Iblis Buta

Iblis Buta
Cinta Berdarah


__ADS_3

Mpu Barada menatap tajam ke arah Sentanu yang di sebut cucu dari Resi Sapta Darma, resi yang di anggap suci dan jarang ikut campur dalam hal keduniawian.


“Apa Resi Sapta Darma tahu kelakuan cucunya? Tanya Mpu Barada.


“Itu bukan urusanmu,” jawab Ki Banyu Alas.


“Pasti si anak durhaka, Darmawangsa yang menitipkan anaknya,” lanjut perkataan Mpu Barada.


“Kau dapat imbalan apa mendidik Putra anak durhaka? Tanya Mpu Barada dengan nada mengejek.


“Hati-hati kau bicara orang tua! Seru Sentanu karena ayahnya terus di sebut anak durhaka, Sentanu tidak tahu tentang cerita ayahnya, karena ia dari kecil sudah bersama Ki Banyu Alas.


Ha Ha Ha


“Tidak perlu kau tahu imbalan apa yang aku dapat, tetapi satu hal yang pasti, senjata itu adalah milik Resi Sapta Darma,” Ki Banyu Alas menjawab perkataan Mpu Barada.


Raut wajah Ratu laut utara sedikit berubah mendengar kata senjata milik Resi Sapta Darma.


“Apa senjata yang dia maksud adalah tombak gading kencana, yang di buat dari tulang lembu kencana berasal dari tanah para dewa ( India ),” batin Ratu laut utara.


“Banyu Alas! Aku sudah tetapkan keputusan, jika kau mengganggu acara pernikahan Buwana Dewi, aku memang berjanji tidak akan membunuhmu walau apapun yang kau lakukan, tetapi aku bisa melumpuhkan kesaktianmu, sehingga orang lain bisa membunuhmu,” ratu laut utara berkata dengan nada dingin.


Ki Banyu Alas tertegun mendengar perkataan Ratu Laut utara, hatinya merasa gentar mendengar ucapan Ratu Laut utara, tetapi ia tidak mau pergi tanpa berbuat apa-apa.


“Baik, Aku akan pergi! Tetapi jika si Buta bisa mengalahkan aku, karena aku harus tahu putriku menikah dengan orang seperti apa, apa orang yang menikah dengan putriku sanggup melindungi Nya? Ki Banyu Alas berkata, karena ia berusaha memancing agar ia di beri kesempatan untuk bertempur dengan Aria Pilong.


Niatan dalam hati Ki Banyu Alas adalah membunuh Aria dalam pertempuran, sehingga pemuda itu tidak akan bisa menikahi Buwana Dewi.


“Kau memang licik, Banyu Alas! Aku tahu ada niat terselubung di dalam hatimu,” Ratu laut utara tahu maksud hati Ki Banyu Alas.


“Aku terima tantangannya,” Aria angkat bicara.


Menurut Aria, tantangan Ki Banyu Alas memang hal yang wajar, karena semua orang tua tidak ingin melihat anaknya hidup bersama orang yang tidak bisa melindungi.


“Bagus, aku suka dengan sipat ksatria yang kau miliki,” Ki Banyu Alas menjawab perkataan Aria.


“Tetapi pertempuran ini hanya untuk menguji, jangan sampai mengadu nyawa,” Mpu Barada ikut bicara, karena sang Mpu juga tahu maksud terselubung dari Ki Banyu Alas.


“Mari kita keluar, di sini kurang leluasa untuk bertarung,” Aria kembali berkata.


Karena jika bertarung di dalam istana, Aria takut Istana Tampak Siring hancur, akibat perkelahian mereka.


“Kenapa kakang mau bertarung dengan ayah? Biarkan saja, ayah tidak akan berani berbuat macam-macam, karena ada ibu di sini,” bisik Buwana Dewi setelah Aria menyanggupi akan bertarung dengan Ayahnya.


“Kau tenang saja, aku bisa jaga diri! Aria kemudian lanjut berkata, jika aku tidak menerima tantangan ini, aku tidak pantas menikahi mu,” Aria menjawab kekhawatiran Buwana Dewi.


