
Selamet ketika menulis surat atas perintah Aria, untuk menghubungi Iblis Kawi agar bisa menyaksikan anaknya menikah, diam-diam membuat surat lain yang di titipkan kepada Iblis Kawi untuk Singabarong.
Dalam surat yang di tulis Selamet, sebelum mereka menyerang Alas Purwo, Aria akan melangsungkan pernikahan, dengan gadis bernama Buwana Dewi, Selamet di dalam surat tidak menjelaskan kepada Singabarong, siapa Buwana Dewi sebenarnya.
Selamet hanya berkata, bahwa pernikahan Aria sebelum bertempur habis-habiskan dengan Ki Banyu Alas harus meriah, dan di hadiri oleh semua anggota Jagad Buwana.
Singabarong kemudian mengecek kebenaran isi surat yang di kirimkan oleh anak buah iblis Kawi.
Setelah mendapat keterangan, bahwa Aria memang dekat dengan gadis yang di perebutkan oleh dunia persilatan, Singabarong langsung memerintahkan semua murid Jagad Buwana untuk pergi ke Bali, menuruti surat yang sudah di kirimkan oleh Selamet.
Singabarong bersama, Dewi kidung kencana langsung bergerak ke Bali, saat melewati gunung Kawi, Singabarong di beritahu, bahwa penguasa gunung ( iblis Kawi ) sudah berangkat terlebih dahulu.
Sehingga mereka sampai tepat waktu, tetapi Singabarong serta kawan-kawan yang lain juga mengalami hambatan, tetapi saat Singabarong mengeluarkan Aji Tuku Beulis yang dapat menyerap dan memakan siluman, banyak Siluman Anak Buah Ki Banyu Alas yang melarikan diri.
Sehingga Singabarong masuk lewat samping dengan menjebol dinding ruangan istana, karena pintu kerajaan di jaga oleh ratusan anak buah Ki Banyu Alas lainya.
Yang tak bisa berkata kata adalah Buwana Dewi, gadis itu hanya bisa menatap wajah Ki Banyu Alas yang jauh dari bayangannya, apa benar ini adalah ayahnya? Buwana Dewi bertanya dalam hati, sambil terus memperhatikan dan mendengar suara orang yang berkepala kerbau.
Aria yang tak mendengar suara Buwana Dewi, kemudian memegang tangan Buwana Dewi untuk menenangkan hati calon istrinya.
“Lepaskan tanganmu dari calon istriku! Seru pemuda yang tadi berada di belakang Ki Banyu Alas.
Aria kerutkan keningnya mendengar perkataan Pemuda yang mengatakan bahwa Buwana Dewi adalah calon istrinya.
“Siapa kau? Tanya Aria.
“Aku Sentanu, calon suaminya yang resmi,” jawab Sentanu.
“Jadi kau yang bernama Sentanu, coba kau tanyakan sendiri, apa Buwana Dewi mau menikah denganmu? Kembali Aria berkata mendengar perkataan Sentanu.
“Tidak usah bertanya kepadanya, karena memang sudah jelas bahwa dia adalah jodohku, karena kami berdua sudah di nikahkan sejak kecil,” jawab Sentanu.
“Tutup mulutmu! Siapa yang kau sebut jodoh sejak Kecil, melihatmu saja aku baru kali ini,” ucap Buwana Dewi ikut bicara setelah mendengar perkataan Sentanu.
“Tentu saja guruku, lebih tepatnya, ayahmu yang mengatakan, apa kau tidak percaya terhadap ayahmu sendiri,” balas Sentanu sambil menunjuk ke arah Ki Banyu Alas.
“Coba kau tanyakan kepada gurumu, apa benar aku adalah anaknya, sebab aku belum pernah melihat bentuk rupa dari ayahku, setelah aku dan Kakang Aria menikah, kami berdua berniat mengajak ayah tinggal bersama, tetapi tidak di sangka, kalian malah mengacaukan pernikahanku,” kembali Buwana Dewi berkata dengan nada gusar.
