Iblis Buta

Iblis Buta
Pengorbanan Suketi


__ADS_3

“Dedemit Alas Purwo ? Tanya Aria sambil keningnya berkerut.


“Benar! Kerajaan Mahluk halus yang tertua di Jawa adalah Penguasa Alas Purwo.


“Lebih baik kau bergabung dengan kami!


Sebab kalau tidak, Kau akan menyesal,” jawab Elang jantan dengan nada penuh ancaman.


Aria tak membalas perkataan Elang jantan.


Karena Aria tengah bertanya kepada Nyi selasih, tentang kebenaran apa yang di katakan oleh Elang jantan kepada sang Istri.


Dan perkataan Elang emas di benarkan oleh Nyi Selasih, dahulu karena kekejamannya, penguasa alas Purwo di segel oleh Lanang Jagad, setelah bersama-sama dengan kelima penjaga, berhasil menaklukkan penguasa Alas Purwo.


Melihat Aria tak menghiraukan perkataannya, raut wajah Elang jantan tampak kelam.


“Kau dengar tidak perkataanku? Tanya Elang jantan setengah teriak.


“Aku tidak tuli,” jawab Buto Ijo yang baru saja sampai.


“Memangnya aku bicara denganmu? Tanya Elang jantan.


Plak!


Tanpa di sadari oleh Elang jantan, wajahnya terkena kacang kulit, yang di lempar oleh Suketi.


“Bangsat, Dasar siluman kera ku bunuh kau! Ucap Elang jantan.


Sambil tangannya menyambar ke arah Suketi yang berada di bahu Buto Ijo.


Tap!


Buto ijo menangkap tangan Elang jantan yang hendak menyambar ke arah Suketi.


Satu bayangan melesat dari tenda padepokan Elang emas, Elang betina melihat tangan suaminya di cekal oleh Buto ijo, tangannya langsung menghantam ke arah pinggang.


Plak!


Tapi tangan Elang betina yang hendak membokong Buto ijo, di tangkis oleh tongkat Aria.


“Mau apa kau? Tanya Aria dengan nada dingin.


Elang betina setelah tangannya berhasil di tangkis, kemudian lompat mundur.


Elang jantan berhasil melepaskan tangannya, setelah menghantam dada Buto ijo.


Buk!


Buto ijo terhuyung, setelah dadanya terkena hantaman Elang Jantan.


“Kalasrenggi! Aku ingin menantang Sepasang Elang kampret ini,” ucap Buto Ijo dengan nada tinggi, setelah dadanya terkena tinju Elang Jantan.


“Hanya ketua yang bisa menantang Ketua, kau tidak berhak,” balas Kalasrenggi.


Phuih!


“Kenapa tidak berhak? Dia boleh memukul, kenapa aku tidak boleh? Tanya Buto Ijo.


“Karena kau bukan ketua,” balas Kalasrenggi.


Tetapi bukan Buto Ijo namanya kalau mau menuruti perkataan orang, selain Aria Pilong.


Buto Ijo langsung melesat ke arah Elang jantan, kepalannya langsung menghantam ke arah wajah.


Elang jantan geser tubuhnya sehingga tinju Buto Ijo lewat di samping kepalanya.


Whut!


Elang betina melihat suaminya di serang, tangannya melempar jarum emas yang tadi menembus tubuh Resi Larang tapa.


Shing….Crep!


Suketi melempar kacang tanah yang menjadi makanan cemilan nya ke arah jarum emas Elang betina, jarum emas jatuh setelah menancap di kacang tanah yang di pakai Suketi untuk menangkis.


Geraman gusar keluar dari mulut kera kecil itu, setelah melihat Buto Ijo di bokong oleh Elang betina.


Perlahan tubuh Suketi membesar, mata Suketi merah menatap ke arah Elang betina, geraman marah terdengar dari mulut Suketi.


Hi Hi Hi


“Siluman kera! Apa kau tak sayang dengan nyawamu? Tanya Elang betina.


“Kau yang siluman! Bisanya hanya menyerang dari belakang, tidak tahu malu,” ucap Buto Ijo.


