
“Maksud Nyi Selasih? Tanya Aria sambil jarinya menunjuk dada Nyi Selasih, kemudian ke dadanya sendiri.”
Nyi Selasih anggukan kepala.
“Apa karena Selasih adalah mahluk tak kasat mata,” ucap Nyi Selasih sambil tundukkan kepala.
“Bukan begitu Nyi, banyak hal yang harus di pertimbangkan,” balas Aria.
“Apa nantinya Nyi Selasih tidak menyesal, sebab yang aku dengar, menikah harus rela berkorban satu sama lain dan saling sayang,” lanjut perkataan Aria.
“Selasih lebih lama hidup dari Raden, dan tahu apa arti menikah sesungguhnya,” Nyi Selasih membalas perkataan Aria.
“Lantas apa hubungannya kita menikah dengan kekuatan yang aku dapatkan dari Nyi Selasih? Tanya Aria.
“Kekuatanku berpindah ke tubuh Raden dengan cara kita berhubungan intim, ucap Nyi Selasih sambil tundukkan kepala.
“Begitu rupanya,” balas Aria, pura pura mengerti dengan apa yang di katakan oleh Nyi Selasih, tetapi sebenarnya Aria tidak tahu berhubungan intim itu seperti apa.
“Baik lah Nyi aku setuju! Semuanya kuserahkan pada Nyi Selasih,” lanjut perkataan Aria.
Aria berpikir bahwa dirinya masih muda, kenapa ia tidak mencoba apa yang di katakan oleh Nyi Selasih.
Aria yang belum mengenal cinta kasih, akhirnya menerima dan siap jika nanti malam menikah dengan Nyi Selasih.
Nyi Selasih mendengar Aria mau menjadi suaminya, perempuan siluman itu sangat bahagia, sejak pertemuan pertama di goa sewaktu dirinya di tolong oleh Aria dari Ki Loreng geni, Nyi Selasih sudah suka terhadap Aria.
Raut wajah Nyi Selasih tampak ceria, senyum tersungging dari bibirnya saat terbayang akan nanti malam bersama Aria.
Nyi Selasih menghubungi Buto Ijo untuk membeli kembang 7 rupa, Buto Ijo juga di minta oleh Nyi selasih agar menyuruh pelayan untuk menghias kamar dan membersihkan tempat tidur Aria, serta menjaga kamar yang akan di pakai ritual menikah nanti malam.
Nyi Selasih menegaskan kepada Buto Ijo, siapapun tidak ada yang boleh masuk kamar Aria malam ini.
Malam Sebelum acara prosesi pernikahan, Buto Ijo berdiri di depan pintu kamar.
Wulan kerutkan keningnya melihat Buto Ijo berdiri di depan kamar Aria.
“Sedang apa paman di sini? Tanya Wulan.
Buto Ijo diam tak menjawab, Wulan lalu mendekati pintu kamar, tetapi Buto Ijo memegang bahu Wulan sambil gelengkan kepala.
“Kenapa sih! Aku mau bertemu kakang Aria,” ucap Wulan.
“Tidak bisa! Balas Buto Ijo.
Kening Wulan berkerut mendengar perkataan Buto Ijo.
“Kenapa tidak bisa? Memangnya Kang Aria sudah tidur? Tanya Wulan.
“Tak perlu tahu,” jawab Buto Ijo.
Sarka mendekat lalu bertanya.
“Ada apa? Tanya Sarka sambil menatap Wulan.
__ADS_1
“Aku ingin bertemu kakang Aria! Tetapi tidak boleh masuk,” ucap Wulan.
“Tinggal masuk saja, aku juga mau bertemu,” ucap Sarka sambil melangkah ke arah pintu kamar Aria.
Crep!
Tangan Buto Ijo mencengkeram leher Sarka sambil menatap tajam, suara dengus napas Buto Ijo yang menerpa wajah Sarka merupakan isyarat bagi Sarka agar segera menjauh.
Sarka angkat kedua tangan sambil berkata.
“Baik….Baik! Besok saja aku menemui Aria,” ucap Sarka.
Buto Ijo langsung melepaskan cengkeraman tangannya dari leher Sarka,
Sarka meraih tangan Wulan, kemudian mengajak gadis itu pergi dari hadapan Buto Ijo.
Di dalam kamar Aria.
Aria duduk dengan kedua kaki menekuk kebelakang, begitu pulan dengan Nyi Selasih, dengan memakai kebaya berwarna hijau yang di hiasi dengan renda-renda berwarna ke emasan, kepala di hiasi mahkota bertahtakan permata, membuat Nyi Selasih bertambah cantik, layaknya Dewi kayangan yang baru saja turun ke bumi.
Keduanya duduk berdampingan sambil kedua tangan saling genggam.
Asap wangi keluar dari perapian, perlahan Asap mulai menebal dan berubah warna menjadi kuning ke emasan,
Asap setelah menggumpal perlahan berubah bentuk menjadi Naga berwarna kuning dengan mahkota di kepalanya.
Naga Langit menatap Nyi Selasih dan Aria.
“Apa benar kalian sudah siap lahir dan batin untuk melaksanakan pernikahan ini? Tanya Naga Langit.
Hidung Naga Langit mendengus, dua gumpalan asap keluar dari hidung naga langit, kemudian menyelimuti Aria dan Nyi Selasih.