“Guru! Dewi tidak mengakui mu sebagai Ayah,” ucap Sentanu.
Ki Banyu Alas menarik napas mendengar perkataan Buwana Dewi.
“Nak! Kau benar anakku, jangan pandang remeh ayahmu yang berwujud seperti ini, tetapi apapun yang kau minta akan aku kabulkan asal kau tinggal bersamaku di Alas Purwo,” Ki Banyu Alas berkata.
“Banyak orang berkata kepadaku, bahwa Ayahku bernama Ki Banyu Alas, tetapi aku hanya tahu nama, belum pernah melihat wajahnya,” Balas Buwana Dewi.
“Ki Banyu Alas hanya satu di dunia ini, kini dia berada di hadapanmu, kau harusnya bersyukur karena terlahir dari benih yang aku tanam,” Ucap Ki Banyu Alas mendengar perkataan sang putri.
“Aku sudah bicara kepada Kakang Aria, untuk membawa Ayah kembali ke jalan yang benar, tetapi setelah melihat dan mendengar, aku sangat kecewa.
“Lebih baik aku tidak mempunyai ayah daripada harus melihat ayahku seperti ini, aku yakin ibu juga sangat menyesal sudah menikah dengan ayah,” Balas Buwana Dewi.
“Tutup mulut mu! Dasar anak durhaka,” teriak Ki Banyu Alas Sambil menunjuk Buwana Dewi.
__ADS_1
“Apa kau bilang! Aku anak durhaka,”
“Kau tahu tidak? Aku dari kecil hidup seorang diri, tak ada teman, keluarga apalagi orang tua, kalau tidak ada ibu angkatku, mungkin sekarang aku sudah mati,”
“Aku hanya diberitahu ibu meninggal setelah melahirkan aku, tetapi sosok yang bernama ayah tidak pernah datang untuk menjemput atau melihatku.
“Sekarang setelah aku besar, kau bilang aku anak durhaka, memangnya ayah pernah mengurusku? Tanya Buwana Dewi.
Ki Banyu Alas diam tak menjawab pertanyaan Buwana Dewi, karena ia merasa bahwa apa yang di katakan oleh putrinya itu memang benar.
Ki Banyu Alas sebenarnya bukan tidak berusaha, ratusan anak buahnya ia suruh mencari, tetapi usahanya selalu gagal karena Buwana Dewi selalu menghilang bersama dengan lenyapnya pelangi.
“Ayah minta maaf, ayah bukannya tidak mencari mu, tetapi ayah baru tahu belum lama ini, bahwa sewaktu ayah meninggalkan ibumu, ia tengah menggandung,” nada bicara Ki Banyu Alas kali ini terdengar pelan, tidak seperti tadi.
“Sekarang kau lebih baik ikut dengan ayah, harta dan ilmu apapun yang kau inginkan, akan ayah berikan kepadamu, asal kau mau tinggal bersama ayah,” lanjut perkataan Ki Banyu Alas.
“Tidak! Aku hanya mau tinggal bersama dengan Kakang Aria,” balas Buwana Dewi.
Wajah kerbau Ki Banyu Alas tampak berubah warna menjadi lebih hitam, tanda kemarahannya mulai memuncak setelah mendengar perkataan Buwana Dewi, asap yang keluar dari hidung Ki Banyu Alas juga terlihat semakin tebal.
“Kau berharap apa dari seorang pemuda buta seperti dia? Tanya Ki Banyu Alas dengan suara menggelegar.
“Aku hanya berharap bisa bahagia bersama kakang Aria, dan kebahagiaan itu tidak akan bisa terwujud jika aku tinggal bersama Ayah,” jawab Buwana Dewi.
“Baik….Baik! Jika memang itu ke inginanmu, tetapi aku ingin menguji apa benar kau tidak akan bahagia jika tidak bersama si buta.
