Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 66 : Siapa Pemimpin kalian?


__ADS_3

Phuih!


“Terkadang jika mendengar Bacot mu itu, ingin rasanya ku sumpal dengan kotoran kerbau,” ucap Wangsa mendengar perkataan Buto Ijo.


“Kau mau bertaruh denganku? Tanya Buto Ijo sambil menatap tajam setelah mendengar perkataan Wangsa.


Wangsa langsung diam mendengar perkataan dan melihat tatapan serius Buto Ijo.


Keluarga Kemala hidup berkecukupan dan mempunyai kekayaan berlimpah, karena mereka yang mengelola semua hasil bumi dari gunung Kelud, para penduduk yang bercocok tanam, pemburu serta tabib yang mengumpulkan kulit binatang serta bahan obat yang di dapat dari gunung Kelud, semua di tampung dan di beli oleh keluarga Kemala.


Setelah semuanya terkumpul, kemudian orang-orang keluarga Kemala menjual hasil bumi ke kota dan mendapat keuntungan berlipat ganda.


Dahulu keluarga Kemala sangat di segani karena kehebatan mereka, ilmu yang di wariskan secara turun temurun sangat hebat, tetapi semakin bertambahnya waktu dan kemampuan dari anggota keluarga untuk mempelajari ilmu semakin berkurang, banyak ilmu hebat yang tidak berhasil di pelajari dan lenyap begitu saja.


Pranaya baru saja di angkat menjadi kepala keluarga kemala setelah ayahnya meninggal, tetapi baru saja menjadi kepala keluarga, sudah ada gerombolan yang berusaha mengambil alih.


Gadis muda yang tadi memarahi Aria, menarik baju sang bibi, sambil menunjuk ke arah Aria.


“Sudah….sudah, kenapa kau urusi mereka, coba kau lihat! Makanan banyak yang terbuang, karena penduduk takut terhadap gerombolan Buto Ijo,” balas bibi si gadis.


Usia keduanya tidak jauh berbeda, mereka berdua cukup di kenal di wilayah gunung Kelud dan di beri gelar, Sepasang Kemala hijau.


Sang bibi bernama Andini sedangkan keponakannya bernama Andira, keduanya mempunyai ilmu yang lumayan tinggi, karena di didik langsung oleh kepala keluarga terdahulu, Ayah Andini yang belum lama meninggal dunia.


Si kakek terus membacan mantra agar Naga hijau memperlihatkan diri, tetapi tidak ada hasil.


“Tadi sesaji sudah di ambil, tetapi kenapa eyang penunggu telaga Kelud masih juga tidak mau muncul,” batin kakek yang menjadi juru kunci bertanya-tanya dalam hati.


“Kau sanggup tidak memanggil Naga hijau? Tanya orang yang memakai topeng hitam.


“Tadi….tadi kalian liat sendiri, eyang Naga hijau mengambil sesaji,” ucap Si kakek.


“Pranaya! Kau bawa semua keluarga mu, dan tinggalkan gunung Kelud, jika ingin selamat.” Orang bertopeng berkata setelah mendengar perkataan si kakek.


“Langkahi dulu mayat kami! Jika kalian ingin menghancurkan keluarga Kemala,” ucap Andini sambil mencabut pedang, melihat sang bibi mencabut pedang, Andira juga ikut mencabut pedang.


Ha Ha Ha


“Mayat kalian tidak pantas untuk di langkahi, tetapi bagusnya sebelum jadi mayat kalian di tiduri,” salah seorang pria bertopeng berkata, sambil tertawa.


“Dasar lelaki bajul! Teriak Andini, pedangnya menusuk ke arah leher pria bertopeng yang tadi bicara.


Pria bertopeng menghindari tusukan pedang Andini, setelah berhasil menghindar, kemudian tubuhnya sedikit bergerak ke samping, lalu tangannya berusaha menangkap pinggang Andini.


Saat tangannya hendak sampai, tiba-tiba terdengar suara raungan kencang.


Pria yang mencoba merangkul pinggang Andini menjerit, sambil mundur.


Tampak pergelangan tangannya sudah putus terkena tebasan pedang Andira.


Hmm!


“Rupanya kalian sudah tidak bisa di beri hati,” ucap si pemimpin, melihat seorang anak buahnya terkena tebasan pedang Andira.


Pranaya memberi isyarat kepada anggota keluarga Kemala, agar bersiap.


“Tunggu dulu! Sebelum kalian bertempur, aku ingin bertanya, siapa pemimpin kalian? Tanya Aria.

__ADS_1


Pranaya, serta pria bertopeng, menoleh ke arah Aria serta kedua orang di sampingnya yang memakai caping, keduanya tampak heran dan baru menyadari ke hadiran kelompok lain, selain dari mereka.


“Apa kau orang-orang keluarga Kemala? Tanya pria bertopeng.


“Kami bukan keluarga Kemala, hanya perantau yang ikut menumpang makan di sini,” jawab Aria.


“Kalau kalian bukan orang daerah sini, aku beri kesempatan kalian untuk pergi sebelum aku berubah pikiran,” pria bertopeng membalas perkataan Aria.


“Kau belum jawab pertanyaanku, siapa pemimpin kalian? Tanya Aria.


“Pemimpin ku adalah Buto Ijo, orang nomor satu di dunia hitam, penguasa 3 gunung, kau pernah mendengar nama Buto Ijo? Tanya pria bertopeng kepada Aria.


“Aku kenal dengan Buto Ijo,” jawab Aria.


Kali ini raut wajah si pemimpin begal yang terkejut, mendengar perkataan Aria.


“Itu sebabnya aku bertanya kepadamu, Siapa pemimpin kalian? Lanjut perkataan Aria melihat si pemimpin tak menjawab.


