
Buto Ijo yang tengah menyeret mayat Suropati menjadi tontonan penduduk yang tengah bersiap untuk pindah.
Darah dari kepala Suropati yang pecah membasahi sepanjang jalan.
Brak!
Pintu gerbang kediaman Raden Kusumo di tendang oleh Buto Ijo.
Pengawal yang menjaga pintu gerbang mundur, saat melihat seorang bertubuh besar dengan kulit wajah berwarna hijau melangkah masuk sambil menyeret mayat.
Para pengawal langsung mencabut golok, setelah melihat Buto Ijo menyeret mayat Suropati.
“Itu Ki Suro….itu mayat Ki Suro! Teriak beberapa orang prajurit.
Suasana di kediaman Raden Kusumo langsung gempar.
Semua yang berada di dalam rumah langsung keluar, ingin melihat apa yang terjadi, setelah mendengar suara ribut-ribut.
Resi Jayaprana kerutkan kening, sedangkan wajah Raden Kusumo tampak kelam melihat Buto Ijo berdiri di halaman rumahnya, sementara di belakang Buto Ijo, tampak mayat Suropati yang kepalanya pecah di tendang oleh Buto Ijo.
Raden Kusumo langsung melangkah, setelah beberapa tombak di hadapan Buto Ijo, Raden Kusumo berhenti.
“Mau apa kau di kediamanku? Tanya Raden Kusumo.
“Mengantar anak buahmu pulang,” jawab Buto Ijo.
Phuih!
“Kau mau mencari gara-gara di sini? Raden Kusumo berkata.
Anjani yang melihat kakeknya bersitegang dengan Buto Ijo, kemudian memegang tangan Resi Jayaprana.
“Guru,” ucap Anjani dengan nada cemas.
Resi Jayaprana memberi isyarat kepada Anjani untuk diam.
“Ini anak buahmu, bukan? Tanya Buto Ijo sambil menunjuk ke arah mayat Suropati.
“Kau yang membunuhnya? Tanya Raden Kusumo.
“Kalau iya, kau mau apa? Buto Ijo balik bertanya.
“Keparat! Teriak Raden Kusumo.
Raden Kusumo, bekas Tumenggung di kerajaan Panjalu melesat, tangannya menghantam ke arah kepala Buto Ijo.
Buto Ijo sedikit miringkan kepala, sehingga terhindar dari serangan Raden Kusumo.
Setelah serangan tangan kanannya berhasil di hindari, Telapak kiri Raden Kusumo menghantam ke arah ulu hati Buto Ijo.
Plak!
Telapak kanan Buto Ijo menahan serangan Raden Kusumo.
Setelah kedua telapak mereka bertemu, Keduanya sama-sama mundur selangkah.
“Yang aku dengar Buto Ijo kebal terhadap pukulan, apa benar? Tanya Raden Kusumo sambil tersenyum sinis.
“Kau mau coba? Tanya Buto Ijo.
Raden Kusumo melesat kembali, setelah mendengar perkataan Buto Ijo.
__ADS_1
Kedua telapak Raden Kusumo mulai berubah merah, akibat ajian panas bumi.
Plak….ces!
Suara seperti kulit terbakar terdengar, saat kedua tangan beradu, Buto Ijo kali ini baru merasakan akibat ajian panas bumi.
Tetapi rasa panas tidak berlangsung lama, kulit Buto Ijo kembali seperti semula.
Hmm!
“Benar menurut kabar yang kudengar, Buto Ijo tidak mempan terhadap pukulan,” batin Raden Kusumo setelah melihat kulit tangan Buto Ijo yang terbakar setelah bertemu dengannya, sudah pulih seperti sedia kala.
Keduanya semakin cepat saling serang, tetapi usia Raden Kusumo yang diatas 80 tahun napasnya mulai tidak teratur.
Buto Ijo yang melihat gerakan-gerakan Raden Kusumo mulai melamban, semakin mendesak dan bergerak semakin cepat.
Ketika pertempuran semakin sengit, Raden Kusumo semakin terdesak.
Terdengar suara teriakan.
“Berhenti!
Buto Ijo langsung lompat mundur, ke arah suara yang di kenalnya.
Aria setelah mendapat laporan dari Selamet, bahwa Buto Ijo pergi ke tempat kediaman Raden Kusumo, sambil menyeret anak buah sang Raden yang berhasil ia bunuh.
“Kenapa kau tidak menuruti kata-kataku? Tanya Aria dengan nada dingin.
“Anak buahnya yang mencari gara-gara denganku, Raden! jawab Buto Ijo.
Aria percaya dengan perkataan Buto Ijo, biar pemarah tetapi Buto Ijo selalu menuruti perkataannya.
“Apa Raden ingin memperpanjang masalah ini? Tanya Aria dengan nada dingin.
Para pengawal setelah mendapat isyarat tangan, langsung mengepung Aria.
“Raden! Biar aku yang habisi mereka,” seorang pengawal yang merupakan sahabat Suropati berkata.
Raden Kusumo tak menjawab.
Sang pengawal setelah tidak mendengar ada suara keluar dari mulut Raden Kusumo ia anggap sang majikan setuju dengan perkataannya., lalu maju setombak dan berdiri di hadapan Raden Kusumo.
“Kalian adalah orang asing! Seharusnya tahu diri kalau menumpang di tempat orang,” ucap sang pengawal yang di tujukan kepada Aria.