“Sentanu! Bawa calon istrimu pergi dari sini,” seru Ki Banyu Alas.
“Baik Guru,” jawab Sentanu
“Kau pikir mudah membawa orang dari hadapanku? Ucap Aria dengan nada dingin.
Sentanu tersenyum sinis, mendengar perkataan Aria, kemudian membalas perkataannya.
“Memangnya kau bisa apa, buta? Balas Sentanu dengan nada mengejek.
Melihat Aria tak menjawab, Sentanu langsung bergerak ke belakang Aria, berusaha menangkap Buwana Dewi.
Tetapi tangan Sentanu, terhalang oleh tongkat Aria.
Sentanu langsung menghantam tongkat Aria dengan tangan kanan, Aria mendengar suara menderu ke arah tongkatnya, kemudian menarik tongkat lalu tongkat balik menusuk ke arah perut Sentanu.
Raut wajah Sentanu berubah, karena tidak menyangka serangan tongkat Aria bisa berubah ubah.
Sentanu terpaksa mundur satu tombak menghindari tusukan tongkat Aria.
Setelah mundur, raut wajah Sentanu tampak berubah kelam.
Bibir Sentanu tampak bergerak gerak, seperti tengah membaca mantra.
Perlahan kepala Sentanu berubah menjadi kepala kerbau, seperti sang guru dan Lembusora yang sudah meregang nyawa.
Setelah kepalanya berubah, kini Sentanu menjadi lebih kuat dan bertambah cepat.
__ADS_1
Sentanu langsung menyeruduk ke arah Aria, setelah kepalanya berubah.
Whut!
“Awas kakang! dia sedang menyeruduk mu,” bisik Buwana Dewi dari belakang.
Plak!
Tongkat Aria membal ketika menghantam kepala Sentanu.
Tangan kanan Sentanu menyambar perut Aria.
Aria tarik tongkatnya, menahan pukulan Sentanu.
Plak!
Setelah menangkis, diam-diam tangan kiri yang sudah di aliri oleh Ajian Cakra candhikalla menghantam ke arah perut Sentanu.
Des!
Sentanu langsung terpental, dari mulutnya menyemburkan darah segar.
Aria kesal setelah mendengar kata-kata Sentanu, sehingga langsung menggunakan ajian Cakra candhikala untuk menghantam dada Sentanu.
Hoaks!
Kembali Sentanu menyemburkan darah segar, dadanya serasa terbakar dan susah bernapas.
Ki Banyu Alas melangkah ke arah Sentanu, kemudian tangan kanan menepak ke arah tengkuk sang murid.
Plak!
Segumpal darah hitam keluar dari mulut Sentanu, tetapi sekarang dadanya terasa lega setelah gumpalan darah yang menyumbat di paksa keluar oleh Ki Banyu Alas.
Suara dengusan, serta geraman mulai terdengar dari mulut Ki Banyu Alas ketika mendengar percakapan antara Wangsa dan Buto Ijo.
Phuih!
“Jangankan Anak kerbau, bapaknya kerbau, kalau berani macam-macam, sikat saja Raden! Ucap Buto ijo dengan nada gemas, karena ia terkena pukulan jarak jauh Ki Banyu Alas.
“So! Siapkan kuali besar,” kembali Buto Ijo berkata.
“Untuk apa? Tanya Wangsa
“Memangnya kau tidak tahu, malam ini kita akan pesta? Buto ijo balik bertanya.
“Pesta,” ucap Wangsa dengan raut wajah bingung, kemudian Wangsa bertanya.
“Lantas buat apa kuali besar?
“Tentu saja untuk masak, dasar tolol! Jawab Buto ijo.
“Memangnya kau ingin masak apa? Kembali Wangsa bertanya.
__ADS_1
Buto ijo tersenyum sambil menjawab pertanyaan Wangsa.
“Gulai kepala kerbau”