“Tutup mulutmu! Ucap Elang jantan mendengar istrinya di sebut siluman, sambil menghantam Ke arah kepala Buto Ijo, tetapi kali ini tongkat Aria menangkis tangan Elang jantan.


Plak!


Setelah berhasil menangkis, tongkat Aria menyambar ke arah kaki Elang jantan.


Elang jantan rentangkan kedua tangan, layaknya sayap Elang, tubuhnya melesat naik menghindari serangan tongkat Aria.


Setelah berada di atas, Elang jantan turun kedua tangannya menyambar ke arah Kepala Aria, tetapi sebelum tangan Elang jantan mengenai kepala Aria, Buto Ijo yang berada dekat dengan tubuh Elang Jantan, Langsung menendang pinggang musuhnya.


Buk!


Elang jantan terpental terkena tendangan Buto Ijo, sang istri melesat ke arah suaminya, kemudian bertanya.

__ADS_1


“Kau tidak apa-apa? Tanya Elang betina.


“Hanya tendangan tanpa tenaga, mana mungkin bisa mencelakai aku,” jawab Elang Jantan.


“Kalasrenggi! Apa Di bolehkan mengeroyok? Tanya Elang betina sambil tersenyum mengejek.


Ha Ha Ha


“Perempuan sundal! Bukankah suami mu si Elang kampret telah menantang semua padepokan.


“Tadi kau juga diam-diam melemparkan senjata rahasia jarum emas kepadaku, Elang busuk,” ucap Buto Ijo dengan nada kesal.


“Aria Pilong! Aku tantang anak buahmu untuk berhadapan dengan kami,” Elang betina berkata sambil menunjuk ke arah Buto Ijo.


“Dua lawan dua! Apa kau akan mengijinkan? Tanya Elang betina.


“Kau langkahi dulu mayatku,” jawab Aria dengan nada dingin.


Ha Ha Ha


“Ketua Jagad Buwana memang hebat, selalu berusaha melindungi anak buahnya agar tidak tewas,” Elang jantan berkata dengan senyum mengejek.


“Memangnya kau bisa membunuhku? Tanya Buto Ijo.


Ha Ha Ha


“Jangankan kau, ketuamu saja bisa ku habisi sekalian,” ucap Elang jantan dengan penuh kesombongan.


Suara dengan nada dingin keluar dari mulut Aria mendengar perkataan Elang jantan.


“Buto Ijo! Kau bunuh dia, tetapi jangan bunuh istrinya.”


Ha Ha Ha


Suara tertawa keluar dari mulut Elang jantan mendengar perkataan Aria.


“Ketua sangat yakin sekali, anak buah ketua yang berkulit hijau bisa membunuhku? Tanya Elang jantan sambil menatap Aria.


“Kalau Buto Ijo sampai kalah oleh mu, aku akan mengundurkan diri dari dunia persilatan dan Jagad Buwana akan aku bubarkan,” jawab Aria dengan nada dingin.


“Ketua! Apa ketua yakin dengan perkataan ketua? Tanya Kalasrenggi


“Aku yakin dengan perkataanku, jika aku tak percaya dengan kemampuan anak buahku, aku tak pantas menjadi ketua,” jawab Aria.


Kalasrenggi menarik napas, kemudian menatap ke arah Elang Jantan dengan sorot mata tajam.


“Kau dengar perkataan ketua Jagad Buwana? Dan kau, ucap Kalasrenggi sambil menunjuk ke arah Elang betina, kembali ke tenda Elang emas, biar Elang Jantan dan Buto Ijo yang bertempur di arena, “tetapi ingat! Jika kau hendak berbuat curang, lebih baik kau pikir kembali,” lanjut perkataan Kalasrenggi dengan nada penuh ancaman.


“Ketua Kalasrenggi tidak usah khawatir, kalau sampai dia curang, aku sendiri yang akan membunuhnya,” Aria ikut bicara.


“Suketi! Mari kita saksikan dari tenda, ucap Aria.


Yang lain juga balik ke tenda masing-masing.