“Kalau kau kenal dengan pemimpin kami, sebaiknya kau bergabung dengan kami, menghabisi keluarga Kemala,” si pemimpin gerombolan membalas perkataan Aria.


“Itu tidak jadi masalah, jika benar Buto Ijo pemimpin kalian, suruh dia keluar! Aku mau bertemu,” ucap Aria.


Pranaya, sepasang Kemala hijau serta anggota keluarga kemala langsung mundur satu langkah, ketika mendengar percakapan antara Aria dan pemimpin rampok.


“Ketua tidak ada di sini! Jika kalian mau bertemu ketua, kalian boleh ikut, setelah aku menghabisi keluarga Kemala,” ucap si pemimpin.


“Jika benar ketuamu bernama Buto Ijo, seperti apa Buto Ijo? Kembali Aria bertanya.


“Bangsat! Tentu saja kami tahu, Pemimpin kami bertubuh besar dan berkulit hijau,” jawab si pemimpin rampok yang sudah mulai curiga mendengar pertanyaan Aria.


“Aku bertanya siapa pemimpin kalian, karena kalian bukanlah perampok sungguhan, tetapi orang suruhan yang sengaja mengacau dengan memakai nama Buto Ijo untuk menakut nakuti orang,” jawab Aria.


“Rupanya kalian ingin mati! Ucap si pemimpin sambil memberi isyarat kepada puluhan anak buahnya.


Puluhan orang berpakaian hitam dengan kepala tertutup kerudung, langsung berjaga berdiri di depan Aria, Ki Wangsa serta Buto Ijo.


Aria mundur sambil mengetukkan tongkat mencari jalan.


Andira melihat Aria mundur, langsung melesat dan pedangnya sudah menempel di leher Aria.


Aria bisa menghindar, tetapi ia memilih diam, karena ingin tahu apa yang akan di lakukan oleh keluarga Kemala.


“Kau tidak bisa mengelabui aku, aku tahu kau masih satu komplotan dengan mereka.


“Janga bergerak atau kepalamu akan ku tebas,” Andira berkata setelah melihat tongkat Aria hendak bergerak.


“Andira! Janga bertindak gegabah,” Seru Andini.


“Bibi tenang saja! Mereka sedang bersandiwara di depan kita, setelah kita lengah, mereka akan langsung menghabisi keluarga Kemala,” Andira membalas perkataan sang bibi.


Aria menoleh ke arah Andini setelah mendengar suara gadis itu, kemudian berkata.


“Beritahu saudaramu untuk menurunkan pedangnya, sebelum terlambat.”


Andira mendengar perkataan Aria, bukannya melepaskan pedang, malah menekan pedang dan mengiris kulit leher Aria, darah tampak mulai membasahi baju Aria di bagian atas.


“Kau mengancam ku,” Andira berkata dengan nada gusar.

__ADS_1


Baru saja Andira selesai bicara, bayangan putih melesat tanpa bisa di lihat oleh gadis itu, pedang yang ia pegang tiba-tiba terlepas seperti di tarik oleh tenaga yang sangat besar, kemudian terdengar suara tamparan keras.


Plak!


Andira terhuyung dua langkah, perlahan tubuhnya ambruk ke tanah dan langsung tak sadarkan diri.


Pranaya, pemimpin rampok, Andini serta keluarga Kemala hanya melihat bayangan putih yang berada di hadapan mereka melesat.


Setelah selesai menampar, baru mereka tahu, dia adalah orang bercaping yang tadi berdiri di dekat pemuda yang di ancam pedang oleh Andira.


Satu orang yang bertubuh besar dan bercaping langsung melesat menghampiri Andira yang sudah tak sadarkan diri, saat tangannya hendak menghantam kepala Andira, terdengar suara teriakan.


“Jangan bunuh dia,” ucap Aria.


Hmm!


Suara dengusan keluar dari mulut Buto Ijo, tangannya langsung menghantam batu besar yang berada di dekat Andira, setelah mendengar perintah Aria.


Blar!


Batu sebesar perut kerbau hancur berkeping keping di hantam oleh Buto Ijo.


Raut wajah Pranaya pucat, begitu pula Andini, setelah meliha dua kali unjuk kebolehan dari dua orang yang bersama Aria.


Pemimpin rampok setelah melihat aksi dua orang bercaping, lalu berkata.


“Sekarang aku percaya, kisanak bertiga kenal dengan pemimpin kami.”


Aria langsung tersenyum sinis mendengar perkataan si pemimpin rampok, kemudian bertanya kepada Buto Ijo.


“Kau kenal dengan mereka?


Buto Ijo gelengkan kepala.


“Apa kau tidak kenal dengan pemimpinmu? Tanya Aria kepada pemimpin rampok.


“Apa maksudmu? Tanya pemimpin rampok, sambil mundur satu langkah.


“Beritahu mereka,” Aria berkata kepada Buto Ijo.


Brak!


Buto Ijo membanting caping sambil menyeringai, matanya menatap buas orang-orang yang berada di hadapannya.


“Aku Buto Ijo, aku belum pernah merampok, tetapi sekarang kau sebut aku raja rampok,” ucap Buto Ijo.


Pemimpin rampok, Pranaya, Andini serta semua yang hadir terkejut, melihat wajah Buto ijo yang berwarna hijau.


Mereka hanya mendengar nama, tetapi belum pernah melihat bentuk dan rupa Buto ijo seperti apa.


“Lari!? Teriak si pemimpin sambil berbalik.


“Raden? Tanya Buto Ijo, melihat musuh berhamburan berusaha melarikan diri.


Aria mengangguk lalu memberi perintah.


“Sisakan satu orang untuk di tanyai.”

__ADS_1


__ADS_2