
Aria Angkat jempolnya mendengar teriakan Buto Ijo.
Buto Ijo tertawa setelah melihat sang Raden memujinya, lalu bergerak menghampiri.
Surajaya dan Jalak Ireng yang masih belum percaya, lalu melihat ke luar padepokan.
Keduanya hanya bisa gelengkan kepala, melihat mayat anggota padepokan baju hitam bergelimpangan di luar padepokan jagawana.
Aria mencabut tongkat dari dada Klewing, lalu menghampiri Ki Bayan di bantu oleh tongkatnya.
Rama dan Anjani saling tatap melihat Aria, kemudian memberi hormat, sambil berkata.
“Kami merasa malu kepada kisanak dan meminta maaf, jika ada kata-kata kami yang menyinggung kisanak sewaktu dalam perjalanan,” Rama berkata.
“Kenapa kalian jadi begitu sungkan? Tanya Aria sambil kerutkan kening.
“Seharusnya aku yang berterima kasih kepada kalian, karena kalian yang sudah mengantar kami berdua sampai di kaki gunung Semeru,” balas Aria.
“Kami jadi malu, jika tuan Aria berkata seperti itu,” ucap Rama sambil tundukkan kepala.
“Kenapa kalian malu, kalian berdua adalah sahabatku,” balas Aria.
“Aku suka dengan kepribadian kalian berdua, yang mau menolong orang tanpa melihat keadaan orang itu, tetapi kalian berdua juga harus hati-hati! Karena terkadang niat baik kita, tidak semua orang bisa menerima,” lanjut Perkataan Aria.
Ki Bayan langsung tundukkan kepala.
Secara tidak langsung Aria telah menyindirnya serta Surajaya, yang memang tadi mereka berdua curiga terhadap Aria.
Melihat Surajaya dan Jalak Ireng datang, Ki Bayan lalu bertanya.
“Bagaimana keadaan di luar? Tanya Ki Bayan.
“Tidak ada gerakan mencurigakan, semua anggota perguruan Tangan hitam yang mengepung semuanya tewas, aku sudah menyuruh Anak murid Jagawana untuk membakar mayat-mayat anggota padepokan tangan hitam yang tewas,” jawab Jalak Ireng.
“Minggir kau Curut! Seru Buto Ijo, sambil mendorong tubuh Surajaya yang menghalangi langkahnya.
Surajaya langsung memberi jalan Buto Ijo, tanpa banyak bicara.
“Sekarang tunjukan jalan rahasia itu kepada kami Ki! Seru Aria kepada Ki Bayan.
“Tuan Aria jangan khawatir! Mari kita bicarakan di dalam,” balas Ki Bayan.
“Aria anggukan kepala, kemudian di tuntun oleh Buto Ijo, Aria melangkah ke dalam rumah dimana tadi mereka bercakap cakap.
Setelah mereka duduk dan melihat Buto Ijo melahap kue yang tersisa, Ki Bayan lalu menyuruh pelayan untuk menyiapkan hidangan.
“Tuan Aria! Besok, aku akan menunjukkan jalan rahasia menuju puncak, kepada tuan,” ucap Ki Bayan.
“Kenapa tidak sekarang? Tanya Aria sambil kerutkan kening.
“Sekarang sudah malam tuan, lebih baik berjalan di pagi hari,” jawab Ki Bayan.
“Pagi, siang dan malam tidak ada bedanya buatku, karena aku buta,” balas Aria.
Ki Bayan bukannya tidak mau menunjukkan jalan rahasia menuju puncak Semeru, sekarang ini, tetapi Ki Bayan tahu bahwa padepokan Tangan hitam mempunyai 3 orang ketua, yang baru saja di habisi oleh Aria adalah ketua No. 2 dan 3.
Jika Ki Bayan memberi tahu jalan rahasia, kemudian Aria pergi. Lalu datang orang No. 1 yang bernama Bahurekso, mereka semua dalam bahaya, karena Ki Bayan tahu, Bahurekso lah orang yang paling di takuti di padepokan tangan hitam.
__ADS_1
Ki Bayan berniat mengulur waktu, agar Aria terus bersama mereka di padepokan Jagawana.