Setelah sepakat, mereka yang berada di dalam istana langsung menuju alun-alun kerajaan Tampak Siring.


Setelah berada di Alun-alun kerajaan, tampak dua kubu yang berseberangan, di belakang Ki Banyu Alas, ada ribuan siluman yang ikut menyaksikan, begitupula dengan siluman dari kalimati dan gunung Kawi, berada di belakang kubu Aria.


Para siluman menanti, sambil menunggu perintah dari ketua mereka.


Buto Ijo terus menatap Sentanu dengan penuh kebencian, Buto Ijo tidak suka terhadap pemuda itu mendengar perkataan-perkataannya, ada niatan di hati Buto Ijo membunuh Sentanu jika ada kesempatan.


Sentanu setelah melihat kecantikan Buwana Dewi dan sepertinya mereka yang berkumpul segan terhadap nama besar kakeknya, semakin Jumawa.


Sentanu tidak suka Buwana Dewi di buat taruhan oleh gurunya, karena Sentanu yakin Buwana Dewi jika tidak di rebut paksa, akan lepas dari genggamannya.


Karena pertarungan antara Iblis buta dan gurunya, tidak bisa memastikan Buwana Dewi jatuh ke tangannya.


Kecantikan Buwana Dewi sudah melupakan segalanya dan membuat Sentanu gelap mata, kemudian bertindak sendiri dengan maju ke tengah alun-alun yang menjadi arena pertempuran.


“Apa yang kau lakukan!? Teriak Ki Banyu Alas melihat Sentanu melesat ke tengah Arena.


“Guru tenang saja, aku akan mewakili guru untuk membawa calon istriku ke Alas Purwo,” Jawab Sentanu.


“Nyai Ratu, karena Ratu sudah kenal dengan kakekku, dan Buwana Dewi juga sudah di jodohkan kepadaku oleh ayahnya, jadi aku merasa berhak atas pertempuran ini,” kali ini Sentanu berkata kepada Ratu Laut utara, nada bicara Sentanu terdengar sangat percaya diri.


“Lantas apa yang kau inginkan? Tanya Ratu laut utara dengan nada dingin.


“Jika Buwana Dewi ingin melepaskan tali perjodohan ini, ia harus bisa mengalahkan aku, jika Buwana Dewi kalah atau tak mau bertarung, maka Buwana Dewi harus mau ikut dan menikah denganku,” jawab Sentanu dengan nada percaya diri.


Sentanu mempunyai pemikiran seperti itu, karena ketika ia datang, Sentanu tidak melihat Buwana Dewi bertindak, gadis itu hanya diam.


Sentanu sangat yakin, Ia bisa menundukkan Buwana Dewi dan menikahinya.


Hmm!


“Sifatmu lebih mirip Darmawangsa daripada Resi Sapta Darma,” ucap Ratu Laut utara.


Buto Ijo sudah tidak tahan lagi melihat sikap dan mendengar perkataan Sentanu, tubuhnya melesat dan berdiri di depan Sentanu dan berkata.


“Tak usah Buwana Dewi turun tangan, biar aku saja yang menghadapi anak kerbau tidak tahu diri ini,” Buto Ijo berkata sambil menatap Sentanu.


“Aku tidak ada urusan dengan kau, lebih baik kau pergi saja dari hadapanku,” ucap Sentanu setelah melihat Buto Ijo berdiri di hadapannya.


“Kau sudah mengusik Raden, dan itu menjadi urusanku” balas Buto Ijo.

__ADS_1


“Mundur kau! Aku yang dia tantang,” setelah berkata, Buwana Dewi langsung melesat ke arah arena dan sampai tak jauh dari Buto Ijo.


Melihat tatapan Buwana Dewi, Buto Ijo tak banyak bicara, kemudian mulai meninggalkan Buwana Dewi Sendiri di tengah Arena berhadapan dengan Sentanu.


Sentanu tersenyum melihat Buwana Dewi berdiri di hadapannya.


“Lebih baik Dewi menyerah, agar tidak terluka dan kita bersama sama pergi ke Alas Purwo bersama dengan Guru,” ucap Sentanu.


