Iblis Buta

Iblis Buta
Informasi Dari Rama


__ADS_3

Buwana Dewi membantu Aria turun dari pedati.


Setelah turun dan berhadapan, Aria bertanya kepada Rama.


“Kenapa kau bisa berada di sini? Tanya Aria.


“Aku di suruh kakek untuk membuka cabang di kota Panarukan, ketua! Tetapi di Panarukan, khususnya Keta. Tumenggung Jati Wilis sepertinya tidak suka dengan kakek, dulu mereka selalu sembunyi-sembunyi menjegal usaha dagang kakek, tetapi sekarang mereka sudah terang-terangan menentang dan mengusir kami.


“Usaha berdagang adalah bebas di mana saja kita berada, tetapi tidak dengan Tumenggung Jati Wilis, ia tidak suka orang berdagang di daerahnya.


“Kami di kejar dari Keta oleh anak buah Tumenggung Jati Wilis, kalau kami tidak meninggalkan usaha perdagangan kami, maka seluruh cabang akan di ambil alih oleh Tumenggung Jati Wilis, karena kami menolak, itu sebabnya Prajurit kota Keta mengejar hendak membunuh kami.


Hmm!


“Tumenggung Jati Wilis! Dia tidak belajar dari temannya yang bernama Wirayuda tidak membuka mata Jati Wilis,” ucap Aria.


“Mana Ki Sura? Tanya Aria.


Ki Sura dengan langkah gemetar langsung menghadap, setelah berada di depan Aria,


Ki Sura langsung sujud.


“Maaf kan hamba, ketua! Hamba sama sekali tidak tahu, bahwa tuan adalah Si iblis buta, ketua padepokan Jagad Buwana, jangan bunuh hamba,” Ki Sura berkata tanpa berani angkat wajahnya melihat Aria.


Aria kerutkan keningnya mendengar perkataan Ki Sura.


“Siapa yang akan membunuhmu? Tanya Aria dengan nada heran.


“Hamba takut ketua kesal gara-gara kejadian kemarin,” jawab Ki Sura.


“Kenapa kau membicarakan hal yang sudah lalu? Tanya Aria.


“Kau bersama para penduduk desa Osing kembali saja,” lanjut perkataan Aria.


“Rama bersama Ranggajati kembali ke Panarukan sambil membawa barang dagangan di kawal Selamet dan Raden Untung, untuk sementara jangan tonjolkan diri.


“Aku akan menyelidiki sendiri orang yang bernama Jati Wilis,” orang-orang anggukan kepala setelah Aria membagi tugas.


Baru selesai membagi tugas, derap kaki ratusan kuda terdengar mendekat.


Puluhan prajurit langsung turun dan mengepung.


Kepala prajurit bernama Narpati turun dari kuda, lalu melangkah menghampiri rombongan.


Ha Ha Ha


“Ternyata tidak rugi mengejar sampai sini, para pengkhianat akhirnya tampak kan diri,” Narpati berkata sambil menatap mereka yang tengah di kurung oleh anak buahnya.


“Aku sarankan, sebaiknya kau menyerah dan menyerahkan usaha dagang di Keta dan Panarukan,” ucap Narpati.


Rama tersenyum dingin mendengar perkataan Narpati, kemudian membalasnya.


“Aku juga balik memberi saran padamu, sebaiknya kau pergi dari Keta atau Panarukan, ajak sekalian Tumenggung Jati Wilis bersamamu, sebelum terlambat.


“Dan satu lagi yang harus kalian ingat, Jangan ganggu usaha dagang kakekku, karena pembalasan dari orang-orang Jagad Buwana, bisa bekali lipat dari apa yang kalian lakukan.


Ha Ha Ha


“Kalian dengar….kalian dengar, tidak! Perkataan Bocah bau susu ini? dia memberi saran padaku,” teriak Narpati sambil menatap ke arah sekeliling prajuritnya.


Suara gelak tawa dan ejekan terdengar dari prajurit kota Keta.


Salah seorang prajurit yang tengah menunggang kuda, berkata.


“Tuan Narpati tidak takut, Apa itu Jagad Buwana, ketuanya si Iblis buta untuk jalan saja perlu bantuan, bagaimana jika dia bertempur?


Ha Ha Ha


Narpati dan prajurit kota Keta tertawa terbahak bahak, mendengar ejekan dari kawan mereka.


Suara tongkat Aria terdengar, saat melesat menuju ke arah prajurit yang tadi berkata, setelah mereka menertawai Aria.


