
“Memangnya murid resi Jayaprana pergi kemana? Tanya Bayusena.
“Aku suruh mereka pergi ke padepokan Jagawana, tetapi sudah hampir 4 Purnama, mereka juga belum kembali dan tak mengirim kabar,” jawab resi Jayaprana.
“Kau! Resi Jayaprana mengalihkan pembicaraan, kemudian menunjuk ke arah sepasang pendekar bukit tengkorak, “Dari dulu selalu saja membuat onar,” ucap Resi Jayaprana.
“Jangan ikut campur urusan kami resi! Seru salah seorang pendekar bukit tengkorak.
“Resi! Ini urusan kami dengan Bayusena, jadi jangan ikut campur,” juragan Sukir ikut bicara.
“Aku tidak ikut campur dengan urusanmu, tetapi aku ada urusan dengan kedua orang ini,” Resi Jayaprana membalas perkataan Sukir.
“Kau pikir, jika kau seorang Resi, kami takut padamu? Tanya salah seorang pendekar bukit tengkorak.
“Mari kita keluar dan selesaikan,”Lanjut perkataan orang itu.
Sukir melihat kedua pengawalnya melesat keluar, hatinya mulai cemas. Karena kedua pengawalnya itu adalah dua orang tokoh yang sudah terkenal dan di bayar mahal olehnya, jika keduanya tewas.
Tentu saja dirinya dalam bahaya.
Nagini dan Bidara terus menatap ke arah Juragan Sukir, keduanya sangat benci kepada juragan mata keranjang tersebut, karena sifatnya yang licik.
Beberapa orang langsung keluar, ingin melihat pertempuran antara resi Jayaprana dengan sepasang pendekar bukit tengkorak.
Jayaprana menatap sepasang pendekar bukit tengkorak.
Setelah keduanya bergerak, sambil menghantam.
Resi Jayaprana lompat, kemudian kakinya langsung menendang salah seorang dari pendekar bukit tengkorak.
Plak!
Orang yang di tendang menangkis, sementara satu orang lagi mencabut kampak, kemudian menyabet ke arah kaki resi Jayaprana.
Sang Resi melenting kan tubuhnya ke belakang, lalu telapak tangan kanan menghantam ke arah musuh yang tadi menyerang.
Blam!
Tubuh salah satu dari pendekar bukit tengkorak, terhuyung setelah serangkum angin keluar dari telapak tangan resi Jayaprana menghantam tubuhnya.
Melihat kawannya terhuyung, seorang musuh mengampak ke arah bahu resi Jayaprana dari samping kiri.
Tetapi Resi Jayaprana tidak mundur, tangannya balas menghantam ke arah salah seorang pendekar bukit tengkorak.
Musuh langsung menjerit dan tubuhnya terlempar karena kalah tenaga dalam.
Sang kawan langsung melesat, menyambar kawannya yang terluka, kemudian langsung melarikan diri.
Juragan Sukir terkejut melihat pengawalnya pergi begitu saja, ia lalu berteriak memanggil manggil, pengawal bayarannya itu.
“Tunggu….tunggu dulu! Kalian mau kemana!? Teriak juragan Sukir.
Tetapi teriakan juragan Sukir tidak di gubris oleh keduanya, sepasang pendekar bukit tengkorak langsung hilang di telan kegelapan malam.
Hanya tersisa 2 orang pengawal bayaran yang kemampuannya biasa-biasa saja, Juragan Sukir hanya bisa tersenyum pahit.
“Sukir! Apa benar yang di katakan muridku bahwa kau yang mengambil kembali, barang yang kau titipkan kepadaku? Tanya Bayusena dengan wajah kelam.
“Tidak….tidak! Bilang saja kau tak mau membayar,” balas juragan Sukir.
“Bangsat! Melihat dari mimik wajahmu, sepertinya memang benar, kau telah berlaku licik padaku.
“Gara-gara kau, banyak anak murid padepokan Bayugeni kabur karena takut, sekarang saatnya membalas semua perbuatanmu,” Bayusena berkata sambil tangannya naik, hendak menghantam juragan Sukir.
Melihat Bayusena hendak menghantam, juragan Sukir langsung sujud dan berkata sambil menangis, menyesali perbuatannya.
“Ampun….ampun ketua Bayusena, aku salah! Kau tidak usah mengganti kerugian,” ucap Sukir.
Phuih!
“Kalau sudah seperti ini baru kau menyesal,” balas Bayusena dengan raut wajah kesal.
“Kau ini orang yang licik! Kalau kau masih hidup, pasti bakal banyak orang yang akan kau rugikan,” lanjut perkataan Bayusena.
“Aku janji….aku janji tidak akan berbuat curang lagi,” ucap juragan Sukir.
“Omongan orang sepertimu tidak bisa di percaya,” balas Bayusena.
“Kau dan aku adalah sahabat sejak lama, tapi apa yang kau lakukan padaku? Tanya Bayusena.
“Beri dia ampun! Seru Resi Jayaprana.
“Tetapi kalau dia berbuat seperti itu lagi, langsung bunuh saja,” ucap resi Jayaprana.
