
“Kisanak Kenal dengan Singa Barong? Tanya Srikantil.
“Kenal sih tidak! Tetapi Kidung kencana pernah cerita padaku, ada pendekar campuran setengah siluman yang selalu menghisap roh-roh siluman kecil yang berkeliaran.
“Awalnya kidung kencana memang memuji Singa Barong karena membantu penduduk yang sering di ganggu oleh siluman, tetapi lama kelamaan rasa haus Singa Barong akan hawa siluman semakin besar setelah ia berguru kepada Kala Srenggi Alias Siluman merah, penguasa gunung Bromo.
“Ajian Tuku Belis yang di pelajari oleh Singa Barong, membantu ia untuk menjadi siluman yang sesungguhnya,” ucap Wangsa
“Siluman sesunggguhnya? Tanya Aria.
“Benar! Seru Wangsa, kemudian lanjut berkata.
“Dengan menghisap roh siluman sebanyak banyaknya, Singa Barong ingin melenyapkan darah manusia di dalam tubuhnya dan menjadi siluman murni.”
Hmm!
“Rasa serakah manusia terkadang, melupakan akal sehat,” balas Aria.
“Ada alasan kenapa Singa Barong ingin menjadi siluman,” ucap Wangsa.
Singa Barong ingin hidup kekal, kalau ada darah manusia di dalam tubuhnya hal itu tidak akan terwujud, sedangkan umur siluman sangat panjang, semakin lama umur siluman, dia akan semakin sakti dan bisa membuatnya kekal, itu yang ada di pikiran Singa Barong,” lanjut perkataan Wangsa.
“Orang seperti itu sangat berbahaya dan kita harus membunuhnya, untuk menjaga keseimbangan dua alam,” ucap Aria setelah mendengar perkataan Wangsa.
“Kau tahu tempat Singa Barong? Tanya Aria kepada Srikantil.
“Kami tidak tahu kisanak! Kami hanya di suruh mengikat siluman yang kami dapatkan di hutan gelap, sebelah timur dari desa Coblong,” jawab Srikantil.
“Kenapa kau tidak mengintip dan membuntuti Singa Barong untuk menyelamatkan gurumu? Tanya Wangsa.
“Dia selalu tahu, jika aku coba mengawasi tempat yang sudah di tentukan olehnya,” jawab Srikantil.
“Apa adik ketiga ada saran? Tanya Wangsa.
“Kita pancing Singa Barong untuk mengambil siluman yang di dapatkan Srikantil,” jawab Aria.
Buto Ijo langsung memeluk erat Suketi, setelah mendengar perkataan Aria.
Wangsa melirik ke arah Buto Ijo sambil kerutkan keningnya.
“Kenapa kau? Tanya Wangsa.
“Jangan ada pikiran agar Suketi menjadi umpan Singa Barong,” ucap Buto Ijo.
“Kalau bukan kera itu? Lantas siapa yang akan menjadi umpan? Karena hari ini aku tidak menadapat siluman, yang akan ku berikan kepada Singa Barong,” ucap Srikantil.
“Kau saja yang menjadi umpan! Balas Buto Ijo sambil menatap Srikantil.
“Aku bukan siluman! Mana bisa jadi umpan,” ucap Srikantil.
“Kenapa tidak bisa? Sini ku pecahkan batok kepalamu dan kau akan langsung jadi siluman,” balas Buto Ijo.
“Sudah….sudah! Kalian tidak usah bertengkar, biar aku yang menjadi umpan,” ucap Aria.
“Kisanak bukan Siluman! Tidak bisa menjadi umpan,” balas Srikantil.
“Darah siluman di tubuhku melebihi Singa Barong, dia akan segera datang jika membaui darah siluman yang ada di tubuhku.”
Raut wajah Srikantil terkejut setelah mendengar perkataan Aria, sambil menatap pemuda bercaping itu, lalu ganti menoleh ke arah Wangsa se akan meminta pendapat dari sahabat gurunya itu.