Shing….Crep….Brak!


Prajurit yang tadi berkata langsung terjungkal, saat ia sedang tertawa mulutnya tertembus tongkat yang Aria lemparkan.


“Ambil tongkat ku, Jang! Seru Aria dengan nada dingin.

__ADS_1


Ujang Beurit tubuhnya berputar dan masuk ke dalam tanah setelah menerima perintah Aria, tak lama kemudian, tongkat yang menancap di mulut dan tembus sampai belakang, sudah keluar dari dalam tanah dan berdiri tegak di depan Aria.


Semua diam melihat aksi Aria dan Ujang Beurit.


Tak ada lagi tawa dari prajurit Jati Wilis.


“Siapa kisanak, kenapa ringan tangan membunuh anak buahku? Tanya Narpati.


“Tadi anak buahmu sudah menyebut namaku, apa yang dia katakan memang benar, Iblis buta kalau jalan memang perlu di bantu.


Tetapi jika bertempur iblis buta tidak pernah memberi ampun kepada musuhnya.


“Dan sekali lagi aku tekankan kepada orang Jagad Buwana, Prajurit kota Keta yang ada di sini.


“Bunuh mereka semua! Seru Aria dengan nada dingin.


Setelah berkata, Aria langsung melesat sambil menyabetkan tongkat ke arah kepala Narpati.


Narpati lompat mundur setelah melihat Aria bergerak, kepala prajurit anak buah Jati Wilis sama sekali tidak menyangka, bahwa orang yang mereka hina berada di hadapan mereka.


Buto Ijo, Wangsa, Selamet, Raden Untung, Rama serta Ranggajati langsung melesat mengikuti Aria yang sudah mengamuk.


Mereka semua sangat bersemangat mendengar perkataan sang ketua.


Apalagi Buto Ijo, sang Raksasa jika tangannya tak berhasil membunuh Prajurit, kuda nya juga jadi.


Narpati terus menghindar dari kejaran Aria, tubuhnya bergerak diantara para prajurit.


Bret!


Tongkat Aria hanya menyambar leher kuda, kuda meringkik lalu ambruk.


Narpati melihat kuda di belakangnya tewas, lompat ke belakang.


Aria yang sudah kesal menghantamkan Ajian Mawageni ke arah Narpati.


Blam!


Beberapa ekor kuda serta penunggangnya tewas seperti di panggang, akibat hantaman Aji Mawageni.


“Kalau begini caranya, aku harus kabur,” batin Narpati sambil menyelinap diantara anak buahnya.


Ringkik kuda terdengar, mata kuda melihat aksi Buto Ijo hampir sama dengan mata sang penunggang, mata yang penuh ketakutan.


Tidak membutuhkan waktu lama bagi rombongan Aria untuk membunuh 100 penunggang kuda anak buah Narpati, apalagi setelah Aria memerintahkan anak buahnya menghabisi prajurit Jati Wilis.


Mereka tak segan-segan dan langsung bunuh.


Ki Sura sampai bergidig, lututnya gemetar setelah melihat mayat prajurit Keta banyak yang tewas dengan keadaan tidak utuh, rata-rata kepala mereka hancur.


Narpati berusaha melarikan diri, setelah anak buahnya yang tersisa tewas.


Aria memang sengaja hendak menyisakan Narpati, karena ia butuh informasi dari kepala prajurit itu mengenai rencana Jati Wilis.


Narpati sangat takut, setelah ada kesempatan ia langsung lompat ke atas kuda, kedua kakinya langsung menggebrak perut kuda agar kuda lari dengan cepat.


Narpati melihat ke belakang dan bibirnya langsung tersenyum, melihat Aria dan anak buahnya diam sambil melihat ia kabur.


He He He


“Kau pikir mudah menangkap Narpati,” batin kepala prajurit anak buah Jati Wilis, sambil melihat ke belakang.


Kening Narpati berkerut, setelah melihat Aria dan rombongannya menyeringai tengah menatap ke arahnya.


“Bukankah aku sudah meninggalkan mereka, kenapa mereka masih berada di belakangku? Narpati bertanya tanya dalam hati sambil kedua kaki menggencet perut kuda, agar kuda berlari dengan cepat.


Kuda meringkik kencang setelah perutnya terjepit.


Layaknya seorang pembalap, Narpati mendoyongkan setengah badannya ke depan sambil menggebrak gebrak tali kekang kuda, kedua kaki terus menggencet perut kuda dan kuda meringkik panjang.