Buwana Dewi tak menjawab perkataan Sentanu, tetapi tampak kemarahan gadis itu setelah melihat mata Buwana Dewi perlahan mulai berubah warna menjadi Biru.


Melihat mata Biru Buwana Dewi serta perubahan cuaca yang terjadi.


Buto Ijo langsung melesat ke dalam istana dan meninggalkan Wangsa.


“Mau kemana dia? Seperti sedang terburu-buru,” batin Wangsa, melihat Buto Ijo pergi begitu saja.


Tak lama kemudian Buto Ijo datang kembali, tetapi kali ini kedatangannya sambil menjinjing dua gentong air ber ukuran besar.


Buto Ijo menaruh kedua gentong air di sisi arena.


Buwana Dewi tersenyum melihat Buto Ijo membawa 2 gentong air.


“Tidak kusangka, orang yang kupikir tidak ber otak jika bertindak dan berkata semaunya, tetapi mengerti apa yang aku butuhkan,” Buwana Dewi merasa terharu melihat Buto Ijo, kemudian berkata.


“Terima kasih, Jo! Ucap Buwana Dewi sambil tersenyum haru.


“Tidak usah berterima kasih kepadaku, aku melakukan ini karena kau akan menjadi istri Raden,” ucap Buto Ijo, kemudian lanjut berkata dengan wajah serius.


“Tetapi ada satu permintaanku jika, Buwana Dewi berkenan,” Buto Ijo berkata.


“Katakan saja,” balas Buwana Dewi.


“Habisi anak kerbau itu! Kalau Buwana Dewi tidak tega, aku yang nanti akan membunuhnya,” Buto Ijo membalas perkataan Buwana Dewi.


Buwana Dewi tersenyum mendengar perkataan Buto Ijo, kemudian anggukan kepala.


Buto Ijo tersenyum melihat anggukan kepala Buwana Dewi, lalu kembali ke tempat Wangsa.


“Apa yang kau bawa, sangat membantu Buwana Dewi menghadapi Sentanu,” Wangsa berkata setelah Buto Ijo berada di sampingnya.


“Bagaimana kalau kita bertaruh? Aku bertaruh untuk Buwana Dewi,” ucap Buto Ijo.


Phuih!


Wangsa meludah mendengar perkataan Buto Ijo.


Sementara itu, Sentanu yang tidak mau berlama-lama karena berniat membawa Buwana Dewi secepatnya ke Alas Purwo.


Sentanu langsung menggunakan Ajian Rogo lembu, yang bisa mengubah kepalanya menjadi kepala Kerbau, serta meningkatkan tenaga dalam dan kecepatan Sentanu.


Sedangkan Buwana Dewi hanya tersenyum dingin melihat perubahan yang terjadi.


Sentanu melesat dengan kedua tangan berusaha memeluk tubuh Buwana Dewi.


Perlahan Buwana Dewi menghindari sambaran Sentanu dengan gemah gemulai layaknya seorang penari.


Ratu Laut utara tersenyum melihat Buwana Dewi.


Sementara itu Ki Banyu Alas tertegun, ia teringat akan Lasmi, Ki Banyu Alas seperti melihat sang istri yang sudah ia telantarkan, gerakan serta bentuk tubuh dan sebagian wajah Buwana Dewi sangat mirip dengan wanita yang sangat ia cintai, hanya karena tergiur oleh pusaka milik Ratu Laut utara dan mencurinya, Ki Banyu Alas harus kehilangan orang yang ia cintai.


Tanpa terasa melihat Buwana Dewi menari nari sambil menghindari sambaran Sang murid, mata Ki Banyu Alas berkaca-kaca.


“Lasmi! Seru Ki Banyu Alas dengan batin tersiksa.


“Kau lihat Banyu Alas! Aku memang mengajari semua kepandaian sama dengan mantan istrimu, agar kau bisa melihat dan menjadi siksa batin untukmu, karena kau sudah menyia-nyiakan kepercayaan orang yang kau cintai,” Ratu Laut utara berkata dalam hati dan tersenyum melihat pancaran kesedihan dari mata Ki Banyu Alas.