Perlahan asap tebal mulai menghilang.
“Atas Restu Penguasa Alam dan aku sebagai saksinya, kalian berdua aku nyatakan Sah sebagai suami istri.”
Nyi Selasih dan Aria setela mendengar perkataan Naga langit, keduanya lalu bersujud memberi hormat.
Setelah bersujud, keduanya bangkit kembali, tapi Sang Hyang Naga langit sudah tidak ada di depan mereka.
“Mati hidup Selasih sekarang di tangan Raden, karena sekarang Selasih sudah menjadi milik Raden seutuhnya.
Batin kita juga sudah bersatu, jadi Raden bisa melihatku kapanpun jika Raden mau.
Aria anggukan kepala mendengar perkataan Nyi Selasih, lalu tersenyum.
“Jadi hanya seperti ini yang namanya menikah, lalu saling lindungi? Tanya Aria.
“Benar! Memangnya Raden mau apalagi? Tanya Selasih sambil matanya mengerling ke arah tempat tidur yang penuh dengan bunga setaman.
“Tidak! Soalnya aku baru pertama kali menikah, jadi belum tahu apa yang harus kulakukan,” jawab Aria.
“Memangnya Raden mau berapa kali menikah? Tanya Nyi Selasih sambil tersenyum menggoda.
__ADS_1
“Kalau hanya seperti ini, setiap hari juga boleh,” jawab Aria.
“Cis! dasar mata keranjang,” Nyi Selasih berkata.
Perlahan Nyi Selasih berbalik, kemudian kedua tangan mulai membuka kebaya yang ia kenakan.
Satu persatu kancing yang menautkan baju terbuka, kebaya atas Nyi Selasih sudah terbuka dan perlahan mulai turun, kulit putih mulus Nyi Selasih terlihat oleh Aria.
Entah kenapa, kali ini hati Aria berdebar keras, sesuatu mulai bergerak-gerak di antara dua paha Aria.
Aria pejamkan Mata, kemudian rambut panjangnya sengaja di biarkan menutupi kedua matanya, sambil sesekali melirik ke arah Nyi Selasih yang kini sudah tanpa busana duduk membelakangi Aria.
Nyi Selasih kerutkan kening karena sudah agak lama ia duduk memunggungi Aria, tetapi Nyi Selasih tidak merasakan belaian tangan suami yang baru ia nikahi.
“Apa Raden masih malu melihat tubuhku ini,” batin Nyi Selasih.
Perlahan Nyi Selasih berbalik.
Melihat Nyi Selasih berbalik, Aria langsung duduk pejamkan mata, sambil sesekali melirik tubuh Nyi selasih dari depan yang tanpa tertutup sehelai benang pun.
Tangan Nyi Selsih bergoyang goyang di depan wajah Aria yang tertutup rambut.
Tetapi Aria tidak bergeming, seperti tidak melihat tangan Nyi Selasih.
“Ada apa dengan Raden, kenapa diam membisu? Nyi Selasih berkata dalam hati, perlahan tubuhnya mendekat, lalu tangannya menyibak rambut panjang Aria yang menutupi tubuh.
Setelah jari-jari lentik Nyi Selasih menggeser rambut suaminya agar jangan menutupi wajah.
Bibir Nyi Selasih tersenyum, melihat mata Aria tertutup.
“Kenapa Raden menutup mata? Apa Raden tidak ingin melihat tubuh istri Raden sendiri? Tanya Nyi Selasih merasa penasaran, karena Aria belum juga membuka matanya.
“Aku sudah terbiasa melihat kegelapan Nyi,” jawab Aria Pilong.
“Tapi kali ini berbeda Raden,” balas Nyi Selasih
Nyi Selasih terus mendekat, Semakin Nyi Selasih mendekat, dengkul Aria semakin bergetar berusaha menahan hasrat yang terus memberontak dan berusaha untuk keluar.
Nyi Selasih semakin maju, mulut Nyi Selasih berhenti tepat di mata Aria, sambil mendesah, Nyi Selasih berkata perlahan sambil meniup mata Aria.
“Buka….Buka Raden! Ucap Nyi selasih dengan lembut, lalu mencium kedua mata Aria dengan lembut, sedangkan satu tangannya perlahan membuka satu persatu kancing baju Aria, kemudian Nyi Selasih berkata.
“Nikmati tubuh Selasih dan Gauli sesuka hati Raden malam ini,” Sambil kedua tangan Nyi Selasih memeluk tubuh bagian atas Aria yang sudah tanpa busana.
Lidah Nyi Selasih terus bermain di leher dan telinga Aria, kemudian berbisik
“Aku akan melatih dan membimbing Raden malam ini, agar Raden puas,” ucap Nyi Selasih dengan hasrat birahi yang memuncak.
Aria berpikir, Nyi Selasih menyebut melatih, itu artinya Nyi selasih hendak melatih ilmu kanuragan, Aria langsung anggukan kepala.
“Aria siap Nyi, perintahkan saja, apa yang harus Aria lakukan.
“Pertama-tama yang Raden harus lakukan adalah Buka celana,”
__ADS_1
Aria kerutkan keningnya mendengar perkataan Nyi Selasih dan berpikir dalam hati.
“Ilmu apa yang akan di berikan Nyi selasih padaku kali ini, sampai-sampai aku harus buka celana segala.”