“Turun kau! Ucap satu suara di samping kuda yang di tunggangi Narpati.


Narpati sangat terkejut, raut wajahnya pucat setelah menoleh ke arah suara tersebut.


Tampak Buto Ijo sedang berdiri sejajar dengannya di sisi kuda.


“Mau turun, tidak? Tanya Buto Ijo kembali, kali ini sambil melotot.

__ADS_1


Narpati turun dan raut wajahnya berubah, setelah melihat ke empat kaki kuda yang ia tunggangi masuk ke dalam tanah, kuda memang bergerak gerak, berusaha untuk melepaskan kakinya dan gerakan itu di pikir oleh Narpati kuda sedang berlari kencang.


Kuda Narpati hanya bisa bergerak beberapa langkah sebelum Ujang Beurit menarik kaki kuda ke dalam tanah, kemudian menjepitnya dengan ajian dasar bumi.


Narpati saking kesalnya menendang perut kuda.


Buk!


“Gara-gara kau! Aku jadi tertawan,” Narpati berkata dalam hati setelah menendang perut kuda.


kuda meringkik kencang dan tak lama kemudian kepala kuda terkulai, tewas dengan isi perut hancur di tendang oleh Narpati yang kesal karena merasa tertipu oleh kudanya.


Plak!


Tangan Buto Ijo menampar belakang Kepala Narpati dengan tenaga yang sudah jauh di kurangi, karena Aria ingin menanyai Narpati.


“Kau yang tolol, malah marah-marah sama kuda,” ucap Buto Ijo.


“Banyak bacot! Seru Narpati dengan nada kesal, setelah mendengar ejekan Buto Ijo.


Krak….aaaarrrghh!


Teriak Narpati, saat tangan kanannya sebatas siku putus, di tarik oleh Buto Ijo.


Tangan kanan Narpati yang putus langsung di hantamkan ke mulut Narpati yang tengah teriak, akibat rasa sakit tangannya putus di betot Buto Ijo.


Narpati terjungkal, beberapa buah giginya tanggal mulut dan bibir Narpati penuh dengan darah.


“Bangsat! Jaga bacot mu,” ucap Buto Ijo sambil kaki kirinya menginjak kepala Narpati.


“Nanti mati, Jo! Seru Wangsa setelah melihat wajah sang raksasa tampak sangat geram.


Narpati terus merintih kesakitan


Buto Ijo menjambak rambut Narpati, lalu menyeretnya ke hadapan Aria.


Brak!


Buto Ijo membanting kepala Narpati setelah berada di depan Aria.


Aria jongkok di samping Narpati, kemudian bertanya.


“Katakan! Apa yang sudah Jati Wilis rencanakan.


Aaaauu…..uuuaa…aaauu!


Hanya suara rintih kesakitan tak jelas yang keluar dari mulut Narpati, apalagi setelah Buto Ijo membanting kepalanya di depan Aria, lidah sobek dan sebagian gusi serta gigi Narpati hancur, membuat kepala prajurit Narpati hanya bisa merintih, tak bisa berkata.


Aria yang tidak tahu keadaan Narpati, mulai kesal karena tak juga mendapat jawaban.


“Cepat bicara! Seru Aria dengan nada tinggi.


Suara tak jelas kembali terdengar dari mulut Narpati.


“Raden! Sepertinya dia bungkam, tak mau memberi tahu rencana Jati Wilis,” ucap Buto Ijo, sambil kakinya perlahan mulai naik ke kepala Narpati.


Tangan kiri Narpati bergerak gerak berusaha memberitahu Aria, tapi Buto Ijo melotot, sambil tangannya memegang tangan kiri Narpati.


Phuih!


“Bagaimana bisa bicara kalau mulutnya hancur,” ucap Wangsa.


“Diam kau Resi palsu! Jangan ikut campur,” ucap Buto Ijo sambil berdiri.


Buto Ijo takut Aria tahu, bahwa ia telah menyiksa Narpati sampai mulutnya hancur.


Buto Ijo tak menyadari saat ia berdiri dengan kesal, kakinya yang sedang menginjak kepala Narpati, langsung menekan.


Krak!


Suara kepala Narpati yang pecah, terdengar oleh Aria.


“Apa yang terjadi? Tanya Aria.


Buto Ijo dengan nada gugup, kemudian menjawab.


“Dia….Dia bunuh diri, Raden.”

__ADS_1


__ADS_2