__ADS_1
“Terima kasih resi….terima kasih! Aku berjanji tidak akan berbuat hal curang lagi,” balas juragan Sukir.
“Pergilah! Seru resi Jayaprana sambil mengibaskan tangan.
Juragan Sukir langsung terpental, dari mulutnya keluar darah kental.
Kedua pengawal yang masih tersisa, langsung membawa juragan Sukir pergi dari desa Samiloto.
Setelah beres, Aria yang berpikir bahwa Bayusena tidak akan mau mengantarnya ke Bromo, perlahan melangkah pergi.
Tapi belum jauh Aria melangkah, dua pedang melesat melesat ke arah dada serta leher.
Aria mendengus, mengetahui dirinya di serang Aria tidak menangkis, karena ingin mengetahui kehebatan ajian Pancasona, serta karakter orang yang jalan bersama.
Crep….Crep!
“Mampus kau! Seru murid ke empat dan kedua Bayusena.
Aria langsung tersungkur dan tak bergerak, setelah tubuhnya di bagian mematikan terkena tusukan pedang.
Keduanya memang tidak suka terhadap Aria, karena Nagini serta Bidara selalu memperhatikan Aria, mereka cemburu melihat orang yang mereka suka tidak lagi memperhatikan mereka, tetapi terus saja melirik ke arah Aria Pilong.
Apalagi setelah juragan Sukir membuka kebohongan Aria, keduanya makin tak suka.
Melihat Aria hendak pergi, keduanya saling tatap, lalu diam-diam mencabut pedang dan langsung menusuk Aria dari belakang.
Bayusena, murid pertama, Nagini dan Bidara terkejut, begitu pula resi Jayaprana yang tak menyangka, pemuda tadi yang tak jauh darinya di tusuk oleh kedua murid Bayusena.
“Keparat! Apa yang kalian lakukan,” teriak Bayusena, sambil tangannya menampar kedua muridnya.
Plak….plak!
“Orang buta itu tidak boleh hidup, guru! Ucap murid ke empat, sambil mengusap darah yang keluar dari bibirnya akibat tamparan, sang guru.
“Bukan kau yang memutuskan, dia harus hidup atau mati,” ucap Bayusena.
“Tak kusangka kalian berdua sekejam ini! Kalian tidak pantas menjadi muridku,” ucap Bayusena.
“Sekarang pergilah dari sini! Kalian berdua bukan muridku lagi,” lanjut perkataan Bayusena.
“Guru! Teriak keduanya.
“Jangan panggil aku guru, pergi kalian! Sebelum darahku naik.
Whut….Whut….Brak!
Resi Jayaprana langsung mundur setelah mendengar suara teriakan.
“Raden….Raden! Kau dimana?
Tak lama kemudian muncul seorang bertubuh besar, tanpa memakai baju dan hanya memakai cawat, di leher pria raksasa itu tampak kalung batu hijau dan di bahunya duduk se ekor kera kecil berbulu hitam.
Raksasa itu tak lain Buto Ijo, Buto Ijo tak bergerak jauh dari sekitar semeru serta Bromo, ia terus jalan bolak balik, jika bertemu dengan orang yang wajahnya tidak ia suka, langsung di bunuh, seperti kedua orang yang tak lain dari sepasang pendekar bukit tengkorak, yang tewas di tangan Buto Ijo.
Aria yang masih merasakan sakit, dan nyawanya serasa terbang akibat tusukan pedang, mendengar suara Buto Ijo, tubuhnya yang tengah terlungkup, bergerak gerak.
Buto Ijo melihat Aria yang tengah terlungkup dan tubuhnya tertembus dua batang pedang, seperti hendak bangkit.
Langsung bergerak, Kakinya menendang ke arah perut Aria dengan sekuat tenaga.
Buk!
Tubuh Aria melayang dan membentur dinding rumah makan, beberapa tulang di tubuhnya patah terkena tendangan Buto Ijo.
“Sudah mampus! Masih saja mau bangun,” gerutu Buto Ijo setelah menendang.
Nguk….nguk!
Suketi jingkrak-jingkrak di bahu Buto Ijo, seakan hendak memberitahu, siapa orang yang tadi di tendang oleh Buto Ijo.
“Diam kau! Bentak Buto Ijo.
“Aku sudah bilang padamu, jika belum bertemu Raden, jangan bicara denganku,” lanjut perkataan Buto Ijo.
Suketi langsung diam, mendengar perkataan Buto Ijo.
Sedangkan mereka yang berada di luar rumah makan, langsung mundur melihat Buto Ijo, begitupula dengan resi Jayaprana.
“Jadi kau yang selama ini membuat gempar daerah sekitar gunung Semeru dan Bromo? Tanya Resi Jayaprana.
“Jangan banyak bacot tua Bangka! Kalian maju semua, biar cepat aku menghabisi kalian semua,” ucap Buto Ijo sambil menatap dengan tatapan buas ke arah resi Jayaprana.
“Bayusena! Dia adalah tokoh golongan hitam yang sangat di takuti, Buto Ijo.