“Baiklah jika adik ketiga ingin seperti itu,” ucap Wangsa sambil anggukan kepala kepada Srikantil.
Setelah semuanya sepakat, mereka langsung bergerak ke arah timur desa Coblong.
__ADS_1
***
Setelah mengikuti Srikantil menuju Hutan gelap, akhirnya mereka sampai di tempat yang di maksud oleh Srikantil.
Hutan yang memang tepat di sebut hutan gelap, karena rimbunnya pepohonan yang terdapat di hutan membuat sinar matahari hanya bisa mengintip dari balik dedaunan, dan suasana hutan menjadi gelap walau di siang hari.
Aria di bawa masuk ke dalam hutan gelap, sementara yang lain menunggu dari kejauhan.
Setelah sampai di satu pohon besar, Srikantil mengikat Aria di batang pohon itu.
Setelah mengikat Aria dengan selendangnya, saat Srikantil hendak meninggalkan Aria, Aria berkata.
“Lepaskan dulu capingku, biar Singa Barong tidak curiga.”
Srikantil berbalik, kemudian membuka caping Aria Pilong.
Raut wajah Srikantil merah merona melihat wajah tampan di balik caping.
“Ternyata tuan Aria sangat tampan,” batin Srikantil.
“Tuan Aria, harap berhati hati,” ucap Srikantil sebelum pergi.
Aria anggukan kepala, mendengar perkataan Srikantil.
Srikantil lalu kembali berkumpul bersama Buto Ijo di tepi hutan gelap, mereka berkumpul di atas cabang pohon besar, untuk melihat lebih jelas, arah datang dan perginya Singa Barong.
“Kau tidak salah pilih tempat? Tanya Buto Ijo.
“Memangnya kenapa? Wangsa balik bertanya.
“Aku tidak bisa melihat Raden,” jawab Buto Ijo.
“Kita memang tidak bisa melihat adik ketiga, tetapi yang harus kita awasi adalah Singa Barong, hutan gelap tidak terlalu besar, jika Singa Barong masuk dari luar kita akan melihatnya, tetapi jika tidak ada gerakan Singa Barong dari luar, berarti dia bersembunyi di dalam hutan gelap,” balas Wangsa.
Apa yang di katakan oleh Wangsa memang benar, Singa Barong tidak masuk dari luar hutan gelap, karena tempatnya tinggal di goa kaki bukit sebelah timur yang ada di dalam hutan gelap.
Aria yang di ikat di batang pohon, tak lama kemudian mendengar ada suara gerakan mendekat.
“Bagus Srikantil! Bau Siluman yang kau bawa kali ini sangat kuat,” ucap Singa Barong.
Tak lama kemudian di depan Aria sudah berdiri seorang pria paruh baya yang memiliki tubuh tak jauh berbeda dengan Aria, rambutnya terlihat mengembang seperti Wangsa dengan kulit wajah berwarna coklat gelap
Aria diam, tetapi matanya menatap tajam ke arah Aura besar yang ada di hadapannya.
“Tumben Srikantil membawa seorang siluman dengan bentuk manusia,” ucap Singa Barong.
Singa Barong melepaskan ikatan Aria, kemudian membawa Aria ke tempat tinggalnya di sebuah goa.
Di dalam goa yang lumayan besar, Singa Barong meletakan Aria di lantai goa, kemudian menatap seorang wanita paruh baya yang tampak terlihat lemah.
“Nyi! Aku mendapat siluman spesial yang bertubuh manusia,” ucap Singa Barong.
“Kakang! Kenapa kakang berbuat seperti ini? Tanya sang wanita.
“Aku ingin hidup lama Nyi, kalau tidak menghisab roh siluman, ajian tuku belis yang kumiliki akan sia-sia,” balas Singa Barong.
“Kau sudah di tipu oleh Siluman Bromo,” ucap Wanita yang tak lain adalah Nyi Kidung kencana.
“Dia memanfaatkan mu untuk menghabisi siluman yang tidak mau tunduk terhadapnya,” lanjut perkataan Nyi Kidung kencana.
