa penasaran dan tak mengindahkan perkataan Buto Ijo, pemuda itu terus melangkah mendekati.
Buto Ijo mengambil pecahan batu benteng istana, lalu melempar batu ke arah si pemuda.
Whut….Prak!
__ADS_1
Batu melesat cepat dan tepat menghantam kepala si pemuda sampai hancur.
Tubuh si pemuda langsung ambruk, tanpa ada yang berani mendekat
Beberapa penduduk langsung menjauh melihat aksi Buto Ijo, mereka tak berani mendekat.
“Maafkan aku, kakang! Aku tidak tahu kalau yang aku serang kakang Buto Ijo,” balas Suketi dengan nada penuh sesal
“Tidak apa! Masa sama istri sendiri marah,” balas Buto Ijo sambil melirik ke arah dada Suketi yang serangannya tertutup dengkul.
Plak!
Suketi menampar pipi Buto Ijo, tetapi tamparan Suketi tidak keras dan menyakiti Buto Ijo.
“Aku kan suamimu, kenapa tidak boleh lihat? Tanya Buto Ijo.
“Memangnya kita sudah resmi menikah? Suketi balik bertanya sambil kepalanya tertunduk malu.
“Kata Wongso kita sudah menikah,” jawab Buto Ijo.
“Tetapi di sini bukan tempatnya untuk melihat,” balas Suketi.
Perlahan tubuh Suketi berubah kembali menjadi kera kecil yang tertutup bulu hitam, sang kera kemudian naik lalu duduk di bahu Buto Ijo.
“Nanti malam saja, biar kakang penasaran,” ucap Suketi setelah tubuhnya berubah.
“Tetapi aku sudah melihat,” ucap Buto Ijo.
“Tidak apa! Seru Suketi, “yang kakang lihat kan kecil, karena tertutup sama dengkulku.”
“Memang kecil, tetapi aku jelas melihatnya, itu sebabnya aku langsung duduk di hadapanmu,” balas Buto Ijo kali ini senyumnya tampak lebar.
Sedangkan Suketi bingung dengan perkataan Buto Ijo, kemudian bertanya.
“Memangnya kakang Buto Ijo lihat apa?
“Coba kau pikir lagi,” jawab Buto Ijo, saat tak mendengar suara Suketi, Buto Ijo lanjut berkata sambil tersenyum lebar, karena masih teringat di kepalanya, apa yang tadi ia lihat.
“Kedua pahamu menutupi dada ke atas, karena aku tidak bisa melihat dengan jelas ke atas, jadi aku lihat bagian bawah yang tidak tertutup, kalau kau tak percaya padaku, coba kau praktekkan lagi bagaimana tadi kau jongkok.”
Diam-diam Suketi melakukan apa yang di katakan Buto Ijo.
Ketika benar apa yang di katakan oleh Buto Ijo, wajah kera Suketi berubah kemerahan, kemudian tangan kanannya melayang ke arah pipi sang suami.
Plak!
“Dasar mata keranjang,” ucap Suketi.
Buto Ijo tertawa dan mengelus pipinya yang barus saja di tampar oleh Suketi, keduanya lalu tertawa bersama.
Iblis Kawi tampak melangkah mendekati Buto Ijo, sambil terus memegangi kepalanya.
Buto Ijo setelah iblis Kawi sampai di hadapannya, langsung memberi hormat sambil berkata.
“Ada bapak mertua.”
Iblis Kawi anggukan kepala mendengar perkataan Buto Ijo sambil memberi isyarat telah menerima salam dari menantunya.
Melihat Iblis Kawi terus memegangi kepala, Buto Ijo lalu bertanya.
“Ada apa bapak mertua? Tanya Buto Ijo.
__ADS_1
Iblis Kawi menjawab pertanyaan Buto Ijo.
“Ada orang yang menyerang aku.”