“Kenapa kau diam? Tanya Aria, apa kau hendak mungkir dengan perkataanmu sendiri? Lanjut perkataan Aria, kali ini dengan nada tinggi, tanda hati sang pemuda sudah gusar.
Buto Ijo mendengar nada suara Aria langsung berdiri, kemudian bertanya. “Apa mereka hendak di bunuh juga? Tanya Buto Ijo dengan nada dingin, sambil menatap Surajaya dengan sorot mata penuh ancaman, Surajaya langsung tundukkan kepala tak berani balik menatap, setelah melihat caping Buto Ijo bergerak ke arahnya.
“Teruskan saja makanmu! Jika mereka mungkir, untuk membereskan mereka seperti membalikkan tangan buatku,” balas Aria dengan nada dingin.
“Tidak….tidak! Tuan Aria jangan salah sangka, aku pasti menepati janjiku, tetapi memang ada yang mengganjal di dalam hatiku, tuan! ucap Ki Bayan dengan nada cemas.
“Katakan saja Ki, apa yang menjadi ganjalan mu? Tanya Aria.
“Yang tadi tewas oleh tuan Aria adalah tokoh No. 2 dan 3 di padepokan Tangan hitam, sementara Tokoh No. 1 yang paling kejam dan di takuti, yang bernama Bahurekso belum muncul, kalau aku menunjukkan jalan dan tuan pergi dari Jagawana, kami belum tentu mampu untuk menghadapi Bahurekso,” balas Ki Bayan sambil menarik napas dalam-dalam.
“Itulah yang membuat aku bimbang,” lanjut perkataan Ki Bayan, secara tidak langsung Ki Bayan meminta bantuan Aria untuk menghadapi Bahurekso.
Hati ketua padepokan Jagawana sebenarnya merasa malu berkata seperti itu, tetapi tak ada lagi yang bisa mereka andalkan untuk menghadapi Bahurekso selain meminta tolong kepada Aria, dan orang bertubuh raksasa itu.
Phuih!
“Kenapa kau takut sama orang mati? Tanya Buto Ijo.
Ki Bayan dan yang lain terkejut mendengar perkataan Buto Ijo.
“Apa maksud dari perkataan, tuan Jo? Tanya Rama, yang penasaran dengan perkataan Buto Ijo.
“Memangnya kau tidak dengar perkataanku? Kenapa kalian takut sama orang yang sudah mati? Tanya Buto Ijo.
Ki Bayan kerutkan kening, kemudian berkata.
“Sudah mampus,” Buto Ijo meneruskan perkataan Ki Bayan.
“Apa….apa benar yang tuan katakan? Tanya Ki Bayan dengan raut wajah tak percaya.
“Kau pikir aku bohong? Balas Buto Ijo.
“Raden sendiri yang membunuh Bahurekso,” lanjut perkataan Buto ijo, sambil tangannya menunjuk ke arah Aria.
“Kelima orang yang duduk bersama Aria, kaget bukan kepalang mendengar perkataan Buto Ijo, mereka sama sekali tidak menyangka, Bahurekso sudah tewas oleh pemuda yang ada di hadapannya.
“Tak kusangka! Semua ketua padepokan. Tangan hitam tewas di tangan tuan,” ucap Ki Bayan, ketua padepokan Jagawana tampak kagum sambil menatap Aria.
“Mereka tewas karena ulah mereka sendiri, aku sudah memberi kesempatan kepada kedua adik Bahurekso untuk tidak kembali mengacau dan kembali ke utara, tetapi mereka tidak mendengar perkataanku.
“Pantas….pantas saja! Ucap Anjani.
“Apanya yang pantas nona? Tanya Aria.
“Tadi aku melihat Lowo Ireng seperti kenal dengan tuan Aria dan Jo, dan hendak melarikan diri, jadi mereka memang kenal dengan tuan berdua,” jawab Andini.
“Tentu saja kenal! Mereka dulunya menganggap aku kakak angkat mereka,” balas Buto Ijo.
Surajaya mendengar perkataan Buto Ijo, saking kagetnya hampir saja jatuh dari kursi yang ia duduki, begitu pula yang lain, mereka sangat terkejut mendengar perkataan Buto Ijo bahwa ia adalah kakak angkat kedua tokoh dari utara yang baru saja tewas.
