Iblis Buta

Iblis Buta
Dendam Kedua Elang


__ADS_3

“Kenapa berhenti? Tanya Aria.


“Rombongan sedang melihat keramaian di atas istana Tampak Siring, sepertinya acara penyambutan kedatangan kita,” ucap Buto Ijo saat mendengar pertanyaan Aria.


Rombongan melanjutkan perjalanan, pemandangan langit di atas istana semakin tampak setelah rombongan semakin lama semakin dekat, suara kentongan juga tersebar di antara desa desa yang ada si sekitar istana.


“Celaka! Istana Tampak Siring di serang oleh Elang raksasa,” teriak I Gusti Wardana dengan nada cemas, melihat lima titik yang tadi tidak begitu jelas, sekarang baru terlihat.


“Cepat….kita harus cepat! Istana sedang di serang Teriak I Gusti Wardana, puluhan pengawal melesat mendahului, ketika mendengar teriakan panglima laut kerajaan Bali.


Saat panglima menggebrak kuda, kudanya hanya meringkik, tetapi tidak melangkah maju sedangkan kedua kaki belakang terus menendang.


I Gusti Wardana menoleh ke belakang, dan melihat Buto Ijo tengah memegang serta menarik buntut kuda yang tengah ia tunggangi.


“Lepaskan buntut kuda ku, kisanak! Seru I Gusti Wardana.


“Anak buahmu sudah pergi dan kau juga hendak menyusul, lalu siapa yang akan menjadi penunjuk jalan kami? Tanya Buto Ijo dengan nada dingin.


I Gusti Wardana anggukan kepala setelah menyadari kesalahannya, kemudian memimpin rombongan sambil matanya terus menatap ke arah langit, dimana terkadang burung Elang terlihat naik turun menyerang prajurit Bali.


200 prajurit pasukan panah serta 100 pasukan Tombak satupun belum ada yang bisa melukai kelima pasukan Elang, karena Pasukan Elang terbang di atas jangkauan para pemanah, tetapi pengendara Elang yang membawa busur serta anak panah, dengan leluasa membidik ke arah para prajurit Tampak Siring.


Formasi prajurit panah dan tombak mulai kocar kacir, karena terus di hujani oleh pasukan panah.


Elang jantan melihat puluhan kuda bergerak di jalan yang akan menuju istana Tampak Siring, memberi isyarat kepada salah satu penunggang Elang untuk menghabisi mereka yang baru saja datang.


Satu Elang raksasa meninggalkan barisan dan melesat ke arah puluhan penunggang kuda, yang tak lain anak buah panglima laut I Gusti Wardana.


Melihat satu Elang raksasa menuju ke arah mereka, puluhan penunggang kuda berhenti, kemudian mencabut senjata.


Beberapa prajurit bersenjata Tombak, langsung mengangkat tombak sambil menunggu Elang raksasa mendekat.


Whut….Shing!


Dua tombak melesat ke arah Elang raksasa.


Elang raksasa naik menghindari tombak prajurit I Gusti Wardana.


Setelah berhasil menghindar, dari atas Elang raksasa menukik, kemudian kedua kaki Elang menyambar dua penumpang kuda.


Crep….Crep!


Suara jerit ketakutan terdengar, ketika kedua prajurit di bawa oleh Elang, setelah berada di atas, Elang raksasa melepaskan cengkeramannya.


Brak….Brak!


Setelah membunuh kedua prajurit, Elang menukik kembali untuk menyambar.


Tombak melesat di lemparkan oleh prajurit, tetapi Elang yang sudah terlatih selalu berhasil menghindari lemparan Tombak.


“Cepat kembali ke tempat Panglima I Gusti Wardana, teriak salah seorang prajurit.


Sudah 6 orang menjadi korban sambaran Elang raksasa, nyali puluhan penunggang kuda langsung ciut dan memutar balik kuda-kuda mereka, kembali menuju ke tempat Panglima I Gusti Wardana.


Elang raksasa terus memburu, begitu pula dengan penunggang Elang menyerang dengan panah.


Shing….Crep!

__ADS_1


Seorang prajurit terjungkal dari kuda, ketika punggungnya tertembus panah penunggang Elang.


Puluhan prajurit terus memecut kuda-kuda mereka, sang kuda mengerti maksud dari penunggangnya karena kuda juga takut, karena nyawa mereka terancam oleh Elang raksasa.


Lari kuda seperti di kejar setan, Elang raksasa terkadang menyerang dari depan, sehingga puluhan prajurit berpencar, kemudian kembali berkumpul, jika terpisah jangan harap bisa hidup, karena Elang raksasa langsung menyambar.


Seorang prajurit setelah di cengkram, goloknya langsung menebas ke arah kaki Elang.


Trang!


Tetapi sisik Elang yang sudah berusia ratusan tahun layaknya lempengan besi, hanya mengandalkan tenaga luar walau golok sangat tajam, tidak akan mampu melukai kaki Elang raksasa.


Si Prajurit naas hanya bisa pasrah saat tubuhnya remuk di cengkeram oleh kaki Elang raksasa.


“Itu rombongan panglima! Seru Prajurit penunggang kuda, melihat Rombongan I Gusti Wardana keluar dari hutan bambu.


Semangat para prajurit timbul melihat panglima I Gusti Wardana.


“Kenapa kalian kembali? Tanya I Gusti Wardana.


“Saat mendekati istana kami di serang elang raksasa, hampir 20 orang tewas, Panglima,” jawab kepala Prajurit.


Phuih!


“Lagak mu seperti jago saja, lari untuk membantu dan kembali kesini sambil membawa masalah,” ucap Wangsa.


