
“Apa maksud Resi dengan Nyi Ratu ada di sini? Tanya Tumenggung Wirabumi.
“Tumenggung tidak akan mengerti dengan apa yang aku ucapkan, tapi satu hal yang pasti! Jika Tumenggung bisa meminta pertolongan kepada orang-orang itu! Ucap Resi Sarpa kencana sambil menunjuk ke arah rombongan Aria.
“Aku bisa memastikan, masalah yang terjadi hari ini akan bisa di atasi,” ucap Resi Sarpa kencana.
Mendengar perkataan Resi Sarpa kencana, Tumenggung Wirabumi dan Rara Ayu saling pandang.
Tanpa di perintah oleh sang ayah, Rara Ayu langsung menghampiri ke arah rombongan Aria.
Walau takut terhadap ular, tetapi Rara Ayu tidak peduli, setelah dekat dan berada di luar penjagaan ular-ular ghaib panggilan Resi Sarpa kencana, Rara Ayu sujud di depan Aria, lalu berkata.
“Mohon Raden mau membantu kami yang terkena fitnah dan terancam akan di bunuh oleh orang-orang serakah yang tidak tahu diri.”
Rara Ayu terus sujud, karena Aria belum berkata.
Buto Ijo, Sarka serta Wulan yang berkumpul di sekeliling Aria setelah melihat ular-ular dengan berbagai bentuk dan warna, seperti mengurung mereka tak menjawab perkataan Rara Ayu, karena mereka sibuk mengawasi ular yang takutnya akan mematuk mereka.
Aria tidak kaget dengan kedatangan ular-ular itu, karena Nyi Selasih sudah berkata bahwa ular-ular itu termasuk bawahan Aria, yang kini menjadi raja lelembut bangsa siluman ular.
Aria setelah mendengar perkataan Rara Ayu, dan tahu gadis itu masih bersujud kemudian berkata.
“Seorang tuan putri jangan bersujud di depan rakyatnya, apa tidak malu di lihat oleh orang? Tanya Aria.
“Rara Ayu tidak peduli apa perkataan orang, asalkan keluarga Wirabumi bisa selamat, Rara Ayu akan melakukan apa saja,” jawab gadis itu.
Sebelum Aria menjawab, terdengar suara Sarka mendahului.
“Kau mau menjadi istriku? Tanya Sarka.
Rara Ayu mendengar perkataan Sarka tak bisa menjawab.
“Kalau kau mau menjadi suaminya, kau lawan saja musuh Tumenggung Wirabumi,” ucap Buto Ijo membalas perkataan Sarka.
“Mana aku mampu melawan mereka semua,” balas Sarka.
“Lantas apa maumu? Tanya Buto Ijo.
“Kalian bantu aku lawan mereka, agar aku bisa menikah sama Rara Ayu,” jawab Sarka.
Phuih!
“Kami yang bersimbah darah, tapi kau yang menikah! Kau pikir kami goblok, kenal juga tidak denganmu, untuk apa taruh nyawa buat orang yang tidak di kenal,” ucap Buto Ijo dengan nada gusar.
“Putri Rara hentikan sujudmu itu, kami tak pantas menerimanya,” kembali Aria berkata.
Mendengar perkataan Aria, Rara Ayu, matanya tampak berkaca-kaca, gadis itu berusaha menahan air mata agar tidak tumpah.
Melihat kejadian yang tidak jauh darinya, Tongkat sakti tertawa.
Ha Ha Ha
“Baru sekarang aku lihat seorang putri sujud di depan rombongan pengemis,” tongkat sakti tertawa terbahak-bahak setelah berkata.
Aria langsung berdiri mendengar perkataan Tongkat sakti, wajah pemuda itu tampak kelam, ketika melangkah ke arah Rara, Sarka yang berada di depan dan menghalangi langkahnya, pinggulnya terkena tendangan Aria.
Plak!
Setelah menendang, baru Aria berkata.
“Minggir kau!
“Teu Raden te budakna sok main tajong ae bujur,” gerutu Sarka yang terkena tendangan Aria.
Tongkat Aria meraba-raba jalan di depannya, saat tongkatnya menyentuh Rara Ayu, Aria membungkuk lalu menarik bahu Rara Ayu, agar gadis itu berdiri.
