Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 59 : Sedih Hati Aria Pilong


__ADS_3

Jauh Di luar kota Daha, di pinggir hutan kecil, Aria duduk sambil termenung.


Di depan Aria berbagai macam buah-buah an yang berhasil di petik Buto Ijo belum juga di sentuh oleh Aria.


“Raden tidak makan buah? Tanya Buto Ijo.


“Aku tidak lapar,” jawab Aria.


Perlahan Nyi Selasih muncul dan duduk di samping Aria.


“Raden pasti sedang memikirkan Wulan dan Sarka? Nyi Selasih berkata.


“Benar Nyi! Pikiranku terus ingat Wulan dan Sarka,” balas Aria.


Nyi Selasih menarik napas, mendengar perkataan Aria.


“Itu hal yang wajar suamiku! Wulan sudah bersama kita beberapa waktu dan sudah dianggap adik, kemudian Sarka! Tentu saja Raden merasa kehilangan,” ucap Nyi Selasih.


Aria anggukan kepala mendengar perkataan Selasih.


“Perasaan ku cemas, kalau Sarka ikut sayembara,” Aria berkata.


“Panglima Sanjaya tidak mungkin diam jika Sarka dalam bahaya,” balas Nyi Selasih sambil memegang tangan Aria.


Aria balik memegang tangan Nyi Selasih, sambil tersenyum.


“Terima kasih Nyi! Kau sudah menenangkan hatiku,” ucap Aria, kemudian mencium pipi istrinya.


“Ih! Raden tidak malu sama Buto Ijo? Tanya Nyi Selasih.


Mendengar perkataan Nyi Selasih, Aria bertanya kepada Buto Ijo.


“Kau lihat tidak? Tanya Aria.


“Saat ini sedang buta,” jawab Buto Ijo sambil memakan buah yang ia petik.


“Nah! Kau dengar bukan,” ucap Aria sambil mencolek hidung Nyi Selasih.


“Raden sama pembantunya, sama saja,” ucap Nyi Selasih sambil tertawa.


“Istriku! Apa ilmu Rogo Demit bisa membawa kita ke tempat yang jauh? Tanya Aria.


Hmm!


“Pandai merayu! Pasti di ujung ada mau nya,” ucap Nyi Selasih mendengar perkataan Aria.


“Raden ingin kembali ke Daha? Tanya Nyi Selasih.


“Aku hanya ingin tahu apa kedua adikku baik-baik saja,” jawab Aria.


“Buto Ijo! Kau tahu siapa adik yang di maksud oleh majikanmu ini? Tanya Nyi Selasih.


“Tentu saja tahu,” jawab Buto Ijo.


“Coba kau sebut, adik yang di maksud oleh Raden? Kembali Nyi Selasih berkata.


“Rara Ayu dan Kemuning! Jawab Buto Ijo.


Plak!


Satu buah pisang masak melayang ke arah kepala Buto Ijo, dilempar Aria setelah mendengar perkataan Buto Ijo.


Hmm!


“Jadi itu? Tanya Nyi Selasih.


“Jangan dengar perkataan Buto Ijo, Nyi,” Aria berkata.


“Buto Ijo tak pernah berkata bohong,” ucap Nyi Selasih, kali ini nadanya sedikit berbeda, hatinya cemburu.


“Kau bilang apa tadi? Cepat katakan,” Aria bicara, sambil tangan kanan memegang satu tandan buah pisang, siap di lemparkan ke arah Buto Ijo.

__ADS_1


“Raden kangen sama Wulan dan Sarka,” ucap Buto Ijo melihat Aria sudah memegang bonggol tandan pisang.


“Dan? Tanya Nyi Selasih sambil menatap ke arah Buto Ijo.


Tanpa sadar setelah Nyi Selasih berkata, “Dan”


Buto Ijo langsung menyambung perkataan Nyi Selasih.


“Dan Rara Ayu, Kemuning, satu lagi Sekar Arum,” Ucap Buto Ijo.


“Keparat! Aria berkata, tangannya langsung melempar pisang satu tandan.


Buto Ijo miringkan kepala, melihat satu tandan buah pisang melayang ke arahnya.


Nyi Selasih yang tadinya cemburu, sekarang malah tertawa melihat tingkah Buto Ijo serta Suaminya.


“Bisa saja Raden kembali ke Daha! Tetapi semakin jauh tempat yang ingin kita datangi, semakin banyak pula tenaga dalam yang di perlukan untuk mewujudkan perpindahan.” Ucap Nyi Selasih.