“Perkataan wanita itu benar,”ucap Aria sambil bangkit, kemudian duduk di hadapan Singa Barong dan Nyi Kidung kencana.
Singa Barong sampai lompat mundur mendengar suara Aria dan melihat Aria bangkit lalu duduk di depannya.
__ADS_1
“Kau….kau ternyata sadar! Tidak terpengaruh oleh gamelan pemikat Arwah,” ucap Singa Barong.
“Benar! Kami akan membunuh mu dan membebaskan Kidung kencana,” balas Aria.
Mendengar Aria menyebut, kami, wajah Singa Barong berubah.
“Kau bersama berapa orang? Tanya Singa Barong sambil menatap tajam.
“Kau tak perlu tanya yang lain, karena aku sendiri sanggup membunuhmu,” jawab Aria dengan nada dingin.
Hmm!
“Kau terlalu percaya diri anak muda! Seru Singa Barong sambil tersenyum meremehkan Aria yang menurutnya biasa saja, hanya matanya saja yang aneh karena berwarna kuning ke emasan.
Aria melesat, lalu tangannya menghantam kepala Singa Barong.
Whut!
Singa Barong menangkis tamparan Aria.
Plak!
Tetapi Raut wajah Singa Barong terkejut setelah menangkis, Karena tangannya terasa panas dan sakit.
Singa Barong langsung lompat mundur, lalu meloloskan cemeti merah yang melilit di pinggangnya
Kidung kencana terkejut melihat Singa Barong meloloskan Cemeti badai api dari pinggang, karena Kidung kencana tahu, jika Singa Barong meloloskan Cemeti Badai api, itu tandanya musuh Singa barong sangat kuat.
“Siapa kisanak sebenarnya dan di mana muridku Srikantil? Tanya Kidung kencana.
“Muridmu bersama kawan-kawanku, pasti sekarang sedang mencari aku,” jawab Aria.
Apa yang dikatakan oleh Aria memang benar, setelah Wangsa menunggu lama di atas puncak pohon, tetapi tidak melihat Ada bayangan keluar masuk ke hutan gelap, sekarang sang Resi yakin tempat bersembunyi Singa Barong berada di dalam hutan gelap.
Wangsa lalu mengajak, Buto Ijo dan Srikantil menuju ke tempat di mana Aria di ikat.
“Tadi tuan Aria aku ikat di pohon ini,” ucap Srikantil dengan raut wajah cemas.
“Mana….mana Raden? Tanya Buto Ijo sambil tangannya meraih baju Srikantil, kemudian menariknya mendekat, saat sudah dekat, tangan Buto Ijo langsung menghantam kepala Srikantil.
Tap!
Hantaman Buto Ijo tertahan, setelah melihat tangannya di cekal oleh Wangsa.
“Tenang Jo! Adik ketiga bisa menjaga diri, kau jangan khawatir,” ucap Wangsa berusaha menenangkan Buto Ijo.
Perlahan urat tangan Buto Ijo mengendur, kemudian tangannya perlahan mulai turun setelah mendengar perkataan Wangsa, Cengkraman tangan di baju Srikantil di lepas.
Nguk….nguk!
Suara Suketi terdengar, tubuhnya lompat dari bahu Buto Ijo, kemudian Suketi mengendus endus di sekitar pohon dimana tadi Aria terikat, lalu menunjuk ke arah timur.
Suketi sambil berjalan ke timur, terus mengendus endus jalan yang tadi di lalui oleh Singa Barong.
Buto Ijo yang melihat tingkah Suketi yang sebentar sebentar mengendus, kemudian berlari, lalu berhenti dan mengendus kembali, keningnya berkerut, lalu bertanya kepada Wangsa.
“Wongso? Menurutku ada yang aneh pada Suketi,” bisik Buto Ijo.
“Apanya yang aneh? Tanya Wangsa.
“Coba kau lihat! Seru Buto Ijo sambil melihat hidung Suketi mengendus endus tanah, lalu berkata kepada Wangsa.
“Calon istriku ini, kera atau anjing ya?
__ADS_1