“Kutukan ku mulai terlihat.” Ucap Ratu Laut utara.


Sentanu terus berusaha menangkap Buwana Dewi dan melumpuhkannya, tetapi sampai saat ini, ia masih belum bisa menangkap, bahkan menyentuh pun tidak bisa.


Peluh mulai menetes dari kepala kerbau Sentanu, setelah tidak berhasil menangkap Buwana Dewi.


Sentanu mulai geram, karena Buwana Dewi hanya menghindar, tidak membalas serangannya dan terlihat seperti meremehkan.


Serangan Sentanu sudah tidak lagi untuk menangkap, tetapi mulai menyasar untuk melumpuhkan dan menyerang titik terlemah yang ada di tubuh Buwana Dewi, sambil sesekali menghantam lantai arena menggunakan Ajian gebrak bumi agar Buwana Dewi tidak bisa bergerak dan kakinya terkunci agar Sentanu bisa menangkap sang pujaan hati.


Tetapi Buwana Dewi tahu maksud Sentanu, karena Buwana Dewi pernah melihat ajian yang di pakai oleh Sentanu, sama seperti yang di pakai oleh Lembusora sewaktu hendak menangkapnya, setiap Sentanu menggebrak bumi, Buwana Dewi selalu melesat naik tidak menginjak lantai untuk menghindari ajian gebrak bumi.


Perlahan tubuh naik Buwana Dewi naik, setelah melihat Sentanu lompat sambil menggebrak lantai beberapa langkah dari belakang tubuh Buwana Dewi.


Setelah berada di udara, mata Buwana Dewi berubah menjadi biru dan air di dua gentong yang di bawa oleh Buto Ijo melesat keluar berbentuk seperti batang bambu yang lentur, batang Air yang di ciptakan oleh Buwana Dewi melesat kemudian berputar di sekitar tubuh Buwana Dewi yang berada di udara.


Raut wajah Sentanu berubah melihat ilmu yang di miliki oleh Buwana Dewi, sedangkan Ki Banyu Alas langsung teriak memberi peringatan kepada Sentanu.


“Sentanu, cepat pergi!? Teriak Ki Banyu Alas.


Tetapi Sentanu tidak mau mendengar peringatan dari sang guru, matanya berkilat dan perlahan otot di tubuhnya membesar begitupula dengan kekuatan yang di miliki oleh Sentanu menjadi bertambah berkali lipat.

__ADS_1


Sentanu berpikir, tidak mungkin Buwana Dewi bisa mempertahankan kekuatannya ketika berada di udara.


“Kekuatannya pasti terbagi, ini saat yang tepat untuk menyerangnya dengan ajian Rogo lembu tingkat akhir, aku pasti bisa,” batin Sentanu.


Tanpa mengindahkan peringatan gurunya, Sentanu melesat ke udara, tangan kiri mengibas ke arah Buwana Dewi.


Sinar biru mengandung angin panas dari ajian kilat Bayu, melesat menghantam ke arah Buwana Dewi.


Shing!


Senyum dingin terlihat di bibir Buwana Dewi, matanya tampak berkilat melihat serangan Sentanu.


Kedua telapak tangan Buwana Dewi berputar di depan dada, Batangan bambu yang terbuat dari air langsung berubah dan mengurung tubuh Buwana Dewi.


Blar!


Ajian kilat bayu menghantam pelindung air yang di ciptakan Buwana Dewi.


Percikan air terlihat setelah ajian Kilat Bayu menghantam air, tetapi ajian yang di lesatkan Sentanu tak bisa menembus pelindung air yang di ciptakan Buwana Dewi.


Kembali Sentanu di buat tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Sentanu melesat dan sampai di dekat Buwana Dewi, kepalan tinju berwarna merah mengandung ajian Lahar bumi yang di pelajari dari sang guru, langsung menghantam pelindung air milik Buwana Dewi.


Buwana Dewi menatap bengis ke arah Sentanu melihat pemuda itu meninju pelindung air yang ia ciptakan, telapak tangannya yang terbuka langsung mengepal dan di tarik, kemudian di silangkan depan dada.