“Apa benar yang Nyi Selasih katakan? Tanya Aria.


“Kenapa Aku harus membohongi suamiku sendiri,” lanjut perkataan Nyi Selasih, Tetapi hanya dengan tenagaku, aku tidak sanggup memindahkan kalian berdua.


“Berdua? Tanya Aria Pilong, sambil kerutkan keningnya, mendengar perkataan sang istri.


“Memangnya Buto Ijo mau di tinggal pergi oleh majikannya? Nyi Selasih balik bertanya.


“Tidak mau! Harus ikut,” Buto Ijo yang menjawab perkataan Nyi Selasih.


“Nah! Dengar bukan? Tanya Nyi selasih sambil tersenyum.


“Jikalau di tambah dengan tenagaku, apa bisa sampai? Tanya Aria.


“Bisa! Tetapi aku yang tidak mengijinkan,” Nyi Selasih lanjutkan perkataannya, “Kalau Raden ikut menyumbang tenaga.


“Setelah sampai Daha, tenaga kita berdua bisa hilang selama beberpa hari, jika ada musuh, apa yang harus kita lakukan? Tanya Nyi Selasih.


Aria diam mendengar perkataan Nyi Selasih, raut wajah Aria tampak sedih, mendengar perkataan Nyi Selasih.


“Kalung batu hijau yang di pakai oleh Buto Ijo mengandung kekuatan ghaib yang bisa kita gunakan untuk membantu menambah jarak jangkauan ajian Rogo Demit.


Buto Ijo langsung memegang kalungnya, mendengar perkataan Nyi Selasih.


Aria tersenyum, “tidak usah Nyi, aku takut nanti terjadi apa-apa terhadap Nyi Selasih,” jawab Aria melihat raut wajah Nyi Selasih yang terlihat sedih.


Mendengar cerita dan membahas tentan Wulan dan Sarka membuat hati Aria lebih tenang, sekarang baru perutnya terasa lapar.


“Mana buahnya aku lapar? Tanya Aria.


Buto ijo langsung berdiri mendengar perkataan Aria, “aduh….aduh! Perutku mulas ingin buang air dulu,” Buto ijo berkata sambil cepat pergi masuk ke dalam hutan.


Setelah Buto Ijo pergi, baru Nyi Selasih berkata.


“Buah….mana buah? Hanya tinggal kulitnya saja berserakan, semua sudah habis di sikat oleh Buto Ijo.”


Hmm!


Suara dengusan keluar dari hidung Aria, sambil menoleh ke arah suara langkah kaki Buto ijo, yang masih terdengar olehnya.


Sedangkan Nyi Selasih melirik ke arah sang suami, walaupun tersenyum, tetapi raut kesedihan masih terlihat.


“Suami tenang saja, aku akan memenuhi permintaan mu walau berat,” Nyi selasih berkata dalam hati


***


Sarka bersiap setelah melihat Lowo Ireng mulai pasang kuda-kuda dan hendak menyerang.


Lowo Ireng tubuhnya lompat setelah berada di atas dan berdiri di udara, kedua tangannya terkembang, berkat baju khusus Lowo Ireng yang bisa membuatnya seperti bisa terbang dan bertahan lama diam di udara, oleh sebab kepandaian dan baju khusus ini yang membuat Lowo ireng mendapat julukan kelelawar hitam.


Sarka terus menatap ke arah Lowo Ireng yang berdiri di udara.


Whut!

__ADS_1


Lowo Ireng melesat, menyambar kepala Sarka dari atas.


Sarka dengan tangan kiri menangkis serangan Lowo Ireng.


Plak!


Setelah menangkis, Sarka menyabetkan kujang macan putih ke arah kaki Lowo ireng.


Melihat musuhnya menyerang, Lowo ireng mundur, setelah mundur dan berhasil menghindar, Lowo Ireng kembali menyerang, kali ini kakinya menendang kepala Sarka.


Sarka langsung berguling di lantai arena menghindari tendangan Lowo ireng, Sarka tidak mau menangkis tendangan Lowo Ireng, karena tadi sewaktu menangkis sambaran Lowo ireng tangannya terasa kesemutan, tanda bahwa tenaga dalamnya masih berada di bawah Lowo ireng.


Melihat musuhnya berguling menjauh, Lowo Ireng merogoh kantong kecil yang berada di pinggang, kemudian tangannya melempar 3 batang paku kecil berwarna hitam.


