Iblis Buta

Iblis Buta
Siasat Keji Di Acara Janji Suci


__ADS_3

Raut wajah Kilani berubah setelah mendengar perkataan suami dari bibinya, agar ia meracuni Prabu Anak Wungsu serta anggota keluarga kerajaan.


“Hamba tidak berani melakukannya paman patih,” Kilani berkata membalas perkataan Nyoman Sidharta.


“Kilani! Aku tidak meminta mu melakukan hal sulit, tetapi kau sebagai anggota keluarga sama sekali tidak mau membantu suami dari bibimu sendiri yang tengah di buru dan hendak di bunuh oleh Prabu Anak Wungsu,” Nyoman Sidharta berkata dengan nada geram, sambil menunjuk ke arah keponakan Istrinya.


“Apa tidak ada cara lain, paman patih? Tanya Kilani.


“Hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa kembali ke istana, jika kau berhasil melakukan tugasmu dan aku menjadi raja, aku tidak akan melupakan jasa-jasamu,” jawab Nyoman Sidharta.


“Kilani ingin mendengar dari mulut paman, sebelum Kilani menyanggupi permintaan paman patih, kenapa paman patih sampai berkhianat terhadap Prabu Anak Wungsu? Tanya Kilani.


Nyoman Sidharta kemudian menceritakan kejadian dari pertama ia mendapat perintah dari Elang jantan, bagaimana sampai mereka di sebut pengkhianat sampai akhirnya hanya bisa sembunyi di tengah hutan.


“Aku di khianati oleh Prabu Anak Wungsu, dia tahu akan kedatangan pendekar dari tanah Jawa untuk membasmi Elang jantan, tetapi Prabu Anak Wungsu tidak cerita kepadaku, sehingga aku mengambil jalan salah dan mengikuti Elang jantan,” Patih Nyoman Sidharta setelah cerita, kemudian menatap wajah Kilani sambil lanjut berkata, meminta kepastian dari sang kemenakan.


“Sekarang kau sudah tahu cerita, bagaimana aku sampai di sini.”


Kilani menarik napas mendengar perkataan Nyoman Sidharta, setelah menetapkan hati, akhirnya Kilani menyanggupi permintaan Nyoman Sidharta.


“Baik! Aku akan membantu paman patih,” balas Kilani.


“Apa racun yang paman berikan, mampu membunuh Prabu Anak Wungsu? Tanya Kilani.


“Kau jangan khawatir! Racun ular hitam dari selat Bali sangat beracun, sekali manusia terkena racun yang di campur ke dalam minuman atau makanan, jangan harap dia bisa selamat lewat dari satu hari kalau tidak di beri penawarnya.


“Aku dengar ada acara pernikahan di kerajaan, ini kesempatan yang bagus untuk mu menaburkan racun ke makanan Prabu Anak Wungsu serta kerabatnya, kau harus pastikan pendekar dari tanah Jawa minum racun ini,” Patih Nyoman Sidharta berkata memberi perintah dan penjelasan tentang kehebatan racun ular hitam miliknya.


“Senopati Gala coba kau cari utusan dari Kahuripan yang bernama Gopala, aku yakin mereka tertarik dengan pendekar dari tanah Jawa yang sudah mengalahkan Elang jantan.


“Aku akan membujuk Gopala agar mau membantu kita,” Nyoman Sidharta memberi perintah.


“Baik! Jawab Senopati Gala.


“Senopati Gali, sebar mata-mata di istana, bujuk prajurit yang mau bergabung.


“Kalian harus hati-hati, karena aku yakin teliksandi panglima Wisnutama pasti mencari tahu di mana kita berada,”


“Baik, patih,” ucap kedua Senopati kembar Gala Dan Gali.


“Setelah tugas di bagikan, Kilani serta kedua Senopati pamit undur diri untuk melaksanakan perintah, sedangkan patih Nyoman Sidharta duduk sambil berpikir siasat yang bagus untuk merebut Istana Tampak Siring dengan sedikit pasukan yang mereka punya saat ini.


***

__ADS_1


Istana Tampak Siring terus berbenah. Buwana Dewi serta Aria Pilong hanya jalan-jalan mengisi waktu, karena semua acara untuk persiapan pernikahan mereka di tangani oleh pihak kerajaan Bali, begitupula dengan Buto Ijo serta Suketi yang sudah berubah kembali menjadi kera kecil berbulu hitam yang bertengger di bahu sang raksasa.


Kedua pasangan terkadang jalan bersama sambil melihat lihat suasana di sekitar kerajaan.


“Suketi! Nanti kalau kita menikah kau harus berubah kembali menjadi gadis yang kemarin,” Buto Ijo berkata.


“Baik, kakang! Akan aku usahakan,” balas Suketi.


“Harus! Jangan bilang, “akan” itu artinya kau belum bisa memastikan bisa berubah di saat kita menikah,” Buto Ijo membalas perkataan Suketi.


“Memangnya kenapa kalau Suketi tidak berubah? Tanya Buwana Dewi dan lanjut berkata saat Buto Ijo diam tak menjawab.


“Dia wanita seperti aku, juga Nyi Selasih. Jadi apalagi yang membuat kau ragu? Tanya Buwana Dewi.


“Aku hanya tidak ingin Suketi menjadi bahan gunjingan orang yang melihat pernikahan kita.


“Kalau aku yang mereka omongkan tidak menjadi masalah, tetapi kalau Suketi jadi bahan gunjingan, aku tidak suka,” Buto menjawab pertanyaan Buwana Dewi.


Suketi langsung merangkul leher Buto Ijo, lalu mencium pipi sang kekasih, mendengar perkataan yang membela dirinya.


Beberapa gadis dan penduduk yang berpapasan dan melihat, langsung menutup mulut sambil tertawa, melihat se ekor kera kecil tengah menciumi pipi raksasa bertubuh hijau.