__ADS_1
“Kau duduk dengan yang lain,” ucap Aria kepada Rara Ayu, sambil diam-diam Aria terus mendengarkan suara Tongkat sakti
Tongkat sakti masih terus tertawa melihat Aria.
Dengan ilmu Bayu samparan, Aria melesat sambil tongkatnya menyabet ke arah perut Tongkat sakti, dengan jurus tongkat Seda gitik.
Tongkat sakti terkejut, kemudian menangkis dengan memalangkan tongkatnya di depan dada.
Trang!
Tangan Tongkat sakti bergetar dan terasa panas menahan hantaman tongkat Aria.
Jurus tongkat Seda gitik yang unik setelah di tangkis, pergelangan tangan Aria bergerak dan tongkat melesat ke kanan lalu meluncur cepat ke arah leher tanpa dapat di antisipasi oleh Tongkat sakti.
Crep!
Ujung tongkat Aria tanpa dapat di tahan menembus leher Tongkat sakti.
Mata Tongkat sakti melotot seperti tak percaya, dari mulutnya seperti hendak berkata tapi tongkat yang menembus leher seperti menghalangi suaranya yang hendak keluar.
Tongkat sakti hanya bisa menatap Aria dengan perasaan takut.
“Suara tawamu yang membuat kau mampus! Ucap Aria dengan nada dingin, setelah berkata, Aria mencabut tongkat yang menembus leher Tongkat sakti.
Darah langsung menyembur dari leher Tongkat sakti yang bolong, tubuhnya tersungkur dan langsung tewas.
Raut wajah Tumenggung Adiguna, Bargo serta kedua orang lainnya terkejut melihat Aria dalam dua gebrakan bisa membuat Tongkat sakti tewas.
Tampak senyum terlihat di bibir Wirabumi dan Rara Ayu yang kini duduk bersama Wulan, sedangkan Resi Sarpa kencana anggukan kepala dan berkata dalam hati.
“Siapa pemuda itu? sampai Nyi Ratu mau diam di dalam tongkat yang dia pegang,” batin Resi Sarpa kencana.
Tumenggung Adiguna angkat tangan memberi isyarat kepada ketiga pendekar yang ia bawa untuk mengepung Aria.
Bargo, Tinju maut serta Pendekar mata satu setelah mendapat isyarat dari Tumenggung Adiguna langsung mengurung Aria.
“Aku Tumenggung Adiguna mengajak saudara untuk bergabung, jika saudara bergabung denganku, apapun permintaan saudara akan aku kabulkan,” lanjut perkataan Tumenggung Adiguna.
“Baik aku akan bergabung dengan Tumenggung, tetapi Tumenggung harus mengabulkan permintaanku,” balas Aria.
Wulan, Rara Ayu, serta Sarka terkejut mendengar balasan Aria, begitu pula dengan Wirabumi dan Resi Sarpa, hanya Buto ijo yang wajahnya terlihat biasa saja mendengar perkataan Aria.
“Katakan….katakan saja pendekar, jangan sungkan,” ucap Tumenggung Adiguna sambil tersenyum.
“Lepaskan jabatan Tumenggung dan ikut denganku,” Aria berkata sambil tersenyum dingin.
“Keparat! Kau hendak mempermainkan aku,” balas Tumenggung Adiguna, dengan raut wajah kelam.
Rara Ayu, Wulan serta Sarka tersenyum lega mendengar perkataan Aria.
Sarka menoel pinggang Buto ijo.
“Jo! Kau tidak membantu Raden? Tanya Sarka.
“Kau pikir Raden perlu bantuanku,” jawab Buto ijo.
Sarka kerutkan kening mendengar perkataan Buto ijo, karena Sarka tahu, anak buah Tumenggung Adiguna yang datang bukan pendekar sembarangan.
“Apa benar pemuda buta itu sangat hebat, sehingga tidak butuh bantuan,” batin Sarka.
“Serang!? Teriak Tumenggung Adiguna dengan wajah gusar.
Tinju maut langsung melayangkan tinjunya ke arah dada Aria, sedangkan Pendekar mata satu menyerang dari samping menebas dengan pedangnya ke arah pinggang, Bargo menggunakan senjata sepasang rahang kerbau, menghantam ke arah punggung Aria.
