Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 49 : Ku Berikan Setengah Kekuatanku


__ADS_3

Aria menggeliat, ketika tangannya meraba kiri kanan, tidak ada Nyi Selasih di sampingnya, Aria bangun dan duduk di tempat tidur, selimut masih menyelimuti setengah tubuh Aria di bagian bawah.


“Nyi! Kamu di mana? Tanya Aria.


Perlahan Bayangan hijau terlihat, Nyi Selasih sudah kembali memakai pakaian kebaya hijau dengan mahkota di kepalanya.


“Aku disini Raden! Jawab Nyi Selasih, batin mereka yang sudah terikat membuat Aria bisa bebas kapan saja melihat Nyi Selasih.


“Tubuh ku lelah sekali,” ucap Aria.


“Tentu saja lelah! Raden semalam seperti kuda liar lepas dari kandang,” balas Nyi Selasih sambil tertunduk malu, Rona wajah Nyi Selasih perlahan memerah setelah berkata dan teringat apa yang dilakukan Aria terhadapnya.


Nyi Selasih melihat kening Aria yang mengeluarkan aura kuat dan sangat terasa oleh Nyi Selasih.


“Raden! Sebagian kekuatanku sudah berkurang dan pindah ke tubuh Raden, kali ini Raden jauh lebih kuat dari aku,” ucap Nyi Selasih.


“Jika melawan musuh tangguh, mungkin aku tak sanggup menghadapinya,”


“Aku akan menjagamu Nyi, karena kau sekarang adalah istriku,” balas Aria.


Nyi Selasih langsung memeluk tubuh Aria, kemudian mengecup kening Sang Suami, tanpa di ketahui oleh Aria, sinar hijau langsung menerangi kamar, setelah Nyi Selasih mengecup kening Aria.


Nyi Selasih membimbing Aria memakai pakaian.


“Sekarang Selasih sudah tidak berdiam dalam tongkat, tempat Selasih sekarang berada di dalam tubuh Raden.


“Kapanpun Raden membutuhkan Selasih, Selasih akan muncul,” setelah berkata, Nyi Selasih mengecup kening Aria, kemudian perlahan menghilang.


Aria menarik napas, kemudian mengambil tongkat kayu cendana yang sekarang kembali berubah warna menjadi coklat.


Suara ketukan ujung tongkat di lantai kamar Aria terdengar.


Pintu kamar terbuka.


Buto Ijo langsung menoleh.


Setelah menatap Aria, Buto Ijo tersenyum lalu memberi hormat.


“Apa ada yang mencari ku? Tanya Aria.


“Semua mencari Raden,” jawab Buto Ijo.


“Kakang! Seru Wulan melihat Aria berdiri di depan pintu kamar.


“Kakang sudah di tunggu oleh resi Sarpa kencana dan Tumenggung Wirabumi.”


Ucap Wulan setelah dekat dengan Aria.


“Kemana saja sih! Dari Kemarin, sampai sekarang, sudah tengah hari baru keluar kamar,” kembali Wulan berkata.


“Kemana tongkat kakang berwarna hijau?


“Anak kecil tidak perlu tahu,” ucap Buto Ijo.


Saat Wulan hendak berkata, jari Buto Ijo sudah menunjuk ke arah wajahnya.


Akhirnya Wulan membawa Aria ke tempat pertemuan.


Rara Ayu serta Kemuning, menatap Aria yang baru saja datang bersama Wulan dan Buto Ijo.


Ki Sarpa kencana anggukan kepala sambil tersenyum, sementara itu, Tumenggung Wirabumi dan yang lain terus menatap ke arah kening Aria.


“Ayeuna pasang susuk dina tarang, beuki we hese urang neangan awewe mun aya si eta gigireun,” ucap Sarka melihat kening Aria.


Aria tidak tahu, setelah ia menikah dan melakukan hubungan intim dengan istrinya, Nyi Selasih.

__ADS_1


Setengah kekuatan Nyi Selasih pindah ke tubuh Aria, kekuatan itu berkumpul dan membentuk sebutir mutiara kecil berwarna hijau, mutiara kecil itu berada diantara kedua alis Aria, sehingga menambah aura ketampanan serta wibawa Aria Pilong.


“Apa yang kalian lihat? Tanya Wulan setelah melihat mata orang-orang yang sedang menunggu Aria.


Wulan penasaran karena tidak ada yang menjawab pertanyaannya.


Gadis itu lalu melihat ke arah Aria.


“Kakang! Keningmu? Ucap Wulan.


“Ada apa dengan keningku? Aria balik bertanya, sambil keningnya berkerut.


“Kening kakang ada mutiara kecil berwarna hijau,” ucap Wulan.


Sebelum Aria menjawab, Buto Ijo mendorong punggung Wulan.


“Sudah-sudah! Siapkan kursi untuk Raden,” ucap Buto Ijo.


Wulan cemberut saat tubuhnya di dorong, tetapi akhirnya ia membawa Aria ke kursi yang sudah di sediakan.


“Bagaimana istirahatnya Raden? Tanya Resi Sarpa kencana.


“Sekarang lebih enak,” jawab Aria.


“Raden! Sayembara beberapa hari lagi akan di mulai, apa Raden ada rencana? Tanya Resi Sarpa kencana.