“Sudah….sudah! Apaan sih kau, siang-siang sudah nyosor seperti Banyak ( angsa )


“Aku….aku tidak malu! Tetapi di tempat umum seperti ini tidak boleh saling cium,” nanti banyak anak lihat dan mencontohnya,” jawab Buto Ijo.


“Kau lihat Suketi! Besar mana tubuhnya dengan anak kecil yang kau maksudkan? Tanya Buwana Dewi.


“Tentu saja besar anak kecil, tubuh Suketi hanya sebesar ini,” jawab Buto Ijo sambil memperlihatkan jari kelingkingnya.


Plak!


Pipi Buto Ijo di tampar oleh Suketi, ketika dirinya di sebut sebesar jari kelingking.


Buwana Dewi dan Aria akhirnya tertawa melihat Buto Ijo dan Suketi.


Cinta memang sesuatu yang membahagiakan, apapun yang terlihat akan semakin indah oleh orang yang tengah jatuh cinta, pertengkaran terasa manis, tidak bertemu langsung rindu, itu yang di alami Suketi dan Buto Ijo saat ini.


Tanpa terasa, besok adalah acara besar yang akan di selenggarakan oleh kerajaan Bali, panggung besar di siapkan untuk upacara janji suci.


Malam hari di saat anggota kerajaan istirahat, bayangan seorang bertubuh gempal bergerak ke dapur istana, setelah melihat ke kiri dan kanan, perempuan yang tak lain adalah Kilani mengawasi pelayan yang tengah memasak.


“Bagaimana dengan hidangan yang akan disajikan, apa sudah siap? Tanya Kilani.

__ADS_1


“Kue-kue sudah siap, tetapi untuk makanan hal yang berbeda, sang Prabu menyuruh kami memasak makanan ketika akan di santap, sehingga daging dan sayuran masih terasa segar,” jawab tukang masak di dapur istana, memberi laporan.


Kilani anggukan kepala, ia tahu Prabu Anak Wungsu pasti akan melakukan hal tersebut, karena Prabu Anak Wungsu jika ada perayaan, selalu ingin masakan dadakan yang di santap bersama keluarga kerajaan, menurut Prabu Anak Wungsu jika makan bersama akan memper erat hubungan antar mereka.


“Mana air yang sudah di berkati oleh Brahmana tunggal? Tanya Kilani.


“Disana air yang sudah di berkati, oleh Brahmana tunggal,” balas pelayan sambil menunjuk gentong air berpita merah.


“Sudah kau periksa kualitas air dan barang yang akan di masak? Kembali Kilani bertanya untuk memastikan.


“Sudah ketua, semua sudah kami bagi-bagi dan tempatkan masing-masing di tempatnya, tinggal menunggu perintah untuk memasak,” balas Pelayan dapur istana.


Kilani anggukan kepala setelah mendengar perkataan anak buahnya, kemudian Kilani mengecek satu persatu bahan makanan yang sudah di siapkan.


Ketika tiba di gentong air yang telah di berkati oleh Brahmana Tunggal, Kilani menengok ke kiri dan kanan, setelah merasa aman dan tidak ada yang memperhatikannya, Kilani diam-diam mengeluarkan racun ular hitam pemberian dari mantan patih Nyoman Sidharta.


Sekali lagi Kilani memastikan dengan menoleh ke kiri dan kanan, kemudian diam diam menaburkan racun ular hitam ke dalam gentong air yang sudah di berkati oleh Brahmana tunggal, seorang kepala agama yang di percaya oleh Prabu Anak Wungsu untuk memimpin upacara peribadatan.


Gentong air yang sudah di berkati, berisi air embun yang di kumpulkan dan khusus untuk memasak makanan yang akan di hidangkan untuk Prabu Anak Wungsu beserta anggota kerajaan.


Kilani tahu, semua anggota kerajaan dan Prabu Anak Wungsu akan makan makanan yang di pasak menggunakan Air yang sudah di berkati, jika ia menaburkan racun ke dalam air yang sudah di berkati, bisa di pastikan Prabu Anak Wungsu dan anggota kerajaan akan terkena racun yang ia taburkan.


Perlahan Kilani membuka penutup gentong, kemudian menaburkan racun ular hitam ke dalam gentong.


Air yang sudah di berkati, tampak berbuih dan mendesis, setelah racun Ular hitam bercampur dengan air.


Setelah racun tercampur, perlahan air kembali tenang seperti semula.


Senyum tampak di bibir perempuan tambun yang merupakan kepala dapur istana.


Setelah menaburkan racun, Kilani kemudian bergegas kembali ke kediamannya, sambil menunggu dengan hati was-was dan perasaan gelisah.


***


Di sebuah selat yang memisahkan Tegaldlimo dan pulau Bali, satu perahu yang di tumpangi oleh dua orang melesat dengan kencang, melawan derasnya ombak laut utara.


Seorang pemuda berwajah tampan tengah mendayung dengan tenaga dalam tinggi yang membuat perahu melesat seperti terbang.


Sementara di haluan kapal, berdiri seorang gagah berperawakan aneh sambil bertolak pinggang, tubuhnya berbentuk manusia, tetapi kepalanya adalah kepala kerbau, mata bulat di kepala kerbau berwarna merah darah, setiap dengusan dari hidung kerbau tersebut menyemburkan asap putih, membuat seram penampilan orang berkepala kerbau tersebut.


Suara berat dan dingin keluar dari mulut orang berkepala kerbau, ia berkata kepada pemuda yang tengah mendayung dengan kekuatan penuh.


“Dayung lebih cepat, Sentanu! Kita harus menggagalkan pernikahan ini.”

__ADS_1


__ADS_2