Aria tersenyum dingin dari balik caping, mendengar perkataan orang yang berdiri di hadapannya.
Resi Jayaprana matanya menyipit, melihat bibir Aria tampak bergerak gerak.
Aria setelah membaca mantra ajian Rengkah gunung dan memperkirakan jarak dengan orang yang tadi berkata.
Tangannya langsung menghantam ke tanah.
“Awas, cepat menghindar! Teriak Resi Jayaprana.
Raden Kusumo terkejut mendengar perkataan Resi Jayaprana.
Apalagi setelah melihat dari tubuh Aria keluar bayangan putih, lalu bayangan putih itu menghantam ke arah pengawalnya.
Blam!
Ledakan terdengar, tubuh si pengawal tampak merah setelah terkena hantaman Sukma yang keluar dari tubuh Aria, perlahan tubuh si pengawal mengembung lalu meledak, tak kuat menahan ajian Rengkah gunung yang baru pertama kali di coba Aria.
__ADS_1
Raden Kusumo langsung lompat mundur dari raut wajahnya Raden Kusumo tampak sangat takut.
Pengawal yang kekuatannya hampir sama dengan Suropati, sekali serang langsung tewas mengerikan.
“Tuan muda! Apa tuan muda tidak ingat dengan persahabatan denganku Anjani serta Rama? Tanya Resi Jayaprana.
“Karena aku bersahabat dengan kalian, aku masih bisa menahan amarah ku sampai saat ini,” balas Aria dengan nada dingin.
“Tolong resi beritahu! Jangan coba-coba memancing kemarahanku, kalau masih ingin hidup,” setelah berkata, Aria lalu mengajak Buto Ijo kembali ke penginapan.
Selamet masih gelengkan kepala, tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Hanya sekali serang, tubuh manusia bisa hancur.
“Kusumo! Sudah berapa kali aku beritahu, pemuda itu bukan tandingan kita, kenapa kau masih saja mencari gara-gara dengannya? Resi Jayaprana menegur Kusumo.
Kusumo tak menjawab perkataan sahabatnya, walau membenarkan perkataan sang sahabat, tetapi di dalam hatinya masih marah dan merasa di remehkan oleh sikap Aria dan Buto Ijo, menurut kata hati Kusumo, Aria dan Buto Ijo adalah pendekar miskin berbeda dengannya yang kekayaannya berlimpah, ia bisa membunuh mereka berdua, dengan uangnya.
Sambil melangkah masuk ke dalam rumah, Raden Kusumo lalu menyuruh pelayannya untuk mengundang Selamet ke dalam rumah.
Di dalam ruangan pribadi tempat Raden Kusumo, sang raden duduk berhadapan, dengan Carik bayangan.
“Ada apa Raden mengundang ku kesini? Tanya Selamet.
“Aku ingin meminta bantuan kepada para pendekar dari jagad Buwana,” jawab Raden Kusumo.
Selamet kerutkan keningnya mendengar perkataan Raden Kusumo.
“Aku kenal dengan beberapa pengurus di padepokan Jagad Buwana, Seperti Singabarong dan Nyai kidung kencana,” setelah melihat ekspresi wajah Selamet yang tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Raden Kusumo.
Kembali sang Raden berkata.
“Kau tidak percaya dengan ucapanku? Tanya Raden kusumo.
“Tidak! Jawab Selamet
“Kalau kau kenal dan bersahabat dengan pengurus padepokan jagad Buwana, dari kemarin-kemarin, kau pasti sudah menghubungi aku,” lanjut perkataan Selamet.
Raden kusumo diam mendengar perkataan Selamet, setelah sekian lama dan menarik napas panjang, Raden kusumo akhirnya bicara kembali.
“Aku memang tidak mengenal dekat dengan pengurus padepokan jagad Buwana, tetapi aku ingin minta tolong kepada padepokan Jagad Buwana,” melalui Ki Selamet,” Raden Kusumo berkata.
“Bantuan! Bantuan apa, raden? Tanya Selamet.
“Aku ingin meminta bantuan padepokan jagad Buwana untuk membantuku menghabisi Si buta,” jawab Raden Kusumo.
“Raden tidak bisa meminta bantuan jagad Buwana, karena raden bukan anggota. Padepokan jagad Buwana,” balas Selamet.
“Bagaimana kalau aku bergabung! Anak buahku banyak dan tersebar di beberapa kota, informasi apapun bisa kudapat dari anak buahku yang tersebar, belum lagi soal harta! Aku bisa memberikan sumbangan besar kepada padepokan Jagad Buwana, jika aku bisa bergabung.
“Bagaimana menurutmu? Tanya Raden Kusumo.
“Mungkin bisa bergabung, tetapi bisa juga tidak! Sebab semua keputusan ada di tangan pengurus, aku hanya bisa menyampaikan pesan Raden,” jawab Selamet.
“Tolong beritahu maksudku jika pengurus padepokan Jagad Buwana datang,” ucap Raden Kusumo.
“Menurut perkiraanku, rombongan Jagad Buwana akan sampai besok siang.
“Apa alasan Raden bergabung dengan Jagad Buwana, jika para pengurus bertanya padaku.
“Ki Selamet bicara jujur saja kepada pengurus Padepokan Jagad Buwana tentang keinginanku, yaitu! Lanjut perkataan Raden Kusumo dengan nada geram.
__ADS_1
“Membunuh Aria Pilong.”