Pelindung air ciptaan Buwana Dewi mengeras seperti kaca tembus pandang.


Ledakan keras terdengar saat ajian lahar bumi menghantam pelindung air milik Buwana Dewi.


Blam….Krak!


Raut wajah Sentanu berubah, Sentanu terkejut ketika melihat ajian Lahar bumi andalan gurunya tidak bisa menembus pelindung air milik sang pujaan hati, hanya membuat retak pelindung air milik Buwana Dewi.


Setelah tak berhasil menembus pelindung air milik Buwana Dewi, Sentanu lompat mundur dan turun ke lantai arena.


Melihat Sentanu mundur, tangan Buwana Dewi yang mengepal kembali terbuka, begitupula dengan pelindung air yang ia ciptakan berubah kembali menjadi seperti batang bambu lentur, setelah berputar di mengelilingi Buwana Dewi.


Dua batang bambu air melesat menyerang Sentanu.


Shing….Shing!


Sentanu lompat menghindar melihat bambu air mengantam kepala.


Blar!


Satu bambu air menghantam lantai arena, bambu air langsung mencair, kemudian setelah membuat basah lantai arena, air yang membasahi lantai arena berkumpul kembali dan membentuk batang bambu air baru, tetapi kali ini lebih kecil, dan sisanya air masih menggenang di lantai arena.


Sedangkan satu bambu air terus memburu Sentanu.


Sentanu terus bergerak menghindar dari kejaran ilmu aneh yang di miliki Sang pujaan hati.


Whut….Blar!


Kembali bambu air menghantam tempat kosong.


Sentanu mulai cemas, peluh semakin bercucuran dari kepala, kedua batang bambu air terus mengejarnya.


Setelah Sentanu menghindar dan sampai di lantai arena pertempuran, kakinya menginjak air yang menggenang di lantai arena.


Crep….Crep!


Sentanu terkejut ketika kedua kakinya di paksa menyatu oleh Air yang ia injak, saat air berubah menjadi gelang dan membelit kaki Sentanu.


“Celaka! Batin Sentanu tidak bisa bergerak, akibat kakinya di kunci oleh air yang di kuasai Buwana Dewi.


Mata Sentanu tampak sangat takut, melihat Bambu air yang melayang layang berubah bentuk menjadi seperti tombak tembus pandang, kedua tombak yang terbuat dari air melesat dan menghantam tubuh Sentanu tanpa dapat di hindari olehnya.


Ki Banyu Alas terkejut, ia hendak melesat menyelamatkan muridnya yang tak bisa menghindar.


Jeritan panjang terdengar, saat kedua tombak air menghantam kepala dan dada.


Blar….Blar!


Tubuh Sentanu terpental, dari mulutnya menyembur darah segar, kepala yang berbentuk kerbau kembali ke wujud semula, kepala pemuda berwajah tampan yang sangat ber ambisi menikahi Buwana Dewi.


Setelah terbanting ke lantai arena, tubuh Sentanu bergerak-gerak sebentar, dan akhirnya diam tak bergerak.


Ki Banyu Alas melesat ke tengah arena, lalu memeriksa nadi sang murid.


Setelah memeriksa nadi Sang murid, mata Ki Banyu Alas berubah sangat merah, karena menahan amarah setelah tahu muridnya tewas.


Ki Banyu alas kemudian mengangkat mayat Sentanu, kemudian berteriak kencang untuk melepaskan beban hati yang serasa menghimpit dadanya, ia tidak bisa bertindak karena yang membunuh sang murid adalah putrinya sendiri.


Setelah mengambil mayat sang murid, Ki Banyu Alas melesat pergi tanpa memperdulikan puluhan pasang mata yang terus mengawasi tindak tanduknya.


Ratu Laut utara tersenyum dingin melihat kepergian Ki Banyu Alas, dari bibir sang Ratu keluar suara pelan yang hanya bisa di dengan oleh Mpu Barada.

__ADS_1


“Siksaan Batin sudah di mulai.”


__ADS_2