“Lanjutkan saja perjalanan, kita lihat! Elang itu akan melakukan apa terhadap kita,” Aria berkata dari dalam kereta kuda.


Wangsa langsung menggebrak kuda, melanjutkan perjalanan setelah mendengar perintah Sang ketua.


Belum jauh rombongan bergerak, tanpa di sangka-sangka, Elang melesat dari atas menyambar atap kereta kuda yang di tempati oleh Aria dan Buwana Dewi.


Brak!


Tangan Aria Pilong melesat ke atas, mendengar suara mendesing ke arah kepala, menangkap anak panah yang di lesatkan oleh penunggang Elang.


Tap!


Mata penunggang Elang melotot, setelah melihat anak panah yang ia lesatkan berhasil di tangkap.


Melihat tangan Aria bergerak, si penunggang menepak leher Elang, memberi isyarat agar Elang naik ke atas.


Shing….Crep!


Penunggang Elang langsung terjungkal dan jatuh dari punggung Elang, setelah kepalanya tertembus oleh panah yang di lesatkan Aria Pilong.


Pekik panjang terdengar dari mulut Elang, melihat penunggangnya jatuh dan Tewas.


Elang raksasa naik, kemudian berputar sebentar, lalu melesat cepat menuju kereta kuda.


“Elang itu menyerang kita, kakang,” ucap Buwana Dewi.


“Jadilah mataku,” balas Aria mendengar perkataan Buwana Dewi.


“Baik Kakang,” ucap Buwana Dewi.


Tangan kiri Aria memeluk pinggang Buwana Dewi, sedangkan tangan kanan memegang tongkat kayu cendana.

__ADS_1


Kaki Aria menjejak lantai kereta, tubuhnya bersama Buwana Dewi melesat naik dengan cepat, sebelum kaki Elang menghantam kereta kuda.


Brak!


Kereta kuda hancur terkena hantaman kaki Elang raksasa.


Kuda-kuda meringkik ketakutan sambil kedua kaki depan terangkat.


Panglima I Gusti Wardana serta yang lain berusaha menenangkan kuda yang ketakutan ketika melihat Elang raksasa menyerang.


“Kenapa kalian tidak membantu Tuan Aria? Tanya I Gusti Wardana kepada anak buah Aria.


“Kau pikir ketua kami butuh bantuan,” jawab Wangsa.


I Gusti Wardana langsung diam mendengar jawaban Wangsa.


Sang Penunggang dan Elang raksasa mempunyai hubungan yang erat layaknya sepasang sahabat, karena mereka latihan bersama dan saling menjaga satu sama lain.


Melihat penunggangnya Tewas, Elang raksasa sangat marah, dan kemarahan sang Elang di lampiaskan kepada orang yang sudah membunuh majikannya, yakni Aria Pilong.


Setelah berhasil menghantam kereta kuda, Elang raksasa bergerak naik.


“Melihat Aria melesat naik, Elang raksasa berputar kembali sambil matanya menatap tajam ke arah Aria.


Setelah memekik panjang, Elang melesat kembali menyerang Aria.


“Kakang! Arah kanan,” Buwana Dewi berkata.


Aria anggukan kepala mendengar perkataan, Buwana Dewi.


Paruh Elang semakin dekat dan siap menghancurkan tubuh Aria Pilong dan Buwana Dewi.


Suara jerit tertahan terdengar dari mulut para Prajurit melihat, Paruh Elang sudah sangat dekat dengan Aria yang Tengah berada di udara.


“Sepertinya tuan Aria sudah tak bisa menghindar,” batin I Gusti Wardana dengan raut wajah sedih sambil menatap Aria Pilong.


Sedangkan Wangsa dan Buto Ijo hanya tersenyum dingin, sedangkan Ujang Beurit tampak acuh, hanya Selamet yang siaga dengan Aji Halimun sambil tangannya memegang gagang keris pusaka Naga hitam, untuk mengantisipasi bila terjadi hal yang tak di inginkan.


Saat paruh Elang sudah dekat, tubuh Aria dan Buwana Dewi lenyap, karena Aria menggunakan Ajian Rogo Demit.


Setelah hilang, Aria muncul di samping badan Elang raksasa, tongkat Aria yang sudah di aliri Ajian Cakra candhikala, langsung menghantam ke arah dada Elang.


“Buk…..Blam!


Elang raksasa terlempar ke tanah setelah terkena hantaman tongkat yang sudah di aliri tenaga dalam tinggi dan ajian Cakra Candhikkala.


Kepala Elang bergoyang, kemudian berusaha bangkit, tetapi akhirnya rubuh kembali, karena beberapa tulang dadanya patah terkena hantaman tongkat Aria Pilong.


Suara pekik lirih terdengar dari mulut Elang Raksasa yang merasakan dadanya sakit.


Beberapa kali Elang raksasa mencoba bangkit, tetapi akhirnya rubuh kembali dan pasrah.


Setelah berhasil merobohkan Elang raksasa, Aria Pilong dan Buwan Dewi turun.


Semua mata prajurit tak berkedip melihat Aria hanya dalam beberapa kali gebrakan sanggup merubuhkan Elang raksasa.


Sedangkan Panglima laut I Gusti Wardana hanya bisa gelengkan kepala, seperti tak percaya melihat apa yang sudah terjadi di depan matanya.

__ADS_1


Wangsa melihat Raut wajah I Gusti Wardana, berkata saat sang panglima laut menatap ke arahnya.


“Sekarang kau baru percaya kalau ketua kami tidak butuh bantuan.”


__ADS_2