
“Ap….apa benar Yang Resi katakan? Tanya Prabu Samarawijaya, mendengar perkataan Resi Sarpa kencana karena melihat penampilan Aria yang masih muda.
“Hamba tidak berani berbohong terhadap Baginda Prabu,” jawab Resi Sarpa.
“Hamba sewaktu melawan Tumenggung Adiguna, memanggil ular ghaib peliharaan hamba untuk membantu, tetapi ular-ular peliharaan hamba tidak menuruti perintah hamba, mereka malah mengelilingi dan melindungi raja mereka, yakni Raden Aria,” lanjut perkataan Resi Sarpa kencana.
Buto Ijo yang mendengar perkataan Resi Sarpa, lalu menatap ke arah Lembu Jarot.
“Kau dengar sendiri! Apa kata Resi,” ucap Buto Ijo.
Lembu Jarot tak menjawab perkataan Buto Ijo, Lembu Jarot kembali berdiri di belakang Samarawijaya, sambil terus memperhatikan Aria, Lembu Jarot masih tak Percaya dengan perkataan Resi Sarpa, bahwa pemuda yang usianya jauh berada dibawahnya sudah menjadi penguasa gunung Lawu.
“Sebenarnya Kahuripan sudah bergerak tanpa kita ketahui Baginda! Hamba sudah menyelidikinya mereka baru bergerak di sekitar perbatasan kita, sehingga para Telik sandi Kadiri tidak mengetahui pergerakan mereka,” Resi Sarpa kencana berkata.
“Dan asal Baginda tahu, bahwa Kahuripan sudah mempersiapkan diri, mereka tidak hanya memakai prajurit terlihat tetapi juga prajurit tak terlihat,” Resi Sarpa kencana berkata.
“Maksud Resi Sarpa kencana? Tanya Prabu Samarawijaya.
“Peperangan ini bukan hanya peperangan bagi mahluk kasat mata, tetapi juga perang bagi mahluk tak kasat mata,” jawab Resi Sarpa kencana.
“Mereka memakai mahluk tak kasat mata untuk meneror dan membuat resah desa-desa yang ada di perbatasan, sehingga mereka tak percaya lagi kepada Kadiri dan berbalik mendukung Kahuripan,” lanjut perkataan Resi Sarpa kencana.
“Kerajaan Kadiri sangat luas sehingga kerajaan tidak bisa mengontrol mereka semua,” balas Prabu Samarawijaya.
“Di daerah Wengker, tepatnya gunung Wilis dan gunung Lawu, hampir semua desa membayar upeti kepada perguruan golok setan, perguruan golok setan di bantu oleh penguasa gunung Wilis menekan para kepala desa, jika mereka tidak membayar upeti, dalam 1 malam desa itu bisa lenyap,” ucap Resi Sarpa kencana.
“Siapa nama ketua perguruan Golok setan? Tanya Aria.
Suto Abang bersama dengan kakak seperguruannya, dari apa yang kudengar mereka mendapat dukungan dari penguasa Gunung Wilis, Ki Loreng geni.
Hmm!
“Rupanya ketua Perguruan golok setan adalah, Suto Abang,” batin Aria.
Pemuda itu jadi teringat kembali dengan Desa Randu Alas, lamunan Aria buyar setelah mendengar perkataan Buto Ijo.
“Mereka semua sudah mampus,” ucap Buto Ijo.
Resi Sarpa, Prabu Samarawijaya dan Tumenggung Wirabumi terkejut mendengar perkataan dari Buto Ijo.
“Apa maksud perkataan saudara Buto? Tanya Resi Sarpa kencana.
__ADS_1
“Mereka semua sudah mampus! Apa kalian tidak dengar perkataanku? Kembali Buto Ijo berkata sambil menatap ke arah Resi Sarpa kencana.
Hmm!
Dari mulut Aria terdengar suara nada dengusan sewaktu mendengar perkataan Buto Ijo.
“Tidak….tidak semua! Ralat Buto Ijo sambil goyangkan tangannya, “Suto Abang masih hidup.
Ya, benar! Suto Abang masih hidup,” ucap Buto Ijo sambil wajahnya menoleh ke arah Lain, karena wajah Aria tengah menghadap ke arahnya se akan akan ingin memastikan kebenaran ucapan Buto Ijo.
“Jadi….jadi Ki Loreng geni penguasa gunung Wilis sudah tewas? Ucap Resi Sarpa kencana seperti tak percaya.
“Benar Resi! Kali ini Wulan berkata, “Ki Loreng geni tewas oleh kakang Aria, sedangkan Resi Larang tapa setelah terluka, kemudian melarikan diri.”
“Apa kau bilang? Resi Larang tapa,” ucap Resi Sarpa kencana dengan mata melotot, mendengar keterangan Wulan.
“Apa Resi kenal? Tanya Wulan.
“Tidak salah lagi! Mereka sudah melangkah terlalu jauh masuk kedalam wilayah Kadiri,” ucap Resi Sarpa kencana.
“Baginda Prabu, Resi Larang tapa adalah Resi yang mempunyai ambisi besar untuk dirinya sendiri, sipatnya kejam dan tak kenal ampun, segala cara akan ia lakukan jika tujuannya bisa tercapai, di tanah jawa ini jarang ada yang mampu menghadapi Larang tapa, hanya kakak seperguruannya yang mampu mengatasi, yakni penguasa Jawa, Resi Lanag jagad, tetapi sampai sekarang keberadaan Resi Lanang jagad tidak ada yang tahu.
Saat Wulan hendak berkata bahwa mereka akan menemui Resi Lanang Jagad, Aria langsung menoleh ke arah Wulan, membuat gadis itu langsung diam, tak meneruskan perkataannya.