“Maaf kalau boleh tahu! Siapa kisanak sebenarnya? Mungkin kami pernah melihat atau mendengar nama kisanak,” tanya Ki Bayan.
Buto Ijo menoleh ke arah Aria, melihat Aria anggukan kepala, Buto Ijo langsung melepaskan caping yang memang terkadang membuatnya panas dan kesal.
__ADS_1
“Aku adalah Buto Ijo, pengawal Raden Aria Pilong.”
Ki Bayan sangat terkejut, raut wajahnya pucat dan terlihat takut, setelah melihat raut kulit muka berwarna hijau, sambil menunjuk ke arah Buto Ijo.
“Jadi….jadi benar, Kau….kau adalah But….But!
Buto ijo langsung membentak Ki Bayan yang berkata dengan nada gagap.
“Buto Ijo, tolol! Bukan butut.”
“Maaf….maaf, tuan Buto Ijo,” balas Ki Bayan.
“Jika tuan Aria memang hendak ke puncak sekarang juga, mari aku antar ke jalan rahasia! Lanjut perkataan Ki Bayan.
Aria setelah melihat langkah yang diambil oleh Larang tapa yang berusaha, untuk menarik padepokan kecil dan menakut nakuti mereka, tidak mau menunggu waktu lagi, mendengar perkataan Ki Bayan, Aria langsung berdiri.
Aria melihat Aria berdiri, lalu berkata kepada Suketi, kau pilih kue untuk bekal kita ke atas,”
Suketi tanpa berkata, lompat ke sisi, lalu menarik taplak meja, sehingga semua kue terkumpul menjadi satu.
“Pintar! Seru Buto Ijo yang langsung mengikat ujung dan ujung taplak meja, layaknya sebuah gembolan.
Anjani menutup mulut dengan tangan, berusaha menahan tawa, melihat tingkah monyet kecil yang selalu berada di bahu Buto Ijo.
Setelah berpamitan dengan yang lain. Aria, Buto Ijo mengikuti Ki Bayan yang melangkah ke belakang padepokan Jagawana.
Ki Bayan setelah keluar dari padepokan terus melangkah mengikut jalan setapak yang tersembunyi, sambil membawa obor.
Setelah sampai di satu tebing yang menjulang tinggi, Ki Bayan lalu menggeser satu batu besar di bawah tebing, dan di balik batu besar itu tampak lubang goa yang cukup untuk di lalui oleh dua orang.
Ki Bayan lalu memberikan obor yang ada di tangannya, kemudian berkata kepada Aria.
“Silahkan tuan! Ikuti jalan di dalam goa ini. Tuan akan sampai di atas puncak Semeru,”
“Apa Ki Bayan pernah memakai jalan ini sampai puncak? Tanya Aria.
Ki Bayan gelengkan kepala.
“Kalau ki Bayan belum pernah naik melewati jalan ini, kenapa Ki Bayan sangat yakin kalau jalan di dalam goa ini menuju puncak Semeru? Tanya Aria.
“Sewaktu aku kecil, aku melihat seorang tua yang pakaiannya mirip pakaian seorang resi.
“Resi itu sebelum masuk pernah berkata padaku, yang sampai hari ini perkataannya masih ku ingat,”
“Nak! Jalan ini menuju puncak gunung Semeru, jika nanti ada orang yang ingin ke puncak mencari ku, tolong antar di sampai goa, dan beritahu cerita ini kepadanya.
“Itulah pesan sang resi, setelah aku besar, seluruh puncak gunung Semeru sudah aku jelajahi untuk menemui sang resi, tetapi aku tidak pernah melihat lagi resi berwajah ramah itu,” ucap Ki Bayan.
“Kalau boleh Tahu! Tuan ke puncak ada keperluan apa? Tanya Ki Bayan.
Aria yang percaya dengan Ki Bayan lalu berkata.
“Bertemu dengan Resi Lanang jagad.”
Raut wajah Ki Bayan terkejut, karena ia ingat sewaktu kecil mendengar perkataan sang resi yang menyebut namanya.
“Lanang Jagad.”
__ADS_1