“Aku akan bekerja dari belakang bersama Buto Ijo,” ucap Aria.


Resi Sarpa kencana anggukan kepala, kemudian berkata kembali.


“Apa Raden akan ikut sayembara ini? Tanya resi Sarpa. “Jika Raden ikut, aku yakin Raden yang akan menjuarai sayembara ini,” lanjut ucapan resi Sarpa kencana.


“Benar Raden! Tumenggung Wirabumi ikut bicara.


“Raden bisa menjadi ketua pendekar kerajaan Kadiri,” lanjut perkataan Tumenggung Wirabumi.


Tumenggung Wirabumi menarik napas mendengar jawaban Aria.


“Apa tak ada calon dari kerajaan? Tanya Aria.


“Ada beberapa, salah satunya Senopati Aji gatra,” Tumenggung Wirabumi berkata.


“Orang sombong, mana mungkin bisa menang,” ucap Sarka.


Resi Sarpa kencana menarik napas mendengar perkataan Sarka, ia sadar, muridnya memang terkadang terlalu percaya diri dan besar kepala.


“Apa boleh aku mencalonkan seseorang? Tanya Aria.


“Silahkan! Jika Raden mempunyai teman atau saudara yang ber ilmu tinggi, daftarkan saja,” Resi Sarpa kencana berkata, dan ingin tahu siapa yang akan di calonkan oleh Aria.


Sarka tersenyum dan melirik ke arah Buto Ijo, karena Sarka yakin, Buto Ijo adalah orang yang akan di calonkan oleh Aria.


“Aku akan mencalonkan Sarka,” ucap Aria.


Sarka yang terus melirik ke arah Buto Ijo tidak mendengar perkataan Aria.


Tetapi Sarka langsung berkata setelah Aria bicara.


“Benar bukan,” ucap Sarka.


“Apa yang benar? Tanya Buto Ijo.


“Kau yang di calonkan oleh Raden,” jawab Sarka.


“Tuli,” dengus Buto Ijo.

__ADS_1


“Apa tidak salah Raden? Tanya Tumenggung Wirabumi.


“Tidak,” jawab Aria dengan nada pasti.


Wulan berbisik kepada Sarka.


“Kau di calonkan oleh kang Aria.”


“Apa!? Teriak Sarka sampai berdiri dari kursi, mendengar perkataan Wulan.


“Tidak….tidak! Jangan aku,” ucap Sarka.


Buto Ijo menyeringai.


“Ari menoleh ke arah Sarka saat mendengar teriakan pemuda itu, kemudian berkata dengan nada dingin.


“Kau takut?


“Aku bukannya takut, tetapi belum siap,” jawab Sarka.


Phuih!


“Apa bedanya,” ucap Buto Ijo, mendengar perkataan Sarka.


Sarka diam mendengar perkataan Buto Ijo.


“Sarka adalah calonku,” kembali Aria berkata.


Kali ini Sarka diam, tak membantah perkataan Aria.


“5 hari lagi sayembara akan dimulai, kau harus berlatih agar bisa menang,” Aria berkata kepada Sarka.


“Berlatih setiap hari juga percuma, tidak akan menang,” ucap Buto Ijo.


“Diam kau! Ucap Sarka sambil menunjuk Buto Ijo.


“Nanti kau lihat saja sendiri,” kembali Sarka berkata.


“Males,” jawab Buto Ijo.


“Aku selama lima hari ini bersama Buto Ijo akan keliling kota Daha untuk mencari tahu, apa musuh sudah mulai melakukan pergerakan,” Aria berkata.


Sebelum Wulan berkata, Aria mendahului.


“Wulan dan Kemuning diam di rumah Tumenggung Wirabumi.”


Kedua gadis itu langsung cemberut mendengar perkataan Aria, tetapi mereka tidak berani membantah perkataan pemuda itu.


Ketika tengah bercakap-cakap, tiba-tiba Aria merasakan hawa hangat mengalir dari kening dan menyebar ke seluruh tubuh.


“Hawa apa ini? terasa hangat dan membuat seluruh tubuhku segar,” batin Aria.


Tanpa sadar Aria terus menyerap hawa dari keningnya dan mengalirkan hawa tersebut ke seluruh tubuh.


Tumenggung Wirabumi, Resi Sarpa kencana, Sarka, serta orang yang berada di sekitar Aria terkejut, dan terus melihat ke arah pemuda itu.


Mereka melihat tubuh Aria perlahan mulai di selimuti kabut berwarna hijau, semakin lama kabut yang mengelilingi tubuh Aria semakin banyak.


Kabut hijau perlahan lenyap, begitu pula dengan Aria yang kini sudah tidak ada di kursinya.


Para gadis berteriak, Tumenggung Wirabumi berdiri dari kursi, sedangkan Sarka saking terkejutnya, karena ia terus memperhatikan Aria, lalu tiba-tiba menghilang dari hadapannya, Sarka sampai jatuh dari kursi.


Hanya Buto Ijo yang tidak terkejut melihat Aria menghilangkan.


Buto Ijo sambil menyeringai, melihat ke arah kursi dimana Aria menghilang, dari bibirnya keluar suara pelan.

__ADS_1


“Ajian Rogo Demit.”.


__ADS_2