
“Jangan terlalu jumawa anak muda! Patih Argobumi berkata dengan nada dingin, setelah mendengar perkataan Aria.
Aria tak mau menunggu setelah mendengar suara patih Argobumi, tubuhnya langsung melesat, sambil tongkatnya menyabet ke arah dada.
Trang!
Suara nyaring layaknya besi beradu terdengar, ketika tongkat Aria menghantam Gada bumi.
Patih Argobumi setelah menangkis, senjata gada miliknya balik menyerang dari atas, berusaha menghantam kepala Aria Pilong.
Aria tancapkan tongkatnya ke tanah, dengan menekan tongkat, tubuh Aria langsung melesat mundur menghindari serangan gada bumi milik sang patih.
Blar!
Tanah serta kerikil berhamburan, debu mengepul ke atas, tampak lobang sebesar perut kerbau terlihat, akibat terkena hantaman pusaka gada bumi saat tidak menemui sasaran.
Setelah mundur, Aria kembali menyerang, kali ini tongkatnya menusuk ke arah dada patih Argobumi.
Sang patih melihat tubuh Aria melesat, sambil tongkatnya menusuk ke arah dada.
Tangan kanan yang memegang gada turun, kemudian pusaka gada bumi menghantam tongkat Aria dari bawah.
Whut….Trang!
Tongkat kayu cendana bergetar kencang, Aria berusaha kuat memegang tongkatnya agar tidak terlepas, akibat hantaman gada bumi.
Tubuh Aria melesat naik sambil berputar, berusaha meredakan getaran tongkat yang ia pegang, setelah getaran mereda, Aria dari atas hantamkan tangan kirinya ke arah Patih Argobumi.
Ajian Mawageni melesat menyerang Patih Argobumi.
Blam!
Ledakan keras terdengar saat ajian Mawageni menghantam gada bumi yang di pakai menangkis.
Aria lompat sambil salto ke belakang, setelah Ajian Mawageni berhasil di tangkis, begitupula dengan patih Argobumi yang mundur saat gadanya berhasil menahan serangan Aria Pilong.
“Hebat sekali senjata yang ia pakai, bisa untuk bertahan dan balas menyerang,” Aria berkata dalam hati.
Begitu pula dengan Patih Argobumi, “benar-benar hebat, masih muda sudah mempunyai kemampuan yang mempuni, pantas saja para pejabat Kahuripan banyak yang tewas di tangannya, belum lagi dengan tongkat yang ia gunakan, sepertinya tongkat itu dari kayu, seperti gada pusaka yang aku miliki,” patih Argobumi berkata dalam hati, sang patih memang heran, karena sudah beberapa kali beradu tetapi tongkat yang di pegang Aria tidak hancur.
Setelah keduanya diam dengan pikiran masing-masing, mereka tampak bersiap kembali untuk menyerang.
Aria menghilang dengan Ajian Rogodemit, setelah berada di belakang patih Argobumi, tongkat kayu cendana menghantam ke arah kepala patih Argobumi.
Patih Argobumi angkat gada bumi ke atas kepala menangkis serangan Aria.
Trang!
Benturan keras terjadi, tongkat Aria terpental ke atas karena kalah berat dan besar daripada pusaka gada bumi.
Aria setelah tongkatnya terpental, tangan kiri menghantam ke arah perut Argobumi dengan ajian Mawageni.
__ADS_1
Blar!
Keduanya kembali mundur, setelah Patih Argobumi menangkis serangan Aria.
Aria tancapkan tongkat di depannya, kemudian tangan kiri Aria menghantam bumi, ajian Rengkah gunung melesat melalui Sukma Aria, memburu ke arah patih Argobumi.
Argobumi terkejut melihat bayangan putih menuju ke arahnya, pusaka gada bumi langsung di putar oleh sang patih untuk melindungi tubuhnya dari serangan mahluk putih yang keluar dari tubuh Aria.
Blar!
Patih Argobumi mundur selangkah ke belakang, raut wajah Prabu Argobumi terkejut saat menerima hantaman ajian Rengkah gunung.
Patih Argobumi kerahkan tenaga dalam ke arah gada pusaka, kemudian gada di hantamkan ke arah tanah dengan ajian gempur bumi.
Blar!
Suara menggelegar terdengar, retakan tanah terlihat bergerak menuju ke arah Aria.
“Awas kakang! Seru Buwana Dewi dengan nada cemas.
Aria mundur dua langkah, berusaha menghindari serangan patih Argobumi.
Tetapi pergerakan tanah terus mengikuti Aria.
Setelah mundur, ajian musuh masih saja bergerak ke arahnya.
Tangan kanan dengan ajian Rengkah gunung kembali menghantam tanah.
Blam!
Gada kembali di putar untuk menahan ajian Rengkah gunung.
Blam….Blam!
Dua ledakan terdengar.
Tubuh Aria terpental setelah merasakan dari bawah tanah seperti ada tenaga besar yang menghantam tubuhnya.
Begitu pula dengan patih Argobumi, sama terpental karena tidak kuat menahan Aji Rengkah gunung, dengan kekuatan berlipat yang keluar dari tangan kanan Aria Pilong.