Resi Sarpa kencana sepertinya tidak mengerti dengan sedikit perkataan yang sudah terlontar dari mulut Wulan, kemudian lanjut bicara.
“Mapanji Garasakan baru saja mengangkat guru besar untuk kerajaan Kahuripan, dan guru besar itu adalah Resi Larang tapa,” ucap Resi Sarpa kencana.
Prabu Samarawijaya termenung mendengar perkataan Resi Sarpa kencana.
“Jika memang benar apa yang Resi katakan, itu Artinya Kahuripan seperti Harimau tumbuh sayap dan semakin berbahaya,” Prabu Samarawijaya berkata, sambil menarik napas dalam-dalam.
Aria yang selalu diam dan mendengarkan perkataan Resi Sarpa kencana dan Prabu Samarawijaya, otaknya menyambung kejadian yang terjadi, dengan ramalan Resi Lanang jagad seperti yang pernah ia dengar dari Hyang Naga langit.
“Apa yang di maksud oleh Resi Lanang jagad dengan kekacauan yang akan terjadi di tanah Jawa, adalah peperangan antara kerajaan Panjalu dengan Kahuripan,” batin Aria bertanya-tanya dalam hati.
Lamunan Aria terhenti ketika mendengar perkataan Resi Sarpa kencana.
“Baginda Prabu harus bersiap dari sekarang, kumpulkan semua pendekar pilih tanding untuk bergabung dengan Kadiri, kemudian menyiapkan rencana yang matang untuk mengantisipasi jika ada serangan mendadak dari Kahuripan,” ucap Resi kencana.
Prabu Samarawijaya menarik napas kembali, mendengar perkataan Resi Sarpa kencana.
__ADS_1
“Apa Resi ada cara untuk mengumpulkan para pendekar? Tanya Prabu Samarawijaya.
“Banyak cara untuk mengumpulkan para pendekar, Baginda! Salah satunya dengan mengadakan sayembara, pemenang sayembara berhak menjabat sebagai ketua pendekar kerajaan Kadiri, dan siap mengabdi kepada kerajaan Kadiri,” bagaimana menurut baginda Prabu dengan usul hamba? Tanya Resi Sarpa kencana.
Raut wajah Prabu Samarawijaya tampak gembira mendengar usul Resi Sarpa kencana.
“Usul bagus….usul yang sangat bagus,” ucap Sang Prabu.
“Paman Wirabumi! urusan sayembara ini aku serahkan kepada paman. Sebar undangan ke pelosok negeri, terutama kepada padepokan yang tersebar di seluruh kerajaan Kadiri.”
“Baik baginda! Kita akan sebar undangan, serta membuat panggung besar di alun-alun kerajaan, Hamba berpikir, ada dua tujuan dalam menyelenggarakan sayembara ini.
Yang pertama adalah untuk mengumpulkan dan mengajak para pendekar bergabung melalui sayembara, dan tujuan yang kedua adalah untuk memberi hiburan kepada rakyat Kadiri yang sudah lama tidak melihat keramaian,” ucap Wirabumi dengan nada antusias.
“Kapan Tumenggung Wirabumi akan memulai persiapan acara sayembara, karena terus terang, waktu kita sangat terbatas,” ucap Resi Sarpa kencana.
“Kalau Baginda Raja ijinkan, besok aku akan langsung bekerja, menyebar undangan serta membuat pengumuman untuk di tempel di seluruh kerajaan Kadiri.
“Paman Wirabumi sudah mendapat restuku, jadi Silahkan paman bekerja kapanpun paman mau,” Prabu Samarawijaya berkata.
“Raden! kami butuh bantuan Raden jika Raden berkenan,” ucap Resi Sarpa kencana kepada Aria.
“Bantuan apa yang bisa di berikan oleh orang buta sepertiku, paman? Tanya Aria.
Resi Sarpa kencana tersenyum mendengar perkataan merendah dari Aria, lalu berkata.
“Aku yakin acara besar ini, pasti akan ada banyak penyusup dari Kahuripan, aku harap Raden mau membantu menjaga dan mensukseskan acara ini, agar tidak ada pihak yang mengacau, Resi Sarpa kencana berkata.
Resi Sarpa kencana berkata bukan tanpa alasan, ia sangat yakin akan kemampuan Aria, setelah mendengar bahwa pemuda ini sudah berhasil membinasakan Ki Loreng geni serta mengusir Resi Larang tapa, satu hal yang belum mampu di lakukan oleh Resi Sarpa kencana dengan kemampuan yang di miliki olehnya saat ini.
Aria diam mendengar perkataan Resi Sarpa kencana dan memikirkan tujuannya yang akan berangkat menuju gunung Semeru.
Prabu Samarawijaya yang sudah mendengar kemampuan Aria dan mendengar bahwa pemuda ini adalah Raja lelembut bangsa siluman ular, penguasa gunung Lawu, menjadi tertarik untuk menjadikan Aria sebagai pembantunya.
“Bagaimana jika tuan pendekar menjadi pembantuku? Prabu Samarawijaya tidak mau menyebut Raden, karena ia adalah seorang Raja.
“Apapun yang tuan pendekar butuhkan dan inginkan, katakan saja kepada Paman Wirabumi, kerajaan Kadiri akan mengabulkan permintaan tuan pendekar,” ucap Prabu Samarawijaya dengan nada antusias.
Aria tersenyum mendengar perkataan Prabu Samarawijaya, lalu menjawab.
“Maaf! Aku hanya ingin membantu, bukan jadi pembantu.”
__ADS_1