Kini yang tersisa di arena hanya Buto Ijo dan Elang jantan.


Hmm!


“Sungguh memalukan! Ucap Buto Ijo sambil gelengkan kepala.


“Apa yang memalukan? Tanya Elang jantan.


“Masa Raden menyuruh aku melawan Burung, kalau aku menang, pasti menjadi bahan ejekan, kalau aku kalah….sepertinya tidak mungkin,” Jawab Buto Ijo.


“Bangsat! Ucap Elang jantan sambil melesat ke arah Buto Ijo.


Telapak Elang Jantan menghantam ke arah dada, Buto Ijo mendorong tangannya, untuk menahan serangan Elang jantan.


Blam!


Keduanya mundur, tetapi Buto Ijo selangkah mundur lebih jauh daripada Elang jantan, tanda tenaga dalamnya masih kalah oleh ketua padepokan Elang Emas.


Keduanya sama-sama tersenyum, Elang jantan tersenyum karena merasa menang, sedangkan Buto Ijo tersenyum, karena ia sudah bisa mengukur tenaga dalam musuhnya.


Keduanya kembali bergerak menyerang.


Elang jantan, kedua tangannya menyambar ke arah kepala serta dada Buto Ijo.


Buto Ijo tidak menghindari serangan ke arah dada, karena yakin akan kekuatan tubuhnya, dengan memancing musuh dengan tubuh, agar ia bisa membalas pukulan musuh adalah hal yang biasa di lakukan oleh Buto Ijo.


Tangan kiri berusaha melindungi kepala dari hantaman tangan Elang Jantan.


Plak….Bret!


Tangan kanan Elang jantan yang mengarah kepala berhasil di tangkis, sementara itu sambaran tangan kiri Elang jantan yang mengarah dada, dengan telak menghantam Buto ijo.


Tetapi Elang jantan terkejut, karena sambaran tangannnya seperti menghantam karet, sehingga tangannya sehabis memukul langsung membal dan kesempatan itu tak di sia-siakan oleh Buto ijo.


Tangan kanan Buto ijo bergerak cepat menghantam ke arah pinggang Elang jantan.


Buk!


Elang jantan terpental, setelah pinggangnya terkena hantaman Buto ijo.


Suara sorak langsung menggema dari tenda Jagad Buwana setelah, Buto ijo berhasil membuat Elang Jantan terpental.


Wajah Elang jantan berubah kelam setelah tubuhnya terpental terkena hantaman Buto Ijo.

__ADS_1


Elang Jantan setelah terpental langsung berdiri, lalu tangannya mengambil jarum kecil dari balik baju, setelah merapalkan ajian pusaka Jarum emas.


Jarum kecil yang di pegang oleh Elang jantan perlahan berubah menjadi besar, layaknya tongkat berujung runcing.


Bhua Ha Ha Ha


“Baru sekali kena pukul langsung mengeluarkan senjata, kau takut mati, ya? Tanya Buto ijo mengejek Elang jantan.


“Aku bukannya takut mati, tapi ingin membunuhmu lebih cepat,” jawab Elang jantan dengan nada penuh ancaman.


“Apa kau mampu? Tanya Buto Ijo.


Elang jantan tidak menjawab, tubuhnya langsung melesat, sambil jarum emas di putar menimbulkan angin menderu berwarna ke emasan.


Elang jantan menyabetkan jarum yang sudah berubah menjadi tongkat ke arah dada Buto Ijo.


Buto Ijo mundur dua langkah ke belakang, menghindari sabetan Elang Jantan, setelah berhasil menghindar, Buto Ijo lari ke arah kiri, kemudian tangannya menghantam pinggang kiri sang Elang.


Jarum tongkat emas Elang jantan, menghantam ke arah lengan kiri Buto Ijo.


Buto Ijo tarik serangan tangan, lalu tubuhnya bergeser, kemudian kakinya menendang perut Elang jantan.


Melihat serangan Buto Ijo, tangan kiri Elang jantan menepis kaki Buto Ijo.


Plak!


Jarum tongkat emas Elang Jantan, balas menusuk ke arah pinggang.