Keduanya langsung bangkit setelah sama-sama terpental
Dari bibir masing-masing lelehkan darah segar, tanda keduanya terluka dalam, tetapi luka dalam yang di derita Aria Pilong langsung sembuh, karena memiliki ajian Pancasona.
Raut wajah Argobumi berubah setelah melihat gada pusaka miliknya retak di dua tempat, akibat di pakai menangkis ajian Rengkah gunung Aria Pilong.
Argobumi angkat kepalanya sambil menatap langit dan berkata dalam hati, setelah melihat gada yang ia andalkan selama ini retak oleh Aria Pilong.
“Aku kalah,” patih Argobumi berkata dalam hati.
Setelah berpikir tindakan apa yang harus di lakukan dan menetapkan hati, patih tua itu langsung menyiapkan diri untuk serangan terakhir.
__ADS_1
Tetapi kerut di kening sang patih terlihat setelah melihat Aria melangkah santai, sambil mengambil tongkatnya yang tertancap di tanah, kemudian berkata
“Sudahlah! Kita hentikan pertarungan ini,”
“Aku belum kalah,” ucap Patih Argobumi dengan nada dingin, setelah mendengar perkataan Aria.
Phuih!
“Belum kalah? Tanya Buto Ijo sambil tersenyum penuh ejekan.
“Kau sadar diri, tidak? Lanjut pertanyaan Buto Ijo.
Aria angkat tangannya memberi isyarat kepada Buto Ijo agar diam.
Aria tahu biarpun patih Argobumi sudah kalah, dia tidak akan mau menjadi anak buahnya, karena seorang pejabat kerajaan sudah di sumpah setia hanya kepada rajanya, jika ia menyalahi aturan yang ada, maka keluar Argobumi yang akan menerima imbasnya, mereka akan di buru dan di cap sebagai Penghianat oleh kerajaan.
“Patih Argobumi! Jagad Buwana tidak pernah membunuh orang tanpa alasan.
“Semua yang kulakukan adalah untuk membantu rakyat, mungkin kau pernah mendengar cerita dari orangmu.
“Aku tidak hanya membunuh pejabat dari kerajaan Kahuripan, bahkan pejabat kerajaan Kadiri sudah ada yang kubunuh, Karena aku membunuh tidak melihat latar belakang kerajaan orang itu, tetapi tingkah laku dan perbuatan orang tersebut yang menjadi bahan pertimbanganku untuk membunuhnya,” Aria berkata.
Patih Argobumi menarik napas mendengar perkataan Aria, karena yang di katakan oleh pemuda itu benar.
“Setelah kembali ke Kahuripan aku akan menjelaskan kepada Prabu Mapanji Garasakan, tentang hal ini.
“Kalau aku tidak menjabat di kerajaan, aku memang tertarik masuk bergabung dengan Jagad Buwana, tetapi sekarang hal itu tidak mungkin,” ucap Patih Argobumi.
“Aku mengerti, Patih! Kau tenang saja, Jagad Buwana tidak pernah memaksa orang untuk bergabung,” balas Aria.
“Aku dengar Prabu Mapanji Garasakan merencanakan akan menyerang Kadiri, Apa benar? Tanya Aria.
“Memang benar apa yang Ketua katakan, tetapi rencana Prabu di tentang oleh para pejabat tua, karena para pejabat berpikir, Kahuripan dan Kadiri adalah satu kesatuan, karena mereka berasal dari darah yang sama.
“Tetapi para pejabat muda menginginkan perang, mereka mengompori baginda Prabu dengan alasan, pembagian wilayah yang tidak adil oleh Prabu Airlangga,” jawab patih Argobumi.
“Jadi di Kahuripan ada dua kubu, pejabat tua yang tidak ingin perang, dengan pejabat muda yang inginkan perang? Tanya Aria.
“Benar! Tetapi keputusan tetap berada di tangan Prabu Mapanji Garasakan, aku lihat baginda Prabu masih bingung menentukan sikap, menyerang atau tidak.
“Kahuripan mempunyai orang yang mempuni tetapi kalah jumlah, begitu pula dengan Kadiri, jadi kalau di pikir kekuatan antar 2 kerajaan berimbang,” jawab Patih Argobumi.
“Patih Argobumi! Sekarang kita berteman dan aku hanya ingin memberi saran kepadamu dan Prabu Mapanji Garasakan.
“Perang hanya ambisi segelintir orang, tetapi akibat dari perang itu sendiri banyak rakyat dari kedua belah pihak di rugikan.
“Jika raja Kahuripan memaksakan kehendaknya untuk berperang, hanya untuk memuaskan ambisi pribadi semata, aku hanya ingin memberi saran kepada Raja Kahuripan agar berhati-hati,” Aria Pilong berkata.
“Berhati hati terhadap apa saudara Aria? Tanya patih Argobumi.
Aria menjawab pertanyaan Patih Argobumi dengan nada penuh penekanan
__ADS_1
“Berhati hati agar ia menjaga nyawanya, karena suatu saat aku akan datang untuk membunuhnya.”