Aria mendapat serangan dari berbagai arah, tubuhnya berputar sambil tongkatnya menangkis serangan Bargo dan pendekar mata satu, sementara Tinju maut tarik serangan, karena tak mau tangannya terkena hantaman.
__ADS_1
Trang….Trang!
Setelah berhasil menangkis serangan, Aria bergerak ke arah Tinju maut, kemudian telapak kiri yang sudah di aliri Aji mawa geni melesat menghantam ke arah dada Tinju maut.
Hmm!
“Aku ingin tahu setinggi apa tenaga dalammu,” batin Tinju maut sambil membalas dengan meninju telapak kiri Aria.
Blar….Hoooaks!
Tinju maut terpental dan dadanya terasa panas setelah beradu pukulan dengan Aria, pendekar dari daerah utara itu langsung duduk bersila, berusaha mengobati luka dalam yang ia derita.
Sementara Aria setelah berhasil membuat terpental Tinju maut, langsung tundukkan kepala, karena merasakan angin dingin menyambar ke arah kepala.
Setelah berhasil menghindari serangan Bargo, tongkat Aria berputar dan menyambar kaki Bargo.
Bargo lompat menghindari serangan, setelah lompat, Bargo menyerang dari atas, sepasang rahang kerbau menghantam kepala Aria dari atas dengan kekuatan penuh.
Aria tahu dari suara angin yang keluar, ia tidak akan kuat menahan hantaman senjata musuh, tubuhnya bergulingan di tanah menghindari hantaman sepasang senjata berbentuk aneh milik Bargo.
Blar!
Sepasang rahang kerbau menghantam tanah dan menimbulkan lubang besar, debu beterbangan di sekitar tempat mereka bertempur.
Pendekar Mata satu berputar mengelilingi Aria, berusaha mencari kesempatan untuk menyerang.
Melihat Aria berguling di tanah menghindari serangan Bargo, pendekar Mata satu lompat ke arah Aria sambil menusukkan pedangnya.
Aria melentingkan tubuhnya, saat merasakan sambaran pedang pendekar Mata satu.
“Bangsat! Matanya buta, tetapi serangan-serangan kami bisa dia hindari,” batin Pendekar Mata satu, setelah pedangnya tidak mengenai sasaran.
Aria setelah berhasil menghindar sambil melentingkan tubuhnya, tongkat kayu cendana melesat lurus mengincar kepala pendekar Mata satu.
Pendekar utara terkejut, dengan posisi sulit, tetapi musuh masih bisa menyerang, pedangnya kemudian bergerak menebas tongkat Aria.
Trang!
Tongkat Aria terpental ke bawah dan tepat berada diantara dua kaki pendekar Mata satu saat terkena tebasan pedang, tetapi setelah berada di bawah, tongkat Aria tidak diam, dengan cepat tongkatnya bergerak ke kiri dan kanan menghantam kaki pendekar Mata satu, hal yang sangat tak di sangka oleh sang pendekar.
Krak….Krak!
Suara patahan kaki terdengar saat tongkat Aria menghantam kedua kaki musuhnya.
Jerit kesakitan terdengar dari mulut pendekar Matu satu saat kedua kakinya patah terkena hantaman tongkat, tubuhnya langsung tersungkur.
Tinju maut hendak berdiri, tetapi posisinya sewaktu duduk membelakangi Buto Ijo.
Buto Ijo mengambil batu yang berada banyak di sekitarnya.
Kemudian Buto Ijo dengan sekuat tenaga melemparkan batu se kepalan tangan ke arah kepala Tinju maut.
Batu melesat dengan sangat cepat ke arah belakang kepala Tinju maut.
Whut….Prak!
Tinju maut yang hendak berdiri langsung tersungkur setelah belakang kepalanya pecah terkena lemparan batu Buto Ijo.
Sarka menoleh ke arah Buto Ijo, “apa yang kau lakukan? Tanya Sarka.
Buto ijo menjawab tanpa menoleh ke arah Sarka.
“Dia sudah terluka dalam dan harus banyak istirahat, apa salah aku membantu, agar orang itu bisa istirahat?
Sarka kerutkan kening mendengar perkataan Buto Ijo, dalam hatinya berkata.
__ADS_1
“Istirahat naon kehed! Modar we nu aya.”