__ADS_1
“Sebaiknya kau bawa muridmu pergi dari sini, sebelum terlambat,” bisik resi Jayaprana.
Raut wajah Bayusena pucat setelah mendengar nama Buto Ijo.
Bayusena pernah mendengar nama tokoh golongan hitam yang sangat di takuti, tetapi dia belum pernah melihat orangnya.
Belum sempat Bayusena mengikuti perintah Sang resi.
Buto Ijo melesat, kepalannya menghantam ke arah kepala resi Jayaprana, sang resi menghindar sambil tundukkan kepala, lalu telapak tangannya menghantam ke arah perut Buto Ijo.
Buk!
Buto Ijo terhuyung mundur selangkah, tapi dengan cepat Buto Ijo melesat lompat ke atas, kemudian menghantam kepala resi Jayaprana yang tengah jongkok.
Sang resi berguling menjauh, pukulan Buto Ijo langsung menghantam tanah.
Blam!
Tanah bekas hantaman Buto Ijo berlubang sebesar perut kerbau.
“Gila! Ilmu apa yang dia miliki, aku sudah memukulnya sekuat tenaga, tapi bukannya terluka, malah balasannya lebih dasyat dari pukulanku,” batin resi Jayaprana.
Buto Ijo tak berhenti, setelah tak berhasil mengenai lawan, Tangan Kiri Buto Ijo berusaha menghantam bahu sang resi, tetapi sang resi menangkis tangan Buto Ijo.
Plak!
Resi Jayaprana terkejut, tangannya yang menangkis serasa remuk ketika kedua tangan mereka beradu.
Resi Jayaprana langsung mundur, raut wajahnya pucat dan matanya menatap tajam ke arah Buto Ijo, “entah apa ilmu yang ia gunakan, pukulannya sangat dasyat,” batin resi Jayaprana.
“Guru….guru! Teriak dua Suara bersahutan, tak lama kemudian Rama serta Anjani melesat dan berdiri di depan Buto Ijo.
“Dia guru kami, Jo! Kau tidak akan membunuh seorang sahabat bukan? Ucap Anjani dengan raut wajah pucat.
Phuih!
“Kau selalu bilang, sahabat, teman dan sekarang, guru. Jangan kalian pikir aku tidak bisa membunuh kalian berdua,” ucap Buto Ijo dengan nada dingin.
Nguk….nguk….nguk!
Suketi kembali berkata sambil lompat lompat di bahu Buto Ijo, sebelah tangannya menarik narik telinga calon suaminya, sedangkan satu tangannya menunjuk ke arah rumah makan.
Buto menatap ke arah yang di tunjuk Suketi.
Raut wajahnya terlihat senang, ketika Buto Ijo melihat Aria berjalan tertatih tatih dengan dua pedang masih menancap di tubuhnya, ketika Buto Ijo hendak hendak berkata di dahului oleh Aria.
“Bangsat! Masih belum cukup kalian menusuk ku dengan pedang, masih juga kalian tendang tubuhku,” Aria berkata dengan nada dingin.
Buto Ijo langsung sujud! Mendengar perkataan Aria, karena ingat yang tadi menendang adalah dirinya.
Raut wajah Bayusena, Resi Jayaprana serta yang lain seperti melihat setan ketika berpaling melihat Aria jalan, sambil berusaha mencabut pedang yang menancap di tubuhnya.
Trang….Trang!
Aria membuang pedang ke tanah, dan berdiri di hadapan Buto Ijo.
“Siapa yang berani menusuk Raden? Tanya Buto Ijo.
“Mereka berdua! Ucap Aria sambil menunjuk murid Bayusena.
Bangsat! Teriak Buto Ijo seperti terbang, leher murid ke empat di pegang, kemudian di banting ke tanah.
Krak!
Murid ke empat langsung tewas, dengan tulang leher remuk dan tulang tubuh patah.
Murid ketiga langsung lari setelah melihat adik seperguruannya tewas.
Tapi Buto Ijo melesat dan menghantam kepala murid ketiga Bayusena dari belakang.
Prak!
Murid ketiga Bayusena langsung tersungkur dengan kepala pecah.
Bayusena hanya bisa diam melihat dua muridnya tewas dan tak berani bergerak, apalagi setelah melihat resi Jayaprana memberi isyarat agar ia diam.
“Siapa lagi yang sudah mencelakai Raden? Teriak Buto Ijo dengan suara mengegelegar.
Semua orang yang sedang di rumah makan langsung melarikan diri, kini yang tersisa hanya mereka yang tadi berada di luar.
“Mereka sudah kau bunuh,” ucap Aria.
Tapi tusukan pedang mereka tidak begitu berarti buatku, tetapi tendangan tadi sakitnya luar biasa, membuat semua tulang di dadaku hancur,” lanjut perkataan Aria.
__ADS_1
Buto ijo lalu berkata pelan, karena takut di dengar oleh orang di sekitarnya.
“Hamba baru datang, Jadi tidak tahu siapa yang menendang Raden,”