Buto Ijo sedikit menggeser tubuhnya.


Jarum tongkat emas tanpa di hindari oleh Buto Ijo langsung menusuk ke pinggang kiri.


Crep!


Mampus!


Teriak Elang jantan melihat jarum emasnya berhasil menusuk sisi pinggang Buto Ijo.


Setelah tertusuk pusaka jarum tongkat emas, Buto Ijo terkejut, karena tenaga dalamnya seperti ambyar.


Tangan kiri langsung memegang batang tongkat emas, kemudian tangan kanan langsung menghantam ke arah kepala Elang jantan.


Plak!


Elang jantan terhuyung mundur dua langkah, tubuhnya langsung ambruk ke lantai arena, setelah terkena pukulan Buto Ijo, tetapi Elang jantan selamat, karena akibat tusukan pusaka Jarum tongkat emas tenaga dalam Buto Ijo ambyar, sehingga memukul kepala Elang jantan tanpa di aliri tenaga dalam, tetapi ajian Brajamusti tetap berpengaruh terhadap Elang jantan sehingga ia jatuh tersungkur.


Elang betina melihat pasangannya tersungkur, diam-diam mengambil sebatang jarum emas, kemudian melemparkan ke arah Buto Ijo.


Buto Ijo yang jatuh terduduk, setelah berhasil menghantam kepala elang jantan.


Hanya bisa diam melihat sinar emas melesat ke arahnya.


Suketi yang terus memperhatikan Elang betina, langsung melesat ke arah sang kekasih saat melihat jarum emas milik Elang betina melesat ke arah kepala Buto


Crep!


Jarum emas yang di lepaskan oleh Elang betina, langsung menancap di dada Suketi.


Suketi langsung tersungkur di depan Buto Ijo.


Buto Ijo sangat terkejut.


“Suketi….Suketi!? Teriak Buto Ijo.


Saat Suketi tidak juga menjawab.


Suara teriakan Buto Ijo mengelegar.


Perlahan Buto Ijo menaruh tubuh Suketi.


Buto Ijo berdiri, air mata bercucuran membasahi wajah Buto Ijo.


Sang raksasa berkulit hijau lalu merenggut kalung batu hijau, pusaka pemberian sang ayah.


Buto Ijo dengan sekuat tenaga meremas batu hijau tersebut.


Masih teringat pesan sang ayah ketika mereka bertemu di gunung Kelud, “jangan kau pakai batu naga hijau, jika tidak dalam keadaan genting.”


Setelah batu hijau hancur, matahari di gunung Bromo meredup, langit mendadak gelap, angin hitam tampak ber arak, petir saling sambar dan bersahutan, seakan ikut meratapi kesedihan yang di alami oleh Buto Ijo.


Ctar….Ctar!


Kilat menyambar lantai arena, membuat lantai arena berlubang dan mengepulkan asap.


Perlahan kedua tangan, kedua kaki dan kepala Buto Ijo, seperti di tarik masuk ke dalam tubuh.


Setelah semua berada di dalam tubuh, badan Buto Ijo terus memanjang, dari bagian kepala, keluar kabut hijau yang terus menyelimuti Arena pertempuran, membuat Arena pertempuran tertutup.


Tak lama kemudian kabut hijau perlahan menipis, tubuh Buto Ijo lenyap dari Arena.


Kini yang berada di arena, Elang jantan bersama se ekor naga hijau yang sangat besar, mata sang naga tampak menyeramkan menatap ke arah Elang betina.


Mulut sang Naga terbuka, memperlihatkan taring panjang serta Lidah sang naga yang bercabang dua, tengah menjulur ke arah Elang betina.


Kalasrenggi menatap tajam ke arah Arena, kemudian menarik napas panjang sambil berkata dalam hati.


“Ibunya adalah manusia, sedangkan Ayahnya adalah Naga hijau, sekarang baru terjawab, kenapa perawakannya seperti raksasa ( Buto )

__ADS_1


“Rupanya Buto Ijo adalah titisan Batara Kala”


__ADS_2