Shing….Shing….Shing!


Suara tertahan terdengar dari ratusan penonton melihat Lowo Ireng melemparkan senjata rahasia.


Curang….licik….curang….pengecut! Terdengar teriak makian dan ejekan dari para penonton, tetapi Lowo Ireng tidak peduli.


Sarka melihat tiga sinar hitam melesat, kemudian menyabetkan kujang pusaka macan putih.


Tring….tring!


Setelah berhasil menangkis dua senjata rahasia dengan kujang, Sarka kemudian melentingkan tubuhnya menghindari serangan satu paku yang tidak berhasil ia tangkis.


Crep!


Paku menancap di lantai arena, di sekitar paku yang menancap, tampak racun berwarna hitam menyebar.


Wulan berdiri melihat paku beracun milik Lowo ireng, kemudian berteriak.


“Awas kakang! Racun di senjata rahasianya sangat keji,” teriak Wulan.


Kemuning yang tidak jauh dari Wulan matanya terus mencari keberadaan Aria, pertandingan tidak menarik buat Kemuning, Kemuning sedih setelah mendapat kabar Aria melanjutkan perjalanan ke gunung Semeru.


Sarka terus menghindar sambil terkadang menangkis serangan paku beracun milik Lowo Ireng dengan kujangnya.


Panglima Sanjaya menahan napas, begitu pula dengan Sekar melihat Sarka terus menghindar dan tak bisa balik menyerang, karena Lowo Ireng yang tengah berada di udara.


“Dasar kampret sial! Kalau begini terus aku bisa celaka,” batin Sarka sambil terus menghindar, karena Lowo Ireng terus menghujani dirinya dengan senjata rahasia.


Kaki kanan Sarka menginjak lantai arena, tubuhnya langsung melesat ke atas, menuju ke arah Lowo Ireng.


Kujang pusaka macan putih menebas ke arah perut Lowo Ireng yang tengah berdiri di udara.


Lowo Ireng menyeringai, melihat musuhnya mulai terpancing dan bergerak naik, karena memang ini yang sedang di tunggu oleh Lowo Ireng.


Lowo Ireng mundur menghidari tebasan kujang Sarka, Lowo Ireng berputar di udara mengelilingi Sarka, yang perlahan tubuhnya mulai turun, Lowo Ireng dengan cepat menghantam dada Sarka, Sarka berusaha menghindar tetapi ia kalah cepat dan bahunya terkena hantaman tinju Lowo Ireng.


Buk!


Sarka langsung terhempas ke lantai Arena.


Panglima Sanjaya melihat putranya terkena pukulan, langsung berdiri.


“Kenapa panglima Sanjaya berdiri? Memangnya siapa pemuda itu, sehingga menarik perhatian panglima Sanjaya,” Senopati Singalodra bertanya-tanya dalam hati.


Lowo Ireng tersenyum penuh kemenangan melihat Sarka terlentang di lantai arena sambil memegangi bahu.


Wulan hendak bergerak ingin membantu sang kekasih, tetapi langkahnya terhenti, saat Mendengar teriakan tertahan dari para penonton.


Lowo Ireng yang hendak menyerang, tiba-tiba merasakan tubuhnya terasa berat, dan tubuhnya yang tengah berada di udara, perlahan turun.


“Eh…eh ada apa! Kenapa tubuh ku berat sekali,” batin Lowo Ireng.


Lowo Ireng belum sadar, saat ini kakinya tengah di pegang oleh seorang manusia bertubuh raksasa bertubuh hijau, tangan kiri tengah memegang satu tandan pisang masak, sementara tangan kanan, memegang erat kaki kiri Lowo Ireng.


Manusia bertubuh raksasa yang tak lain Buto Ijo bersama Aria Pilong menggunakan ajian Rogo Demit di bantu oleh Nyi Selasih, ketika melesat dan menghilang, Buto Ijo sangat takut, tangan kanannya lalu menyambar apa saja yang bisa ia raih, dan saat hendak sampai, Tangan Buto Ijo berhasil meraih yang tanpa ia sadari adalah kaki Lowo Ireng.


Buto Ijo memegang erat pergelangan kaki Lowo Ireng, karena takut jatuh, dari mulut Buto Ijo terus menggerutu.

__ADS_1


“Bangsat! kenapa batang pohon yang aku pegang bergerak-gerak?


__ADS_2